
Aku bergegas pulang ke rumah setelah sinar senja semakin meninggi. Tapi, saking terburu-buru nya aku sampai lupa kalau ada tumpukan sampah didekat pintu. Alhasil, aku terperosok ke tumpukan itu dan dengan cepat merapikan kembali. Setelah selesai, aku melepaskan sepatu dan berjalan menuju ruang tamu.
"Okaa-san, eh maksudnya Teresa, ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Ada waktu sebentar?"
Aku membuka pintu ruang tamu dan mendapati dirinya yang tengah menonton sebuah drama dengan dikelilingi banyak tisu habis menyeka hingus. Aku menghela napas dan menutup layar laptop itu. Teresa terkejut sampai menjatuhkan laptop nya ke lantai, untungnya tangan ku sempat meraihnya.
"Hueee Ta-chan apa yang kamu lakukan? Itu sedang rame-rame nya..." Ia merengek sambil terus terisak.
"Ah-hah, hentikan sikap mu yang kekanakan ini, kau itu seorang wanita paruh baya yang kariernya di ujung tanduk. Sebaiknya kau lebih berusaha di bidang pekerjaan mu" ucapku.
"Wah-wah, Ta-chan, darimana kau dapatkan kata tak sopan begitu? Siapa yang mengajarimu begitu hah?!" Ia mencubit pipiku gemas namun dihantui dengan nafsu.
"Ma-maaf aku terbawa suasana" seru ku.
"Jadi, hal apa yang ingin kau bicarakan denganku" Teresa mulai membuka percakapan seusai adu mulut tadi berakhir dengan kemenangan buatku.
"Aku mau memulai rapat keluarga" jawabku
"Pasti ini masalah yang serius, ada apa? Apa kau sudah putuskan untuk melamar Haruka dan menikah setelah selesai SMA?"
"Berhenti mengatakan hal yang tak masuk akal. Mana mungkin aku berpikir jauh seperti itu"
"Kalau bukan itu, berarti kau meminta dibelikan sesuatu?"
Nada bicaranya yang imut berubah menjadi serius. Ia membuatku jadi kesusahan untuk membuka mulut lagi karena tebakan nya memang benar.
"Benar kan?"
"I-iya.."
"Membeli apa itu? Buku? CD musik baru? Video game?"
"Aku... Ingin sebuah gitar"
"Bukannya kau sudah punya ya.... Bekas ayah busuk mu itu"
"Itu sudah rusak karena dipakai alat untuk bertengkar kalian dulu kan, apa kau lupa?"
Ia hanya tertawa. Mendengar jawaban itu membuat ku jadi ragu bahwa ia seorang kritikus musik. Masa iya sang kritikus musik merusak alat musiknya? Sungguh diluar dugaan..
"... Jangan-jangan karena seorang gadis?" Ia asal menebak.
"Heh? A- bukan kok!" Ucapku panik.
"Fufufu... Hanya ada satu alasan remaja laki-laki seperti mu meminta dibelikan gitar secara mendadak. Pasti untuk membuat dirimu keren di kalangan para gadis kan.." ujarnya dengan wajah genit.
"Omong kosong macam apa itu? Hanya orang bodoh yang melakukan itu!!" Bantahku malu.
"Makanya katakan dengan jelas tujuanmu ingin membeli gitar! Kau tahu kan harga gitar itu mahal, belum lagi kita sedang menghemat pengeluaran bulan ini" jelasnya sok bijak.
Aku merenggut dan menenggelamkan kepala di sofa.
"Jika kau sangat menginginkan gitar, kenapa tidak ikut aku bekerja lagi sebagai kritikus? Atau ikut kontes menulis saja?" Ia memberi usulan.
"Tidak, aku tidak mau melakukan itu lagi **** dapat upah besar" tolakku.
"Ehh, kenapa? Kau kan pandai menulis artikel." Lagi-lagi ia mulai merengek.
"Karena tidak ada untungnya untukku. Toh, aku juga tidak tertarik untuk menekuni dunia sastra" jawabku.
"Cih, padahal tulisanmu banyak menuai respon positif dan terkenal loh.. kau memang punya separuh bakat dari ayah busuk mu itu ya" Cibirnya.
