Sonata No Kioku

Sonata No Kioku
19- Semprotan anti serangga & nama baru



"Tapi, yang kau lakukan padaku itu berbeda. Kenapa kau selalu saja datang saat aku sedang tak baik-baik saja?"


Dirinya yang menunduk kini memandangku dengan penuh harap. Aku yang melihat dirinya hanya bisa menunduk tak bergeming beberapa saat, dan tepat disaat jarum jam dinding tepat mengenai angka 12, aku pun membuka mulut, lalu berkata.


"Kalau itu, aku bisa— (Ting... Tong... Ting... Tong..)"


Suara bel pelajaran ke tiga pun berbunyi tepat disaat aku mengatakannya. Kanzaki berusaha mendekatkan telinganya ke bibirku tapi hasilnya malah tubuhnya jatuh ke atas tubuhku.


"Kau kenapa sih...?" Tanyaku yang berusaha berdiri.


"Ma-maaf, habis ucapan mu tadi tidak terdengar karena bel! Bisa kau ulang lagi?" Ia balik bertanya.


"A-aku tidak akan mengulangi nya lagi!" Jawabku.


"Ehh? Kenapa?! Aku kan belum dengar!!" Keluhnya sambil berdiri membelakangi diriku yang masih terbaring di lantai.


"Habisnya, i... Itu, memalukan!" Ucapku.


Tanpa kusadari wajahku menjadi panas entah kenapa, lalu aku pun berbalik dan berjongkok didepan celah-celah dekat pintu.


"Lupakan itu dan lihat kemari" seruku.


"Lihat apa?" Ia bertanya sambil berjongkok disebelahku.


"Lihat di celah sisi pintu ini ada lubang kan? Agar suara permainan mu tak terdengar lagi, kau harus menutupi nya dengan handuk atau karpet agar suaranya teredam. Yah meski tidak sempurna juga, tapi kau akan mendapatkan ruangan kedap suara yang lumayan bagus" ucapku.


Ia pun mengangguk. Aku tersenyum puas dan disaat yang bersamaan pandangan kami saling bertemu. Dengan refleks aku langsung bangkit menjauh darinya.


"Ehem... Selain itu, kau juga harus gunakan ini"


Aku mengambil sapu dan pengki yang ada di loker sebelah nya lagi dan menyerahkan itu pada Kanzaki.


"Kau harus bersihkan tempat ini dengan benar. Karena ini sudah menjadi milikmu sepenuhnya, kau harus bertanggungjawab atas kebersihannya"


" Lagian juga, apa kau tidak sadar betapa kotornya ruangan ini? Aku dari awal sudah susah payah memperbaiki tembok retak dan pelapis kedap udara, kau malah mengotorinya. Ingatlah satu hal, aku kesini untuk merebut kembali ruang pribadi ku dan bukan mencemaskan dirimu!"


Aku berkata panjang lebar dengan kata-kata yang dipenuhi amarah dan keangkuhan tanpa sadar. Setelah sekian detik, aku pun mulai menyadari nya lalu segera menyesal. Kanzaki menatapku dengan kedua mata yang masih diliputi air mata. Tak lama kemudian, ia menarik napas dan mengeluarkan nya perlahan lalu berkata:


"—jadi itu tujuan mu membawa bas ke sekolah?"


"Lho? Apa-apaan ekspresi menyebalkan itu?! Dimana wajah lugu anak kucing beberapa saat lalu?" Batinku yang bergidik.


"Hahaha, apa kau pikir dengan memainkan bas, kau bisa mengalahkan ku? Dasar bodoh!" Ledeknya.


"Silahkan saja ledek aku sepuasnya. Memang benar aku baru pertama kali bermain bas dan tempo nya juga masih amburadul. Tapi aku pasti akan bisa mengejarmu!" Balasku sambil melipat tangan di dada.


"Baiklah jika itu mau mu. Akan kupegang ucapanmu, kita akan bertanding siapa yang paling hebat dalam gitar. Hadiah bagi pemenang adalah ruang kelas ini" ucapnya.


"Oke, siapa takut!" Ucapku.


Setelah mengatakan itu, aku pun menyerahkan sapu beserta pengki pada Kanzaki. Disaat yang sama, aku pun tertawa lepas karena semua rasa cemas yang ku khawatir kan tadi, kini sudah hilang. Aku akui bahwa aku sempat merasa panik melihat dirinya termenung dan menangis, tapi sekarang aku merasa dia baik-baik saja.


Kanzaki yang masih terdiam di tempatnya, kini memasang rona wajah yang memerah sambil kebingungan melihat diriku.


"Kau kenapa?" Tanyanya.


"Tidak apa-apa, hanya lega saja" jawabku sambil berjalan ke arah loker dan mencari-cari sesuatu.


