Sonata No Kioku

Sonata No Kioku
20.2- Burung dalam sangkar



🌼Shiori POV🌼


"Plak!"


"Tarik kembali ucapan mu itu!"


Keheningan di aula pribadi, kini pecah karena suara tamparan yang menggelar. Semua orang yang tengah duduk menyaksikan adegan ini, tak hentinya tercengang dengan mulut terbuka maupun ditutup telapak tangan.


Benar, tamparan itu tak lain dan tak bukan dilayangkan padaku seorang. Kanzaki Shiori, sang nona muda Paganini. Maestro biola termuda yang sudah merintis masa depan kelamnya di usia dini.


Orang yang menamparku adalah Kanzaki Emilia. Beliau adalah ibu kandung Shiratori dan ibu tiri untukku, ia memiliki paras cantik yang membuat dirinya menjadi seorang model. Tapi paras cantiknya itu, tak seindah hati nya yang busuk seperti sampah.


"Apa kau sadar dengan perkataan mu itu? Mentang-mentang sudah remaja, kelakuan mu jadi kurang ajar!" Ia menunjukku sambil mendorong hingga terjatuh.


"Hentikan okaa-sama! Mungkin onee-sama sedang tidak fit untuk tampil hari ini" ucap Shiratori sambil menarik tangan ibunya.


"Lepaskan tanganmu Tori-kun! Jangan pernah lagi membela anak tak tahu terimakasih sepertinya! Kau tahu kan, pertunjukan kali ini sangatlah penting?! Coba kau peka sedikit tentang usaha yang dilakukan ayahmu dan aku. Ini menyangkut harga diri keluarga!!"


Seperti yang kalian saksikan, sekarang aku tengah di maki dan dipaksa tampil didepan keluarga pemegang saham tertinggi di Tokyo. Nama keluarga itu adalah Miyamizu dan anak satu-satunya mereka, akan dijodohkan dengan ku beberapa bulan lagi.


Kabar perjodohan ini baru tersampaikan padaku beberapa jam lalu. Dan dengan perasaan tak terima, aku menolak mentah-mentah sambil mengancam akan bunuh diri. Karena itu lah aku ditampar oleh ibuku.


Ibuku mulai berjalan mendekat ke arahku sambil mencengkram bajuku erat. Untuk sesaat aku tak bisa bernapas karena tercekik, beliau yang melihat aku kesakitan mulai memperlihatkan senyum liciknya dan berkata:


"Jika kau tak ingin tampil, maka sekarang akan kusuruh pembunuh bayaran membunuhmu!"


Tangannya yang panjang itu melemparkan tubuhku lagi ke lantai. Sambil tertawa jahat, ia menginjak kepalaku lalu pergi membanting pintu.


"Cepatlah turun kebawah setelah bersih-bersih diri. Jangan buat aku malu!" Teriaknya.


"... Dasar iblis..!" Batinku sambil berusaha bangkit dan berdiri. Namun, entah kenapa pandangan ku kabur dengan kepala yang berputar kencang seperti gasing.


Samar-samar aku mendengar suara Shiratori yang mengguncang tubuhku yang lemah di pangkuannya. Inginku tetap membuka mata, tapi kegelapan lebih pekat dan kuat untuk menutup mataku.


"... Ri... Ori... Shiori!"


Kubuka mata dengan perlahan dan menoleh ke arah asal suara tersebut. Dengan cucuran air mata, aku memeluk sosok yang tengah duduk disamping-Ku sangat erat.


"Kau baik-baik saja kan?" Ia bertanya dengan nada rendah yang lembut.


"Iya, aku baik-baik saja. Otou-sama!" Balasku.


"Syukurlah, aku sangat khawatir kau kenapa-napa. Kau ini sudah besar, tapi masih saja ada insiden jatuh dari tangga. Untung saja keluarga Miyamizu bisa paham dengan kondisimu dan membatalkan sementara acara ini" ucap Otou-sama sambil melepas pelukannya.


"...jatuh dari tangga? Bukannya aku ditindas oleh okaa-sama tadi?" Pikirku heran.


Derit pintu terdengar bersahutan dengan langkah hak tinggi milik seorang wanita. Suara itu kini semakin terdengar jelas dan berhenti tepat didepan ku.


"Ada apa ini? Shiori-chan apa kau baik-baik saja?" Tanya okaa-sama sambil memeluk ku cemas.


"Dia baik-baik saja, hanya kecapean" jawab otou-sama.


"Oh ya tuhan! Semoga kau tidak kenapa-kenapa Shiori-chan. Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk, aku pasti akan mengakhiri hidupku!"


Okaa-sama pun memeluk ayahku dengan Isak tangisnya. Aku sebenarnya tahu bahwa dirinya tengah bersandiwara didepan ayah. Sebenarnya ia tahu, penyebab aku seperti ini karena ulahnya. Kenapa dia repot-repot membuat drama ini? Kenapa tidak langsung membunuh ku saja? Apa rasa bencinya itu sangat besar??


