
Pria itu sempat terdiam sejenak membuat Alex semakin tidak tenang. Ia hanya takut jika semua rencana El, Alex maupun Della terbongkar karena pria ini. Alex masih berharap-harap dalam hatinya semoga mereka tertolong hari ini.
Pria itu pun tampak mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam saku bajunya. Dan pria itupun memberikannya kepada manajer Sherly.
"Aku adalah seorang dokter. Hari ini aku ditugaskan untuk bekerja di tempat ini. Tugasku adalah merawat dan membantu orang yang sedang sakit. Aku mendapat panggilan tadi bahwa katanya ada seorang model yang pingsan dan sedang sakit. Aku langsung diperintahkan untuk datang kekamar ini. Aku tidak salah kan." Kata Pria itu tersenyum kepada semuanya.
Alex pun seketika terkejut saat mendengar perkataan pria itu. Ternyata dia adalah seorang dokter. Dilihat dari kartu namanya disitu tertera namanya adalah Aditya Pangestu. Dia bekerja di rumah sakit mahkota. Alex benar-benar terkejut sekaligus bahagia. Ia senang karena pria yang bernama Aditya ini tidak membongkar rahasia mereka.
"Ya ampun, aku baru tau kalau dia adalah seorang dokter. Della tidak mengatakan kalau pria yang akan dibawanya ini adalah seorang dokter. Dan dia bekerja di rumah sakit mahkota. Rumah sakit ini letaknya juga tidak jauh dari apartemen El. Ternyata, dia bekerja disitu." Kata Alex dalam hati.
Sherly maupun menajernya juga ikut-ikutan terkejut saat mengetahui kalau pria tadi adalah seorang dokter. Tapi, Sherly masih tidak terima karena yang dipeluknya tadi adalah pria ini dan bukanlah El. Ia masih marah dan kesal.
"Walaupun, kau seorang dokter. Tapi, kau tidak seharusnya memeluk aku seperti tadi. Kau benar-benar tidak ber-etika." Kata Sherly ketus
"Apa tidak salah itu? bukannya kau yang duluan memelukku. Aku hanya diam saja. Bahkan, aku tak membalas pelukanmu. Aku datang kesini hanya ingin memberikanmu obat. Tiba-tiba kau yang duluan memelukku." Kata pria itu.
"Tidak! apa kalian percaya dengan perkataan dia? mana mungkin aku mau memeluk pria yang tidak aku kenal. Tidak mungkin." Kata Sherly. Ia benar-benar masih mengelak. Sherly sebenarnya menduh pria itu karena ia tidak ingin disalahkan dan dipermalukan
"Kau punya bukti kalau aku yang duluan melakukannya? jika kau punya bukti yang kuat kau bisa melaporkanku. Tapi, disini juga ada CCTV. Lihat tepat disudut kamarmu ini. Walaupun, tadi lampunya sempat mati dan ruangan ini gelap. Tapi, CCTV itu bisa merekam segala sesuatu yang terjadi dikamar ini walaupun dalam keadaan gelap sekalipun." Kata pria itu tersenyum menang.
Sherly baru sadar jika diakamar ini ada CCTV nya. Sherly juga berpikir kalau mereka melihat hasil rekaman tadi. Jelas-jelas pasti terlihat Sherly lah yang duluan memeluk Aditya. Sherly juga tidak punya bukti untuk menuduh kalau Aditya yag melakukan kesalahan.
"Baik, baik. Aku yang salah. Aku tidak akan melaporkanmu." Kata Sherly. Kalau semua orang tau apa yang dilakukannya tadi. Pastilah banyak wartawan yang tidak akan tinggal diam dan memberitakan kejadian ini. Sherly tidak ingin popularitasnya menurun karena kejadian ini.
Manajer Sherly langsung berjalan kearah Sherly. Ia membisikan sesuatu.
"Kenapa kau seperti itu. Kau tidak seharusnya mengatakan kalau kau yang salah. Kita bisa saja melaporkannya. Kau kan punya banyak kenalan dan orang dalam untuk masalah ini. Kita bisa membuat pria itu yang sebenarnya bersalah." Kata manajer Sherly berbisik.
"Tidak, tadi itu emang aku yang salah. Aku yang duluan memeluk dia. Tadi itu aku kira pria ini adalah El." Kata Sherly. Ia juga ikut-ikutan berbisik ke manajernya. Saat menyebut nama El. Sherly langsung teringat dengan El. Dimana El? pikir Sherly.
