
Sudah lebih dari 20 menit aku menunggu di tempat janjian, namun sosok Haruka tak kunjung datang. Bahkan batang hidungnya pun tak terlihat sama sekali. Kira-kira kemana si gadis pembuat onar ini?
"Kemana sih dia, apa tidak jadi mengantar?" Aku tak hentinya melihat handphone untuk berjaga-jaga takut dia mengirim pesan.
Ketika aku sedang fokus pada handphone, tiba-tiba saja seorang anak kecil yang datang dari arah toko komik, menabrak diriku kemudian jatuh. Suara tangisnya pun terdengar setelahnya.. tentu saja handphone ku ikut terjatuh dan pecah.
"Gawat.... Okaa-san pasti marah kalau tahu ini" batinku.
"Huaaa, merah-merah apa ini?? Sakit!!!" Rintihnya disertai tangis.
Aku pun membiarkan handphone yang sudah hancur, lalu membungkuk pada anak itu. "Sudah, sudah jangan menangis. Kau itu anak kuat dan pemberani, luka kecil begitu tidak akan melukaimu" aku mencoba menghentikan tangisannya.
"Tapi... Tapi... Merah-merah ini tidak mau berhenti, tolong aku onii-chan" ucap anak kecil itu yang tiba-tiba memelukku dengan tangan yang gemetar.
"Jika kau berhenti menangis, onii-chan akan mengobati mu.." ucapku
"Benar begitu?" Tanyanya
"Iya, ayo sekarang ikut onii-chan ke taman. Kau bisa berjalan? Perlu kugendong?" Aku balas bertanya.
"Aku bisa berjalan, karena aku sudah besar!" Jawabnya.
"Kalau begitu ayo pergi" ajakku dibalas anggukan anak itu cepat.
Disaat yang bersamaan, Haruka yang kelelahan karena berlari terburu-buru dibuat bingung karena tidak dapat menemukan ku, ditambah lagi panggilan telepon yang tidak dijawab.
Beberapa saat kemudian, aku dan anak kecil yang tadi kembali ke tempat semula. Aku terkejut karena melihat wajah Haruka yang seperti orang sekarat tengah duduk pasrah di depan toko komik.
"Haruka!! Kau kemana saja sih?" Tanyaku.
"Gihh, seharusnya aku yang bilang begitu?! Kau darimana saja sih, aku datang kau tidak ada! Di telpon tidak diangkat!! Aku panik tahu!!" Ucap Haruka penuh amarah
"Maaf-maaf, sebenarnya aku tadi sedang mengobati luka anak ini karena terjatuh di taman. Aku tidak bisa mengangkat telpon karena handphone ku rusak" jawabku.
"Begitu ya, baguslah. Kukira kenapa, kalau urusannya sudah selesai ayo ke toko" Aura tubuh Haruka pun berubah drastis setelah melihat anak kecil yang kugandeng ini.
"Kita berpisah disini ya, apa kau tahu jalan pulang?" Tanyaku memastikan.
"Iya, Kinta tahu!" Jawab anak itu
"Oke, sampai ketemu lagi ya Kinta-kun. Hati-hati di jalan" seruku.
"Onii-chan dan Onee-chan juga hati-hati. Maaf Kinta mengganggu kencan kalian. Dah" anak itu berlari dan menghilang di belokan.
"Loh? Kencan?!" Ucapku setengah berteriak.
"Hahaha, biarlah dia masih anak-anak. Yuk cabut" ujar Haruka.
"Kok dia terima-terima saja sih?" Pikirku bingung dan bergegas mengikuti nya.
"Hihihi, kencan ya... Semoga saja aku bisa merasakan nya" batin Haruka sambil terkikik geli.
🎶
Untuk mencapai Toko yang dikatakan Haruka, kami harus keluar dari pintu masuk stasiun kereta di seberang, lalu berjalan turun melalui jembatan penyeberangan. Setelah sedikit berjalan dari tempat tangga, kami tinggal masuk ke sebuah persimpangan jalan dekat pemukiman warga.
"Baiklah kita sudah sampai di toko" seru Haruka.
