
Keputusanku sudah bulat tak bisa diganggu-gugat lagi, setelah lama memikirkannya aku akhirnya memutuskan untuk berhenti dari tempatku bekerja sebagai office-boy. Selama disana, bukan hanya hal buruk yang aku dapat tetapi bisa mengenal kedua temanku yang selalu baik dan selalu membantu saat aku membutuhkan. Meskipun begitu, dengan berat hati aku harus keluar dari pekerjaan yang sudah 2 tahun lebih ku geluti.
Sejak dua bulan lalu aku sudah membicarakan ini ke atasan, meski ada penolakan namun aku bersikeras untuk berhenti karena berbagai macam alasan. Di usiaku kini umur 24 tahun aku mau melakukan hal lain yang lebih penting yang dari jauh-jauh hari sudah ku persiapan dengan matang.
Tak ada keraguan, hanya ada semangat membara untuk mewujudkan impian yang sejak kecil dipupuk dan dirawat serta tekad ini bukan dasar aku seorang saja, akan tetapi ada tekad-tekad lain yang mendorongku untuk melakukannya, tekad pada pencari, peneliti dari garis keturunan leluhurku yang sampai pada diriku saat ini.
“Hello.. Shean kamu ada waktu tidak malam ini?” Suara jenny terdengar jelas dari ponselku.
“Aku sedang membereskan urusanku di kantor, jam 8 aku sudah bisa pulang” jawabku.
“OK. kalo begitu nanti kita bertemu di restoran Antelope, nanti aku share alamatnya”.
Setelah kejadian 3 bulan kemarin, kita jadi semakin akrab dan sering bepergian bersama di akhir pekan atau disaat ia sedang mengambil cuti kerja. Tak jarang ia pun main ke rumah membawa makanan atau hanya sekedar singgah untuk mengalihkan penat setelah seharian sibuk di kantor, aku tak masalah selama itu bisa membuatnya senang.
Jujur saja, semakin dekat hubungan kami berdua, semakin ada rasa yang kuat dan enggan untuk jauh darinya, sehari tak bertemu rasanya ada rindu yang begitu besar. Namun aku harus menahannya, aku masih berpikir jika sosok sempurna itu sangat jauh tuk bisa ku gapai.
Aku juga harus mengabari Jenny kalau aku sudah tak lagi bekerja jadi office-boy dan akan melanjutkan S2 pada bidang arkeologi mengikuti jejak kakek ku, waktunya pas sekalian makan malam dan aku bisa memberitahukan kabar ini dan rencana kedepannya.
Setelah membereskan semua perkakas, aku lanjut ke pantry dan berbicara dengan Benny juga Anton.
“Sorry ya guys.. Kalau selama ini aku banyak salah, terima kasih juga sudah banyak membantuku” ucapku, disambut pelukan hangat dari mereka berdua.
“Kalau ada waktu santai, nanti kita makan-makan lagi bro.. Jangan ngilang tanpa kabar!” Ujar Benny.
Tak lama Yudi pun masuk ke pantry, meski dia masih baru tetapi dia menghormati aku sebagai seniornya.
“Terimakasih banyak mas, sudah banyak mengajarkan saya” ucap yudi.
“Jaga diri bro.. Kabarin kalau ada apa-apa” Lanjut Anton disambut dengan jabatan tangan sampai akhirnya aku pamit pulang dan pergi dari kawasan mall.
...----------------...
Di pertigaan aku berbelok ke kanan menuju ke kota selatan ke tempat yang sudah Jenny tunjuk di restoran Antelope. Karena ini jam macet, aku pun berkendara memasuki gang-gang sempit agar terhindar dari kemacetan parah.
Kawasan ini adalah surganya kuliner yang terdiri dari restoran-restoran kelas yang menyajikan masakan-masakan nikmat yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang borjuis, karena orang sepertiku tidak akan mungkin berani menginjakan kakinya disini. Melihat pemandangan di depan mata ketika melihat bangunan restorannya pun bikin merinding belum lagi melihat daftar menu yang seporsi makanan setara sebulan gajiku sebagai office-boy.
Entah apa yang dipikirkan Jenny sampai harus mengundangku ke tempat seperti ini, jika bukan karena dirinya tidak akan mungkin aku mau datang ke tempat mewah yang tak sesuai dengan budget isi dompet.
“Aku sudah ada diluar, langsung masuk aja apa bagaimana ?” aku menghubunginya untuk memastikan jika aku masuk di restoran yang ia maksud.
“Oh iya aku melihatmu, sini saja masuk” Ucapnya, dari balik pintu kaca aku melihatnya melambaikan tangan dan dia bersama seseorang disana.
Setelah melewati pengecekan petugas keamanan restoran aku diantar oleh pelayan menuju meja Jenny, disana ia bersama lelaki tua, ia tersenyum lembut ketika aku datang, dan mempersilahkan untuk duduk.
“Ayo silahkan duduk” Ajak lelaki tua itu.
“Terima kasih pak”. Jawabku saat itu dengan sedikit ragu, aku tak bisa menerka-nerka siapa gerangan lelaki di hadapanku ini.