"Lega? Kenapa kau merasakannya?" Ia bertanya lagi sembari mulai menyapu.


"Aku lega karena, kau sudah tidak menangis lagi dan sudah kembali seperti semula. Awalnya aku khawatir kau akan terus menangis dan termenung terus disini, tapi sekarang kau sudah ceria dan menyebalkan seperti biasa... Rasanya legaaaa sekali!" Ucapku panjang lebar, selebar senyuman ku saat ini.


Wajah Kanzaki memerah dan ia memalingkan wajahnya dariku. Dalam sekejap ia pun sudah selesai menyapu dan membersihkan debu. Sungguh keajaiban yang diluar logika.


Kanzaki yang sudah selesai membersihkan ruangan pun, duduk di sofa dengan napas yang memburu. Entah kenapa ia seperti habis dikejar anjing saja.


"Kau sedang apa sih daritadi?" Ia mulai bertanya lagi setelah napasnya teratur.


"Aku sedang mengambil ini!" Jawabku sembari menunjukkan sebuah kaleng padanya.


"... Semprotkan anti serangga?" Ia membaca.


"Benar. Setelah ruangan ini bersih, kau terkadang harus menyemprotkan ini. Karena disini banyak sekali kelabang, cacing dan yang lainnya. Untuk sekarang sih, kau sudah aman dari kecoak" aku menjelaskan sembari menyemprot kan semprotan itu ke area tertentu.


Tak lama kemudian setelah aku menyemprotkan semprotan dan meninggal kan ruangan itu, suara keras pintu terbuka dibelakangku terdengar. Aku menoleh dan melihat Kanzaki berlari keluar ruangan dengan wajah pucat pasi.


"Sekarang ada apa lagi?!" Tanyaku malas.


".... Apa lagi coba!? Aku sudah pergi seperti yang kau minta, jadi tolong tempati ruangan itu dengan damai. Lagipula, aku sudah ingin kembali ke kelas. Jika kau ingin ikut, mungkin masih sempat ikut beberapa pelajaran" jawabnya.


"Hah?! Apa-apaan itu? Kau mau ingkar dengan tantangan yang kita buat beberapa menit yang lalu? Tahu gitu, katakan dari awal!!!" Aku menggaruk kepala karena kesal.


"I... I.... I... Itu juga salah mu tahu!! Kenapa tidak katakan lebih awal kalau disana suka ada serangga?!" Ia berteriak setengah menangis, membuat nya terlihat seperti anak kecil yang terpisah dari ibunya saat belanja.


Aku menepuk jidat. "Kenapa katamu? Itu karena kau yang tidak bertanya sih! Salah sendiri" jawabku.


"Itu bukan jadi masalah lagi kan? Toh kau juga sudah menempatinya.."


"Ihh!! Dasar Bodoh!!" Kanzaki berteriak dan memukul lenganku berkali-kali, sementara aku hanya bisa menghela napas dan tertawa melihat kelakuannya yang seperti anak kecil.


🎶


Akhirnya kami pun kembali ke kelas setelah jam pertama, kedua dan ketiga berakhir. Selama perjalan ke kelas, Kanzaki tidak melepaskan tangannya dari tangan kananku yang ia pegang sangat erat. Sebelum kembali ke kelas, aku disuruh nya membasmi seluruh serangga dan itu menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Tak lupa juga aku menutup celah-celah menggunakan plester agar serangga tak bisa masuk lagi.


"Wah-wah, Sora-chan sudah kembali!" Seru Sakura.


"Kerja bagus Arata, kau sudah bisa membawa nya ke kelas" ucap Kento sambil mengacung kan jempol.


"Ada apa nih, kok kalian ke kelas bersamaan? Sambil gandengan tangan lagi... Hayo kalian melakukan apa saja selama di ruangan itu?" Goda Satoshi sambil senyam-senyum menggelikan.


"Selamat datang kembali, Sora-chan!" Ucap Ino sang wakil ketua kelas.


Aku merasa sedikit terintimidasi saat semua mata murid disini memandang ke arah kami dengan tatapan anehnya ketika masuk ke kelas.


"Tu-tunggu dulu, kenapa kalian memanggil Kanzaki-san dengan sebutan *Sora-chan*?" Tanyaku yang baru sadar.


Touyama Nanoka si ketua kelas berjalan mendekat dengan bangga, lalu berkata:


"Aku dan semua murid disini telah berdiskusi tentang nama baru yang cocok untuk Kanzaki-san. Ada banyak masukan nama, tapi kami semua sepakat akan memanggil mu dengan nama Sora-chan. Ini berlaku mulai hari ini"


"Bagus bukan, onee-sama? Kami semua berharap kau bisa menjalani hari-hari di sekolah maupun di luar dengan bebas tanpa ada halangan seperti luasnya langit!" Ujar Tori-kun.


