
Kanzaki mengunci dirinya di ruang pribadi dekat pembuangan sampah. Meski aku tertinggal jauh saat mengejar nya, aku sudah mengetahuinya sejak pergi ke arah pembuangan sampah. Pintu ruangan pribadi ku (yang sudah direbut secara adil) itu memang tertutup rapat, tapi gembok yang Kanzaki pasang tampak terbuka. Berarti dia bersembunyi didalam.
Aku berdiri tepat didepan pintu ruang pribadi itu sangat lama, dan mulai menyusun strategi.
"Kenapa aku malah terus diam disini? Seharusnya aku tidak peduli pada omongan teman sekelas ku. Tapi kalau sudah gini, aku harus bagaimana? Minta maaf? Alasannya minta maaf kan tidak ada.." pikirku.
Seharusnya aku sejak tadi sudah meninggal ruang pribadi miliknya dan kembali ke kelas mengikuti pelajaran. Tapi, entah kenapa kakiku terasa sulit untuk diajak beranjak dari sini.
Disaat bersamaan, bel tanda pelajaran kedua pun berbunyi. Aku pasti sudah telat untuk masuk kelas sekarang, karena tak mau dihukum aku pun memilih untuk bolos saja sekali-kali. Mungkin ini tidak akan menjadi masalah besar, toh urusan kesalahpahaman ku dengan Kanzaki ini lebih penting karena menyangkut kehidupan damai SMA-ku!!
Tangan kananku yang lembab karena keringat, mulai meraih gagang pintu dan memutarnya dengan sedikit paksaan. Didalam, Kanzaki sudah membangun sebuah benteng untuk menyembunyikan sosok dirinya dengan menggeser kursi dan sofa menutupi dirinya.
Saat aku berjalan dan menggeser benteng buatannya itu, ia hanya termenung dengan tatapan kosong sambil memeluk kedua kakinya gemetar.
"Kau itu memang benar-benar tak sayang barang ya. Aku sengaja menjejerkan kursi dan sofa itu sebagai kasur tahu! Aku beli itu sangat mahal!!" Ucapku sambil berkacak pinggang.
Posisi Kanzaki tidak begitu banyak perubahan. Namun ia sedikit bergerak untuk merubuhkan benteng miliknya sambil melemparkan bantal duduk ke wajahku. Dengan sigap aku merapikan kembali tatanan semula kursi dan sofa itu, lalu duduk.
"Kenapa kamu kesini lagi?" Tanya nya dengan suara pelan.
"Aku? Aku kesini untuk membolos pelajaran yang membosankan. Tapi diluar dugaan kita malah bertemu disini. Sebuah kebetulan yang sangat—merugikan!" Jawabku.
"Bohong! Lagi-lagi kau berbohong! Kenapa kau tidak beritahu aku sebelumnya, bahwa fungsi kedap suara ruangan ini tidak sempurna?!" Bentaknya dengan wajah yang memerah.
"Yah itu kan, karena kamu yang tidak pernah bertanya" aku membalas dengan santai.
*Blugh!*
Seketika wajahku ditabrak oleh sepatu yang Kanzaki lemparkan.
"Sakit tahu! Kenapa sih kamu harus kasar gitu? Toh dunia tidak akan kiamat jika permainan mu itu terdengar!"
"Bukan begitu!"
Ia kembali memeluk kedua kakinya dan menekuk kepala hingga menyentuh lututnya. Perasaan ku tiba-tiba jadi tidak enak untuk berkomunikasi lagi dengannya, lalu sekarang aku harus bagaimana?
"Hei, Kanzaki-san" aku mencoba membuka percakapan yang putus ditengah-tengah.
"Apa?" Ia mendengus tanpa berpaling memandangku.
"Kamu itu sudah sukses di usia yang masih belia. Kamu juga sudah merilis CD original maupun cover yang sudah dikenal seluruh musisi dunia dengan permainan biola"
"Lalu?"
"Memangnya siapa yang melarang mu untuk bermain dan belajar alat musik baru seperti gitar? Itu aneh bukan, kalau memang benar begitu kau seperti boneka"
Tiba-tiba saja Kanzaki mengangkat kepalanya. "Jangan bicara seakan kau tahu semuanya!"
"Hem, itu hanya analisaku semata. Kalau kau tidak membantah perkataan ku berarti itu benar kan?"
"Ti-tidak! Itu mana mungkin,.... Benar"
Suara yang diawali dengan amarah yang membara, kian menciut karena dilelehkan oleh kenyataan yang ia coba sembunyikan.
