Sonata No Kioku

Sonata No Kioku
10- Topik kali ini adalah Kanzaki-san



Laut adalah salah satu perumpamaan yang cocok untuk menggambarkan seorang violinis gila yang kukenal. Memiliki pesona biru jernih hingga kelam dan menyimpan banyak misteri dibawahnya, terkadang tenang menenangkan jiwa namun sewaktu-waktu bisa mengamuk. Itu lah Laut... Yang membuat Kanzaki Shiori memiliki perbedaan menonjol dari banyaknya orang.


Hari ini ketika jam pelajaran terakhir selesai, sosoknya tiba-tiba saja hilang tanpa jejak. Layaknya sebuah angin yang berhembus dari jendela. Sudah 1 Minggu semenjak kepindahannya kemari, keberadaan dirinya selalu menjadi misteri terbesar bagi kelasku.


"Kanzaki-san itu aneh ya, berbeda banget sama Tori-kun"


"Benar itu, gadis yang dihormati musisi sedunia adalah orang yang berperilaku buruk. Sungguh disayangkan"


"Aku setuju. Kanzaki-san itu hanya mengandalkan wajah cantiknya saja dan bakat jenius turunan kedua orang tuanya kalau tidak ada itu semua, mana mungkin dia begini..."


"Hihihi, itu benar"


"Aku jadi kasihan pada para penggemar nya jika melihat sikap idola mereka"


"Iya ya, apa kira-kira reaksi dari mereka"


"Kenapa gadis-gadis kalau nge-gosip selalu saja dengan suara keras?" Tanyaku heran.


"Entahlah, memang sudah hukum alamnya begitu" jawab Haruka.


"Heh? Begitu ya? Apa kau bilang seperti itu karena kau juga tidak tahu? Ah iya aku lupa, kalau Haruka kan laki-laki jadi mana ta..."


*Bletak..... Bruk!!*


Suara pukulan tangan Haruka melayang tepat diwajahnya dan satu lagi di kepala yang baru saja sembuh (dari pukulan lainnya). Kali ini yang mengelilingi kepala Satoshi bukanlah bintang, melainkan sebuah wajah manis mantan waifu nya baru-baru ini.


"Kau tidak pernah kapok ya..." Ucapku.


"Hei Ta-chan apa kau tidak mau mencari si violin itu?" Tanya Haruka.


"Heh? Memangnya kenapa?" Aku balik bertanya


"Habis tasnya masih ada dikelas. Dan lagi sepatu yang ada di rak kata temanku masih ada loh... Lebih baik kau cari, takutnya sesuatu sedang terjadi padanya" jawabnya panjang lebar.


"Hmm baiklah, aku tanya ketua kelas dulu".


Aku pun berjalan meninggalkan Haruka dan Satoshi, lalu berjalan menuju Ketua kelas yang kebetulan bertugas piket hari ini.


"Ketua kelas... Kalau tak salah kemarin kau ada pertemuan OSIS kan, Apa kau ingat pulang jam berapa hari itu?"


"Hmmm, kalau tak salah sekitar pukul 5 sore"


"Begitu ya. Apa saat perjalanan pulang, kau melihat Kanzaki-san?"


"Etto, sewaktu jam istirahat 15 menit, waktu itu aku melihatnya masuk ke ruang guru. Mungkin Aya-sensei memanggilnya.. tapi setelah itu aku tidak melihatnya lagi sampai pulang"


Aku mengangguk. Kelas pengenalan pelajaran utama yang kami pilih pun hampir dimulai. Namun aku masih belum tahu dimana Kanzaki berada. Jika dia tidak ikut pengenalan ini, dia sudah dipastikan akan gagal.


"Ah iya Arata, sekedar informasi saja sih kalau beberapa hari yang lalu, aku pernah mengajaknya untuk bergabung ke klub seni. Alasannya, karena dia memilih seni lukis sebagai pelajaran utama. Tapi anehnya, dia malah kabur tanpa alasan.. dia juga mengatakan hal aneh, apa dia selalu begitu?" Ujar Sakura (dia adalah gadis yang di eps sebelumnya memberikan kertas pada Arata.)


"Omong-omong soal itu, saat baru pembukaan pelajaran seni lukis dimulai, Kanzaki-san tidak melakukan apapun dan hanya melihat-lihat ruang kelas saja. Apa dia punya kelainan otak?" Tambah seorang murid yang merupakan kembarannya Sakura, namanya adalah Sasuke.


"Kalau begitu lebih baik memilih musik saja sepertiku untuk jadi pelajaran utama" ucap Ketua kelas.


Semua penilaian tentang Kanzaki semakin menurun


tajam sejalan dengan berlanjutnya pembicaraan


mereka, walau hal demikian itu sudah bisa ditebak olehku sendiri tentunya.


