
Kleekkk.
Pintu rumahku terbuka perlahan, aroma khas dan udara di dalam rumah terasa dingin, lebih dingin dari udara di luar.
"Miaaw" Kucingku yang bernama Miu datang menyambut dan menggesekkan badannya ke kaki ku. "Maaf.. lama ya Miu" Ku sapa dan ku manja dengan mengelus kepalanya perlahan-lahan.
Lucu sekali makhluk ini.
Sepertinya aku masuk angin akibat seharian berkendara motor bersama Jenny keliling Jakarta, aku pun ke dapur menyeduh teh hangat dan duduk di selasar bagian depan rumah bersama kucing kesayangan yang tertidur di sampingku.
Miu terbiasa untuk ditinggalkan berhari-hari, tak khawatir akan kelaparan karena sudah ada tempat makan yang menggunakan sistem refill jika makanan berkurang di mangkok. Untuk BAB aku sediakan liter box berisikan pasir khusus kucing, tetapi dia lebih terbiasa keluar lewat celah jendela untuk menunaikan hajat. Begitulah kelakuannya selama ini.
Grrrrr grrrrrrr grrrrrr
Suara dengkurannya terdengar nyaring ketika aku mengelus bagian kepala yang paling ia sukai. Bagiku ini situasi yang sangat menenangkan, seperti bagian dari Relife setelah seharian menumpuk rasa lelah.
Semakin larut malam, semakin sepi. Tak ada seorang pun yang lalu-lalang didepan rumah, mungkin karena lembab dan becek akibat gerimis tadi sore, siapapun jadi malas untuk keluar rumah, semoga saja ada tukang bakso atau tukang sate juga tidak apa. Karena perjalanan jauh sekarang pun aku jadi lapar lagi.
Hampir setengah jam menunggu tak kunjung ada pedagang keliling yang lewat. Sebaiknya aku tidur saja, dan makannya besok pas sarapan sebelum berangkat ke kampus untuk pendaftaran.
Lelah sekali hari ini, sebaiknya aku tidur.
Detik demi detik berlalu, namun tak dapat langsung tertidur begitu saja. Meski lelah namun mata sepertinya enggan tuk tertutup. Waktu berlalu saat aku memainkan gawai smartphone bermain game petualangan kemudian hilang sudah kesadaran terbenam pada alam mimpi yang luas tak berujung.
...****************...
"Jean.. Jangan tinggalkan aku sendirian. Apa kau tega meninggalkanku sendiri !!" Seorang perempuan cantik memaki lelaki dihadapannya itu, Lelaki yang sangat ia cintai melebihi kecintaanya kepada orangtuanya sendiri. Bahkan ia rela meninggalkan orang tua demi lelaki yang ia dambakan untuk bisa hidup bersama. Namun naas, keluarga tak menyetujui untuk menikah dengan pria miskin yang bekerja menjadi peneliti kelas bawah di kerajaan.
Nama Jean Beaufort tak dikenal oleh banyak orang, hidupnya pun jauh dari kata mencukupi. kadang ia ke hutan mencari tanaman obat atau beberapa kentang liar yang bisa ia dapatkan secara cuma-cuma untuk di rebus dan disantap sebagai hidangan.
Karena kecintaanya terhadap dunia farmakologis ia berusaha ikut serta dalam rekrutmen untuk kapal penjelajah yang akan memetakan lautan pasifik. Setelah mengikuti tes seleksi ketat yang diawasi oleh pihak kerajaan, dirinya dinyatakan lulus bisa ikut serta dalam ekspedisi yang mungkin akan memakan waktu 2 tahun dari perkiraan jarak yang sudah berhasil terpetakan.
Meski dirinya bahagia bisa ikut andil dalam eksplorasi besar seperti itu, namun berbeda dari Elaine kekasih Jean yang amat mencintai Jean meski ia hanya seorang rakyat jelata.
"Ini satu-satunya kesempatanku, tolong mengertilah ku mohon.." ia memegang erat jemari Elaine, menenangkan sang kekasih agar merelakannya pergi berkelana di lautan luas bersama awak kapal lain.
"Lantas aku harus menunggumu sampai kapan!!! 2 tahun bukan waktu yang sebentar". Rengeknya meminta Jean untuk mengehentikan niatnya.