Awalnya wajah Kanzaki yang putih pucat itu tampak lebih terlihat putih sekali, tapi kemudian segera memerah. Aku selalu merasa meski ia tidak banyak bicara, siapa pun bisa dengan mudah mengetahui apa yang dipikirkannya lewat perubahan ekspresi nya.


"—kenapa kalian.... Melakukan ini?" Ia tampak seperti ingin menangis.


"Itu sudah jelas kan. Kau tidak suka dipanggil dengan nama mu ataupun marga mu. Akan sangat merepotkan jika ingin bicara atau bermain denganmu. Makanya kami membuat nama baru untukmu" seru Haruka.


"Ja-jadi karena itu ya..." Samar-samar kulihat senyum tipis dari wajahnya itu terlihat. Tampaknya ia terlihat senang sekali.


"Kalau kau tak suka dengan nama itu, kami akan bersujud dan meminta maaf padamu" ucap Momo.


"Tidak... Tidak perlu! Aku suka kok" sangkal nya.


"Syukur lah kalau begitu. Mulai dari sekarang, mohon bantuannya ya, Sora-chan" kata ku sambil mengedipkan sebelah mata padanya.


"Huu ada apa ini? Arata jangan-jangan naksir ya?" Goda Sakura.


"Bu-bukan kok!" Jawabku gugup dengan wajah memerah. Entah apa alasannya, wajah Kanzaki pun ikut memerah.


"Ah iya! Sora-chan, besok adalah giliran mu piket. Jadi datang lebih pagi dan jangan kabur loh ya! Kalau telat, aku akan menghukum mu!" Tegas Ino.


"Ba-baik!" Jawabnya gugup.


"Satu hal lagi, kalau Sora-chan perlu apa-apa kau bisa minta bantuan pada Saki-kun"


Kata-kata dingin dari ketua kelas langsung mengutuk takdir ku tanpa meminta persetujuan dari orang yang bersangkutan.


"Kenapa harus aku?"


"Arata.... Arata... Apa kau tahu?"


Toono yang duduk di kursi di samping depanku menjelaskan, "Kita selalu memanggil


pangeran atau tuan putri dengan sebutan Yang Mulia, 'kan? Kamu tahu kenapa?"


"Aku tidak tahu dan tidak peduli. Apa hubungan dengan ini semua?" Aku berucap asal


"Itu artiya, kita adalah orang-orang bawahannya yang juga melayani mereka. Dan


sangatlah tidak sopan berbicara langsung kepada keluarga kerajaan, kita hanya bisa berbicara pada pelayannya saja." Toono melanjutkan.


"Wahh begitu~ terimakasih aku jadi dapat ilmu baru! Artinya adalah sang pelayan yang dimaksud itu adalah aku, bukan begitu?!" Ucapku yang dibalas anggukan semuanya.


"Aku? Kenapa?" meski aku memprotes berulang kali semua murid laki-laki memukulkan tinjunya ke meja, tidak


seorang pun menghiraukan ku karena keputusan itu telah diterima oleh banyak murid di kelas ini, dan percuma bagiku untuk menolaknya.


Aku melihat ke arah satu-satunya yang mungkin menjadi penyelamatku— Haruka. Akan tetapi, yang dilakukannya hanyalah melihat ke arahku dan Kanzaki dengan pandangan hampa, kesal dan curiga. Ia lalu berlalu meninggalkan kelas dengan menampakkan ekspresi aneh sesaat sebelum dirinya benar-benar hilang dari kelas.


"Ada apa dengan Haruka?" Pikirku.


Dilain sisi, Haruka tengah berjalan cepat sambil menitikkan air mata disepanjang jalan. Langkah kakinya yang bergerak semakin cepat, kini melambat dan terhenti tepat di depan toilet.


Ketika ia membuka pintu dan melihat dirinya di cermin, tiba-tiba saja dirinya langsung terduduk lemas sambil terus menangis.


"Kenapa?.. Kenapa?... Kenapa selalu Ta-chan yang disuruh mengurus Kanzaki-san?" Ucapnya.


"Sakit rasanya.... ada sesuatu yang sakit dalam tubuhku! Seperti teriris pisau! Selalu saja begini! Tiap kali aku melihat Ta-chan dengan Kanzaki-san atau perempuan lain! Kenapa?" pikir Haruka yang tangisan nya kian menderas.


" Seperti ada yang terluka, tapi bukan anggota tubuhku. Lalu... luka apa yang rasanya sesakit ini?" Gumam Haruka.


🎶


🌼つづく🌼