Shean & Jenny

Shean & Jenny
Coklat Hangat



Nyala api di perapian berkobar ditengah dinginnya pegunungan di sore hari, suara cicit burung dan jangkrik-jangkrik di tengah hutan kian nyaring terdengar membuat nuansa yang sangat menenangkan pikiran.


Pikirku, tak buruk juga sesekali healing berlibur ke pegunungan untuk sekedar mengobati rasa penat dengan riuh kota dengan segala hiruk-pikuk yang kadang kala meningkatkan amarah.


Ku hirup udara dalam-dalam dan meregangkan kedua tanganku lalu menghembuskannya secara perlahan-lahan. Letih yang  dirasa karena perjalanan tak lagi terasa. Sekarang yang ada hanya rasa tenang dan juga dingin yang teramat sangat. Bahkan jaket tebal dan kaos yang aku kenakan didalamnya tidak mampu lagi untuk menolak rasa dingin ini.


“Ini, ku buatkan coklat panas..” Jenny menghampiriku dengan dua gelas coklat panas di tangannya.


“Atau mau ku buatkan kopi?” Tanyanya kemudian.


Aku mengambil gelas berisikan coklat panas itu dari tangan kanannya, dan mulai menyesap rasa pahit dan juga manis yang sedikit samar karena terlalu banyak air panas yang ia tuangkan.


“Ini cukup” ucapku singkat.


Ku sandarkan badan pada pohon pinus yang tumbuh tak jauh dari tenda, menikmati setiap tetes coklat panas yang Jenny buat sampai habis tak bersisa dan hanya menyisakan gelas kosong.


“Je.. Aku mau ngomong sesuatu” Jenny menundukkan kepalanya dan mendekatiku.


“Iya, ada ada apa Shean” lirih ku dengar suaranya, wajahnya memerah seperti tadi, mungkin ia sakit demam karena perbedaan cuaca dari kota.


“Ini hanya aku ceritakan kepadamu”


“Sebenarnya kamu mau ngomong tentang apa sih?” tanya Jenny mulai penasaran.


“Kamu lihat kan simbol-simbol yang ada di bebatuan tadi, sepertinya aku tau semua simbol itu”


“Tidak salah lagi, simbol-simbol itu juga muncul di peta dan di beberapa catatan leluhurku, aku pernah ceritakan ini padamu kan, kamu ingat?”


“Oh iya aku ingat” ia berbalik memunggungi ku, berjalan ke depan tendanya dan duduk di kursi portable.


“Aku pikir kamu mau membicarakan hal lain, ternyata...” ia tak melanjutkan kalimatnya. Karena Pak Yana dan Erik sudah datang dengan wajah lusuh dan kelelahan.


“Shean.. Makan apa kita malam ini?” ucap Erik dengan lantang, sepertinya ia mulai lapar.


“Santai.. Ngopi dulu lah.. Nanti aku buatkan tumisan daging”. Jawabku tak kalah nyaring dari suaranya.


“Hahahaha.. Mantap, begitu dong! Daging jangan sayuran terus”.


...----------------...


Jenny setelah obrolan tadi sore jadi terlihat lebih pendiam dari biasanya, raut mukanya terlihat kecewa dan sedih, apa mungkin aku melakukan kesalahan? Tapi apa. Aku tak berani jika harus bertanya langsung. Sepertinya juga tidak sedang ingin diganggu.


Seusai makan, ia pamit dan masuk ke tenda alasannya karena ngantuk. Namun Erik tidak berpikiran demikian, ia menyikut pinggangku dan berbisik-bisik “Jenny sepertinya sedang marah kepadamu”. Sontak aku kaget dengan ucapannya.


“Shhhhhttt.. Ajak dia ngobrol sana” kami berbicara pelan agar tidak terdengar oleh Jenny.


Aku pun jadi teringat kalau tadi siang dia mau ngomong sesuatu kepadaku, namun tak jadi karena aku duluan yang lebih banyak membicarakan tentang simbol-simbol yang ku liat di reruntuhan situs. Aku mengerti situasinya sekarang, dan mencoba membujuk Jenny untuk mau berbicara empat mata.


“Ayolah Je.. Aku mohon, please aku mau bicara denganmu ” tak lama ia pun keluar dari tenda dengan wajah cengengesan.


“Lucu kalau mendengar kamu memohon seperti itu. Hehe”. kami berdua berjalan dengan berbekal senter untuk menerangi jalur menuju sungai mencari tempat yang sedikit jauh dari lokasi kemah karena tidak ingin yang lain mendengarkan percakapan aku dan Jenny.


Sesampainya disana, kami bersandar di sebuah batu berukuran besar di tepi sungai, suara aliran air dan suara-suara binatang malam menghiasi malam ini, meski tak terlihat bulan ataupun bintang karena masih tertutupi awan di langit, suasananya sangat syahdu dan tak henti-hentinya jantungku berdegup kencang ketika disampingnya dan tangan kami saling bersentuhan.


