Shean & Jenny

Shean & Jenny
Simbol



Setelah rehat , kami melanjutkan perjalanan yang dipandu oleh Pak Yana, menyusuri bukit yang banyak terdapat pohon-pohon rimbun yang terdiri dari pohon pinus dan soga yang tinggi menjulang. Udara dingin juga kabut mulai merayap di kaki-kaki menutupi sebagian jalan setapak yang kami pijak.


“Hati-hati.. Semakin dalam, kabutnya akan semakin tebal. Usahakan sesuaikan langkah kita masing-masing” ucap si pemandu agar kita bisa lebih waspada terhadap segala perubahan pada alam sekitar.


Beberapa kali Jenny terperosok juga tersandung namun ia tak mengeluh bahkan tertawa karena kelalaiannya ketika melangkah, alhasil pakaiannya kotor. Beberapa kali aku mencoba membawakan tas ranselnya namun ia menolak dengan halus karena ingin membawa barang bawaanya sendiri dan merasakan sensasi pendakian gunung yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


“Pak kita istirahat dulu sebentar” pintaku ke pak Yana dan disetujui oleh yang lain.


“Je.. Duduk dan luruskan kakimu”. Ia pun menuruti perintahku untuk duduk di bawah pohon dengan akar besar di sisi-sisinya.


Aku melihat bercak darah di betisnya, mungkin saja karena tadi sempat terperosok saat melewati tanjakan curam. Ku balur dengan air bersih lukanya itu dan menempelkan plester antiseptik agar tidak infeksi.


Jenny hanya terbengong, ia tak sadar kalau kakinya terluka dan cukup dalam sayatan pada betisnya.


“Sejak kapan.. Padahal aku tidak merasakan nyeri sama-sekali”. Ujarnya keheranan.


“Kamu tidak merasakannya karena adrenalin yang sedang meningkat”. timpal Erik.


“Ayo kita lanjut lagi” Jenny tak sambar ingin segera sampai dan melihat tempat kemping dan pemandangan yang kata pak Yana sangat bagus bisa melihat landscape kota.


Jalan naik turun melawati dua bukit terjal bebatuan dengan semak belukar yang rimbun subur nampak di sejauh mata memandang. Pemandangan yang dibicarakan tadi mulai nampak terlihat samar diselimuti kabut putih namun masih bisa terlihat cukup jelas, aku menunjukan pemandangan itu kepada Jenny dan ia terkagum-kagum makin semangat untuk segera sampai.


Setibanya di bukit yang dituju, kami menaruh barang bawaan secara sembarangan, disini tak ada apapun selain tanah yang landai basah bersih tak ada rumput, mungkin karena sudah biasa menjadi tempat kemah, jadi tempatnya selalu dibersihkan agar tidak ada rumput atau belukar yang mengganggu pendirian tenda.


“Indah sekali pemandangannya” Jenny menyilangkan tangannya ke dada akibat kedinginan oleh udara pegunungan yang saat ini tidak nampak ada matahari karena tertutup awan dan pepohonan pinus dengan daunnya yang rimbun.


“Tunggu nanti malam, pasti lebih bagus pemandangannya”. Saut pak Yana.


“Sabar.. Ini baru jam 11 siang” Erik yang sedang membuka peralatannya pun angkat bicara.


...----------------...


Selesai mendirikan tenda, kami membuat perapian dengan menumpuk batu dan membuat tiang penyangga  pada sisi kanan-kiri dan menempatkan kayu ukuran sedang di tengah untuk menggantungkan peralatan masak, untuk menanak nasi juga air panas.


“Pak Yana, tadi ada dua mobil di parkiran, itu siapa ya?” tanya Erik.


“Itu pak, tadi pagi sebelum Pak Erik datang, ada peneliti dari kota Semarang, mereka juga sedang meneliti situs. Dengar-dengar sih tadi katanya mereka mahasiswa sejarah dari Universitas Jaya Nusantara dan sedang melakukan riset sejarah situs ini”. Pungkasnya.


Aku tidak kaget karena hal itu, disebabkan tempat ini sedang dalam penanganan besar oleh pemerintah agar semua peneliti bisa ikut serta dalam penanganan cagar budaya yang belum banyak hal yang terungkap didalamnya. Tak ayal pemerintah pun membebaskan peneliti luar untuk ikut serta dan meningkatkan kajian ilmiah akan situs Rahaya warisan leluhur yang pernah ada di tempat ini, mungkin saja ini adalah sisa dari sebuah kerajaan besar yang pernah ada di Indonesia.


Meskipun begitu, banyak dari para peneliti yang berasumsi, struktur bangunan tidak menyerupai candi-candi atau peninggalan kerajaan seperti di tempat lain, bisa dikatakan situs ini lebih jauh lagi rentang waktunya dan sampai pada ini, kajian ini masih terus berlangsung menjadi perdebatan.


“Shean, kamu yang masak ya, lama aku tidak memakan masakanmu” Pinta Erik yang memang tau kalau aku bisa dan suka masak, saat acara kemping ketika masih berstatus mahasiswa, masak selalu menjadi tugas utamaku.