"Hei penguntit, apa kau tahu apa yang terjadi dengannya?"


Tiba-tiba saja pertanyaan itu langsung melibatkan ku secara tak langsung dalam pembicaraan menyebalkan.


"Begini ya, bisa tidak kalian berhenti memanggilku dengan sebutan aneh itu? Rasanya seperti aku di cap orang jahat" ucapku.


"Ayolah..." Aku menepuk jidat tak habis pikir.


"Oh-oh, bagaimana kalau Si penguntit maniak Kanzaki? Lebih cocok bukan?"


"Sakura hentikan itu. Saki-san sudah ada nama kan, lebih baik kau panggil saja seperti biasa" ucap ketua kelas.


"Itu benar! Lagian aku dan dia cuma kebetulan bertemu saja. Itu juga cuma satu kali saat libur terakhir musim semi!" Aku mempertegas kesalahpahaman ini agar tidak begitu menyulitkan ku lagi untuk kedepannya.


Bel tanda pelajaran tambahan berbunyi. Tapi Kanzaki belum datang ke kelas, begitu juga dengan Haruka. Mungkin ia dan Satoshi tengah berlatih drum dan gitar di suatu tempat. Mereka bebas melakukan nya karena tergabung dengan klub musik orkestra, meski aku ingin sekali mendapat keuntungan yang sama, tetap saja aku enggan masuk ke klub itu.


"Gawat, aku lupa mencari Kanzaki-san! semoga dia tidak mengalami sesuatu seperti yang Haruka bilang.."


🎶


Tepat disaat bel itu berhenti berbunyi, aku sudah duduk di barisan tempat dimana murid lain memilih pelajaran utama yang sama denganku. Disaat pintu depan hendak ditutup oleh Sensei yang masuk, pintu kelas yang belakang terbuka bersamaan.


"Maaf aku telat!! Apa masih sempat ikut pelajaran?" Teriak Haruka yang napasnya tersengal.


"Tentu saja, harap langsung duduk sesuai pelajaran yang dipilih" jawab Sensei ramah.


Haruka mengangguk dan menarik tangan Kanzaki yang tampak berontak. Gerakannya dihentikan oleh Satoshi yang berjaga dibelakang tubuhnya.


"Loh... Kok bisa?!" Aku bergidik ngeri karena membayangkan hal-hal tak masuk akal yang telah mereka berdua lalukan.


"Ahh sial capek! Pinjam buku mu, ada beberapa materi yang aku lupa catat" Haruka mengambil paksa buku catatan ku kemudian duduk dan langsung menyalin dengan sangat cepat.


"Kalian darimana saja? Kok bisa ketemu Kanzaki-san?" Aku berbisik.


"Tadi aku dan Satoshi-kun berlatih di ruangan klub, karena hari ini ada pelajaran tambahan waktu latihan nya jadi singkat. Lalu saat perjalanan aku melihatnya seperti kebingungan gitu... Mungkin tersesat" jelas Haruka.


"Asal kau tahu saja ya, aku tidak tersesat!" Ucap Kanzaki sambil menatap tajam ke arah kami berdua. Matanya tak berkedip untuk waktu lama dan wajahnya memerah. Apa itu tandanya benar bahwa dia itu tersesat?


"Jangan-jangan dia buta arah? Masa jalan ke kelasnya sendiri dia tidak tahu?" Gumamku.


"Aku tidak buta arah. Aku hanya iseng mencari jalan pintas dari ruang musik ke kelas" jawabnya.


"Sudah-sudah pelajaran mau dimulai. Harap ditahan dulu ngobrolnya ya" tegur Sensei bersamaan dengan tawa semua murid dikelas.


"Maafkan kami"


Pelajaran siang pun kembali sunyi, sebagai hukuman dari sensei aku disuruh menjawab seluruh soal di papan tulis. Meski aku selalu berusaha untuk fokus mengerjakan, tetap saja didalam pikiran ku masih tersimpan banyak pertanyaan.


Pertanyaan misteri seputar gadis bak laut yang menyimpan banyak misteri. Gadis yang memutus hubungan dengan musik, beberapa waktu yang lalu baru saja keluar dari ruangan itu.


Mencurigakan sekaligus misterius.. dia memang layak diibaratkan sebagai "Laut".


🎶


🌼つづく🌼



Hai- hai readers, eps kali ini dan seterusnya akan up (diusahakan) tiap hari. Alasannya karena sebentar lagi, aku mau izin Hiatus dulu untuk sementara waktu karena mau persiapan ujian semester genap🤗


Tapi eps nya akan kembali up tiap Senin dan Jumat mulai Minggu depan.


Jadi mohon dukungannya dan pengertian kalian semua🙏🏻🙇🏻‍♀️


info lengkapnya nanti akan segera di up oke,


salam hangat,


ナジラ