Aku tak menanggapi omongan nya. Seperti yang kuduga bahwa menjadi kaki tangan yang mengurus keuangan keluarga adalah hal paling berat. Setiap aku ingin membeli sesuatu dan sulit memutuskan sendiri, aku selalu melakukan rapat keluarga.
Meski memiliki banyak simpanan uang, dari dulu hingga kini aku masih enggan menggunakan uang itu. Setiap kali aku mengambil sedikit dari tempat penyimpanan rahasia, aku selalu terpikir bagaimana perjuangan okaa-san mengumpulkan sedikit demi sedikit uang ini.
Wanita itu sangat kuat ya, meski dia sudah ditinggal pergi orang yang paling dicintai dan berharga baginya, ia masih bisa bangkit dan banting tulang demi keluarga...
"Ta-chan..." Panggilnya.
"Apa?" Tanyaku.
"Apa kalau kau jadi beli gitar, kau akan serius menekuni nya?" Okaa-san memiringkan kepala menunggu jawaban pasti dari mulutku. Tatapan nya begitu berharap bahwa ia segera mendengar jawaban yang membuat nya yakin.
"Kalau Teresa tak izinkan aku beli gitar, aku tak apa kok. Jangan dipikir serius soal ini" ucapku.
"Bukan begitu Ta-chan, aku pasti beri izin kok. Habisnya dulu kau kan pernah berlatih bermain gitar, sayang kan kalau bakat itu dibuang gitu aja"
Aku menunduk sembari memeluk bantal. Ucapan okaa-san akhir-akhir ini selalu mengikutsertakan masa depan dan juga bakat ku. Semua yang ia ucapkan selalu terhubung padaku. Apa karena itu, dia jadi terlihat murung setiap harinya...
"Aku akan serius....tapi,"
"Kalau begitu, jika seorang lelaki melakukan itu karena ingin populer di kalangan para gadis, maka bukan sebuah masalah!. Soalnya saat ini kamu harus meyakinkan hatimu. Bila kamu menyerah ditengah jalan, seumur hidup kamu tidak akan punya pacar!" Ia memotong ucapan ku dengan penuh semangat.
Kata-kata barusan terdengar konyol, tapi entah kenapa juga terasa begitu meyakinkan. Aku diam sejenak, merenungi yang baru saja dikatakannya. Kemurungan nya tadi entah hilang kemana dan digantikan dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Demi gadis, ya — semua ini awalnya memang gara-gara Kanzaki sih, tapi tujuanku yang sebenarnya adalah untuk membalas perbuatannya saja.." batinku.
"Baiklah aku akui ingin beli gitar untuk jadi populer di kalangan para gadis. Jadi jawabanmu setuju atau tidak?"
"Wahh jadi benar ya, mendengar perkataan itu aku jadi terharu, Ta-chan kau sudah besar ya nak"
"Hentikan drama gak jelas itu... Jijik tahu!"
"Ehehe, cuma bercanda kok. Kalau kau mau beli gitar, di tempat biasa saja ya dan jangan lupa pakai namaku saat membayar. Kalau tidak mereka tak akan memberi diskon padamu"
Aku bangkit dari sofa menuju kamar. Dengan segera aku mengganti pakaian untuk langsung pergi ke toko musik hari ini juga.
"Aku pergi dulu ke rumah Haruka ya"pamitku.
"Ada apa nih? Bukannya mau beli gitar? Kok ke rumah Haruka?" Tanyanya.
"Ada deh, pergi dulu ya" jawabku sambil menutup pintu dan berjalan menuruni tangga.
🎶
Setiap anak tangga yang sudah ku pijak terdengar suara khas yang membuat keheningan sore menjadi sedikit lebih hidup. Ketika kakiku sudah berpijak ke tanah, aku terdiam dan bingung harus memulia mencari ke toko yang mana. Sebelum ini aku memang pernah punya alat musik, namun itu juga pemberian ayah dan bukan aku yang beli langsung ke toko.
Pernah sekali ketika aku hendak membeli CD musik baru, aku pernah berkunjung ke toko musik dan disitu juga terpampang sebuah gitar. Di usia yang masih muda, aku tidak begitu tertarik dengan alat musik besar itu makanya aku hanya melengos pergi.