"Oiya, Alex. Dimana El? tadi waktu aku pingsan dia masih ada disini. Tapi, saat lampu mati El sudah tidak ada." Kata Sherly bingung.
Alex langsung bingung alasan apa yang logis yang harus ia berikan kepada Sherly. Kalau ia mengatakan yang sebenarnya kepada Sherly pasti ia akan menyalahkan El. Ia sempat terdiam dan berpikir. Tapi, Aditya yang membantu Alex untuk menjawab pertanyaan dari Sherly itu.
"Apakah El itu salah satu model yang bersamamu tadi kan." Kata Aditya bertanya kepada mereka. Sherly pun mengangguk.
Sherly pun terlihat kesal. Kenapa juga El yang harus mengambilkan obat itu. Sherly juga kesal karena seharusnya El bersama dia disini. Sherly merasa rencana mereka gagal. Ia berpikir pasti direktur Yosi nanti akan sangat marah kepadanya.
"Kalau begitu, apa urusanku disini sudah selesai?" Tanya Aditya. Dia berpikir sepertinya tidak ada lagi yang harus dijelaskan.
"Baiklah, kau boleh pergi. Tapi, jangan katakan kepada siapapun tentang kejadian ini. Tidak ada yang boleh tau selain kita yang ada disini." Kata Sherly.
Aditya pun hanya bisa tersenyum singkat. Ia pamit kepada Sherly dan pergi keluar. Pekerjanya sudah selesai sekarang. Alex pun juga ikut keluar bersama Aditya. Karena ia tidak punya urusan lagi diakamar itu bersama Sherly.
Saat Aditya dan Alex sudah keluar dan menutup pintu kamar Sherly. Didalam kamar itu Sherly maupun manajernya terlihat cemas. Rencana mereka gagal. Sherly tidak jadi berpelukan ataupun bermesraan bersama El. Tidak ada yang bisa mereka berikan ke direktur Yosi nanti saat mereka sudah pulang dari sini.
"Aaaaaaa kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini. Gara-gara pria tadi itu. Aku tidak jadi berpelukan bersama El. Bagaimana ini." Kata Sherly. Ia benar-benar terlihat frustasi.
"Aku juga tidak tau kalau di penginapan ini ada dokter. Itu benar-benar diluar dugaanku." Kata manajer Sherly. Ia juga frustasi. Karena rencana mereka gagal.
"Benci! benci!!!!! aku benci dengan semua ini." Kata Sherly. Manajernya hanya bisa melihat Sherly dengan tatapan pasrah.
Diluar kamar Sherly. Saat ini Alex sedang berjalan dengan Aditya. Ia terlihat puas dan sangat senang. Ia melihat Aditya sekilas dan tersenyum.
"Jadi, namamu Aditya. Kau orang yang disuruh Della untuk datang kesini kan." Kata Alex bertanya kepada Aditya.
"Iya, aku yang disuruhnya untuk berpura-pura menggantikan El." Kata Aditya tersenyum.
"Kau Alex kan manajer El. Della sudah menceritakan semuanya kepadaku. Bagaiamana dia sangat ingin membantu El karena ingin menebus kesalahan yang telah dilakukannya." Kata Aditya. Ia sudah tau semuanya.
"Benar, ternyata Della sudah mengenalkan kami kepadamu." Kata Alex. Aditya pun mengangguk.
"Jadi, apa kau benar-benar seorang dokter? aku benar-benar tidak tau karena Della tidak pernah mengatakan sebelumnya." Kata Alex heran.
"Ia aku benar-benar seorang dokter. Sebenarnya aku ingin menyembunyikan identitasku ini. Tapi, tak disangka ternyata identitasku terbongkar juga." Kata Aditya tersenyum.
"Tapi, yang penting rencana kita berhasil. Wartawan itu pasti akan membuat berita yang tidak benar tentang El. Tapi, berkat kau. Della pasti akan membantu El untuk memutar balikan berita itu." Kata Alex terlihat bahagia.
"Aku juga senang bisa membantu kalian dan juga Della. Walaupun, nanti pada akhirnya aku juga masuk kedalam skandal ini." Kata Aditya. Alex baru sadar jika Aditya pasti juga akan terkena masalah ini. Di sisi lain Alex merasa bersalah dan kasihan dengan Aditya. Tapi, di sisi satu lagi. Ia juga senang karena ini demi El.