
"Kenapa kamu tidak mencoba bicara padanya? Siapa tahu kalian bisa saling berbagi ruangan itu bersama. Iya, 'kan?"
"Aku sudah coba bicara, tapi ia malah berusaha membunuh dengan memukul menggunakan biolanya."
"Kamu itu terlalu cepat menyerah Ta-chan! Berusaha lah untuk mengerti, ya?"
Entah kenapa pagi ini, ucapan Ken-chan terus terngiang jelas di kedua telingaku. Karena hal ini lah aku jadi kena marah Satoshi dan Haruka.
Sejujurnya aku ingin sekali berteman dengan Kanzaki-san. Tapi tanganku ini terlalu jauh untuk menggapainya yang berada di tempat tertinggi. Setiap hari jarak kami selalu melebar bak langit dan bumi jauhnya.
"Hei hei, aku dengar si nona paganini itu mulai main alat musik lain loh.."
"Wah masa? Hebat! Jika aku rekam dan sebarkan di media sosial pasti akan viral"
"Kalau tak salah ia memainkan lagu original nya dengan tempo musik rock"
"Apaan tuh? Aneh banget"
Semua murid dikelas ku, mungkin lebih tepatnya satu sekolah sudah mendengar rumor yang beredar, bahwa " Kemarin, klub bisbol mendengar sebuah suara musik rock yang terdengar dari tempat pembuangan sampah"
"Lagu original Kanzaki-san? Yang mana satu?"
"Itu loh yang "
"Heh? Lagu menyayat hati itu?! Tidak disangka bakal berubah jadi rock!"
"Benar kan, dia itu memang pantas dijuluki Paganini"
"Benar, sifatnya itu tak beda jauh sama maestro yang sudah ada dibawah tanah!"
Pelajaran masih belum dimulai, tapi semuanya sudah saling diskusi tentang gosip yang beredar entah itu benar atau bohongan. Aku hanya menatap seluruh murid sambil menguap dan membenamkan kepala di meja. Bosan, itu lah kata pertama di pagi hari yang cerah.
Tiba-tiba saja, suara pintu depan digeser terdengar. Mengangetkan seluruh murid yang sedang sibuk gosip di pagi hari. Sesosok tubuh pun perlahan terlihat masuk ke dalam kelas. "Baik, silahkan duduk ditempat masing-masing" seru suara berat khas guru IPA sembari menutup kembali pintu.
Kini seluruh kelas tenggelam dalam sunyi yang abadi. Awalnya semua tampak bingung dan saling menatap satu sama lain, sebelum akhirnya duduk di kursinya masing-masing seolah tak terjadi apapun.
Ketegangan kelas mulai terasa seiring bel kelas pertama berbunyi. Satu-satunya orang yang tak berpengaruh pada kecaman suasana ini, hanya orang yang tengah di gosip kan pagi ini. Tampaknya ia mulai menyadari sesuatu, saat tengah berjalan ke kursinya, ia menatap seluruh murid sembari berkata;
"Kalau kalian penasaran, mau coba dengar sewaktu pulang nanti?"
"Wah yang benar! Aku pasti akan dengar!!"
"Aku juga! Aku juga! Aku juga! Karena aku adalah fans-mu"
"Tentu saja penggemar musik sepertiku tidak akan melewatkan nya"
Sahut menyahut suara murid laki-laki yang gempar kegirangan terdengar tak ada habisnya. Kelas pun kini jadi ramai lagi dengan sorakan dan bisikan para murid.
"Hei apa dia tidak terlalu nekat? Belum juga sebulan disini, dia sudah membuat ulah lagi. Dasar maestro" bisik Satoshi.
"Benar aku setuju! Apa dia tidak terganggu dengan tatapan menyeramkan murid perempuan yang sudah mengibarkan bendera perang?" Ucap Haruka.
"Oi kalian berdua. Kalau mau ikut gosip sama yang lain aja, jangan di kedua telingaku!!" Aku menggertak sambil menutup kedua telingaku.
"SEMUA!! JANGAN BERISIK! CEPAT DUDUK, PELAJARAN AKAN DIMULAI" Teriak Sensei.
"Maafkan kami..." Ucap semua murid bersamaan
"Karena kalian selalu saja berisik, jam istirahat pertama, kalian harus bantu klub bisbol dan sepak bola bersihkan lapangan!"