Aku sejenak memandang toko yang diapit oleh dua bangunan yang setara. Sebuah papan nama bertuliskan 'Toko Musik Kamitani' yang terpampang di atas pintu masuk. Toko itu memang sempit dan terlihat sudah tua, tapi karena dekorasi yang pintar menjadikan suasananya terlihat lain.
"Pandai-pandailah merayu kakakku, pasti kamu akan dapat diskon besar" sarannya sebelum aku mulai masuk ke toko.
"Bagaimana ini, aku tidak memiliki pengalaman tawar menawar" aku mulai berkeringat dingin dan ragu untuk masuk.
"Tapi, Ta-chan. Kenapa harus main gitar? Padahal kau sudah lama tidak bermain kan, belum lagi ucapan dari Kanzaki-san" Haruka terus bertanya tentang itu, sesuai dengan prediksi ku.
"Yah itu sudah jelas, karena aku lagi ingin main gitar" aku menjawab asal.
"Dasar pembohong. Aku ini sudah kenal dirimu dari sejak kecil, kau itu tipe orang yang bukan melakukan hal begini secara tiba-tiba. Kau pikir aku baru kenal denganmu tadi?"
"Bukan masalah kan, aku ingin main lagi? Kau akan selalu mendukung ku kan?" Aku bertanya sambil tersenyum padanya.
Sesaat kulihat Haruka terdiam dengan pipi merona. Entah apa yang ia pikirkan tapi aku punya firasat buruk.
"Te-terserah lah.." ucapnya sambil menggandeng tanganku dan berjalan masuk ke toko.
"Apa-apaan senyuman nya tadi?? Uhkk, bikin gak fokus deh. Lalu kenapa aku merasakan sesuatu yang berdebar seperti ini??" Batin Haruka yang gelisah.
Kini, aku dan Haruka berjalan melintasi berbagai macam rak CD dan dekorasi berbentuk alat musik maupun not. Wangi yang khas toko musik pun membuatku serasa bernostalgia dengan keceriaan yang kudapat sewaktu kecil dulu.
"Apa disini ada manajer??"
Saat Haruka bertanya, seorang pria berjalan keluar dari pintu belakang loket tepat disebelah ruang manejer. Rambut berwarna silver nya berantakan dan kemeja yang dipakai pun tidak rapih. Padahal tampang dan postur tubuhnya sudah seperti atlet, tapi itu semua dirusak oleh penampilan nya yang seperti anak kecil.
Wajahnya juga tampak kecapean, ditambah ada beberapa lipatan kantung mata. Pemandangan yang mengerikan untuk orang setampan dirinya.
"Oh, ternyata kau Haru-chan. Maaf ya, sekarang aku sedang sibuk mengurus berkas-berkas toko dan juga persiapan kejuaraan renang pekan depan.." ucap pria itu yang ternyata adalah suami kakaknya Haruka.
"Tidak apa-apa kok, lagian aku kesini cuma mengantar temanku yang ingin membeli gitar" balas Haruka sambil menyikut ku.
"Baguslah kalau begitu, silahkan dilihat dulu ya" ujarnya.
Saat hendak mendekat ke meja loket, suara seseorang terdengar dari pintu manajer yang terbuka lebar.
"Pak manajer, stok senar biola dan gitar yang dipesan dua Minggu lalu, tidak sesuai"
"Loh? Senpai toh, hari ini bekerja juga?" Ucap Haruka.
"Senpai?" Aku mengulangi satu kata dari ucapan Haruka sembari menoleh.
Aku tercengang melihat sosok gadis muda disana itu. Ternyata memang benar, dia adalah Yamauchi Keiko-senpai yang pernah mengajakku bergabung ke klub musik. Gaya pakaian yang dikenakan di sekolah dan disini sungguh jauh berbeda. Di sekolah ia terlihat tampak seperti murid teladan, tapi disini seperti gitaris rock metal. Sungguh nyentrik, meski sudah memakai seragam dan celemek toko.
"Yo, Haruka!—loh? Kenapa bocah ini bisa ada ditempat seperti ini?!" Ia bertanya sambil mengamati ku dari atas hingga bawah.
