Sonata No Kioku

Sonata No Kioku
21- Berlatih Gitar (Bag. 1)



Pemberitahuan: Jika kalian lupa dengan apa yang terjadi sebelum bab 21, dimohon untuk membaca kembali bab 19 agar nyambung bacanya . ❛ ᴗ ❛. (Megane-chan 🍁👓)


.


.


.


...Enjoy~ Jangan lupa like dan sarannya ya🦋❣️...


*Teng... Tong... Teng...*


"Berdiri" ucap Nanoka sang ketua, kelas. Semua murid berdiri dalam posisi siap tanpa ada yang celingak-celinguk lagi atau sibuk dengan aktivitasnya. Melihat situasi yang sudah sesuai, Nanoka pun membungkuk sambil berkata. "Beri salam".


"Terimakasih Sensei..." Seru semua murid secara bersamaan.


Sensei pun tersenyum dan pergi meninggalkan kelas. Dalam situasi seperti ini, aku cepat-cepat membawa bas-ku berlari dari ruang kelas segera setelah sekolah berakhir.


Kubawa bas itu menuju atap sekolah, begitu sampai, mataku menangkap sesosok gadis berseragam sama sepertiku tengah berdiri mencengkram erat pagar sambil melihat indahnya langit di sore hari. Rambut hitam yang diikat itu tertiup angin sepoi-sepoi, begitupula rok nya. Tampaknya gadis itu sedang dalam suasana hati yang baik dan penuh semangat. Siapa lagi kalau bukan Keiko-senpai.


"Kau terlambat bocah, aku kan bilangnya sebelum bel sekolah berhenti berbunyi, kau sudah harus ada disini. Tapi, kau malah datang disaat bel sudah berhenti 5 detik yang lalu" protesnya sambil melipat tangan didepan dada.


"Itu bukan salahku, senpai sendiri yang datangnya terlalu cepat. Lagian gimana caranya senpai datang sebelum bel berhenti bunyi? Kan saat itu masih ada pelajaran?" balasku tak mau kalah.


Keiko-senpai tertawa. "Kau tahu disekitar sekolah ini terdapat sebuah gedung pertunjukan musikal?" Ia bertanya.


"Tahu lah, terus kenapa?" Aku balik bertanya.


"Melodi dari penanda berakhirnya sekolah kita dengan penanda berakhirnya latihan musikal di gedung itu, berbunyi diwaktu yang bisa dibilang saling bersahutan. Suara yang dihasilkan nya jadi menarik loh.. aku harap kau juga dengar" jawabnya.


"Hah? Gimana? Aku tak paham dan tak peduli lagi sih. Masalahnya, senpai kita ini sudah melanggar peraturan sekolah, jadi jangan berdiri diatas pagar itu! Kau mau kita kena hukuman berat?"


Senpai lalu melompat dari pagar dan mendarat tepat dihadapan ku. "Apa kau sudah putuskan untuk bergabung dengan klub musik ku?"


"Maksud senpai band tak berguna yang asal usul nya tak jelas? Yah..." Tiba-tiba saja ucapanku terpotong karena masih bimbang dengan keputusanku. Untuk sesaat, aku menyandarkan bas itu di pagar lalu berkata.


"Aku memang perlu bantuan dari Keiko-senpai untuk mengajariku bermain bas. Tapi kalah soal masuk ke klub itu..." Lagi-lagi ucapanku terpotong dan kali ini dipotong oleh teriakan senpai.


"KENAPA? Apa kau tidak mau gabung sama sekali??"


"Bukannya tidak mau gabung. Hanya saja, niatku dari awal membeli gitar ini kan, supaya dapat merebut kembali ruangan pribadi Kanzaki-san. Aku tak bisa memainkan bas ini demi orang lain selain diriku sendiri"


"Kenapa tidak? Kau sudah datang kesini sesuai apa yang diperintahkan oleh ku... Masa hanya karena itu?"


"Memang benar aku datang kesini sesuai perintah mu. Tapi aku lakukan hanya karena butuh bantuan dari senpai agar aku bisa menang dari tantangan Kanzaki-san!"


"Jadi kau memanfaatkan keahlian bermain gitar ku agar bisa mengalahkan Kanzaki-san? Intinya kau melakukan hal yang sama, seperti aku memanfaatkan mu?"


Keiko-senpai bicara blak-blakan dan terus terang padaku. Jika itu orang lain, pasti mereka tidak akan melakukan hal jujur seperti ini. Karena sedikit terkesan pada sikap senpai, aku mengangguk dengan jujur semua pertanyaan yang ia lontarkan.


Tak lama setelah itu, senyum di wajah senpai mengembang sangat lebar.


"Jadi begitu ya... Sebenarnya aku kecewa sih, tapi melihat dirimu yang sudah bisa bertindak sendiri, aku merasa bangga dan terharu.. ternyata kau sudah besar ya," ucapnya.


"Anu... Aku memang sudah besar.." selaku.