Kepalaku tertunduk sesaat. Kedua bola mataku terpaku melihat tangan yang terkepal diatas selimut putih berbau lavender ini. Dilain sisi, Shiratori datang menghampiri dan memelukku erat. Entah kenapa, aku merasa lelah menghadapi semua ini..


"Sekarang, aku harus bagaimana?"


🎢


Sewaktu aku masih kecil, aku sangat suka dengan buku dongeng Cinderella. Dan tokoh yang aku suka sekali, adalah ibu peri. Ibu peri itu seperti jelmaan tuhan yang datang dikala Cinderella sedih karena tak bisa datang ke pesta dansa. Dengan sekali ayun, tongkat sihir itu menyiapkan segala persiapan yang dibutuhkan Cinderella.


Biar kujelaskan sedikit tentang anak laki-laki itu. Kejadian itu dimulai ketika aku dan kedua orangtuaku pergi ke taman. Namun, ditengah perjalanan ada sebuah kecelakaan dan membuat semua orang panik. Alhasil aku terpisah dari mereka. Dengan kondisi yang takut dan bingung, tiba-tiba saja seorang anak laki-laki itu datang. Menjulurkan tangannya dan membuat rasa takutku hilang.


Ia terus ada disamping-Ku hingga kedua orangtuaku datang. Namun aku lupa menanyakan namanya sebelum pergi...


Selepas kejadian itu, aku selalu menyelinap pergi ke luar rumah untuk mencarinya lagi di taman. Namun, usaha itu sia-sia karena ia tak kunjung datang.


Anak laki-laki itu persis seperti tokoh ibu peri yang aku suka. Dan aku ingin sekali bertemu dengannya, meski hanya beberapa detik. Aku ingin bilang padanya... "Aku sangat berhutang terimakasih untuk kejadian waktu itu!"


// 3 hari kemudian..//


Sinar matahari siang mulai merambat masuk melewati celah jendela. Semilir angin pun mulai terasa hadir di kesunyian ruang musik, dengan malasnya aku memainkan sebuah lagu karya Paganini sesuai jadwal latihan.


"Tok... Tok... Tok"


Ketukan pintu terdengar disaat lagu mengalun dibagian tengah. Kuhentikan sejenak permainan nya dan membukakan pintu. Orang yang ada dibaliknya ternyata ibu tiriku.


"Ada perlu apa, okaa-sama?" Tanyaku sambil mempersilahkan dirinya masuk.


Dengan angkuhnya ia masuk ruangan dan duduk di sofa. "Bagaimana keadaan mu?" Ia balik bertanya.


"Sudah lebih baik. Ini semua berkata waktu istirahat yang panjang" jawabku.


"Hem, baguslah. Kalau kau sudah merasa baikan, sepertinya tanggal pertunangan kalian harus segera ditetapkan" ucapnya.


"Apa maksudnya?"


"Jangan pura-pura lupa Shiori-chan. Kau sudah dijodohkan dengan putra satu-satunya keluarga Miyamizu. Dan mau tak mau kau harus melakukan pertunangan ini!"


"... Kenapa? Aku kan tidak menyukainya!"


"Tidak penting kau suka atau tidak. Yang jelas, ini sangat menguntungkan bagi perusahaan ayahmu. Karena itu, perjodohan ini sangat penting bagi keluarga Kanzaki"


"Apa-apaan ini?!"


Mendengar ucapannya, aku langsung berbalik dan menatap nya tajam. Kedua matanya sangat menggambarkan keangkuhan dan kebencian padaku.


"Apa kau mau menolak?"


Ia melontarkan kalimat yang sulit kubantah. Dan dengan cepat, ia membungkam mulutku dan mengumumkan tanggal pertunangan nya.


Aku yang tak bergeming seperti burung dalam sangkar, hanya bisa menatap kosong ubin ruang musik. Tanpa sadar, air mata mulai mengalir dari pipiku...


"... Jika tuhan itu benar adanya, aku mohon. Pertemukan aku sekali lagi, dengan anak laki-laki itu.."


"Karena, hanya dia seorang lah yang bisa membantu ku.."


🎢


🌼぀γ₯く🌼


Hai semuanya, gimana eps spesial Kanzaki-san? Semoga suka ya. Maaf kalau gak nyambung karena aku buatnya agak terburu-buru πŸ˜‚πŸ˜…


Kalau ada kesalahan, ketidakpahaman dan saran dari kalian... harap tulis di kolom komentar ya. Jika ada waktu luang lagi, aku akan perbaiki πŸ™πŸ»πŸ˜Š


Sampai ketemu di eps spesial Kanzaki-san selanjutnya..


ditunggu dengan sabar yaπŸ˜¬πŸ˜…πŸ™πŸ»


salam,


Megane-chan πŸπŸ‘“