Sonata No Kioku

Sonata No Kioku
23- Si jenius yang ceroboh



Jarum jam pada tanganku mulai menunjukkan pukul setengah 6. Berarti sudah sekitar satu jam aku berlatih, aura asing yang mengganjal ini, sudah sejak lama kurasakan entah apa namanya itu. Yang jelas perasaan ku sulit dijelaskan dengan kata-kata...


"Fuahh..." Ku lepaskan jari jemari ini dari senar dan menghentikan metronom. Tiba-tiba saja, ketika aku meregangkan badan aku tersadar akan sesuatu yang hilang.


"Oh iya... Kemana hilangnya suara gitar Kanzaki-san?" Aku melirik kesana kemari dan memastikan waktu yang ditunjukkan jam pada dinding kelas. Menurut penelitian senpai, Kanzaki-san akan terus bermain hingga pintu gerbang sekolah ditutup. Tapi butuh 30 menit lagi sebelum ditutup, suara itu sudah berhenti. Mungkinkah dia ke toilet?


"Sudah ah, lebih baik latihan lagi," Ku tingkatkan sedikit tempo metronom itu sambil terus memetik senar. Tak lupa juga aku mengiringi dengan nyanyian.


Sesaat tempo yang kumainkan dengan lirik yang dinyanyikan itu tidak sesuai. Alhasil aku cukup kesulitan untuk membuatnya seirama. Jari-jari ku berhenti bermain karena ada sesuatu yang mengganjal.


Pintu kelas pun sedikit terbuka dengan suara berdenyit. Kusandarkan basku ke tembok dekat jendela, lalu berjalan menuju pintu yang kini sedikit terbuka. Sewaktu membuka nya lebar, aku melihat Kanzaki-san tengah berdiri gemetar di balik pintu. Ia mundur perlahan dengan mata yang tertutup, tapi kakinya terpeleset karena genangan air hujan dan hampir saja jatuh ke bawah tangga yang berada tak jauh dari kelas.


Ketika kedua tangannya menari-nari tak jelas di udara, segera kuraih tangannya itu dan menariknya hingga menimpa tubuhku yang terjatuh.


"... Kau sedang apa disini? Dasar ceroboh!"


Dengan susah payah, Kanzaki-san berdiri menjauh dari ku yang masih terbaring di lantai. Ia segera merapikan seragamnya, lalu memalingkan wajah.


"Aku kesini karena merasa terganggu. Sepertinya ruangan ini cukup berisik ya" jawabnya.


Kulirik gitar bas yang ada didalam kelas dengan sedikit terkejut. "Masa permainan ku terdengar oleh nya? Tidak mungkin aku bermain dengan suara keras.." pikirku.


"Kenapa kamu berlatih di tempat seperti ini?" Kanzaki menatap mataku tajam. Raut wajahnya tampak tidak senang.


"Ini semua karena aku mencemaskan ruangan pribadi ku" geramku.


"Maksudmu ruangan pribadi ku, kan? Ingat ya, ruangan itu belum jadi milikmu sebelum pertandingan dimulai" ucap Kanzaki-san.


"Iya aku mengerti. Bukankah hari itu aku pernah mengajarimu memperbaiki ruangan agar kedap suara? Kenapa belum kau lakukan?" Aku bertanya.


"Kalau aku melakukan itu sekarang, nanti aku susah untuk kabur jika tahu-tahu 'itu' datang lagi" ujar nya.


" Itu? Apa maksudnya dari 'itu' ?"


Wajah Kanzaki pun pucat. Tangannya mulai gemetar, begitu juga dengan bibirnya. "I-itu.... Se-sesuatu yang... Menggelikan..... Menggeliat.... Hiihhh!!" Seketika itu juga ia menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Oh! Maksudmu itu serangga? Apakah itu kecoa?" Tebak ku.


"Aku tak dengar!!! Tak dengar!!! Tak peduli!!" Ia menutup kedua telinganya sambil menginjak kakiku.


"Aduh! Kau ini kenapa? Jadi benar ya?"


"Berisik bodoh! Aku kesini bukannya untuk mendengar mu mengatakan hal yang bukan-bukan!!"


"Lantas kenapa kau kemari?"


Kanzaki terdiam dan menghentikan injakan kakinya padaku. Ia menunjuk ke arah bas ku, lalu menatapku bulat-bulat.


"Bawa benda itu, dan ikut aku ke atap"


🎶


*Tak... Tak... Tak*


Suara langkah kaki terdengar beriringan memukul lantai koridor yang sunyi, sepi. Tak ada cakap-cakap yang terdengar, melainkan hanya suara gemuruh angin malam saja.


Butuh beberapa langkah lagi saja, aku dan Kanzaki akan tiba di atap. Anak tangga demi anak tangga, kami lewati dan perlahan tangan Kanzaki mendorong pintu besi di hadapan kami, suara derit pun terdengar.