"HEHHHH?!!!"
"Jangan HEH tapi BAIK!"
"Baik Sensei..." Semua murid kini mengunci mulutnya dan menunduk lesu. Kini kami mulai melanjutkan pelajaran IPA dengan perasaan canggung.
"Ah-hah merepotkan"—batinku pasrah.
Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Tapi, meski begitu aku harus merebut kembali ruang pribadi ku walau sudah ada Kanzaki yang menempati. Aku tidak akan menyerahkan begitu saja kelas yang sudah aku perbaiki susah payah!
//Seusai jam pelajaran//
"Baiklah, kalian semua silahkan ke lapangan. Kata Takana-sensei kalian harus membantu klub bisbol dan sepak bola karena hukuman berisik dikelas" ucap Aya-sensei.
"Baik" seru kami semua kompak.
Waktu istirahat pun tiba, dengan terpaksa kelasku ikut membantu membersihkan lapangan dengan para anggota klub bisbol dan sepak bola yang baru saja selesai latihan persiapan turnamen. Sebelum kami bergerak, ketua kelas membagi kami menjadi dua kelompok. Kelompok gadis membersihkan ruang ganti dan memungut sampah botol minuman yang berserakan, sementara kelompok laki-laki membereskan peralatan yang dipakai dan membersihkan ruang ganti juga.
"Aduh panas gini malah disuruh bersih-bersih, dasar Sensei" gerutu Satoshi sambil memasukkan bola-bola kedalam kotak yang kupegang.
"Kau itu, masih mending kelas kita disuruh bersih-bersih lapangan daripada menerima PR fisika satu buku" tukas ku.
"Ya memang benar juga sih, tapi jika saja tadi pagi kelas kita mengunci pintu dulu sebelum gosip, pasti tidak akan dimarahi gini kan.."
"Mengunci pintu?"
Tiba-tiba saja sengatan listrik terasa di kepalaku yang membuat sebuah ide muncul. Aku menemukan satu cara licik untuk mendapatkan kembali ruangan pribadi ku itu dari Kanzaki.
Rencana yang terpikir olehku adalah mengunci diriku di dalam ruangan supaya Kanzaki tidak bisa masuk kedalam atau merusak barang miliknya agar dia tidak dapat memakai ruangan itu lagi.
"Hahaha pasti berhasil" Kikik ku girang.
"Oi Arata, kau kenapa tertawa begitu? Apa kau sakit karena sengatan matahari?" Tanya Satoshi sedikit takut.
"Ah mungkin saja iya, kalau begitu aku mau ke kelas untuk minum ya" ucapku yang berlari terburu-buru.
"Katanya sakit, tapi kok bisa lari secepat itu?" Batin Satoshi yang kebingungan.
🎶
Aku berjalan dengan waspada menuju tempat pembuangan sampah. Awalnya memang berjalan mulus tanpa ada yang curiga, dan tiba-tiba..
"Loh Saki-kun sedang apa disini?" Ucap suara nyaring yang kukenal.
Ketika aku melirik kebelakang, aku hanya bisa tersenyum sambil berpura-pura mengambil sampah yang jatuh.
"Ah.. a-aku tadi sedang membuang sampah, tapi kantung nya tiba-tiba robek. Jadinya aku pungut lagi" jawabku bohong.
"Oh begitu, semangat ya. Sebentar lagi waktu istirahat untuk kita. Kata Takana-sensei kita tidak usah mengikuti pelajaran ke 5" ucap Sakura sambil meloncat senang.
"Hahaha, ternyata ada untungnya juga ya kita panas-panasan gini" tukas temannya bernama Ino
"Kalau begitu, kami duluan ya Arata"
"Kalau sudah, bantu kami di ruang ganti ya"
"Ah iya.."
Setelah memastikan bahwa sosok mereka berdua menghilang sempurna di tikungan, aku pun kembali berjalan menuju ruang kelas itu. Akan tetapi, aku tercengang melihat pintu yang kini sudah tergantung banyak sekali gembok warna-warni.
"Sial berani sekali dia mempermainkan ku begini" ucapku kesal.