"Iya juga. Tapi bukankah ini suatu hal yang bagus? Meski kau memanfaatkan ku secara terang-terangan, aku sudah memprediksi bahwa kau akan tetap gabung dengan band ku tak lama lagi!"


Senpai duduk dengan kaki menyilang dan mengeluarkan perlengkapan seperti amplifier mini dan banyak lagi. Tak lupa, ia menyetel senar pada gitarnya dan menyuruhku duduk juga.


"Senpai, kenapa kita berlatih di atap? Bukankah ini area terlarang di sekolah?" Tanyaku.


Pertanyaan ku tidak dijawab segera. Karena, daritadi senpai sibuk melilitkan dan merenggang kan sesuatu dekat pagar.


"Hem. Simpan pertanyaan itu untuk nanti, karena sekarang kau harus berjalan ke gedung sebrang menggunakan tali yang sudah ku siapkan sejak tadi!" Jawab nya.


"Eh?! Apa!!" Aku terkejut dan hampir saja menjatuhkan bas milikku.


"Bocah kau ada masalah pendengaran ya? Aku bilang kan, kau harus berjalan di tali ini ke gedung sebrang. Sekarang juga!" Ia mengulang kata-kata nya dengan logat aneh.


"Ta-tapi ini untuk apa? Bukannya lebih baik berlatih petikan jari pada senar?" Ucapku.


"Latihan itu sudah kuno. Dengar ya, kau tidak akan bisa bermain bas kalau kau tidak percaya dan menggantungkan nasib mu pada senar bas mu sendiri. Sekarang, jangan banyak tanya lagi. Akan ku doakan keselamatan mu dari sini" ujar senpai.


"Mana ada latihan seperti ini!? Senpai ngaco!" Teriakku.


"Ada kok. Ini pelatihan yang disarankan oleh legenda gitaris pujaan ku. Dan biar ku peringatkan satu hal. Jika ingin memulai, kau harus siapkan mental dulu. Kemungkinan besar jika jatuh, kau akan mati." Kata nya sambil mengacungkan kedua jempolnya.


Aku menggeleng kuat. "Tidak tidak tidak... Senpai ini bicara apa sih? Mana mungkin seorang murid kelas 1 SMA melakukan hal nekat seperti itu, hanya untuk bisa bermain bas?! Jika aku benar-benar mati, hanya demi bisa bermain bas, itu kan konyol!"


"Ya ampun" Keiko-senpai mengangkat bahunya sambil menepuk jidat nya. "Untuk menjadi ahli bas yang pro, kau perlu melewati latihan khusus yang membahayakan hidupmu. Seperti ucapan sang legenda gitaris favoritku seumur hidup! Kau tahu, dia berlatih setiap hari dengan memukulkan kepalanya ke tembok atau tidak membiarkan dirinya termakan kobaran api dan banyak lagi.."


"Tunggu, siapa legenda gitaris yang senpai puja itu?" Aku memotong penjelasan yang terdengar seperti laju kereta api.


"Tentu saja.... Mendiang Ikariya Chousuke" jawabnya lantang.


"Sstt... Jangan ngamuk. Meski mereka grup pelawak, tapi kan mantan band ternama. Dan juga, legenda band yang sedang naik daun seperti The Beatles. Bocah, kau harus jaga sopan santun terhadap mereka.."


"Soal itu aku sudah tahu!! Jangan mengalihkan pembicaraan dong.."


"Baik baik. Soal kau harus berjalan ke tali itu, hanya bohongan. Kau perlu melatih penglihatan mu bocah, disini mana ada tali... Itu hanya ilusi yang kubuat dari pantulan sinar matahari senja lho"


Seketika aku membatu dan mendekat ke lokasi yang ditunjuk Keiko-senpai. Aku langsung menepuk jidat dan meminta maaf padanya, karena memang benar tidak ada tali melainkan hanya pembiasaan cahaya yang mengenai suatu barang dibawah.


"Sebenarnya aku memanggilmu kemari, bukan untuk berlatih. Melainkan 'hal itu' "


Senpai bersandar pada pagar sambil menunjuk kebawah. Tanpa perlu bertanya lagi, aku sudah tahu maksud dari hal itu. Ya, hal itu adalah suara gitar yang dipetik. Lebih tepatnya suara yang dihasilkan oleh Kanzaki-san di ruang pribadiku (dulu) yang tempatnya tepat dibawah kami.


"Dia itu memang terlalu menganggap remeh yaa... Waktu itu sudah ku ajari cara memperbaiki ruangan kedap suara nya dengan handuk. Lantas, kenapa suaranya masih bisa terdengar?" Pikirku setengah cemberut.


"Semua ini berawal dari satu Minggu yang lalu..."


Tubuh Keiko-senpai yang ramping mulai terperosot ke bawah dan terduduk dengan punggung yang tersandar di pagar. Lalu menatap langit.


"Ketika diriku yang rajin ini, memutuskan untuk bolos mulai dari jam pelajaran pertama hingga bel pulang sekolah berbunyi sembari mendengarkan suara jalanan" lanjutnya.


