Shean & Jenny

Shean & Jenny
Khawatir



Santapan lezat yang tadi kami rasakan seperti hilang begitu saja karena masalah sepele yang tadi terjadi. Setelah ngobrol sebentar, akhirnya kita putuskan untuk pulang ke apartemen karena hari pun sudah semakin siang.


"Pak maafkan sikap teman saya tadi, saya tidak tau kalau mereka bisa seperti itu" Jenny membungkuk meminta maaf karena bagaimana pun juga Fransiska adalah temannya.


"Tidak apa-apa nona, kami memahami betul siapa yang datang ke warung. Orang sombong macem dia itu tidak perlu diberikan tempat" Tutur Mbak Siti.


Suaminya juga menceritakan jika banyak konten kreator yang kadang kala usil. Terlalu banyak meminta sampai makanan pun minta gratis tidak mau bayar dengan dalih kontennya pasti viral dan menguntungkan.


Namun begitu prinsip warung ini, mereka yang datang dengan sopan santun pastilah dilayani dengan sepenuh hati, jika macam-macam tanggung sendiri akibatnya.


Usai membayar dan membungkus beberapa makanan yang tidak jadi kami santap, kami berdua berjalan menuju parkiran.


"Hei.. hei.. memangnya kamu pikir setelah mempermalukan kami, kalian bisa pergi begitu saja?" Celoteh Derry disambut gelegar tawa dari teman-temannya.


Ku hadang Derry yang mencoba mendekati Jenny.


"Minggir!" bentaknya kasar mendorong dadaku.


"Mau main kasar?" tanyaku mengancam.


Segera setelah mereka semua terprovokasi, aku mengisyaratkan kepada Jenny untuk masuk ke mobilnya.


"Sok jagoan ya. Hajar!". instruksinya kepada 4 orang yang sudah maju terlebih dahulu.


Belum sempat aku mengatur siasat, lelaki berambut cepak di samping kanan menendang betis ku, sakit dan ngilu terasa bersamaan.


Tiga orang lainnya mengerubungi dan melayangkan beberapa tinju namun masih bisa ku hindari.


"Gesit sekali orang ini" ucap si lelaki berbadan besar dengan kepala plontos itu sembari mengeluarkan belati dan mengarahkan kepadaku.


Ternyata mereka semua serius ingin membuatku babak belur. Meski ragu namun harus ku ladeni karena takut setelah ini mereka akan membawa paksa Jenny.


Tak ada sedikitpun celah untuk menaklukan mereka semua sekaligus. Gerakan mereka terlihat seperti tukang pukul profesional yang tidak memberikanku waktu untuk berpikir untuk menganalisis pergerakan.


"Dasar pecundang, beraninya keroyokan!" Ku coba mencari celah dengan terus memprovokasi ke empat orang itu, karena jika mereka tersulut emosi akan dengan mudah aku mendapatkan celah untuk menyerang.


"Banyak omong, dasar tikus got!"


"Hiyaaattt.." Seseorang dari arah belakang melayangkan tendangannya namun belum sempat mengenai tubuhku, sudah ku tangkap kakinya dan membanting tubuhnya ke tanah dengan amat kencang.


Darah bercucuran dari kepala plontosnya. seketika tak ada pergerakan lagi, sepertinya pingsan.


"Ayo serang dia!" Derry semakin geram dan maju untuk membantu orang-orang suruhannya itu.


Mereka berempat serentak menyerang, melayangkan pukulan-pukulan kencang yang berhasil ku tepis, namun terlambat untuk menghalau beberapa sabetan pisau yang berhasil melukai tanganku.


Aku memegang bagian tangan yang telah bercucuran darah, terasa pedih dan sakit sekali. Sebelum sempat mereka untuk melanjutkan serangan dari arah belakang mereka muncul dua polisi berseragam lengkap dan menodongkan pistol.


"Dooorrrrr!!" Bunyi suara pistol menggelegar menyadarkan ke empat orang yang hendak menghajar ku.


"Berhenti ditempat!" bentak salah satu polisi itu.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" Jenny berlari ke arahku ketika polisi sudah datang.


Aku meringis kesakitan akibat luka dari sabetan pisau belati dan darah pun tak henti-hentinya menetes, karena lukanya cukup dalam.


...----------------...


Keesokan harinya aku terbangun dari tidur karena kelelahan setelah kejadian kemarin yang menimpa kami berdua, beruntung polisi segera datang dan mengamankan Derry dan orang-orang suruhannya.


Karena tidak terima dipermalukan di depan umum, Derry nekat membayar beberapa preman untuk menghajar ku.


Tak dapat ku bayangkan apa yang akan terjadi jika polisi tidak sempat menolong kami berdua. Saat dalam mobil Jenny berinisiatif menelpon pusat layanan darurat polisi dan melaporkan pada petugas yang sedang berada di daerah terdekat kami.


"Kamu tidur saja.. Hari ini biarkan aku yang mengurus semuanya ya sayang" Ujarnya.


Saat ini kondisiku sudah membaik, hanya sedikit kelelahan saja, setelah melaporkan kejadian di kantor polisi kemudian sampai di apartemen aku langsung tertidur.


"Terima kasih sayang, tapi aku sudah baik-baik saja, tidak perlu khawatir" meski begitu Jenny tetap khawatir dan mencoba membaringkan tubuhku kembali.


