
Siang ini setelah selesai registrasi dari kampus, aku menuju parkiran sudah ada Jenny menjemput untuk mengajak ku ke rumahnya untuk makan malam bersama.
Melewati gedung rektorat, aku berjalan lurus ke parkiran letaknya disamping gedung prodi pendidikan, terlihat mobil merah yang biasa dikendarai oleh Jenny terparkir di area itu.
"Aku saja yang nyetir.." Aku menawarkan diri untuk mengambil alih kemudi, rasanya tak enak jika Jenny yg harus membawanya.
"Ayo masuk saja" titahnya.
"Kamu kan sudah cape seharian ini, jadi aku saja yang bawa" lanjutnya.
"Baiklah.." jawabku singkat.
Keluar dari parkiran ia tancap gas ke arah perbatasan kota pusat menuju arah rumahnya. Tak terasa selama perjalanan kami berbincang banyak hal, dan aku menceritakan perihal registrasi di kampus yang sudah dibayar lunas oleh ayahnya, yang membuatku kaget meskipun sudah tau sejak awal bahwa Ayah Jenny akan membayarkan seluruh biaya kuliah.
"Oh iya, ayahmu suka makanan manis?" tanyaku kepadanya yang kini fokus memperhatikan jalan karena hendak memasuki gerbang tol.
"Sepertinya suka.. Kenapa memangnya?" tanyanya kembali kembali.
"Ah tidak, ini aku bawakan cake buatan pak Sudirman, tadi dia memaksaku membawakan ini untukmu juga buat Ayah".
"Cake yang kemarin itu?.. Wahhhh.. pasti ayah juga suka" ucapnya tak sabar ingin segera merasakan lagi kenikmatan kue buatan dari kafe Atelier.
"Sabar ya Nona cantik" goda ku kepadanya yang mulai tidak fokus menyetir dan melirik ke bingkisan kue yang aku bawa.
"Ish.. Dasar!"
Aku tertawa geli melihat tingkahnya yang seperti anak kecil umur 7 tahun. Tengil dan menggemaskan tapi aku suka tingkahnya yang tidak biasa ia tunjukan kepada orang lain. Mungkin aku saja yang tau.
"Akhir-akhir ini aku sering bermimpi" ucapku menceritakan perihal mimpi yang sama berulang kali sejak pendakian menuju situs Rahaya yang terdapat di Cianjur bagian selatan yang belum lama ini kami kunjungi bersama Erik.
Meski tak ingat keseluruhan mimpi namun ada beberapa ingatan tentang codex dan seorang perempuan yang menyimpan buku kuno pada sebuah peti kotak yang rapat terkunci.
Jenny mendengarkan dengan seksama cerita-cerita tentang mimpiku yang sangat samar. Bahkan setelah terbangun dari tidur dan mencoba mengingat kembali, seluruh dari kejadian di mimpiku terlihat sangat samar.
"Mimpi yang sangat aneh, apakah ada sangkut pautnya dengan simbol-simbol yang kita lihat di situs?" Jenny juga penasaran dengan kejadian di mimpiku.
"Entah, sepertinya tidak ada simbol-simbol itu. Aku juga tidak bisa jelas mengingatnya".
"Entahlah" keluhku, mungkin semua itu tak ada hubungannya sama sekali.
"Ya sudah.. Mungkin itu hanya bunga tidur yang mungkin tidak penting". Ia mencoba menenangkan ku.
"Mungkin saja begitu.."
Mobil mulai berbelok ke sebuah kawasan perumahaan elit yang kebanyakan diantara rumah-rumah itu bergaya semi-eropa.
"Rumahmu sebelah mana?" tanyaku sembari melihat-lihat rumah megah yang hanya bisa ku lihat di sinetron atau film.
"Sabar sayang... sebentar lagi sampai".
Tibalah kami di sebuah gerbang yang menghubungkan halaman depan luas dengan rumah yang tak kalah besar dari yang ku lihat tadi di sepanjang jalan.
"Hei.. Jangan bengong. Ayo kita masuk" Ajaknya untuk memasuki rumah yang pintu depannya pun besar bak istana kerajaan.
Jenny menggandeng lenganku dan berjalan masuk disambut beberapa IRT yang bekerja di rumah ini.
"Papah ada Bi?" Tanya Jenny ke pelayan rumah.
"Tuan sedang ada pertemuan di luar, tadi berpesan kalau tuan pulang jam 5 sore". Jawabnya kemudian undur diri menuju dapur.
Pandanganku mengitari sekeliling ruangan megah dengan dinding putih tanpa noda sedikitpun. Beberapa foto berukuran besar terpampang di berbagai sudut, dan foto Jenny saat kanak-kanak membuatku sedikit tertarik untuk melihatnya. Ia mengenakan baju berenda-renda warna merah muda dengan sebuah sayap buatan di belakang bajunya sembari memegang tongkat dengan ujung tongkat berbentuk hati warna merah.
Ya Tuhan menggemaskan sekali anak ini.
"Tunggu sebentar, aku mau mengganti baju dulu ya" dan ia pun pergi menaiki tangga ke lantai dua menuju kamar.
Karena bingung sendirian di ruangan sebesar ini, aku berjalan ke belakang rumahnya yang terdapat taman kecil dengan pepohonan rindang ada dibawah pohon mangga terdapat bangku panjang dengan meja kayu berwana coklat.
Nyaman sekali.
"Shean.. Shean.. Ayo bangun" lengannya menepuk-nepuk pundakku.
"Hahaha.. Sudah biarkan saja.. Sepertinya dia kelelahan". Suaranya berat, terdengar seperti seseorang yang ku kenal.
