Sonata No Kioku

Sonata No Kioku
26- Apa aku cemburu?



...Akak-akak semua, eps kali ini pun.....


.......


.......


.......


...mohon dukungan dan sarannya ya...


.......


.......


...Enjoy ❣️🦋...


Tiba-tiba saja pukulan tangan karate Haruka mengenai tepat di kepalaku. Aku pun jatuh membentur lantai dengan suara keras tercipta, hingga rasa sakitnya merambat ke seluruh tulang ku.


Kedua tangan Haruka memegang kepalaku di kedua sisi, sehingga aku tak dapat menggerakkan nya lagi.


"... Kenapa kau masih bersikeras tak mau gabung?" Tanya nya dingin.


"Apa karena Kanzaki Shiori-san? Benar begitu?" Ia melanjutkan sambil tertunduk.


"Heh? Kenapa pikiran nya jauh dengan yang kupikirkan?" Pikirku yang terdiam sejenak.


Meski perkataan nya itu salah menurut otak ku, entah kenapa aku malah mengangguk kan kepala tanda setuju dengan yang ia katakan.


"Sepertinya aku akan menggangu urusan mereka, lebih baik aku pulang diam-diam saja!" Batin Satoshi yang meraih tas dan membuka pintu atap perlahan, lalu pulang.


"Semoga kau sehat selalu Arata, maafkan temanmu yang bodoh ini tak bisa membantu..." Ucap Satoshi pelan ketika berlari meninggalkan gedung sekolah.


Haruka tampak kecewa dan menggigit bawah bibirnya. "Kenapa?... Kenapa semua yang Ta-chan lakukan itu untuk Kanzaki-san? Kamu tidak perlu memaksakan diri demi orang itu kan?"


"I-iya, tapi kan..."


"Tapi apa? Kau tahu belakangan ini kamu sering sekali memaksakan diri berlatih gitar tanpa henti, permainan mu semakin hari semakin bagus dan berkembang. Aku dibuat terkaget oleh dirimu yang berambisi seperti sekarang!"


Haruka membentak ku dengan wajah yang merah padam, sedangkan aku hanya bisa diam dibuat bingung untuk menjawabnya.


"... Semua itu kulakukan hanya untuk merebut kembali ruang pribadiku dan bukan demi Kanzaki-san" jawaban itu mungkin tampak seperti dibuat-buat, sejujurnya aku pun tidak tahu dugaan Haruka itu benar atau salah.


Untuk beberapa saat aku memikirkan alasan yang lebih masuk akal di otak ku yang hampir meledak itu. Haruka pun melepaskan tangannya dan membantu mengangkat tubuhku yang terbaring tersebut dengan uluran tangan.


"Lupakan yang tadi. Omong-omong, bagaimana kalian bisa saling kenal?"


Haruka duduk membelakangi diriku sambil memeluk kaki nya dan bersandar pada punggung ku.


"Ah-hah, itu kan sudah pernah kukatakan. Mungkin di dalam mimpiku kan.." jawabku asal. (Lihat di eps. 8)


"Masih saja alasan konyol itu, kau mau ku kirim ke alam baka sekarang?!" Haruka memperlihatkan tinju mematikannya itu padaku.


Aku menggeleng. "Kenapa harus membahas soal ini sih?" Pertanyaan yang ingin ku hindari dari sejak dulu, akhirnya terjadi juga.


"Habisnya tadi aku sudah bercerita tentang awal mula aku bertemu dan kenal Keiko-senpai, sekaligus rahasia yang kusembunyikan. Agar adil, Ta-chan juga ceritakan" jelas nya.


"Suatu hari menjelang malam, langit senja bercahaya dan desiran ombak laut terdengar, sebuah kereta tengah melaju menuju stasiun terakhir membawa seorang penumpang. Tak lain dan bukan adalah aku, yang hendak menuju ke sebuah toko unik di pinggir pantai.


Di sekeliling toko itu, terdapat banyak sekali bukit dan gunung. Namun warnanya abu-abu kelam seperti akhir dari dunia. Jumlahnya sudah tidak dapat dihitung lagi, hingga menumpuk layaknya bukit itu sendiri. Di situlah aku bertemu dengan Kanzaki-san, yang tengah memainkan biola usang nya dengan lagu Sonata.