"Elaine.. Tunggu aku pulang dan semua janji-janjiku padamu akan ku penuhi semuanya"
"Setelah semuanya selesai, aku akan membawamu ke suatu tempat yang hanya ada kita berdua hidup bahagia sampai tua nanti. Aku janji padamu Elaine" tangis Jean tertumpah memeluk erat tubuh kekasih hatinya penuh rasa pilu, begitupun Elaine tak kuasa untuk menahan semua rasa yang bercampur aduk dalam benak.
Lambaian tangan para keluarga, kekasih, teman baik dan semua orang di pelabuhan mengantarkan para petualang mengarungi lautan luas menuju negeri entah berantah.
Sebagian dari mereka semua telah berpasrah merelakan para anggota kapal untuk menyebrangi samudera, entah akan selamat atau tidak, tidak ada yang tau nasib seperti apa yang menunggu mereka.
Angin berhembus kencang di dermaga, Elaine masih saja berdiri mematung menatap kapal yang semakin menjauh terlihat kecil di pandangan matanya. Kesal dan juga sedih itu yang kini ia rasakan ketika lambat laun kapal menghilang dari penglihatan.
Harusnya kini mereka tengah memadu kasih di hutan Araba disebuah pondok kumuh milik Jean. Hatinya mulai terasa sepi dan hampa seperti pemandangan siang ini di lautan luas yang membentang di ufuk barat, tak ada apapun hanya air laut dan beberapa perahu kecil yang tengah berlayar menjaring ikan.
Elaine kembali ke rumah Jean di pinggiran hutan yang terbentang padang rumput rumput luas dengan pondok kumuh beberapa meter jaraknya dari hutan Clair de Lune.
Hanya beberapa jam setelah keberangkatan perahu penjelajah, Elaine mulai merindukan kekasihnya, tak henti-hentinya air matanya terjatuh begitu merindu akan kehadiran Jean.
Ia duduk di sebuah batang kayu besar menghadap ke arah hutan. Pada sore hari biasanya Jean pulang membawa beberapa ikat kentang dan hasil buruan seperti burung atau kelinci untuk makan malam dan dirinya seperti biasa akan menyambut dan menuangkan air hangat atau teh ke dalam cangkir kayu yang biasa dipakai Jean.
Semua itu kini tak lagi bisa ia lakukan. Hanya bisa berdoa dan menunggu kedatangan sang kekasih hati.
"Tuhan berilah keselamatan untuk kekasihku, jauhkan ia dari marabahaya" monolog do'a yang ia panjatkan kepada sang pemilik kehidupan.
Setelah berdoa ia hendak masuk ke gubuk tua itu untuk membuat makanan karena seharian tak ada sepotong roti pun yang ia makan.
"Nona Elaine" tangan Elaine di genggam oleh seorang lelaki bertubuh tinggi besar. Ia adalah seorang prajurit yang bekerja di kediaman keluarganya.
"Jacob, ada apa kamu kemari?"
"Bagaimana kalian tau aku ada disini"
"Lepaskan.. Hei.. sakit" rengeknya karena genggaman tangan Jacob begitu kencang, Elaine yang bertubuh mungil tak akan mampu lolos dari hadapan si prajurit.
Namun begitu, ia terus meronta, menarik-narik tangannya agar terelpas dari genggaman Jacob. tangan satunya memukul bagian dada Jacob yang dilapisi oleh armor besi keras, rak akan mungkin pukulan Elaine terasa oleh Jacob.
"Lepaskan... Aku mohon" Pintanya, namun tak di hiraukan
Plakkkkk
Tamparan keras Elain berhasil membuat wajah Jacob memerah dan hampir membuatnya kehilangan kendali hampir membalas untuk menampar namun ia urungkan karena itu akan membuat putri dari tuan Chardy terluka.
"Lepaskan aku.. Jacob aku mohon lepaskan aku" Ia terus meronta-ronta dan terus memohon untuk melepaskan dirinya, namun lagi-lagi Jacob tak merespon permintaan Elaine.
"Penjelasannya nanti, sekarang Nona harus ikut kami.." Jacob memukul pundak Elaine dengan keras sampai jatuh pingsan dan ia gotong ke sebuah kereta kuda.
"Aku benci pekerjaan seperti ini" Hati Jacob menolak menyakiti perempuan namun ini adalah titah keluarga bangsawan yang tidak bisa ia tolak.
Sumpah setia Jacob ke keluarga Elaine yakni Juan Chardy kepala keluarga yang begitu berpengaruh besar di kerajaan mutlak harus ia patuhi tanpa ragu, seperti saat ini ia harus membawa paksa Elaine ke kediaman sang ayah.
...****************...