
“Sepertinya sudah cukup jauh” Gumamku.
Tangan kiri ku terkilir akibat benturan hebat dari ledakan mobil menyebabkan rasa sakit dan ngilu. tubuhku terasa panas meski udara di hutan ini begitu dingin.
Aku teringat dengan ponsel lipat yang di berikan Sebastian sebelum ia meninggal. Didalamnya hanya ada satu nomor yang kemungkinan besar itu adalah nomornya Geany. Hanya saja di dalam hutan tak ada signal ponsel untuk melakukan panggilan.
Mungkin aku harus menanjak ke tempat yang lebih tinggi atau juga mencari pemukiman, setidaknya disana mungkin ada orang yang dapat menolongku dalam situasi genting dan mengobati beberapa luka di tubuh.
Setelah beberapa menit beristirahat di bawah pohon pinus, aku jalan menuju arah barat mengikuti arah yang ditunjukan oleh matahari yang mulai terlihat terbenam pada sore hari ini.
Ku langkahkan kaki menyusuri sisi bukit tak tau pun harus kemana, sejak tadi tak ada kulihat tanda-tanda pemukiman warga, mungkin aku sudah sangat jauh masuk ke dalam hutan.
Hari semakin gelap dan tak ada pencahayaan apapun yang ku miliki selain nyala layar ponsel milik Sebastian. Hanya ini yang ku miliki saat ini karena ponselku tertinggal di dalam mobil dan sepertinya sudah hancur terbakar.
Drrrrr Drrrrr Drrrr..
Ponsel yang ku pegang bergetar dan ada notifikasi pesan di layar.
“Sebastian dimana kamu?” Tertulis pesan dari suatu nomor yang tidak terdaftar di ponsel ini, mungkin sebaiknya aku menelpon nomor itu.
“Hallo.. Hallo..”
“Shean.. Ini kamu Shean?” ucap seorang perempuan di ujung telepon.
“Iya.. Ini Aku Shean” Panggilan sedikit kacau, mungkin karena signal yang kurang bagus.
“Baguslah. Berikan ponsel ke Sebastian” Perintahnya sedikit tergesa-gesa.
“Dengar.. Sebastian sudah meninggal, dia terbunuh ketika mencoba menyelamatkanku dari para kelompok penyerang” Aku terdiam beberapa saat setelah mengabari kematiannya “Maaf, karena aku, Sebastian harus mati”.
“Shean.. Saat ini aku bersama beberapa tim yang selamat mengungsi ke suatu tempat, sebisa mungkin kamu harus segera mencari kendaraan dan pergi ke kota Orléans, aku akan menjemputmu, pastikan ponselmu terus menyala agar aku bisa tetap melacak mu, mengerti?” Perintahnya itu membuatku semakin kesal, saat ini saja aku tak tau sedang berada dimana.
“Jangan gila. Aku juga tak tau ini dimana Geany? Dan mungkin saja kelompok penyerang sedang mencari ku saat ini” Bantahku.
“Targetnya bukan kamu!, mereka mengira yang bersama Sebastian di mobil itu adalah aku, dan sepertinya mereka sudah sadar jika salah target dan mengira kalian berdua telah mati. percayalah kepadaku...” ucapnya, “Saat ini aku tidak mau berdebat, cukup turuti saja apa yang ku perintahkan, Ok?” ia membentak agar tak ada perdebatan lebih lanjut dan ini adalah situasi genting yang harus segera dihadapi.
“Ok, lalu aku harus bagaimana?” Tanyaku.
Setelah faham dengan situasi yang terjadi, aku menyadari saat ini tengah berada di hutan jaraknya 20 KM dari kota Paris, Geany hanya menyuruhku untuk terus berjalan ke arah matahari tenggelam yaitu ke arah barat, ia menyebutkan ada suatu desa wisata yang bisa ku jangkau untuk mencari bantuan dan berkendara ke tempat yang ia perintahkan tadi di Orléans.
...----------------...
Geany tengah mengecek beberapa benda-benda kuno yang berhasil di selamatkan, bersama teman-teman team peneliti. Ia memastikan semua barang dalam kondisi bagus tak ada kerusakan pada benda-benda tersebut.
“Semuanya sudah siap. Bagaimana?” Tanya Aldrich.
“Kalau begitu, kamu duluan berangkat ke Orléans bersama yang lain, pastikan tidak ada yang membuntuti kalian”. Perintahnya, namun Aldrich membantah karena bagaimana pun pimpinannya harus lebih dulu mengamankan diri.
“Aku mengerti, tapi sebaiknya kamu ikut bersama kami, biarkan salah-satu dari kami yang menjemput Shean” ia mencoba meyakinkan Geany yang tadi hendak pergi menjemput saudaranya namun dicegah oleh Aldrich.