Tubuhnya menimpa tubuhku yang terdorong ke kasur tanpa sengaja. Tatapan kami bertemu, ku peluk tubuhnya dengan lembut yang terbaring diatas ku.


Ku kecup lembut pipinya yang kini merah merona, ia terdiam dan terisak-isak menangis karena sesuatu hal yang tidak ku tau apa penyebabnya.


"Sssss.. aku baik-baik saja sayang, kamu jangan khawatir" ku coba menenangkannya namun ia masih terus menangis.


"Saat bersamaku, kamu selalu tertimpa kesialan.. maafkan aku" Ucapnya lemah.


Jenny menyalahkan dirinya sendiri karena beberapa kejadian yang selalu menimpa diriku ketika bersamanya. Ku tau semua itu hanyalah kebetulan saja dan ia terlalu melebih-lebihkan. Tanpa ia sadari, aku lebih banyak mendapatkan kebahagiaan ketika bersamanya.


"Jika bukan karena kamu yang menghubungi polisi, mungkin saat ini aku sudah tidak selamat. dan semua itu berkatmu" Ku coba menenangkan hatinya yang saat ini dipenuhi banyak keraguan mungkin juga rasa takut.


Ku tatap bola matanya yang hitam berkilauan, mengusap lembut rambutnya dan mencium keningnya dengan lembut.


"Kamu tau.. Berkatmu aku bisa mendapatkan banyak kenangan indah dan aku bersyukur bisa jatuh cinta kepadamu sayang" bisik ku kepadanya.


"Benarkah?" Tanya nya mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


"Tentu" jawabku tegas.


...----------------...


Selesai sarapan, ku ajak Jenny ngopi santai di balkon menikmati cuaca mendung pagi ini.


"Sayang.. kamu tau kan aku ada tabungan. Rencananya aku mau merenovasi rumahku agar lebih nyaman untuk kita tempati setelah menikah, menurutmu bagaimana?" ku coba bertanya untuk menetap di rumahku namun terlebih dahulu rumah itu ingin ku perbaiki mempertahankan arsitektur khas rumah jadul, namun tetap estetik dan nyaman untuk kami berdua.


"Memangnya kamu tidak mau tinggal di apartemen saja? kamu bilang disini nyaman" ia pun balik bertanya.


Memang, aku nyaman sekali di tempat Jenny, segala macam fasilitas ada dan mudah menjangkau semua tempat-tempat keren di Jakarta.


Harganya pun tak main-main apartemen mewah ini seharga 10 miliar per unitnya dan tidak bisa dibandingkan dengan rumah tua yang aku tempati.


"Nyaman. Dimanapun asal ada kamu, aku pasti nyaman" Jenny tersipu malu dan salah tingkah ketika ku membalas pertanyaannya.


"Pagi-pagi sudah ngegombal, kamu ini..." Ia salah tingkah dan memukul-mukul pergelangan tanganku.


"Ehhh.. aku serius loh ini sayang" ucapku dengan nada serius.


"Iya iya iya iya.. Jadi bagaimana rencananya tadi?"


Aku pun menjelaskan tentang rencanaku untuk merenovasi rumah, karena bagaimana pun itu aset berharga satu-satunya yang diwariskan padaku.


Juga ku jelaskan rencanaku dalam waktu dekat untuk mengunjungi Geany Beaufort saudariku yang tinggal di Prancis sekaligus mengundangnya ke acara pernikahanku dengan Jenny.


Meski awalnya Jenny menolak, namun aku berhasil meyakinkannya. Rasanya terlalu beresiko jika Jenny dibawa ke Prancis karena aku belum tau apa yang akan terjadi nantinya.


"Baiklah kalau begitu. Tapi kamu harus janji , kabari aku setiap ada waktu ya sayang" Ujarnya.


Setiap aku ada waktu, pasti aku kabari".


Meski sedikit berat hati untuk meninggalkan Jenny beberapa hari, namun itu harus kulakukan. Keluargaku terlalu banyak menyimpan rahasia dan saat ini aku butuh penjelasan tentang semua hal, khususnya tentang apa yang terjadi kepada kedua orangtuaku.


Semua ini bukan tentang mengobati rasa penasaran saja, ada hal lain yang ingin aku telusuri lebih jauh tanpa melewatkan berbagai detail yang ada.


Jika benar kedua orang tuaku dibunuh oleh sebuah organisasi jahat yang terlibat pada penelitian kakek ku, maka suatu waktu ini pun bisa terjadi kepadaku dan Jenny.


Aku sudah memesan tiket ke prancis, disana aku akan tinggal selama seminggu penuh, lebih cepat selesai semakin baik karena aku pun tak ingin berlama-lama disana mengingat acara pernikahanku tinggal 2 bulan dan harus segera mempersiapkan semuanya bersama Jenny.


"Cepat pulang ya sayang" suaranya getir terdengar, ada rasa khawatir dan takut kehilangan diriku dan itu pun yang aku rasakan.


"Tentu, setelah semuanya selesai aku pasti langsung pulang" ucapku.


Aku pasti pulang, karena semua momen indah ini hanya akan tercipta jika bersamanya dan tak ingin siapapun merenggut kebahagiaan yang sudah ku dapatkan bersama orang yang paling aku cintai.


...****************...