"Untuk apa kau pergi ke sekolah kalau gitu?" Batinku.


🎶


Sinar senja yang sudah hampir terbenam, membuat bayangan tubuhku terlihat semakin pekat. Aku yang masih menunggu lanjutan cerita dari senpai, tak ada hentinya melirik kebawah sambil terus mendengarkan suara gitar itu.


"Dikala itu pun, matahari mulai terbenam dengan awan gelap tanda hujan akan turun. Aku yang ingin meninggalkan atap terhenti, karena terdengar suara gitar. Suara yang teratur dan sempurna. Lagu yang dibawakan nya adalah salah satu lagu klasik berjudul Sonata. Akan tetapi, dia selalu saja melewati bagian yang penuh aksi bagi gitaris rocker dan terus saja memainkan nada rendah tak bersemangat. Layaknya orang sakit. Aku begitu kesal sampai tidak menyadari kalau hujan sudah mulai turun membasahi bumi," kata senpai.


Aku pun terduduk disampingnya dan sempat menoleh ke wajahnya. "—senpai bisa kena flu loh.." ucapku.


"Orang itu terus saja mengulang lagu Sonata yang ia aransemen sendiri hingga not terakhir. Kemudian, kudengar suara pintu terbuka. Karena penasaran, aku pun mengintip dari balik jeruji kawat berlubang ini. Dan..!" Ia berseru dengan suara tinggi yang membuatku terkejut.


"Kok rasanya seperti mendengar kontestan pembaca puisi.." pikirku.


"Dan, apa senpai?" Tanyaku.


"Dan..! Kulihat seorang gadis berparas cantik berjalan keluar ruangan tersebut. Rambut ungu tua panjang nan berbinar itu tampak anggun—seperti sosok malaikat yang jatuh dari awan. Hal itu membuatku jatuh hati pada pandangan pertama pada dirinya" Ia berdiri dengan aura berbinar-binar.


Aku tersentak kaget mendengar perkataan senpai. Bulu kudukku berdiri semua dan refleks aku menjauhi senpai.


"A-anu... Senpai" panggilku.


"Ya? Ada masalah apa bocah?" Tanyanya.


"Ka... Kanzaki-san itu kan, perempuan. Kenapa senpai cinta padanya? Kau tidak... Berpikir miring kan?" Aku balik bertanya.


"Memangnya salah jika aku cinta padanya? Aku itu suka dengan hal yang anggun dan cantik. Jenis kelamin tidak ada hubungan nya.." jawabnya dengan nada angkuh.


"Syukurlah cuma suka.... Kukira lebih parah" aku mengelus dada lega.


"Aku ini masih waras loh. Itu juga alasan ku mengizinkan Ohsawa Haruka dan Satoshi bergabung dengan band ku"


"Karena cantik? Satoshi itu laki-laki loh.."


"Bukan hanya cantik. Tapi imut!!"


"Imut? Tolong jangan ucapkan kata mengerikan itu lagi. Terutama untuk mereka berdua, apa senpai tidak peduli dengan bakat mereka bermain alat musik? Senpai tahu tidak, Haruka butuh waktu setahun untuk mahir main drum dan Satoshi rela les privat untuk bisa main keyboard. Apa senpai tak peduli itu?"


Keiko-senpai membisu dan terus menghindar tatapan mataku. "Jika Haruka tahu hal ini, dia akan menangis" ucapku.


"Tidak masalah, aku pasti akan cepat beritahu ini pada dia soal selera musik aliran nya.." jawab Keiko-senpai santai.


Aku terkejut hingga tidak bisa berkata apa-apa. Tidak kusangka jika senpai orang yang seperti itu. Seharusnya aku belajar bas sendiri — masih belum terlambat buatku untuk melarikan diri.


Aku berdiri dan berjalan menuju pintu, sebelum aku meraih gagang pintu, senpai pun berkata.


"Apa kau tahu alasan kenapa aku meminta bantuan mu untuk merekrut Kanzaki Shiori dalam band ku?"


"Memangnya apa?" Tanyaku yang berbalik dan menatap senpai ragu.


"Saat pandangan kami bertemu hari itu, aku cepat-cepat membujuknya untuk gabung. Tapi tidak ada satupun ucapanku yang ia dengar. Ditambah lagi, dari hasil penyelidikan ku selama beberapa hari terakhir, entah alasan apa itu hanya kamu seorang di sekolah yang bisa berbincang dengannya" jawabnya.


Aku terkejut bukan main. Perlahan aku melihat seulas senyum mencurigakan Keiko-senpai yang berjalan ke arahku.


"Maka dari itu bocah..." Ia menaruh kedua tangannya di bahuku.


"A-apa?"


"Aku butuh bantuan mu untuk rencana hebat ini!"


Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak bisa menatap langsung mata senpai. Yang bisa kulakukan hanya mengalihkan pandangan kemana saja. Seumur hidup, itulah pertama kalinya seseorang berkata begitu padaku. Bahwa aku berguna... Dan sangat dibutuhkan disini.


🌼つづく🌼