“Shean, aku sudah memikirkannya matang-matang selama ini. Ayah pun sudah tau semuanya..” ucapannya terhenti sejenak.


“Terlepas dari Ayah yang ingin membantu kamu, aku sudah lebih dulu memperhatikanmu. Maksudku memperhatikan dalam hal lain, mungkin kamu juga mengerti”.


“Apa maksudnya Je, aku belum faham dengan inti yang mau kamu bicarakan, sebaiknya kamu to the point saja agar aku pun faham”. Ucapku tegas, karena bingung dengan ucapannya yang berbelit-belit. Jenny berbalik badan menghadap ku, tak ada sepatah kata pun terucap, hanya sebuah ciuman lembut yang membuatku hilang kesadaran sejenak, isi kepalaku tiba-tiba saja kosong dan rasa panas menjalar di sekujur tubuh.


“Aku jatuh cinta padamu Shean. aku harap kamu adalah satu-satunya laki-laki yang bisa aku cintai sampai akhir hidupku”.


Meski malam terasa sangat gelap hanya senter saja yang menyala, namun aku bisa melihat jelas percikan cahaya dari sorot matanya yang berbinar-binar menungguku untuk memberikan kepastian dan keputusan untuk bisa menerima cintanya.


“Aku tidak tau apa yang sering aku rasakan ketika bersamamu, entah itu cinta atau apalah namanya. Tapi aku nyaman berdua denganmu”. Ucapku juga menjelaskan semua perasaan yang selama ini ku pendam lama.


“Sekali lagi.. Shean apakah kamu mau jadi pacarku?” tanya Jenny menegaskan.


“Seharusnya itu kalimatku!” pungkas ku kepadanya disambut senyuman lembut tersirat dari bibirnya.


“Jenny.. Maukah kamu menjadi istriku?” ucapku balik bertanya.


“Aku tidak ingin sekedar menjadi pacarmu saja. Aku ingin memilikimu seutuhnya dan menikmati semua moment sedih dan senang berdua denganmu sepanjang waktu”. Lanjut aku menegaskan jika aku ingin lebih serius menjalin sebuah hubungan yang abadi tak hanya hubungan temporal yang bisa berakhir kapan saja. “Tentu saja! Aku mau! Aku mencintaimu Shean”. Dengan tegas ia katakan.


Pada malam hari, kami berdua terjaga di perkemahan duduk didepan perapian menikmati coklat hangat dan menikmati pemandangan yang ada disekitar. kali ini pemandangannya terlihat jelas membentang luas sejauh mata memandang. Hamparan kerlip lampu kota terlihat meriah bahkan lampu-lampu dari kendaraan yang melintas terlihat seperti kunang-kunang yang terbang kesana-kemari. Indah dan juga menenangkan. Beruntung kami bisa melihat ini semua. Sedangkan yang lain sudah tertidur pulas di tenda.


Dalam hati kecil ini, aku bersumpah untuk menjadi lelaki yang layak untuk Jenny, bagaimanapun ia lahir dari keluarga terpandang dan ayahnya adalah pengusaha sukses yang sudah membangun mega korporasi besar di negara ini.


“Tunggu aku ya Je, aku pasti menjadi lelaki yang benar-benar pantas untukmu” ucapku di tengah heningnya malam.


“Emm.. Tidak perlu berpikiran terlalu jauh, bahkan Ayah pun tau kalau kamulah lelaki yang baik”


“Ingat pesan ayah? Jangan terlalu memandang rendah dirimu sendiri. Aku bahagia bisa mengenalmu”.


“Terima kasih”. Ucapku singkat, tak tau lagi harus berbicara apa, saat ini aku benar-benar bahagia.


Rasa bahagia yang kami miliki saat ini menjadi moment spesial yang akan terus terkenang sampai kapanpun. Ada candu yang mendera dari nikmatnya cinta yang kita berdua rasakan. Tak ingin ada lagi jarak yang menghalangi, karena rindu benar-benar menyiksa. Itu pun telah ku rasakan selama ini, seperti ada rasa yang kurang terpuaskan jika dalam seminggu saja tak ada berjumpa dirinya, mungkin ia pun sama.


Biarlah semua ini kita rasakan oleh hati masing-masing. Tak perlu diucapkan cukup dirasakan saja. Karena semakin banyak rasa yang di bicarakan maka semakin banyak kebohongan didalamnya, dan saat ini aku tulus untuk menerimanya sebagai pendamping hidupku dan kelak menikahinya agar seutuhnya ia hanya menjadi milikku seorang.


Ah benar juga.. Kita harus menikah.. Apakah aku bisa membahagiakan Jenny si putri cantik jelita ini?.


...****************...