Shean & Jenny

Shean & Jenny
Tempat Bernaung



Malam hari terasa lebih dingin disertai hujan dan gelegar petir yang terus menyambar. aku teringat hal buruk ketika kapal yang ku tumpangi hancur diterpa badai namun kala itu jauh lebih buruk lagi daripada malam ini.


Ku ingat semua kejadian mengenaskan saat itu, semua orang mati seketika karena ombak besar yang menghantam kapal di tengah badai besar. Entah bagaimana ceritanya aku bisa selamat dari situasi sulit kala itu.


Jika ku ingat-ingat lagi, saat itu pun aku telah pasrah, mungkin saja itu adalah hari terakhir aku bisa menghirup udara dan mengingat wajah Elaine untuk yang terakhir kalinya.


Beruntung aku bisa selamat dan butuh dua hari terombang-ambing di lautan sampai akhirnya ku temukan pulau ini dengan hasil bumi yang menurutku seperti di surga. Karena bagi seorang peneliti tanaman herbal, aku seperti terjebak di suatu tempat yang sepertinya khusus untuk diriku saja.


Semua tumbuhan eksotis yang tak ku jumpai di negaraku ada disini, dan kadang kala hati kecil ini sedikit mengucap syukur karena sudah diberi kesempatan untuk berada disini dan bukan hanya meneliti, aku pun menikmati semuanya.


Terlepas dari bahaya yang mengikuti ku seperti hewan buas dan ular-ular yang berbisa, tempat ini benar-benar sempurna.


Ketika masih beberapa hari disini, aku masih berlindung dengan pelepah kepala yang ku tumpuk untuk menjadi tempat berteduh, namun tak berlangsung lama. Beruntung ada gua yang bisa menjadi tempatku berlindung dari cuaca buruk, jika aku masih berada di tepi pantai mungkin sudah mati karena hipotermia karena tak akan mungkin untuk menyalakan perapian di tengah badai.


Meski sedikit pengap karena asap, tapi ini jauh lebih baik, demi menjaga tubuh tetap hangat pada malam hari yang menggila seperti sekarang, aku tak akan protes hanya karena kepulan asap dari kayu bakar yang sedikit masih basah.


Ku nikmati hasil tangkapanku tadi pagi, dua ekor ikan kakap berwana hitam yang ku bakar dengan sedikit sentuhan rempah-rempah liar yang dapat ku temukan di dalam hutan, ada jahe, kunyit dan juga lada hitam yang tumbuh liar merambat pada batang-batang pohon yang ku panjat beberapa hari lalu.


Aku mulai memahami situasi, setelah 3 bulan berada di pulau, ternyata aku ada di kepulauan tropis yang dilewati oleh garis lintang khatulistiwa dengan musim yang terbagi dua, musim hujan dan musim panas dan pada saat ini adalah musim hujan.


Berdasarkan dari jenis-jenis tanamannya pun aku mulai tau jika ini masih wilayah Asia, khas dengan beberapa rempah-rempah yang sering ku gunakan untuk membumbui makanan. Di Prancis aku tidak dapat menemukan tanaman rempah-rempah sebagus disini, dan cerita besar yang berkembang di kalangan pedagang, jika beberapa rempah yang di jual di pasar adalah hasil bumi yang dikembangkan oleh kolonial Belanda di negara lain dan di distribusikan ke seluruh Eropa.


Mungkin saja, pulau ini tak jauh dari tempat tersebut, dan aku sedikit berharap jika nanti suatu waktu akan ada perahu yang melintas dan berlabuh kemari.


“Semoga saja..” bisik ku.


Setiap hari aku mencatat apa saja yang ku lakukan, juga meneliti tumbuhan herbal yang terdapat di hutan. Aku tidak akan menceritakan lebih banyak tentang tempat ini karena terlalu berbahaya, 4 buku catatan yang ku miliki hanya mencatat simbol-simbol yang berada didalam gua bagian dalam, selebihnya hanya tentang keluh kesahku dan keseharian ku di pulau ini dan perasaanku yang jauh terpaut pada Elaine.


Aku tidak mencatat penemuan-penemuan yang ku lihat di dalam gua karena jika nanti catatan itu jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab dan bermaksud buruk, maka itu menjadi dosa terbesarku, dan aku tak mau orang lain melakukan hal buruk karena catatanku ini.