Meski Geany tak menyukai rencana Aldrich, tapi ia ada benarnya. Sebaiknya untuk saat ini, ia dan beberapa peneliti pergi dari tempat ini dan menyegel ruang bawah tanah agar tidak dapat dimasuki siapapun.
Kejadian yang menimpa Sebastian jangan lagi terjadi kepada yang lainnya, meskipun ia hanya seorang sopir, akan tetapi ia sudah banyak berkontribusi kepada kelompok, dan loyalitasnya benar-benar nyata melebihi siapapun.
Semua pergi bersamaan dengan kendaraannya masing-masing menuju suatu tempat di Orléans. Disana terdapat rumah Geany yang ia beli sebagai tempat berkumpul organisasi, rumah kuno itu juga memiliki ruangan rahasia di bawah tanah sebagai tempat perlindungan jika terjadi hal-hal bencana dan dibangun pada masa perang dunia ke-2.
Geany hanya mondar-mandir di dalam rumah berharap ada kabar baik dari Shean dan juga Aldrich yang masih mengecek live tracking yang dipancarkan dari ponsel Sebastian yang kini berada di tangan Shean.
“Aku menemukannya” ucap Aldrich menelpon Geany.
“Dimana dia sekarang?” tanya nya tak sabar untuk segera menemukan keberadaan Shean yang tadi tersesat di dalam hutan.
“Tak jauh. Aku akan langsung menuju kesana, kamu tunggu saja kabar dari kita berdua”. Ucap Aldrich dan menutup pembicaraan.
"Baik. berhati-hatilah".
Aldrich pergi menggunakan motor sport menuju lokasi terakhir dari Shean.
...----------------...
Setelah turun melewati lereng bukit terjal berbatu, ku lihat ada sebuah desa. nyala lampu rumah juga kendaraan membuatku bisa bernafas lega. setidaknya disana aku bisa meminta bantuan seseorang untuk mengantarku ke Orléans.
Sedikit harapan di tengah-tengah rasa putus asa karena kejadian ini begitu membuatku shock dan tak percaya sepenuhnya dengan apa yang ku lihat.
Perjalanan yang seharusnya baik-baik saja berujung petaka karena ulah suatu kelompok yang hendak mencelakai ku. Beruntung aku bisa selamat karena Sebastian yang mencoba melindungi ku dari serangan hingga akhirnya mobil terperosok jauh ke dalam hutan dan aku berhasil melarikan diri secepat mungkin.
Ponsel bergetar tanda seseorang menelepon, ada nomor tak dikenal dan sepertinya bukan nomor yang Geany pakai untuk menghubungiku tadi.
Aku tak langsung mengangkat panggilan karena sebaiknya aku memastikan terlebih dahulu siapa gerangan yang menghubungiku dan kenapa bukan Geany.
"Siapa disana?" tanyaku tegas.
"Shean, ini aku, Aldrich" Jawabnya dan ia memintaku untuk masuk ke sebuah bar yang ada di desa.
"Ok aku segera kesana". Sepertinya untuk saat ini aku selamat, aku tau Aldrich adalah orang kepercayaan Geany dan ikut menemaninya meneliti harta karun yang di temukan oleh leluhur kami berdua.
Badanku sudah lemas akibat kelelahan berjalan melewati pegunungan tak ada makanan juga minuman. Barang bawaan ku pun hancur dimakan api ketika mobil yang ku tumpangi meledak.
Ku langkahkan kaki dengan sisa-sisa tenaga yang mulai terkuras habis dan masuk ke sebuah bar sederhana disana Aldrich sudah menunggu dengan sikap cueknya sembari meminum bir.
"Aldrich.. Akhirnya aku bisa bertemu seseorang" ucapku dengan nafas tersengal-sengal.
"Tenang, kamu istirahat saja untuk malam ini besok pagi aku akan mengantarmu pergi dari sini" ucapnya meyakinkan.
Ku raih air yang disodorkannya kepadaku, terasa segar membasahi kerongkongan yang sejak tadi kehausan tak menemukan setetes pun air yang dapat ku minum.
Beberapa kudapan yang tersaji tak lupa aku cicipi, ada croissant dan sandwich yang masih hangat berisi potongan daging sapi dan sayuran, cukup untuk meredakan rasa lapar.
Setelah meminum beberapa gelas air aku pun mulai merasakan kantuk yang sangat luar biasa, bahkan tak sanggup lagi untuk mendengar ucapan-ucapan Aldrich yang sedang menjelaskan keadaan kami saat ini.
"Hei.. Shean apa kamu mendengarkan ku.."
"Shean.. Hei"
"Hei.. Apa kamu baik-baik saja?"
Berkali kali Aldrich memanggilku, namun rasanya mulutku pun sudah tak lagi mampu untuk berkata-kata akibat rasa ngantuk dan lelah yang terakumulasi dan membuatku hilang kesadaran.
...****************...