"Kenapa senpai ada disini? Apa kau kerja paruh waktu?" Aku bertanya.
"Yap benar sekali. Aku mulai kerja disini saat menginjak kelas 3 SMP, hitung-hitung sebagai pengisi waktu luang. Omong-omong, kita bertemu lagi ya, bocah. Jadi kau sudah memutuskan untuk gabung kan?" Ia berbicara panjang lebar.
"Eng.. itu, tidak terimakasih" jawabku.
"Huff, kenapa?" Tanyanya sedikit kecewa.
Senpai merangkul pundak ku sambil berkata. "Jangan terburu-buru memutuskan. Tenang saja kok, kau tak perlu merasa sungkan disini. Karena ini tokoku. Bwahahaha" seru senpai.
"Maaf, sebenarnya ini toko ku.." ucap Pria disamping Haruka.
"Iya iya, sama saja kan. Omong-omong pak manajer, klien kita yang memesan senar tadi marah loh. Apa manajer lupa menyimpan barang nya?" Senpai mulai mengalihkan pembicaraan.
"Ahh itu, sebenarnya aku juga tidak tahu. Seharusnya bagian supervisor yang mengurus hal itu kan... Tapi hari ini dia sedang sakit." ucap Pria itu.
"Pak, kau itu tidak bisa diandalkan seperti istrimu" ledek senpai datar.
Pria yang merupakan suami kakak Haruka itu pun tampak seperti ingin menangis, saking tak terimanya dibilang seperti itu oleh seorang anak SMA kelas dua.
"Kesampingkan dulu soal urusan itu, hei bocah! Mau taruhan?"
"Apa? Taruhan?!"
🎶
Langit yang kini sudah menjadi gelap berhiaskan bintang, membuat cahaya lampu di ruangan sempit ini bersinar terang. Disaat seperti ini, aku yang niatnya membeli sebuah gitar, malah harus terlibat dengan taruhan senpai berparas cantik ini.
"Taruhan apa?" Tanyaku.
"Sebelum itu, berapa banyak uang yang kau bawa?" Ia balik bertanya.
"Yah, lumayan banyak sih" jawabku asal.
"Yang benar? Hmm... Lumayan juga sih" dengan segera senpai mengambil dompet ku dari saku belakang celana tanpa bilang terlebih dahulu.
"Cih, jangan ambil dompet orang seenaknya dong! Apalagi dilihat juga isinya" ucapku.
Dari kesibukan Arata dan Keiko-senpai yang masih saling berebut dompet. Haruka tengah terdiam sambil memasang senyum palsu, ia kini merasakan sebuah rasa sakit yang entah timbul darimana. Dan rasanya semakin sakit saat melihat Arata dan senpai yang asik berdua.
"Kok aku jadi sebal ya melihat mereka akrab?" Pikir Haruka.
"Nih aku balikan. Biar ku beritahu ya, dengan uang 60 ribu Yen, kau belum tentu mendapatkan barang yang diinginkan loh. Disini itu barangnya mahal semua" ucap senpai.
"Apa iya?" Tanyaku.
"Ahh itu bohong kok Arata-kun... Jangan dengarkan dia" jawab manajer sambil merenggut.
"Haha, maaf manajer. Baiklah, ayo kita taruhan, bocah!" Teriaknya.
"Taruhan gimana?" Tanya Haruka.
"Aku dan bocah ini akan saling suit. Kalau bocah itu menang, aku akan memberikan setengah harga untuk gitar rekomendasi terbaik dari sang ahlinya padamu. Jika aku yang menang, aku berhak memilihkan gitar yang sesuai keadaan budget-mu. Bagaimana?" jelas senpai.
"Tunggu dulu, Keiko-chan. Kenapa sikapmu lancang begitu pada pelanggan?" Kini sang manajer mulai panik dan kebingungan.
Aku melihat ke arah Haruka yang memberi semangat padaku entah apa tujuannya. Lalu, aku pun menatap ke arah senpai dengan percaya diri.
"Baiklah aku terima. Tapi tidak apa nih menjualnya hanya setengah harga?" Aku memastikan.