Biarlah ini ku simpan dalam memori kepalaku sendiri tanpa ada siapapun yang tau, dan saat nanti tiba ada yang menyelamatkanku disini, aku hanya terpikir untuk segera kembali ke pelukan Elaine yang jauh disana.


Ada berkah tersendiri dari hujan, airnya sangat nikmat untuk diminum berbeda dari air sungai yang payau dan kurang bagus untuk tubuh jika diminum terlalu sering.


...----------------...


Waktu berjalan terasa lambat jika kamu bosan. Aku bahkan, bisa menghitung jumlah ledakan petir yang sejauh ini sudah 41 kali ku hitung akibat rasa bosan yang terus ku rasa.


Tak ada teman tak ada apapun selain diriku sendiri, mungkin berbeda jika ada anjing jinak yang dapat ku pelihara selama disini. Setidaknya ia bisa menggonggong jika aku berbicara kepadanya, persoalan kita memahami obrolan satu sama lain adalah hal yang tak perlu dibahas, anggap saja aku mengerti bahasa anjing dan dia mengerti bahasa manusia.


Yang dapat ku temukan sejauh ini adalah Harimau, ular dan monyet. Mereka bukan makhluk hidup yang ramah dengan spesies selain diri mereka sendiri, jadi aku tak ada niatan untuk mengakrabkan diri dan membaur dengan sebangsanya.


Tapi aku menghormati makhluk-makhluk itu karena mereka adalah seniorku di tempat ini, jauh sebelum aku menginjakan kaki di pulau ini, mereka sudah beranak-pinak puluhan mungkin ratusan tahun menempati pulau dan hidup jauh dari rantai makanan tertinggi yaitu manusia.


Pikiranku mulai melanglang buana tak tentu arah, mengingat tentang Elaine dan tentang sejarah keluargaku. Alangkah indahnya jika mendengar cerita kakek kalau aku adalah bagian dari suatu keturunan besar kerajaan Prancis, namun terasingkan karena pengaruh politik keji yang kemudian hari menumbangkan kerajaan dan berganti menjadi negara demokrasi.


Andai aku hidup pada masa itu, aku tentu akan melawan, menolak untuk menyerahkan diri untuk diasingkan ke wilayah terpencil. Gila! politik itu gila, dan semua orang di kerajaan adalah sekumpulan orang gila yang haus akan kekuasaan untuk menumpuk pundi-pundi emas sebagai bekal mereka di akhirat.


Mungkin juga mereka dengan uang emas nya bisa menyogok malaikat pencabut nyawa agar bisa hidup abadi dan tetap bergelimang harta, bersenang-senang dengan para selir memperbanyak keturunan kemudian sejarah berulang terus menerus.


Namun dunia tak lagi sama, rakyat membutuhkan dan menuntut keadilan. Dari satu pemikiran ke pemikiran yang lain dan di dorong rasa kesal, ditindas terus menerus oleh penguasa maka terjadilah revolusi yang disulut oleh suatu tragedi dan menyebabkan perlawanan besar-besaran yang mengakibatkan hancurnya tatanan kerajaan, tak ada yang bisa menghentikan kehendak rakyat, tak akan ada.


Dunia menjadi gila sejak saat itu, struktur pemerintahan gencar melakukan perombakan sistem, membenahi segala kesalahan yang pernah terjadi selama masa kerajaan agar terbentuk tatanan masyarakat yang lebih maju.


Bahkan penelitian tumbuhan seperti aku pun bisa merasakan perubahannya, berkali-kali aku mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan hasil temuan ku kepada para peneliti lain. Meski masih ada tindakan diskriminasi namun itu tak aku hiraukan, bagiku ini adalah jalan hidupku menjalani apa yang aku kuasai dan ku sukai.


Pada pelayaran kali itu pun aku bisa bergabung dengan para peneliti dan bangga menjadi bagian dari orang-orang hebat yang juga ikut serta karena titah dari pemerintahan, meskipun itu berakhir tragis.


"Tuhan jagalah Elaine untuk ku" Doaku di penghujung malam sebelum rasa kantuk ini menyerang dan membuatku tertidur dengan sangat lelap.


...****************...