Karena terlalu fokus, aku terperosok dari rongsokan yang ku pijak dan ketahuan Kanzaki-san. Dia marah padaku tapi akhirnya dia juga meminta tolong soal jalan menuju stasiun dan masalah dengan polisi. Tamat"


"Ohh, tempat yang kau kunjungi itu sepertinya menarik. Kapan-kapan bawa aku kesana ya, sekalian main di pantai"


"Jangan. Tempat itu tidak menarik sama sekali, malah berbahaya tahu! Pokoknya tidak boleh.."


Tempat itu tidaklah menarik. Tumpukan rongsokan itu layaknya korban-korban perang yang dibiarkan membusuk bertahun-tahun— diantara banyaknya korban, tergeletak lah sebuah biola usang di tengah. Semua terasa sunyi dan tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan, Kanzaki-san mungkin satu-satunya orang yang masih bisa hidup di tempat tersebut.


Dari caranya memainkan lagu Sonata dan secara mendadak menyuruhku melupakan nya, kalau begitu di balik komposisi yang ia mainkan pasti mengarah pada suatu rahasia yang disembunyikan dan di pendam selama bertahun-tahun. Apakah mungkin ada kaitannya dengan insiden menghilang 2 tahun lalu?


Setiap kali aku memikirkannya seolah ada rasa yang tak dapat disentuh namun begitu dekat. Dan aku pun tersadar, bahwa aku salah satu orang yang mengerti Kanzaki-san yang sesungguhnya. Seperti aku pernah mengenalnya di suatu tempat...


"Begitu ya, artinya.."


Suara Haruka tiba-tiba terdengar dan membuyarkan lamunanku. Tanpa kusadari kini Haruka sudah ada tepat di depanku dan menatapku.


"Ta-chan peduli pada Kanzaki-san kan?"


"Heh... Heh...? Em, apa yang kau katakan... Aku tidak mengerti" aku menjawab dengan pipi merah dan ragu.


Haruka menyunggingkan senyum yang tampak dibuat-buat sambil menepuk pundak ku. Setelahnya, ia pun berdiri. "Jangan pura-pura tidak tahu deh, itu hal yang sudah jelas"


Tes...


Mataku langsung terbelalak kaget melihat air mata Haruka jatuh perlahan. "Ha... Haruka! Kau kenapa? Sakit kah?" Tanyaku panik.


"Heh? Aku baik-baik saja kok. Kau kenapa panik gitu?" Haruka balik bertanya dengan wajah bingung.


"Ha-habisnya kau... Air mata itu.... Kau menangis?"


"Air mata?" Jari Haruka mulai meraba pipinya dan dengan cepat tangan nya mulai menyeka. "Ahh, ini pasti karena debu. Maaf sudah membuat mu khawatir Ta-chan, tapi aku baik-baik saja kok!" Ia tersenyum paksa.


"Kalau begitu aku pulang duluan ya. Panggil saja aku kalau Ta-chan sedang butuh teman latihan atau ingin curhat, oke... Dah"


Haruka berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam gedung tanpa menoleh ke arahku. Kini tinggal aku dan Satoshi di atap yang luas dengan diiringi alunan lagu Kanzaki-san yang dipenuhi rasa kesepian. Tapi, tunggu...


"Loh, Satoshi tidak ada? Kemana dia? Jangan-jangan sudah pulang duluan ya tanpa bilang padaku? Dasar pengecut kau Satoshi!!!" Ucapku yang mengamuk.


Seketika emosi ku lenyap saat kuingat malam hari itu, di waktu Kanzaki-san mengajakku ke atap dan berbincang beberapa hal berdua.


"Terserah lah, aku latihan saja!"


//Sementara itu Haruka//


"Sakit... Rasanya semakin sakit ketika aku melihat atau mendengar Ta-chan bersama Kanzaki-san.."


Haruka yang kini tengah berjalan penuh emosi di sepanjang jalan menuju halte bus, tiba-tiba saja berhenti di tengah langkah.


Matanya yang terus berjatuhan air mata terhenti seketika, ia mendongak ke langit kelam yang berada di atasnya sambil meremas rompinya.


" Apa aku... Cemburu... dengan Kanzaki-san?"


🎶


🌼つづく🌼