
......Jangan lupa Like nya yaa......
...Happy Reading โ๏ธ๐บ๐ฆ...
"Apa aku bisa meminta satu hal darimu?" Tanyaku sebelum menutup gorden.
"Apa itu?" Tanyanya.
"Aku ingin di hari pertunangan ku besok, kau gantikan diriku memakai cincin ya."
"Hah?!"
"Tolong lakukan ya, kumohon!!" (Dengan wajah penuh harap)
"Ta-tapi kan, ini terlalu nekat! Bagaimana kalau okaa-sama marah?" (Wajah tak tega namun enggan)
"Biarkan saja, yang penting rencana ini harus sukses. Tolong ya.."
"Dengar ya onee-sama, aku ini seorang laki-laki. Mana mungkin hanya dengan berpakaian seperti perempuan dan menyelinap ke pertunangan kan... Jadi itu mustahil!"
"Aku ada caranya kok.." (Tersenyum jahat)
"Ehh?!"
๐ผ๐ผ
"Aku seperti dijebak oleh onee-sama kemarin malam" batin Shiratori yang kini menatap dirinya di cermin kamar Kanzaki-san.
"Apa onee-sama yakin, kalau trik ini tidak akan ketahuan?" Tanya Shiratori ragu.
"Yakin kok, lagian tubuh mu ini kan berbeda dari laki-laki pada umumnya. Ditambah lagi kakak make-up kepercayaan ku ini sudah membuat wajah kita terlihat sama. Jadi jangan khawatir lagi ya" ucapku sambil mengedipkan sebelah mata.
"Tapi kan.... Rasanya seperti menjatuhkan harga diriku dengan berpakaian seperti ini!!" Bantahnya.
"Tidak kok, kau terlihat cocok menggunakan pakaianku. Lain kali kau pakai lagi yang lainnya ya. Pasti cocok" seruku.
"Ahh.. kenapa jadi begini??" Batin Shiratori pasrah.
Aku yang tidak meladeni keluhannya itu, sedang sibuk memasukkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk kabur dari rumah. Yap, keputusanku sudah bulat untuk tidak lagi menuruti apa kata ibu baruku yang mempunyai segudang taktik jahat.
Dimulai dari rencana kabur diam-diam, aku akan memulai kehidupan baru di lembar baru. Menyamarkan identitas dan hidup damai, tentram bersama teman-teman ku. Itu yang kuharap kan...
"Yosh, sudah lengkap semua!" Aku berseru dengan kedua tangan yang tengah menggendong ransel putih. Wajah Shiratori yang kini tampak seperti seorang perempuan pun menatapku gelisah. Aku pun berjalan dan memeluknya, sembari berkata.
"Jangan khawatir kan aku Tori-kun. Aku sudah biasa beradaptasi di lingkungan luar, aku juga sudah bisa menjaga diri dengan baik kok"
"Onee-sama... Jika rencana ini ketahuan, okaa-sama pasti akan sangat marah. Ternyata lebih baik dibatalkan saja rencana kaโ"
Belum sempat Shiratori menyelesaikan ucapannya, aku sudah membungkam mulutnya dengan telapak tanganku.
"Tidak boleh. Rencana ini harus tetap berjalan, meski aku sudah tahu cepat atau lambat nanti juga akan ketahuan. Tapi, jangan pernah bicara ingin membatalkannya" potong ku.
Shiratori menghembuskan napasnya sembari mengangkat bahu nya. Ia pun mengelus kepalaku dan tersenyum. "Kalau itu yang diinginkan oleh onee-sama, aku tak bisa berbuat apapun lagi. Semoga kau selalu sehat diluar sana" serunya.
"Terimakasih Tori-kun. Anna-san tolong jaga dia ya, jangan sampai okaa-sama tahu!" kata ku sebelum akhirnya membuka pintu.
Disaat yang bersamaan alunan musik yang berasal dari taman mulai mengalun lembut. "Pergilah onee-sama, sebentar lagi okaa-sama akan datang!" Titah Shiratori.
