Shean & Jenny

Shean & Jenny
Lisa



Sudah lebih dari 24 jam tak ada kabar, Jenny pun mulai risau karena tak mungkin selama ini tidak ada upaya Shean untuk menghubunginya, bahkan ia masih menunggu di bandara berharap kekasihnya menampakan diri berlari memeluk meredakan rasa rindu yang teramat dalam.


Berkali-kali ia mencoba menghubungi nomor Shean namun tak ada ada tanda jika nomornya aktif. Ia sudah melihat jadwal kedatangan pesawat dari Prancis namun tak ada Shean disana, mencoba mengecek ke petugas bandara untuk menanyakan penumpang yang bernama Shean Beaufort dan tak ada hasil.


“Nona, sebaiknya kita pulang, ini sudah 4 jam lebih kita menunggu dan sudah hampir malam” Ucap sopir pribadi keluarga Jenny yang mengantarkannya ke bandara.


“Tunggu sebentar lagi ya pak” pinta Jenny, ia merasa jika Shean mungkin terlambat dan datang dengan pesawat berikutnya.


Ia melihat jadwal kedatangan pesawat dari Prancis ada pada jam 20:03 WIB dan mungkin saja Shean ada di pesawat itu.


Tepat pada jadwal, terdengar pemberitahuan jika pesawat sudah landing, selang beberapa menit para penumpang pun berhamburan menuju gate. Jenny melihat satu persatu wajah para penumpang, berharap Shean ada pada kerumunan orang-orang yang sebagian besar adalah turis mancanegara namun sampai penumpang terakhir pun tak ada sosok yang sedang ia rindukan.


Jenny mulai tidak tenang, jauh dalam lubuk hatinya ia  tau ada hal yang terjadi menimpa kekasihnya itu, bagaimana pun ia sudah sangat begitu dekat dan bagian dari dirinya mengisyaratkan jika ada sesuatu yang tengah terjadi menimpa Shean, ia harus bertindak sebelum semuanya terlambat.


“Kita pulang sekarang” Perintahnya kepada supir.


Selama perjalanan pulang, ia mengingat-ingat semua hal yang telah ia lalui bersama sang kekasih hati, padahal kurang dari dua bulan lagi mereka akan melaksanakan pernikahan yang sudah disiapkan oleh keluarga Jenny.


Dalam hati ia terus mendoakan untuk keselamatan Shean dan juga mulai memikirkan apa yang bisa ia lakukan saat ini selain hanya menunggu kabar. Lama ia merenung memikirkan semuanya dan teringat akan kotak titipan dari Shean, berisikan berbagai macam buku lapuk catatan kakeknya dan juga peta.


“Shean.. Sebenarnya apa yang sedang kamu sembunyikan dariku selama ini, bukankah kita sudah cukup lama untuk bisa saling terbuka” monolog dalam diri Jenny.


Setelah sampai di rumah, Jenny berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya dan membuka kotak titipan Shean, ia berharap mendapat petunjuk yang berguna untuk mengetahui situasi yang sedang dialami oleh calon suaminya itu.


Ia harus segera bertindak. Karena jika tidak, mungkin semuanya akan terlambat dan ia tak ingin menyesal dikemudian hari karena tidak berusaha. Demi orang yang dicintainya, ia rela melakukan apapun asal bisa bersama dengan Shean tanpa ada nestapa yang menghalangi hubungan suci mereka berdua.


Ketika sedang fokus membaca jurnal-jurnal yang ada didalam kotak, ia dikejutkan oleh suatu ketukan pelan dari pintu kamar.


“Iya.. Sebentar” Teriaknya.


Jenny membuka pintu, disana ayahnya berdiri dan seperti telah mengetahui apa yang terjadi, Beliau memeluk erat tubuh Jenny dan mengusap-usap rambut hitam putrinya.


“Sebaiknya kamu menunggu saja kabar dari Shean, papah yakin dia pasti bisa keluar dari situasi buruk apapun”. Ucap sang ayah.


“Aku tidak bisa terus menunggu dan khawatir sendirian pah.. Aku harus mencari tau apa yang sedang terjadi, bagaimana jika Shean saat ini membutuhkan pertolongan seseorang dan tak ada satu pun yang bisa membantunya disana” Ia membantah ayahnya dan melepaskan pelukannya “Aku tidak ingin menyesal kemudian hari pah, dan saat ini aku tidak mau berdebat dengan papah” ia kembali ke meja dimana tumpukan buku, jurnal dan barang-barang yang ada didalam kotak.


“Kamu mirip sekali dengan Maria, sama-sama keras kepala” Ucapnya sembari menghampiri Jenny yang sedang fokus “Papah tidak akan melarang mu melakukan apapun yang kamu suka, tetapi utamakan keselamatanmu” tuturnya, Pak Renaldy sudah sejak lama mengenal tabiat anak perempuannya yang keras pendirian, karena itu mengingatkannya kepada istrinya sendiri yang juga sangat sulit untuk dibantah kemauannya.


Jenny tak begitu menghiraukan apapun yang dikatakan oleh ayahnya, ia terus terpaku pada halaman-halaman buku catatan kakeknya Shean yang sedang menuliskan berbagai macam simbol-simbol aneh yang juga sempat mereka lihat di situs Rahaya beberapa bulan yang lalu.


“Nak.. Dengarkan papah” Ucap ayahnya dengan lembut ia memegang pundak sang anak.