"Wah.. indah sekali" seru Kanzaki-san yang berlari ke tengah dengan kepala yang menengadah ke langit.


Aku pun ikut melihat langit yang terang karena banyak bintang berhamburan disana.


"Kau benar, ini indah" ucapku.


Kanzaki-san melirik ke arahku dan tiba-tiba saja ia berdehem. Aku menoleh cepat sembari bertanya.


"Ada apa lagi?"


"Nada yang kau hasilkan itu sumbang" jawabnya tegas.


Ia melipat kedua tangannya di dada sambil cemberut. "Ku sarankan jangan main bas itu lagi".


"Heh? Kenapa kau jadi begitu? Bukan urusanmu kan, aku main gitar seperti apa" aku membalas dengan seruan kesal.


"Asal kau tahu saja ya, senar ketiga dan keempat mu itu terlalu datar. Jadi saat dipetik dengan nada yang lain, jadi tidak nyaman di telinga" ia menjelaskan.


Aku terkejut setengah mati, lalu mengecek tuner pada bas yang ada di pelukanku. Dan memang benar katanya, itu sumbang.


"Lihat kan, aku benar? Apa kau tidak menyadari nya? Dasar bodoh" ucapnya.


"Cih sombong amat. Loh kok aneh ya? Bukannya Kanzaki-san ada di ruangan paling bawah gedung. Sedangkan aku berada pada dua lantai di atasnya. Kenapa dia bisa sadar bahwa nadanya sumbang??" Pikir ku.


Saat tengah asik mengutak-atik bas, Kanzaki-san tiba-tiba merampas nya tanpa permisi. Ia segera memutar pemutar senar pada bas beberapa kali sambil mengecek nadanya, lalu melemparkannya padaku. Ketika aku mencoba memetiknya, suara indah terdengar.


"Terimakasih aku sangat tertolong!" Ucapku.


"Bukan masalah besar untukku, lagipula aku membantu mu agar tidak menyakiti telinga saja"


"Lagi-lagi dia sombong!!" Batinku.


"Karena bas mu sudah benar, mainkanlah sebuah lagu"


Aku mengangguk dan mulai memainkan sebuah lagu original miliknya yang sering dimainkan. Tak lama kemudian, Kanzaki-san duduk disampingku dengan kepala yang menengadah ke lautan bintang di atas kami.


"Apa kau... Senang bermain gitar?"


Kanzaki-san mengggumamkan pertanyaan itu, aku berhenti bermain dan melirik dirinya.


"Maksudnya apa?" Tanyaku.


"Emm... Awal-awal memang sulit dan sedikit kesal karena selalu salah. Namun, setelah belajar lagi dan lagi, ini cukup menyenangkan. Karena lagu yang awalnya tak bisa ku mainkan, akhirnya bisa dimainkan sedikit demi sedikit"


"Baguslah.." Kanzaki-san tampak tidak tertarik sama sekali. Yang dilakukan nya saat ini, hanya terus melihat bintang.


Aku menarik napas, lalu menghembuskan nya. Aku pun menanyakan hal yang sama padanya. "Apa kau senang saat bermain gitar?"


"Tidak. Tidak sama sekali" jawabnya datar.


"Jika tidak senang, kenapa tidak berhenti saja?" Aku memperbaiki posisi duduk ku sambil menatap nya.


Ia menolehkan wajahnya sambil menatapku balik. Ia menyunggingkan senyum tipis sambil berseru, "Kau juga, kenapa tidak mati saja?"


🎶


Aku menggenggam gitar itu kuat-kuat sambil menggertak kan gigi, mencoba untuk tidak marah. "Tenanglah Arata... Kau harus bersikap dewasa dan stay cool" batinku.


"Kau sendiri juga, ku sarankan berhenti saja bermain gitar kalau tidak senang. Untuk apa menutupi diri di ruangan itu demi bermain alat musik yang tidak kau inginkan? Lebih baik kau pulang dan mainkan biola mu sana" ucapku.


Kanzaki-san mengepalkan tangannya. "Itu bukan urusan mu!" Bentaknya.


"Cih, tentu saja ini urusanku! Kesalahan mu ini menyangkut masalah ruangan pribadi ku tahu! Kalau begitu, jangan gembok pintunya" aku mencengkram erat kedua bahunya.


"Kenapa kau bersikukuh sekali dengan ruangan tua itu?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Bisa kah kau membiarkan ku bermain di ruangan itu hanya di hari Senin?"


"Kenapa harus hari Senin?"


"Karena, setiap hati itu kau tidak pernah pulang larut kan? Kau pasti akan langsung meninggalkan lingkungan sekolah di hari itu. Maka nya, biarkan aku menempati nya sehari saja"


Ekspresi Kanzaki-san berubah. Ia berdiri dan menjauh dariku dengan tangan gemetaran. "Ta-tahu darimana kalau aku langsung pulang di hari Senin?! Ternyata benar ya, kau menguntit ku? Dasar aneh!"