Segera saja aku berlari meninggalkan kamar menuju ruang bawah tanah dan berjalan menyusuri jalan rahasia yang menghubungkan langsung dengan sekolah dasar ku dulu.
Jalannya sempit dan gelap. Butuh sekitar 3 jam untuk sampai diujung jalan, tapi aku sudah biasa melaluinya. Jadi ini hanyalah hal sepele buatku.
"Semoga Tori-kun dan Anna-san bisa mengatasinya" gumamku yang terus saja berjalan lurus.
๐ถ
Secercah cahaya mulai terlihat tak jauh dari jarak ku saat ini. Dengan sisa tenaga yang ku punya segera saja aku berlari keluar, dan disambut hangat oleh mentari pagi yang terang benderang.
Sekujur tubuhku yang sudah basah kuyup karena keringat, menjadi sejuk setelah terkena sapuan lembut angin laut disebrang. Entah kenapa perasaan sesak dan kegelisahan lenyap seketika dalam diriku... Perasaan ku kini menjadi tenang dan bebas.
"Jadi begini ya rasanya bebas... Kapan aku akan merasakan ini setiap harinya?"
Kedua kaki ku mulai berjalan lagi menuju salah satu stasiun kecil yang tak jauh dari pantai. Aku pun membeli tiket dan menunggu kereta datang.
Sementara itu di kediaman Keluarga Kanzaki-san..
Suara ricuh penuh kebahagiaan terdengar sahut menyahut bersamaan dengan alunan musik ringan yang menenangkan. Sang nyonya pemilik rumah, Kanzaki Emilia tengah dalam kondisi penuh kebahagiaan karena sekarang, rencana mengusir Kanzaki sudah ada didepan matanya.
"Sesudah pertunangan ini, aku tidak perlu menanggung beban mengurus mu lagi Shiori. Hanya tinggal beberapa langkah saja, kekayaan keluarga ini akan jatuh pada putra ku Shiratori. Sedangkan kau, akan pergi menyusul ibu mu disurga.." batin nya.
"Para tamu sekalian, harap berdiri untuk menyambut nona Kanzaki Shiori-san beserta keluarga. Ayo beri tepuk tangan untuk mereka" seru sang pembawa acara.
Para tamu berdiri dan bertepuk tangan menyambut kedatangan mereka menuju ke tempat yang telah ditentukan. Kanzaki Emilia meraih tangan Shiratori yang menyamar menjadi Kanzaki dan menuntunnya ke arah keluarga Miyamizu.
"Aku harap okaa-sama tidak curiga?!" Ucap Shiratori pelan.
"Shiori-chan, kenapa terus menunduk? Ayo angkat kepala mu dan beri salam pada calon keluarga baru kita. Terutama pada Hiyori-kun" ucapnya.
Shiratori dengan gelisah perlahan mengangkat kepala nya dan memberi salam. Tak lama setelah itu ia menunduk lagi dan berjalan menghampiri putra satu-satunya keluarga Miyamizu itu.
"Lama tak berjumpa Shiori-san. Bagaimana keadaanmu? Kudengar waktu pertemuan kita yang pertama kau sempat jatuh sakit, apa sekarang sudah tak apa-apa?" Tanya Hiyori.
"Ah.. i-iya ya sudah lama. Aku sudah baik kok" jawab Shiratori dengan suara yang dibuat semirip mungkin dengan perempuan.
"Suaramu agak berat ya, apa tenggorokan mu sakit?" Wajah Hiyori sedikit melihat kebawah. Dengan cepat Shiratori memalingkan wajahnya.
"Be-begitulah, aku kemarin banyak berteriak karena senang...haha"
"Begitu ya, syukurlah. Ayo kita mulai acaranya"
"Iya!"
"Hem... Kenapa aku merasa sedikit aneh dengan Shiori? Dan lagi dimana Tori-kun? Aku harus mencarinya!" pikir Kanzaki Emilia yang tiba-tiba saja meninggalkan area pesta.
"Nyonya besar mau kemana ya? Sebaiknya aku buntuti dia" batin Anna yang juga ikut pergi dari area pesta dengan diam-diam.
๐ถ
๐ผใคใฅใ๐ผ