“Iya pah” jawabnya singkat.


“Jika kamu mau mencari Shean, kamu harus menuruti semua yang papah perintahkan” Pak Renaldy berbicara dengan nada serius dan meletakan ponsel jadul keluaran lama yang tidak ada lagi di produksi pada masa sekarang.


“Anak buah papah saat ini sedang menyelidiki keberadaan Shean di Prancis, kemungkinan besar dia sudah ditangkap oleh organisasi kriminal disana” Ia tak langsung melanjutkan penjelasannya karena wajah Jenny sudah terlihat basah oleh air mata yang sejak tadi mungkin sudah ia tahan, dan baru kali ini tumpah ruah karena fakta menyakitkan tentang calon suaminya yang sedang dalam bahaya.


“Situasinya bahaya, tapi Shean kemungkinan besar masih hidup. kamu mungkin sudah tau motif pelaku yang menangkap Shean, bukan begitu?” tanya Ayahnya.


Meski Renaldy tau jika putrinya dan calon menantunya itu sedang merahasiakan sesuatu namun itu bukan lagi urusannya, yang penting baginya hanyalah keduanya bisa selamat, bisa secepatnya menikah dan mendapatkan kebahagiaan dalam hubungan sakral.


“Pah, aku boleh minta sesuatu?” tanyanya “Aku akan membawa kotak yang terdapat di galeri papah untuk ku bawa ke Prancis” Jenny menjelaskan jika kotak itu pernah disinggung oleh Shean, dan mungkin ini ada keterkaitannya dengan benda yang dimiliki sang ayah.


“Iya, ambil saja” tukasnya “Oh iya, aku sudah menyiapkan bodyguard untukmu di Prancis, nanti kamu dapat langsung menghubunginya lewat ponsel itu”.


...----------------...


Sepanjang penerbangan pesawat menuju Prancis, Jenny tak bisa tidur meskipun ia sudah mencobanya beberapa kali. Ada rasa cemas berlebihan yang kini ia rasakan, namun teringat kembali ucapan ayahnya jika Shean kemungkinan besar masih hidup, karena target organisasi itu hanya menculik Shean untuk melakukan sesuatu yang hanya ia yang bisa melakukannya.


Jenny terus berdoa dalam hati untuk keselamatan Shean, tak ada sedikitpun pikirannya untuk memikirkan hal lain selain kekasih hatinya, karena di dunia ini hanya Shean yang ia cintai dan kini mereka harus terpisah jarak dan waktu tanpa tau keadaan Shean saat ini bagaimana.


Tak lama iapun tertidur pulas beberapa jam, karena malam tadi ia tidak tidur untuk mempersiapkan semua kebutuhan selama di Prancis. Meski tak banyak yang ia bawa namun beberapa barang penting perlu dibawa, termasuk barang-barang titipan Shean dan juga kotak hitam yang selama ini dipajang didalam galeri milik ayahnya.


Selesai pendaratan pesawat, ia bergegas keluar dan masuk ke area lobby bandara.


Ayahnya memintanya menghubungi seseorang yang akan mengawalnya selama di Prancis. Kali ini ia harus menuruti ayahnya demi keselamatan dan memperbesar kemungkinan untuk bisa menyelamatkan Shean.


Ia membuka ponsel dan membuka kontak yang tertera didalamnya dan menelpon Lisa orang yang ayah percayai sebagai pengawal Jenny. ia memintanya untuk menjemput di lokasi lobby bandara agar mudah untuk bertemu.


“Nona Jenny?” tanya seorang perempuan berambut pirang dengan mantel tebal membalut tubuhnya yang tinggi.


“Benar, kamu Lisa?” Tanya Jenny keheranan.


“Saya Lisa, ayahmu yang menyuruhku untuk mengawal selama berada di Prancis” mereka berdua berjabat tangan dan kemudian masuk ke mobil milik Lisa.


Mobil melaju santai berbaur dengan kendaraan lain di pagi hari yang mulai padat oleh orang-orang yang hendak pergi bekerja. Ini bukan pertama kali Jenny ke Prancis, karena kantor tempatnya bekerja memiliki anak cabang perusahaan di kota fashion letaknya di kota paris tak jauh dari menara Eiffel. Namun kali ini berbeda urusan, ia tidak sedang melaksanakan tugas kantor melainkan untuk mencari keberadaan Shean, calon suaminya.


“Aku sudah faham situasinya dari ayahmu” Ucap Lisa sembari mengendalikan mobil yang hendak berbelok tajam keluar dari kepadatan jalan di kota Paris.


“Kita mau kemana sekarang?” tanya Jenny karena ia merasa asing, mobil memasuki pemukiman kumuh yang tak pernah ia ketahui ada wilayah kumuh di gemerlapnya kota Paris.


“Ada seseorang yang harus kita temui terlebih dahulu, Joana, sang informan pasti mengetahui petunjuk tentang Shean dan organisasi jahat yang menculiknya” Lisa keluar dari mobil dan memberi isyarat kepada Jenny untuk ikut bersamanya masuk ke sebuah losmen.


Jenny hanya bisa pasrah mengikuti kemana saja Lisa pergi, karena ia pun tak tau harus melakukan apa dan memulai dari mana, selama ini ia pergi ke perancis hanya untuk berlibur atau karena tugas dari kantor, berbeda dengan kondisi sekarang ia benar-benar tak tau harus bagaimana.


...****************...