"Dasar bodoh! Kejadian seperti itu pasti disadari semua orang di sekolah karena mereka bisa melihat langsung dengan mata sendiri"


"Grrrr..." Kanzaki-san menggigit kuku nya sambil mondar mandir tak jelas.


Percakapan kami pun berakhir menggantung. Aku terus berlatih dengan tenang, sesaat aku melihat dirinya seolah ingin pergi meninggalkan atap.


"—Sora-chan? Kenapa?"


Kanzaki-san terkejut dan membalikkan badannya. "Kau mulai ikut-ikutan memanggil dengan nama itu ya.."


"Kalau bukan dengan nama itu, aku harus manggil apa dong? Ahh, Kanzaki-san?" Ujarku.


Ia menatap dengan tatapan tajam. "Hentikan"


"Wah-wah, kalau begitu Shiori-chan?" aku menggoda nya.


Kanzaki-san tertunduk sambil menggigit bawah bibirnya. Benar kata Keiko-senpai, hanya aku seorang yang bisa berbicara seperti ini pada Kanzaki-san. Dan hanya aku seorang yang bisa membuat nya tampak seperti gadis lainnya..


"Sudah selesai mengarang cerita? Katakan saja semua yang ingin kau ucapkan padaku. Aku pernah bilang itu kan padamu..." Ucapku.


"Aku sudah mengatakan yang ingin kukatakan kok! Jangan sok tahu!" Bentaknya.


"Apa yang ingin kau katakan padaku?" Aku bertanya lagi sambil menyandarkan bas di pagar.


"Aku hanya ingin bilang suara bas mu sumbang!" Jawab Kanzaki yang semakin bergerak ke arah pintu atap.


"Apa yang ingin kau katakan padaku?" Aku mengulang pertanyaan yang sama sembari berjalan mendekati.


"Ihh! Baiklah aku menyerah! Se-sebenarnya... A-ada yang bergerak dan ber...berdengung...di belakang lemari..." Aku nya dengan tubuh gemetaran.


"Hah? Oh! Jadi itu alasannya kau kemari. Kau mau aku memeriksa apa itu dan mengusirnya... Bukan begitu?"


"Iya"


"Tapi kan, kau punya semprotan pembasmi serangga"


"Aku sudah menyemprotkan ke seluruh ruangan, sebelum kabur kesini"


Aku menepuk jidat tak habis pikir. Meski Kanzaki-san seorang yang jenius dalam musik, ternyata ia sangat ceroboh dan bodoh jika didepan serangga.


"Percuma saja kalah kau menyemprot kan itu ke seluruh ruangan dan bukannya ke serangga nya langsung!" ucapku sedikit membentak.


"Kau mau aku melakukan hal keji itu pada serangga! Betapa kejamnya dirimu!!" Mafuyu mengatakannya sambil menggerutu dengan air mata di sudut matanya. Tubuhnya


tampak gemetaran.


Aku tersenyum puas. "Daripada terus ketakutan, lebih baik ruangan itu kau serahkan padaku secara hormat. Bagaimana?"


"Dasar anak aneh!" Ia memakiku dengan menahan air matanya uang akan jatuh. "Jika kau terus bersikukuh tak mau bantu, biar kau sendiri yang urus!!"


Kanzaki lalu membanting pintu, dan dari langkah kakinya terdengar seperti menuruni tangga. "Selamat berjuang!" Kikikku.


Aku pun lanjut memainkan gitar. Meski Kanzaki bilang ingin melakukan sendiri, ia malah berdiri membatu di depan pintu. Karena tak tega, aku pun bangkit dan turun menuju ruangan dimana ia berada.


Ternyata suara berdengung itu bukan disebabkan oleh serangga. Setelah melewati anak tangga yang menuju ke lorong kelas, aku pun masuk ke ruangan pribadinya.


kucoba menggoyangkan lemari dan sesuatu yang tersangkut di belakangnya tiba-tiba jatuh dengan suara plak. Ternyata itu adalah poster anime kesukaan ku yang ada tanda tangan langsung sang pembuat nya. Suara berdengung itu mungkin suara gemerisik dari poster tersebut yang disebabkan oleh resonansi gitar Kanzaki.


"Jangan takut, ini hanya poster anime milikku. Lihatlah"


Kanzaki mendekat sambil terus memegang erat botol semprotan itu. "KYAAA HANTU!!!" Ia menjerit dan tanpa sengaja ia menyemprot kan cairan pembasmi serangga itu ke wajah ku, tak henti-hentinya menangis dan berteriak.


"Ohok... Ohok... Aku salah memperlihatkan poster ini pada nya. Bukannya yang anime, malah yang wajah gitaris legendaris ini..." Batinku menyesal.


🌼つづく🌼