Berdua menyusuri semak belukar untuk mencari ranting kering juga beberapa kayu bakar. Jenny ku berikan tugas mengumpulkan buah pinus yang banyak berserakan di semak-semak. Buah pinus juga kayu dari pohon pinus sangat mudah terbakar dan bagus untuk membuat perapian.


“Aku baru tau kalau ini namanya buah pinus. Bentuknya lucu sekali”. Ujarnya.


“Iya, kamu kumpulkan secukupnya saja, aku mau mencari batang kayu yang besar-besar biar cukup sampai nanti malam”. Timpal ku sembari membungkuk tengah mengangkat kayu seukuran betis.


Setelah terkumpul kayu bakar, aku menyalakan perapian dan mulai memasak nasi.


Sembari memasak, Jenny terus mengajak berbicara bertanya tentang banyak hal tentang pendakian gunung juga pengalamanku selama ini. Erik yang sudah selesai memasang tenda pun ikut bergabung dan mulai bercerita tentang pengalaman kami berdua sewaktu kuliah. Rasanya rindu sekali saat masa-masa kuliah, meski pun aku tak banyak bergaul, namun Erik tetap akrab denganku dan sering bepergian mengajakku mendaki gunung.


—————-


Usai makan siang, kami meninggalkan lokasi kemah, menuju arah barat sekitar 200 meter, jalanan nya tidak separah tadi kali ini sedikit landai dan mudah dilewati meskipun masih terasa licin. Jenny pun turut serta ia sengaja membawa kamera mirrorless agar mudah memotret dengan kualitas yang lebih bagus dibandingkan harus menggunakan smartphone.


Setibanya disana, ada 6 orang yang juga sedang melakukan penelitian, mereka terlihat masih muda umur 24 tahun atau dibawahnya. Ada yang mencatat ada juga yang sibuk selfie dengan kamera ponselnya, aku tak menghiraukan aktifitas mereka sampai ada seorang lelaki yang sedang mengorek-ngorek tanah dekat tumpukan bebatuan yang berundak. Erik yang tak sabar dengan kelakuan mahasiswa itu kemudian menghampirinya.


“Dek, hati-hati jangan asal menggali tanah si sekitar sini, ini warisan budaya, jika satu keping pun bebatuan yang terkubur didalamnya itu rusak, kamu pasti akan mendapat masalah serius nanti”. Ujarnya mencoba menasehati. Mahasiswa itu pun terdiam tidak berani berhadapan dengan Erik yang tinggi kekar, langsung ciut nyalinya.


“Pak Ujang kemana, bukannya dia bertugas menjadi pemandu kalian” seru Pak Yana dan mengamati satu persatu anak-anak muda dihadapannya itu.


“Tadi Pak Ujang kembali ke parkiran karena 2 teman kami sakit”. Ujar salah satu mahasiswa itu.


“Ya sudah kalau begitu, kalian kalau mau tetap disini jangan berani-berani menggali atau merusak batu-batu ini”. Pak ujang menunjuk ke arah batu-batu berbentuk balok sebagai penanda mereka tidak di ijinkan untuk melakukan kegiatan yang sifatnya merusak, karena banyak sekali para pengunjung yang datang malah merusak bebatuan sampai beberapa diantaranya banyak yang pecah.


Bentuk dari situs ini lebih seperti reruntuhan bangunan besar memanjang yang kami pijak adalah puncak dari bangunan, ada batu-batu besar seukuran manusia dewasa ada juga yang ukurannya kotak persegi meski tidak semuanya berukuran sama, namun aku kagum dengan bentuknya yang tiap tepi balok itu presisi, bagaimana orang di zaman dahulu membuat balok-balok dari batu sebesar ini?. Misteri besar yang sampai saat ini belum terpecahkan, semuanya hanya asumsi-asumsi saja.


Setelah puas mengamati bebatuan aku tersadar jika di beberapa batu ada symbol-symbol yang tidak asing, sepertinya aku tau simbol-simbol ini, aku mencoba menggali ingatanku diaman aku pernah melihat simbol itu, karena semakin penasaran aku meminta Jenny memotret batu-batu yang aku tunjuk untuk jadi bahan referensi kedepannya.


Erik masih sibuk dengan perkakas dan alat-alat canggih portable untuk meneliti jenis-jenis materi yang terkandung di tiap sudut reruntuhan, begitupun Pak Yana yang juga ditugaskan untuk membantunya. Karena ada hal yang ingin aku telusuri tentang simbol yang ku temukan, aku pamit terlebih dahulu kepada mereka berdua dan kembali ke perkemahan bersama Jenny.


“Je, ada yang ingin aku beritahukan kepadamu, tetapi nanti saja kalau sudah sampai di tenda”. Ucapku berbisik.


“Baiklah.. Sebenarnya aku juga ada hal yang ingin aku bicarakan berdua denganmu, kebetulan sekali ya..” pipinya merah merona ketika mengucapkan kalimat itu.


“kamu sepertinya demam? Kamu baik-baik saja kan?” tanyaku sembari menempelkan tangan di keningnya.


“Tidak, aku baik-baik saja, ayo kita kembali”. Jawabnya.


...****************...