"Jangan pusingkan soal itu, toh aku juga akan tetap mendapat untung meski dijual setengah harga" ujar sang senpai cepat.
"Keiko-chan... Jangan membocorkan rahasia perusahaan pada pelanggan.." ucap sang manajer yang hampir menangis.
"Berisik pak manajer. Yosh, kita langsung mulai saja, bocah!"
"Boleh saja.."
"Siap? Aku tidak akan menggunakan jurus ku loh.."
"Terserah deh.."
Keiko-senpai sekilas tampak menyunggingkan senyum misterius nya dan memulai mempersiapkan pilihannya.
"Dari caranya menggenggam tangan, seperti dia akan mengeluarkan kertas. Baiklah aku akan membalasnya dengan gunting!" Batinku.
"Batu... Gunting... Kertas!" Bersamaan dengan suara kami berdua, aku langsung mengeluarkan gunting. Awalnya aku sangat yakin bahwa aku menang. Namun, jari-jari senpai yang ku prediksi akan terbuka membentuk kertas, kini malah tertutup mengepal seperti batu.
"...Hem, Bocah, kau terlalu mudah tertipu", ucapnya.
"Heh? Aku... Kalah...?"
🎶
"Yeay aku menang, nah sekarang sesuai perjanjian aku akan memilihkan mu gitar. Tentunya yang tidak terlalu menguras isi dompet mu" seru nya.
Ia mengacak-acak rambutku sambil tersenyum penuh kemenangan. Aku hanya cemberut tak bergeming melihat diriku yang mudah sekali masuk jebakan murahannya. Sementara itu, dibelakang senpai, sang manajer tampak bernapas lega entah apa alasannya.
"Baiklah, ayo ikut aku ke rak sebelah sana" ajak nya sambil menarik tanganku. Namun ketika senpai menggenggam nya, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara lain.
"Tak!" Bunyi tamparan dari tangan Haruka yang mengenai tepat di punggung tangan Keiko-senpai.
"Lho? Ma-maaf senpai aku tak bermaksud begitu..." Ucapnya tergagap.
"Hahaha, tidak apa. Ayo cepat kita kesana" ujar sang senpai yang tidak jadi menggenggam tanganku.
"Dasar Haruka bodoh!!! Aku ini kenapa sih?! Bukannya merasa bersalah, kenapa aku jadi merasa lega?" Batin Haruka.
Disisi lain sang manajer hanya tertawa kecil melihat adik dari istri nya yang polos dan tak peka itu. "Dasar remaja, membuat iri saja.."
Langkahku terhenti tepat di rak sebelah kanan yang warnanya sudah memudar. Aku pun mengangkat kepala dan melihat ke arah telunjuk senpai. Gitar itu berwarna coklat muda indah yang terlihat berkelip-kelip di bawah sorot lampu.
"Aku sangat menyarankan mu gitar ini. Jika dilihat lagi kau itu termasuk pemula dalam dunia gitar" ucapannya.
"Emm, harganya?" Tanyaku.
"55.500 yen, Sudah termasuk pajak kok. Karena kau pelanggan baru disini, aku beri diskon jadi 50 ribu Yen saja." Jawabnya.
"Baiklah, tapi kenapa gitar ini?" tanyaku.
"Hmm? Laki-laki pintar dan tampan seperti mu ini tidak tahu? Ini namanya gitar bas. Senarnya memang lebih sedikit dari gitar lainnya dan nada yang dihasilkan pun lebih rendah saru oktaf" jelas senpai.
"Bukan itu, aku juga tau lah gitar ini adalah bas. Tapi maksudku, kenapa senpai menyarankan ku membeli gitar ini?" Aku menatapnya bingung.
"Yah.. karena masih keluarga gitar kan?" Ia menjawab dengan asal.
"Itu benar sih, tapi..."
Haruka tiba-tiba menaruh tangan kirinya di bahuku dan berkata.
"Karena klub musik kekurangan pemain bas, itu maksud senpai"
• • • • !