“Saya Shean, salam kenal pak” Aku menjabat tangannya ia pun mengenalkan dirinya yang kini ku ketahui namanya yaitu Renaldy Azkara sang pengusaha sawit ternama konglomerat dari R.A Group.
Sembari menyantap hidangan, kami berbincang santai tentang segala hal, namun Pak Renaldy lebih banyak menceritakan tentang putri kesayangannya itu, tentang masa kecilnya juga menyindir Jenny yang tidak mau mewariskan usaha milik ayahnya sendiri.
Rasanya begitu akrab dengan beliau meskipun baru pertama kali berjumpa, rasanya aku sedang bersama seseorang yang sudah aku kenal lama dan tidak ada rasa canggung. Bahkan ia tidak menyinggung penampilanku yang jauh dari kata bagus untuk bisa masuk ke tempat semewah ini, kita bertiga hanya fokus dengan obrolan ringan dan juga santapan makan malam saja tak lebih dari itu.
“Nak Shean, maafkan anak saya selama ini banyak merepotkan..”
“Saya ucapkan banyak terima kasih juga kamu sudah mau menjaganya, jika ada yang perlu saya bantu, Nak Shean jangan sungkan, bilang saja”. Mungkin Jenny sudah bercerita tentang mantan kekasihnya dan juga diriku yang sudah menolongnya beberapa bulan yang lalu. Tak ku sangka Ayahnya akan datang untuk berterimakasih langsung kepadaku.
“Sama-sama pak, saya hanya membantu sedikit saja, dan saya pun banyak ditolong oleh Jenny selama kita kenal”. Ucapanku disambut senyum merekah dari Pak Renaldy, sedangkan Jenny ia tersipu malu tak banyak berbicara.
“Kamu ini jangan terlalu merendah seperti itu” dari ucapannya aku tidak tau harus berkata apa, ini kali pertama ada orang lain menilai ku yang terlalu merendah.
Ada hal lain yang mau aku bicarakan dengan Jenny, jika hari ini aku sudah keluar dari pekerjaanku sebagai office-boy, setelah membicarakannya Jenny pun senang dengan keputusan yang aku ambil.
Lanjut aku menambahkan bahwa aku akan melanjutkan Study S2 pada jurusan arkeologi, aku ingin lebih mendalami profesi kakek, dan hal lain yang yang itu hanya dimengerti oleh Jenny dan aku tidak bisa membicarakan dihadapan Ayahnya.
“Jarang sekali anak muda mau ambil jurusan seperti Arkeologi” timpal Pak Renaldy.
“Saya ingin melanjutkan study Arkeologi karena almarhum kakek, dan saya tertarik dengan hal-hal seperti itu sejak kecil”. jawabku memberikan alasan ketertarikan pada dunia arkeologi dan benda-benda purbakala.
“Luar biasa Nak.. Rencananya kamu akan study dimana?” tanyanya penasaran.
Aku pun menyebutkan sebuah universitas ternama di Ibu Kota yang biaya masuknya tidaklah murah, membutuhkan biaya masuk ratusan juta rupiah. Oleh karena itu aku bekerja keras mengumpulkannya untuk bisa masuk ke Universitas Bakti Nusantara (UBN) sebagai langkah besar menuju profesiku nanti sebagai seorang Arkeolog.
“Simpanlah uangmu sebagai bekal kemudian hari, Aku akan membayar semua biaya selama kamu study di universitas”. Mendengarnya berbicara hal itu sontak membuatku kaget.
Belum sempat aku menyanggah omongannya, ia mengisyaratkan untuk mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Saat itu aku hanya bisa diam dengan seksama mendengarkan tawaran dari Ayahnya Jenny.
Tawaran beasiswa full dari dirinya itu berikan jika aku mau bekerja di anak perusahaan dari R.A Group yang ada Di Pusat Kota Jakarta dan tetap akan mendapatkan gaji bulanan secara normal selayaknya karyawan biasa. Dalam hati aku pun setuju karena harus realistis mengingat uang yang aku miliki hanya cukup untuk biaya masuk, setelah itu uang akan habis dan aku butuh pekerjaan untuk keberlangsungan hidupku sehari-hari.
“Syukurlah.. Jadinya kamu bisa melanjutkan project mu itu Shean..” Jenny asal bicara saja, dan mengundang kecurigaan dari Ayahnya.
“Wah.. Project apa, coba ceritakan”.
“Oh.. Eh tidak pak, hanya study tentang situs purbakala yang sedang aku teliti saja, sebagai bahan untuk karya ilmiah ku nanti setelah masuk di universitas". Jawabku sedikit gelagapan karena tak mungkin untuk menceritakan tentang peta harta karun peninggalan leluhurku.
Obrolan berlanjut sampai malam menjelang pukul 10 tanpa terasa sudah dua jam berlalu dan Pak Renaldy akan kembali ke hotel tempatnya menginap dan lanjut pulang esok pagi.
Setelah berpamitan, ia pun pergi dengan jenny dan ajudan pribadinya Pak Renaldy menuju hotel. Aku mengantarkan mereka sampai ke parkiran dan setelah jauh dari pandangan mata, aku pun juga pulang.
...****************...