Aku terbangun dan menguap karena masih mengantuk dan Jenny sudah berada tepat di depan memperhatikanku yang tertidur di kursi taman.
"Emhh Jenny, selamat pagi" Ucapku sekenanya, tak tau pun ini sudah jam berapa.
"Hahaha. Selamat sore nak Shean" Ucap lelaki yang berada di belakang Jenny.
"Hah sore?"
"Eh.. Maaf Om, eh Pak.. " ucapku gelagapan.
Sikapku yang masih setengah sadar karena mengantuk membuat kedua orang ini tertawa kencang sekali sampai-sampai beberapa pelayan melirik ke arah kami bertiga.
"Ma.. Maaf pak, saya ketiduran hehe" nyengir kuda tak tau lagi harus bersikap apa di depan sosok pengusaha sukses yang namanya terdengar dimana-mana ini, namun ia hanya tersenyum saja melihat kelakuanku yang selengean.
"Sepertinya kamu ngantuk sekali Shean" tanya nya basa-basi dan duduk di bangku di samping kanan.
"Tidak tau nih.. Tempatnya nyaman sekali disini".
"Kamu ini loh.. Ditinggal sebentar sudah langsung tidur saja" Jenny ikut menanggapi.
"Hahaha.. Benar seperti kata mu barusan. Tempat ini memang membuat siapapun betah, apalagi di cuaca seperti sekarang ini". Rimbun pepohonan seperti menutupi sinar matahari dan melindungi siapapun yang dibawahnya, jika bukan karena Jenny dan ayahnya, sepertinya aku akan tertidur lama sampai malam di bangku.
"Oh iya Pak, terima kasih sudah membayar penuh untuk uang pangkal masuk ke universitas, tadi saya berbicara dengan pihak universitas jika semua biaya sudah dibayarkan".
"Terima kasih banyak, suatu saat saya pasti akan membalas budi baik bapak". Aku menunduk memberi hormat sebagai bentuk rasa terima kasihku untuk Pak Renaldy Azkara yang sudah memberiku kesempatan untuk bisa melanjutkan studi dan dia pun hendak memberikanku pekerjaan di perusahaannya.
Rasa terima kasih yang ku haturkan tidaklah cukup, belum lagi ia pun merestui hubunganku dengan Jenny, anak perempuannya yang cantik jelita juga baik hati. Sebesar apapun aku mencoba membalas jasanya padaku mungkin tidak akan pernah cukup sampai kapan pun.
"Tidak perlu dipikirkan, kamu tenang tenang kuliah dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya, Saya senang dengan lelaki pekerja keras sepertimu".
"Tentu saja, itu juga membuatku tenang memberikan anak ku ini untuk hidup bersamamu kelak" Sang ayah merangkul pundak Jenny, terlihat rasa kasih sayangnya yang begitu besar kepada putrinya itu.
"Ih apa sih Pah..." Wajah Jenny merah merona malu karena ucapan ayahnya yang tidak terkontrol.
"Oh iya, sebelum makan malam, saya akan memperlihatkan sesuatu kepadamu" Pak Renaldy mengajak ke sebuah ruangan yang terdapat di lantai dua di samping perpustakaan miliknya.
Jenny sudah memberitahukan jika ayahnya itu menyukai barang-barang antik dan dirumahnya ada banyak koleksi benda-benda bersejarah yang legal untuk dimiliki siapapun karena dibeli dari sebuah pelelangan resmi.
Memasuki ruangan galeri, terlihat beberapa lukisan-lukisan berukuran sangat besar terpajang di dinding dengan bingkai yang tak kalah menarik untuk melapisi setiap lukisan.
Beberapa barang antik yang ia miliki dapat ku taksir jenis dan harganya, karena aku sudah belajar jenis-jenis seperti itu di universitas.
Yang paling membuatku tertarik adalah jajaran buku-buku kuno yang dibuat dengan kertas papirus yang berumur sekitar 1.000 tahun yang sering disebut codex.
"Kamu sepertinya sangat tertarik dengan manuskrip kuno seperti itu ya" Tanya nya kepadaku yang masih melihat-lihat jejeran buku tua yang terpajang disebuah lemari dengan dinding besi dan bagian depannya terpasang kaca tebal bersih mengkilap.
"Iya pak.. Aku memiliki 4 codex kuno peninggalan almarhum kakek ku" Aku menjelaskan tentang ketertarikanku pada benda-benda kuno dari sang kakek yang juga mantan peneliti situs-situs arkeologi.
Ketika asik berbincang-bincang dengannya, aku melihat kotak misterius yang berukuran sedang yang dipajang terpisah di lemari kaca.
"Kalau boleh tau, itu kotak apa ya pak? baru pertama kali aku melihatnya". tanyaku penasaran dengan kotak juga isi yang terdapat didalamnya.
Pak Renaldy pun menjelaskan asal usul benda itu yang sudah ada di rumah ini sejak era penjajahan. Karena dulunya ini adalah rumah dari petinggi kerajaan belanda yang pernah menjajah negeri ini.
Sebelum rumah ini dibeli pada tahun 1973 oleh Pak Renaldy, ia merenovasi rumah dan menemukan kotak itu, namun tidak bisa dibuka karena tidak ada kunci untuk membukanya, Jika dibuka paksa takutnya benda di dalam kotak akan hancur. Ada beberapa kasus seperti itu, membuka paksa kotak peninggalan Zaman dahulu dan benda didalamnya menjadi rusak jadi tidak bernilai.
Entah kenapa kotak itu seperti tidak asing, namun aku tak tau dimana pernah melihatnya.