
Seiring lajunya kereta yang memperlihatkan pemandangan sekitar sepersekian detik, semerbak aroma laut merambat masuk melalui celah-celah kecil dari jendela.
Tepat di hari Minggu di sore hari, kala itu tidak ada lagi penumpang selain aku seorang di kereta ini. Menjelang musim panas nanti, pastinya pantai akan menjadi lebih ramai dari sekarang. Meski musim semi masih berjalan, pantai tetap saja ramai oleh anak sekolahan seperti diriku contohnya.
Kereta Ber-gerbong 3 ini menderu melewati tikungan secara lambat. Pemandangan sekitar jadi gelap karena melalui terowongan di bawah jembatan. Seiring berjalan waktu, pandangan warna gelap lenyap bersama aroma laut yang semakin tajam. Rangkaian atap kereta serta pemandangan laut bercorak tembaga tua itu menggelap di bawah terangnya langit oranye.
Gerbong kereta ini bergoyang lalu berhenti di sebuah stasiun kecil.
Kuambil ranselku dari tempat duduk sebelah dan berjalan ke peron yang kini sudah terbuka. Segera kulihat gundukan-gundukan kelabu di antara pegunungan hijau yang ada di kananku.
Aku tidak tahu kapan itu terjadi dan berada disana. Tetapi gundukan yang tadinya adalah lembah, kini sudah berubah menjadi tempat pembuangan akhir yang besar. Entah itu legal maupun ilegal, yang kulihat sudah ada beberapa truk pengangkut barang elektronik rusak yang berlalu lalang ke tempat tersebut. Sejenak dari selangnya waktu berlalu, tempat itu mendadak sunyi. Begitu sunyi, layaknya di 15 menit terakhir itu akhir dari dunia.
SD dan SMP tempatku bersekolah dulu berdekatan dengan pantai. Lalu di satu hari itu, aku secara tak sengaja tersesat dan menemukan tempat ini Nama plang di toko itu pernah kutemui dalam sebuah komik ciptaan Onee-chan¹, meski aneh dan terkesan tak mempunyai keinginan tetap, itu semua bukan jadi masalah. Toh aku tak mau pusing-pusing debat tentang masalah nama toko ini dengan siapapun.
🎶
Kesampingkan masalah toko tadi, ibuku bisa dibilang memiliki pekerjaan yang lebih aneh dari nama toko itu. Yaitu, kritikus alat musik dan nada musik. –bukan bermaksud menyinggung para kritikus musik diluar sana, namun bagi diriku pekerjaan ini terbilang anti mainstream dan tidak umum–Karena hal tersebut, di rumahku banyak sekali tersimpan sound system, CD, pita perekam, partiur musik dan berbagai alat asing lainnya yang masih terhubung dengan musik. Karena pekerjaannya itu, 9 tahun yang lalu Ayahku pergi dari rumah ini meninggalkan kami berdua, bagaimana dengan onee-chan? Dia sudah tiada 2 tahun yang lalu karena kanker. Aku yang waktu itu berusia 5 tahun tak bisa berbuat apapun, dan dikala itu pula diriku bersumpah untuk tidak akan pernah bekerja menjadi seorang kritikus ataupun profesi lainnya yang berhubungan dengan musik.
Kesampingkan masalah keluarga ku dulu, kita beralih pada alat-alat kritikus ini. Hampir sebagian perlengkapan dirumah kami dipakai untuk pekerjaan, namun ibuku selalu sembrono menyimpannya dimana-mana. Hampir setiap hari ada saja barang yang beliau rusak. Entah itu pengeras suara, pemutar CD (DVD) maupun gramophone. Karena saking banyaknya perlengkapan itu, tidak ada yang pernah membelikan ku sebuah mainan sewaktu kecil. Jadi aku malah berkutat dengan barang itu, dan menjadikannya sebuah mainan bongkar pasang.
Barang itu sempat ku bongkar dan dirusak. Namun perlahan aku mulai memperbaiki serta merakitnya kembali. Lalu, karena sudah menjadi kebiasaan dari kecil kini itu sudah melekat pada tubuhku, atau semacam hobi aku menyebutnya.
Karena hobi ku ini lah, maka sekali dalam dua-tiga bulan aku mengunjungi toko aneh ini yang dekat dengan pantai. Aku pergi naik kereta dari stasiun ke stasiun lainnya untuk mengumpulkan beberapa komponen berguna. Saat berjalan sendirian di kumpulan barang rongsokan ini, aku merasa seolah satu-satunya manusia yang tersisa di muka bumi. Dan entah kenapa perasaan itu membuatku senang.
Akan tetapi, saat itu bukan aku saja yang mengunjungi tempat rongsokan tersebut.
Ketika berjalan melewati hutan yang mengarah ke lembah, kulihat sebuah bukit yang terbuat dari gundukan rongsokan elektronik seperti tv, kulkas dll. Gundukan ini bisa terlihat dari ratusan meter jauhnya dan bisa dilihat dalam cuaca apapun. Yang membuatku terkejut adalah, aku mendengar suara biola.