Meski begitu rasanya tidak nyaman mencari toko musik yang menjual gitar dengan kualitas terjamin. Mana mungkin aku menyusuri setiap toko musik tanpa membeli apa-apa kan...
Setelah merenung beberapa saat, handphone berdering dengan alunan salah satu musik Chopin. Aku melihat nama yang terpampang dan itu adalah Haruka, sebuah kebetulan yang tak disangka!
"Tunggu, jika aku beri tahu dia kalau ingin beli gitar, nanti dia akan mengajak ku bergabung ke klub lagi... Gimana ya.." pikirku yang jadi ragu mengangkat telepon.
Dengan pasrah aku pun menjawabnya.
📱Haruka:... Moshi-moshi Ta-chan? Sedang apa sekarang? Kalau kau sedang luang, temani aku jalan ya..
📱Arata: Kalau aku tak mau bagaimana?
📱Haruka: Jahatnya, kau itu seorang laki-laki dan tidak baik jika terus dirumah tahu!
📱Arata: Apa hubungan nya itu? Oh iya daripada jalan gak jelas, ada yang ingin kuminta bantuan darimu"
📱Haruka: Bantuan? Apa itu? Sebagai balas budi kau harus gabung ke klub musik ya..
📱Arata: Tidak akan! Begini ya, apa kau tahu toko alat musik yang cukup terjamin kualitasnya?
📱Haruka: Toko alat musik? Kenapa tiba-tiba gini?
📱Arata: Tentu saja untuk membeli alat musik lah, apalagi coba. Sekarang ini aku ingin main gitar..
Setelah menjawab perkataan itu, aku jadi sedikit menyesal mengatakan itu pada Haruka. Sudah kuduga akan jadi seperti ini.
📱Haruka: Apa ini karena ucapan Kanzaki-san tempo hari?
[Terdiam tak bergeming sesaat]
📱Haruka: Kok diam? Jadi benar ya...
📱Haruka dan Arata: Jadi pengaruh— Bukan begi—
Kami berdua terdiam sejenak sambil tertawa dan tidak melanjutkan pembicaraan yang terputus karena diucapkan berbarengan. Dari telepon yang sedang ku pegang ini, terdengar suara kedatangan kereta.
"Jadi dia habis pulang dari ekskulnya ya.. aku jadi ingat dia ada latihan gabungan dengan sekolah lain di ekskul satunya lagi"
🌼Note🌼: Haruka sebenarnya mengikuti dua ekskul sekaligus. Yang pertama, klub musik yang tidak jelas tujuannya dan satu lagi adalah klub bisbol.
📱Haruka: Maaf ya kalau berisik. Karena aku baik, akan ku temani kau ke toko untuk membeli gitarnya.
📱Arata: Tidak perlu, kau kan baru selsai ekskul nanti cape lagi..
📱Haruka: Ah tenang saja kok, toko nya tak terlalu jauh dan toko itu kebetulan milik kakak ku yang pertama.
📱Arata: Ahh, Kirin-san yang galak itu, terimakasih tapi.."
📱Haruka: Sudah dulu ya, keretanya sudah tiba nih, ketemuan di cafe dekat toko komik langganan waktu kita kecil ya.
Ia pun menutup teleponnya sebelum aku mengutarakan pendapat ku sila toko yang akan dituju. Entah kenapa suara Haruka barusan terdengar serak seperti mau terkena flu. Aku jadi tidak enak dengannya yang mau mengantarku padahal ia sendiri kecapean.
"Yosh, sesudah beli gitar aku akan mentraktir nya.." ucapku yang kemudian berjalan pergi.
Dari jendela apartemen tempat tinggal Arata, sosok wanita paruh baya tengah tersenyum riang melihat anaknya yang polos itu.
"Kau sudah besar ya, Ta-chan..."
🎶
🌼つづく🌼
Selamat Hari guru Nasional, untuk para pengajar di seluruh Indonesia🙏🏻🥰😘
Kau lah pahlawanku
Kau juga inspirasiku
Selamat hari Guru
[Jangan lupa berterimakasih pada gurumu ya Readers, karena tanpa jasa nya kita tidak akan seperti sekarang..]😊😉
salam manis,
Megane-chan👓🍁