Shean & Jenny

Shean & Jenny
Hadiah



Ayah Jenny bersikeras untuk membiayai kuliah S2 dan juga memberikan pekerjaan di kantornya yang baru ku tau itu adalah perusahaan ternama Royal Resident, sebuah kawasan pemukiman letaknya tak jauh dari apartemen Jenny di selatan Jakarta. Nantinya aku akan ditempatkan di bagian administrasi, pekerjaan yang tidak terlalu banyak menyita waktu. Ini adalah pekerjaan ideal disela-sela waktu kuliah dan bisa dilakukan secara remote selama terhubung di internet.


Sepertinya Pak Reynald memikirkan betul apa yang bisa aku lakukan dan yang cocok untuk jadi pekerjaanku nantinya. Mungkin ini kesempatan sekali seumur hidup bisa mendapatkan beasiswa full sampai lulus juga pekerjaan yang tidak menyita waktu.


Rasa-rasanya aku berhutang budi pada beliau.


Hari ini aku sudah ada janji dengan Jenny untuk menemaninya berbelanja di pusat kota, ia ingin membeli beberapa peralatan untuk pekerjaannya sebagai designer di perusahaan Fashion internasional, beberapa design yang ia buat pun banyak dipakai oleh artis-artis Indonesia maupun mancanegara, tak jarang jika tiap bulan ia selalu ada kunjungan kerja ke luar negeri, bahkan aku saja belum pernah mengunjungi negara tetangga Malaysia juga Singapura. Sedangkan dirinya sudah berkeliling ke banyak negara berkat kepiawaiannya mendesain pakaian untuk selebriti dunia.


Tokk tokk tokkk


Pintu rumah di ketok dan terdengar samar seseorang memanggil namaku, rupanya ia telah sampai padahal masih pagi, tidak ada pusat perbelanjaan yang buka di jam 8, kebanyakan toko buka pada pukul 10 itu pun para karyawan masih berbenah.


“Iya sebentar” sahutku setengah berteriak dari kamar tidur.


“Lama!!!” jawabnya tak kalah nyaring sampai-sampai beberapa tetanggaku memperhatikan gerak-gerik perempuan muda dengan mobil mentereng warna merah yang sangat mencolok.


“Lama sekali, kamu sedang apa sih” dengusnya kesal.


“Aku sedang ganti baju tadi, lagi pula ini masih pagi loh.. Masih lama kalau mau belanja”


Usut punya usut, nona cantik ini datang karena ingin dibuatkan sarapan olehku, dan tentu saja dengan senang hati akan aku buatkan menu sarapan yang mudah dan enak untuk pagi ini. Bahkan jika ia tidak meminta pun akan aku buatkan hidangan sarapan, senang rasanya jika ada seseorang yang memakan masakanku dengan begitu lahap.


...----------------...


Sebelum pergi, aku menyiapkan sesuatu untuknya, sebuah hadiah karena Jenny sudah banyak membantuku selama ini. Meski hanya sebatas teman saja, namun aku ingin memberikannya sesuatu sebagai tanda terima kasih tak lebih dari itu.


Ada rasa ragu dan juga takut untuk memberikan hadiah kepadanya karena barang yang akan aku berikan bisa ia beli berapapun yang ia mau. Namun seketika keraguan dalam diriku sirna dengan melihat raut wajahnya yang meneduhkan hatiku itu tak mungkin ia akan menolak apa yang akan kuberikan, semoga saja dia menyukainya.


Kami berdua masuk kedalam mobil, dan ketika ia hendak menyalakan mesin dengan cepat aku cegah karena ada momen yang harus aku bangun untuk menyampaikan rasa terima kasih ku yang begitu dalam kepadanya atas semua hal yang pernah ia berikan.


“Je..” begitu panggilan akrabku kepadanya.


“Ada apa? Ada yang lupa kamu bawa?” tanyanya keheranan dengan tingkah laku ku.


“Tidak.. Bukan itu..”


“Ayo cepat ada apa, nanti keburu semakin macet jalanannya”. Ada benarnya juga jika hari sudah semakin siang di akhir pekan akan lebih banyak kendaraan dan menyebabkan kemacetan dimana-mana, aku pun seketika jadi panik bercampur rasa takut tidak bisa menyampaikan maksud dari hadiah yang akan diberikan kepadanya.


“Begini Je.. Selama ini kamu kan sudah banyak membantu aku.. Aku ada hadiah buat kamu yang sepertinya ini tidak seberapa buatmu”. Kalimatku tersendat-sendat karena nervous.


“Semoga kamu menyukainya” Aku pun membuka kotak persegi panjang berwana hitam dove dan memperlihatkan kalung berwarna silver dengan liontin berbentuk pita.


Secara tiba-tiba ada air matanya menetes ke pipi kemudian ia memeluk tubuhku dengan sangat erat lebih dari biasanya. Ia terus saja berucap terima kasih sangat senang dengan pemberianku, karena ini pertama kalinya aku memberikannya hadiah setelah hampir 7 bulan mengenalnya.