Awalnya aku kira hanya salah dengar atau suara musik dari dalam toko. Akan tetapi, saat kakiku melangkah keluar dari hutan dan berjalan menuju gundukan yang tepat di depan mataku ini, aku menyadari kalau suara biola itu bukan sekedar hanya salah dengar. Paduan nada tinggi dan rendah terdengar seperti ombak laut yang terkadang tenang dan mengamuk.... Dan setelahnya terdengar suara piano mengalun.
Aku tak tahu lagu apa yah dimainkan, tapi aku pernah mendengarnya. Seperti konser violin di Eropa sana. Tapi kenapa suaranya harus terdengar ditempat seperti ini?
Karena rasa penasaran, aku memutuskan untuk mendaki gundukan sampah itu. Melodi dari perpaduan gesekan antara senar dan bow² biola mengalun indah seperti dalam pemutar CD. Pada awalnya kupikir musik ini berasal dari radio yang masih menyala, tapi pemikiran itu lenyap sedetik kemudian.
Kedalaman suara antara violinis dan pianis tidaklah sama. Itu pasti karena suara biola yang dimainkan secara langsung. Aku melihat kebawah tumpukan rongsokan sesampainya dipuncak dan pemandangan yang menyambut ku begitu mengejutkan hingga membuat napasku tertahan.
Sebuah biola yang sudah setengah hancur tertimpa meja dan kulkas, memantulkan Kilauan warna cokelat usang seolah baru dicelupkan kedalam air dan tersingkap keluar bak sepasang sayap seekor burung. Tepat tak jauh dari biola itu, untaian rambut berwarna ungu muda berayun seiring bow itu digesek sesuai irama. Ternyata itu seorang gadis.
Gadis itu berdiri ditengah gundukan rongsokan ini sambil terus menggesek biola nya. Pandangannya terpaku pada ayunan lengannya, alis panjangnya sedikit tertarik kebelakang. Bunyi melengking nan elok yang dimainkannya seolah bagai desiran ombak di penghujung musim semi yang terpercik gelombang demi gelombang yang gemulai, dari dalam biola kecil itu.
Wajah tegas dan kulit putih salju yang pucat itu bukanlah sesuatu yang umum didunia. Begitu cantik, hingga aku tak bisa berpaling terhadap dirinya. Rambut ungu mudanya bersinar seperti permata yang meleleh di bawah sinar senja.
"Aku pernah melihatnya, tapi kenapa.... Aku tak bisa mengingat namanya?" Gumamku.
Wajahnya itu tak asing dan begitu familier. Aku pernah melihatnya di suatu tempat begitupula lagu yang ia mainkan. Tapi, kenapa tak bisa ingat namanya?
Aku mengalihkan pandanganku sebentar ke area sekitar.
"Tidak ada orang lain lagi disini, seharusnya hanya suara biola saja yang terdengar. Tapi, kenapa.... Aku seolah mendengar lantunan alat musik lain (orkestra)??" Ucapku pelan.
Langsung kusadari bahwa getaran biola yang ada di bawahku ini mengeluarkan getaran dan sedikit nada aneh ketika irama rendah. Tidak hanya itu, alat rongsok lainnya seperti sepeda, layar LCD yang rusak, semuanya saling beresonansi bersama getaran biola itu.
Semua rongsokan yang terkubur disana pun, ikut bernyanyi.
Karena gema yang dihasilkan tersebut, menggerakkan ingatanku akan orkestra yang diwakili oleh nada rongsokan ini. Mungkin itu hanyalah halusinasi pikiranku saja, tapi rasanya begitu nyata.
Secara tak langsung aku seolah tahu lagu yang baru saja dimainkan tadi... Tapi apa ya judulnya?? Kenapa musik itu begitu menyentuh hatiku?
🎶
Barisan allegro³ terdengar berdenyut lembut namun semakin lama terdengar seperti langkah kaki yang tergesa-gesa pergi ke hamparan laut di hadapan senja, kemudian bagian itu kini masuk ke barisan adagio⁴. Gelembung kecil warna-warni dari setiap gesekan nada tercipta dari dasar laut entah berapa juta jumlahnya, kini menyeruak ke permukaan dan tersebar luas. Lalu gemuruh orkestra kembali terdengar dari kejauhan dan terdengar beriringan– Akan tetapi musik itu mendadak terhenti.
Keringat dingin mulai bercucuran dari dahiku. Dan menatap ke bawah tepat ke arah biola itu berada. Gadis yang tadinya memainkan biola terhenti dan menatapku dengan pandangan tak ramah.
Suara orkestra yang tersamar, gema senar biola, bahkan suara desiran angin yang bergesekan dengan pepohonan– Semuanya menghilang, membuatku berpikir seolah-olah kiamat sudah tiba detik ini juga.
".... Sudah berapa lama kau ada diatas sana?"
Aku tersentak seketika. "Gawat! Kiamat benar-benar datang!" Ucapku gelisah.
🌼つづく🌼
(Enjoy the next part👋🏻😉)