"Jangan pernah menanggung semua masalah sendiri. Kalau kau mau, cerita saja padaku. Siapa tahu aku dapat membantu, karena aku tidak tahu caranya membaca pikiran seseorang"
Kecanggungan ini, mengingatkan ku pada pertemuan pertama kami di gundukan Rongsokan itu dan dihari dia pindah ke sekolah ini. Lagi dan lagi ia hanya terdiam, seolah membiarkan ku mengira-ngira harus ikut campur dan khawatir padanya atau tidak usah.
"—jika aku beritahu, apa kau akan membantu ku?" Tanya nya.
"Kenapa dia menangis?" Pikirku.
"—jika aku beritahu semua pikiran yang menganggu ku, apa kau akan menolongku?" Ia mengatakan hal yang sama itu lagi.
Sebelum mulutku mengeluarkan kata-kata, mulutnya mulai mengeluarkan kalimat lagi.
"Kalau aku ingin mendaki gunung Himalaya, apa kau akan ikut mendaki bersamaku? Jika aku ingin kau melompat ke jurang, apa kau akan melakukannya? Kalau aku minta untuk bunuh diri bersama-sama, apa kau....akan bunuh diri bersamaku?"
Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Rasanya ada sesuatu yang dingin, berusaha untuk mengintip ke dasar jurang pada tubuhku yang kosong. Sesuatu yang dingin itu tampak mencoba sekuat tenaga untuk mengintip ke dasar jurang gelap di malam hari, dan melihat sesuatu yang tak bisa dilihat oleh permukaan air.
"Lihat, kau tak bisa menjawabnya kan? Makanya kalau tidak bisa melakukannya, jangan berbicara seenak jidat seperti tadi!" Kanzakj membentak hingga ia kehabisan napas.
Aku tersenyum tipis. "Apa kau benar-benar ingin aku melakukan itu semua?" Tanyaku.
"Heh?"
🎶
"Apa kau benar-benar ingin aku melakukan itu semua?" Tanyaku.
"Tentu saja tidak!" Ia menggeleng dan diam-diam menangis.
"Kau sudah salah pengertian. Maksudku adalah, katakan dengan jelas apa mau mu agar orang lain bisa mengerti. Jika kau bersikap seperti tadi, orang akan salah paham. Apa susahnya sih cuma tinggal katakan saja, toh kamu juga tidak akan rugi" jelasku.
"Kalau begitu, aku ingin kau kembalikan aku ke masa lalu disaat aku dipaksa belajar biola" ucapnya.
"Dasar bodoh! Aku ini bukan Tuhan tahu! Memutar ulang waktu itu mustahil, karena waktu tidak akan pernah bisa mundur. Yang ada dia semakin cepat berjalan ke depan!" Sanggah ku sedikit marah.
Ia hanya diam dan menunduk kembali. Karena reaksi nya yang begitu, aku jadi tahu sedikit tentang biola. Pasti ada sesuatu yang terjadi, sehingga ia menghindari bermain biola. Perasaan itu seperti mengekspresikan kebencian. Apa benar sang violinis ini membenci biola nya sendiri?
"Kalau itu tidak bisa, kau ingin kau berhenti mengikuti ku kemanapun aku pergi. Kehadiranmu itu sungguh sangat menghalangi pemandangan" ucapnya
"Huh! Sudah kubilang kan, aku ini tidak pernah mengikuti mu! Lagipula, tempat ini aku duluan yang pakai dan temukan. Orang asing yang harusnya patut dibilang begitu adalah kau sendiri" balasku.
"Cih.."
Aku mengalihkan pandangan ke arah pojok ruangan, tepat dimana ia meletakkan gitar-gitarnnya. Aku bangkit dan berjalan menuju loker dan mengeluarkan tisu dan handuk yang sudah lama kupakai. Aku pun menyodorkan selembar tisu padanya.
"Buat apa?" Tanyanya.
"Lebih baik kau seka dulu air mata dan Hingus mu itu, baru bicara. Setahu aku, perempuan itu tidak suka jika terlihat jelek dihadapan lawan jenis" jawabku.
Ia pun segera menyambar tisu dan menyekanya. Sementara itu aku berjalan dengan membawa handukku ke sisi pintu.
".... Kenapa kau terlihat peduli padaku?" Ia bertanya sambil menunduk.
"Kira-kira kenapa ya? Itu hal wajar kan, manusia itu harus saling membantu sesama. Karena dia tidak bisa hidup seorang diri, artinya kita ini adalah makhluk sosial" ucapku.
"Tapi, yang kau lakukan padaku itu berbeda. Kenapa kau selalu saja datang saat aku sedang tak baik-baik saja?"
Dirinya yang menunduk kini memandangku dengan penuh harap. Aku yang melihat dirinya hanya bisa menunduk tak bergeming beberapa saat, dan tepat disaat jarum panjang jam dinding tepat mengenai angka 12, aku pun membuka mulut, lalu berkata.
"Kalau itu, aku..."
🎶
🌼つづく🌼