"AHH!! JADI ITU MAKSUDNYA!" Butuh waktu empat detik untukku menyadari maksud yang dikatakan Haruka dan yang berusaha senpai lakukan padaku. Sejak awal senpai sudah merencanakan diriku untuk membeli gitar bas, supaya tidak ada pilihan lain untuk membuatku masuk ke klub musiknya. Yang tidak menyadari rencananya dari awal, hanyalah aku seorang.
"Dasar Ta-chan, kau terlalu jujur dan polos ya" ledek Haruka sambil mencubit gemas pipiku.
"Berisik ah.. tapi kan dari awal aku tidak berminat masuk dan lagi aku juga tidak ada niat buat main bas!" bantahku.
"Itu juga kan berlaku untukmu yang tidak berniat sungguh-sungguh menguasai dasar-dasar bermain gitar kan?" Ia segera membuang kata-kata protesku begitu saja.
"Lagipula, kau membeli gitar untuk menantang Kanzaki Shiori-san kan, Supaya tidak menganggap remeh dirimu lagi?" Ucapnya.
"Tepat sasaran!!" Batinku.
"Kau tidak akan bisa menang dengan gitar biasa. Karena Kanzaki itu memiliki potensi besar di dunia musik, toh dia juga bisa mengubah beberapa lagu piano dan biola dengan sangat sempurna kedalam gitar. Tapi jika kau menggunakan bas, aku yakin kau akan menang!"
"Uhh.. aku terjebak!"
🎶
Angin malam kini menderu di sepanjang jalan. Pada akhirnya aku pun membeli gitar bas karena terbuai oleh kata-kata senpai dan menyesal. Dalam beberapa langkah diperjalanan pulang, aku hanya bisa menghela napas dan memaki diri sendiri.
"Kau kenapa Ta-chan? Tidak enak badan?" Tanya Haruka.
"Ah tidak kok, hanya sedikit menyesal" jawabku.
"Haha, tidak perlu menyesal kok. Toh, akhirnya kau sudah membeli apa yang kau mau. Jadi tak masalah kan?" Haruka tersenyum padaku dan berusaha menghibur.
Aku pun balas tersenyum dan entah kenapa pikiranku jadi sedikit tenang berkat kata-katanya tadi. "Kau benar, terimakasih untuk hari ini ya"
Haruka pun terdiam seketika dengan wajah yang memerah. Keheningan pun terasa masuk diantara langkah kami.
"Duhh kenapa wajahnya manis sekali!! Ada apa denganku sebenarnya sih??" Batin Haruka.
"Oh iya, Haruka" aku memanggilnya dan ia pun menoleh cepat.
"Kita ke cafe baru yang di ujung jalan itu dulu yuk. Hitung-hitung sebagai tanda terimakasih" ajakku.
"Apa?? Tumben sekali Ta-chan begini padaku?? Rasanya sudah seperti kencan saja.." Muka Haruka semakin memerah.
"Kalau kau menganggap nya sebagai kencan tak apa kok" ucapku yang menggandeng tangannya dan berjalan masuk ke cafe.
"Kencan.... Jadi seperti ini ya rasanya? Aku merasa seperti ada yang mau meledak didalam tubuhku.. ahh gawat!! Perasaan apa ini?! Meski sudah malam, kenapa aku merasa panas?" Pikir Haruka.
Malam yang panjang demi membalas perbuatan Kanzaki pun berakhir di dalam bincang-bincang canggung aku dan Haruka di cafe. Entah kenapa Haruka jadi menunjukkan sosok lain dirinya yang malu-malu kucing. Ditambah, dirinya jadi mengajakku ke tempat-tempat khusus orang yang pacaran dan sering menggoda ku. Sepanjang malam itu, aku pun diperlakukan sebagai seorang pacar resmi Haruka... Benar-benar merepotkan!
"Apa dia benar-benar menganggap ini sebagai kencan? Padahal aku kan cuma asal bicara saja.." batinku kesal.
"Hihihi, kencan dadakan sungguh menyenangkan! Apalagi dengan orang yang membuatku berdebar tak karuan!!" Batin Haruka senang.
🎶
🌼つづく🌼