Di saat tengah terfokus untuk membuka gembok-gembok itu, aku jadi terpikir ide tak masuk akal dari kebanyakan film. Ya, membuka gembok dengan penjepit rambut atau kertas. Untungnya aku tengah membawa penjepit rambut milik Haruka yang belum ku kembalikan (sengaja disembunyikan).
"Huh, jangan remehkan si master otak-atik ini ya nona biola. Kau belum tahu kemampuan sebenarnya dari diriku yang sudah lama duduk diam didepan suku cadang tak berbentuk" ucapku bersemangat.
*Klek*
Satu gembok sudah terbuka, namun aku tak sadar bahwa saat itu ada bahaya menanti lebih besar daripada dituduh mencuri.
"... Sedang apa kau disini?"
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Hampir saja aku meloncat setinggi dua meter karena saking terkejutnya. Saat aku menolah ke belakang..
"Aku tanya kau sedang apa?"
Dia adalah Kanzaki. Wajahnya tampak sangat menggebu-gebu dan dari kepala nya keluar asap kemarahan. Kedua tangannya kini berada di pinggang dengan raut wajah yang masam.
"Dasar pencuri! Mesum! Penguntit! Maniak musik!! Kau pasti berniat membuka paksa gembok impor dari Yunani ini kan? Lebih baik kau menyerah saja dengan kelas ini butut ini" gertaknya.
"Heh? Memangnya tampak seperti itu ya?" Aku berusaha semaksimal mungkin tak tahu menahu.
"Jangan bohong dasar otak gurita! Sudahlah hentikan semua usahamu itu. Cepat jauhi ruangan ini dan dari hadapanku sekarang" ucap nya.
"Siapa yang memberi mu hak untuk membentak diriku?" Aku bertanya.
"Hah apa maksudmu?, Aku melakukan itu agar kau tidak selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Kenapa kau selalu ada di manapun aku berada?" Nada bicaranya kini semakin meninggi.
Berani sekali dia. Hanya satu orang yang memperlakukan ku seperti seorang penjahat sesungguhnya. Dari nadanya dan gaya bicaranya, ia pasti sudah menyimpan memori ku sebagai seorang yang memiliki niat buruk padanya. Tampaknya hidupku pasti akan rumit dan berada pada masalah besar.
"Bukan begitu maksud ku... Aku lah orang pertama yang menemukan kelas ini. Dan aku juga orang yang memperbaiki semua peralatan yang dibutuhkan untuk musik" jelasku.
"Tapi kamu kan belum meminta izin pada Sensei untuk menggunakan kelas ini" ia membantah mentah-mentah ucapanku.
"Aku akui itu benar, tapi kan aku sudah berusaha memodifikasi alat yang selama ini kau gunakan latihan. Mana mungkin aku biarkan begitu saja" kataku.
"Hooh gitu. Asal kamu tahu ya, Ken-chan setuju tuh memberikan ku kelas ini. Jadi aku berhak memakainya"
"Tapi kan.."
"Ini tuh ruangan buat latihan musik, bukan tempat yang dijadikan untuk bersantai!"
Kanzaki mendorongku ke tempat sampah. Ia buka gembok nya, masuk ke ruang kelas, lalu menutup pintunya. Aku terdiam di tempat dan termenung selama beberapa detik. Kemudian, tanpa pikir panjang, aku menerobos masuk ke dalam, membuka paksa pintu seolah berusaha menghancurkannya.
"Berhenti memperlakukanku layaknya orang bodoh yang cuma bisa membuang waktu. Hidup itu memang sekadar menghabiskan waktu sampai akhirnya mati." Teriak ku setengah membentak.
"Terus, kenapa kamu tidak mati saja sana?" Tanyanya.
"Heh?"
"Kau bilang, hidup itu memang sekadar menghabiskan waktu sampai mati kan, kenapa kau masih hidup? Memangnya kau tidak mau mati saja?" Ia bertanya lagi.
Suasananya jadi semakin memburuk. Rencana yang kulakukan dengan matang meski baru sebentar, sudah hancur berantakan layaknya orak-arik telur.
Angin semilir yang berhembus dari belakang tubuhku, kini mengalir deras menembus sesuatu yang kosong dalam diri ini. Dalam sekejap pandangan ku buyar dan entah kenapa aku tak bisa berkata-kata lagi..
"*Kenapa,.... jadi begini*?"
🎶
🌼つづく🌼