“Bantu aku memakainya” aku pun mengaitkan kalung di lehernya dan tanpa terasa wajah kami sangat begitu dekat hanya beberapa inchi saja, karena malu aku segera kembali membenarkan posisi duduk di mobilnya.


Karena suasana menjadi canggung aku berinisiatif untuk menyalakan pemutar musik di mobil mengatur volume sedang agar tidak terlalu kencang terdengar. Seiring mobil melaju menuju pusat kota, kami bernyanyi jika ada lagu yang sama-sama kami sukai dan itu berhasil memecah kebisuan selama perjalanan.


Kami pun bisa kembali berbincang seperti biasanya tanpa ada rasa canggung. Dan saat itu ia berterima kasih kembali dan berkata akan selalu menjaga kalung pemberianku, menjaganya sebaik mungkin agar tidak rusak ataupun hilang. Senang sekali rasanya jika ia menyukai pemberianku, meski tak seberapa tapi aku benar-benar tulus memberikan itu kepadanya.


—-


Lama kami mengitari pusat perbelanjaan, ia pun mengenalkan beberapa disain baju yang beberapa waktu lalu ia selesaikan dan saat ini sudah ada di pajang di sebuah butik mewah, dress panjang berwarna pink dengan pola-pola rumit namun estetik memberikan kesan mewah namun sederhana. Tak disangka harganya dibandrol sebesar 48 Juta rupiah. Harga fantastis, harga pakaian mahal yang baru pertama kali aku lihat.


Setelah puas mengitari butik-butik juga tempat peralatan kantor, kami memutuskan untuk rehat sejenak untuk makan siang dan menikmati secangkir kopi di siang hari ini.


Aku mencuri-curi pandang melihat leher nya yang mengenakan perhiasan yang aku beli menambahkan kesan cantik dan imut, beruntung sekali pria yang bisa mendapatkan sosok bidadari ini, bisakah aku berharap?.


“Ayo jangan bengong, kamu mau pesan apa?” ucapnya menanyakan makanan yang akan aku pilih.


“Iya.. Iya.. Mmmm.. Aku pesan pasta dan lemon tea saja, aku tidak terlalu lapar”.


Hanya butuh 10 menit sampai hidangan sudah tersedia di meja siap untuk dinikmati.


“Bagaimana, sudah ada pengumuman dari kampus?” ia bertanya perihal study S2 yang akan aku tempuh.


“Baru minggu depan dibuka pendaftarannya, semua syarat-syaratnya sudah lengkap, tinggal menunggu saja sampai pendaftaran”. Pungkas ku menanggapi pertanyaannya.


Ia pun bercerita jika dirinya juga ingin melanjutkan study S2 sama sepertiku namun di jurusan Disain dan ia sedang melirik beberapa kampus terkenal di Jakarta, namun karena kesibukannya harus hilir-mudik mengurus disain-disain pesanan dari tempatnya bekerja, ia sedikit repot dan tak sanggup jika harus sembari kuliah.


Bisa saja ia membuka kantor designer sendiri dengan dia sebagai kepala perusahaannya, namun ia menuturkan jika saat ini dia masih butuh banyak belajar dari yang lebih ahli dan menimba banyak pengalaman sampai suatu waktu ia siap untuk mandiri sendiri, maka ia akan mewujudkan untuk membangun perusahaannya sendiri.


Di hadapanku ini sosok bukan hanya seorang perempuan tanggu, tetapi juga mandiri dan secara mental ia sudah mengasahnya dengan bekerja pada perusahaan besar yang dimana, disana banyak tekanan yang datang. Aku sangat mengagumi sosoknya itu dengan kepribadiannya yang periang ia pun benar-benar memikirkan jalan hidupnya dengan baik tidak seperti perempuan muda kebanyakan yang hanya tau cara untuk menghabiskan uang.


Jenny berbeda dari semua perempuan yang aku kenal selama ini


“Kalau kamu ada waktu, aku mau melihat penelitian kamu tentang reruntuhan candi atau apapun itu, aku sedang butuh inspirasi, akhir-akhir ini, disain yang aku buat terasa monoton”. Ujarnya, karena memang mood sangat penting pada pekerjaan seni.


“Minggu depan, aku dan Erik mau ke Cianjur meneliti situs purbakala. nanti aku kabari lagi soalnya aku masih menunggu konfirmasi dari para ahli di sana”.


“Wah.. keren? aku ikut boleh ya?” ia merengek meminta ikut serta dalam penelitian kami


“Dasar.. Tapi jangan mengeluh ya, medan pegunungan disana menyeramkan, nanti aku kabari Erik kalau kamu mau ikut juga” Sebenarnya belum tentu ia bisa ikut, semua tergantung Erik nantinya.


“Awas ya kalau tidak jadi.. Jangan lupa kasih kabar!” .


“Iya..” jawabku pelan.


...****************...