
“Ini album foto keluarga?” aku menunjuk gundukan album-album foto yang terletak di meja kaca pada bagian bawah.
“Iya..” Jawabnya.
Aku membuka satu persatu tiap halaman album, terdapat banyak foto yang tersusun rapi dan diberikan title dengan deskripsi detail tempat pengambilan berupa tanggal dan kejadian. Satu halaman tebal telah selesai ku buka, dan lanjut membuka album yang lain. Mulai dari foto pernikahan ayah ibu nya juga album Jenny dan saudaranya ketika masih bayi.
Sepertinya Jenny sudah mengelompokkan semua album, seperti album yang ku buka pertama kali adalah foto-foto ketika ayahnya belum menikah. Dan saat ini yang ku buka adalah foto bayi-bayi lucu Jenny beserta kedua saudaranya.
Lanjut membuka album yang didalamnya merupakan foto ketika Jenny menginjak usia sekolah dasar (SD). Meski fotonya terlihat kusam karena sudah lama tapi masih terlihat jelas dan tak ada noda, Jenny benar-benar merawat seluruh kenangan keluarganya dengan sangat baik.
Ada sebuah foto yang menarik perhatianku, yaitu foto tiga orang anak termasuk Jenny tengah berfoto bersama sang Ibu dan tertulis ‘Ibu mengajak kami ke taman kota – Jakarta, 20 Juli 1997’.
“Je.. Cepat kemari” perintahku kepadanya yang baru keluar dari toilet di kamarnya.
“Ada apa sayang..” tanyanya keheranan dengan ekspresiku yang tidak biasa.
“Kamu ingat kejadian di foto ini?” aku memperlihatkan 3 bagian foto yang membuatku penasaran karena ada hal aneh yang mungkin tidak disadari oleh Jenny dan ayahnya.
“Iya ingat.. Mamah mengajak ku dan yang lainnya ke taman karena kakak ku bosan di rumah terus dan Papah sedang di luar kota”.
“Coba kamu perhatikan baik-baik, menurutmu ada yang aneh tidak?” Ia lamat-lamat mengamati ketiga foto itu, tak ada yang janggal sama sekali karena ini hanyalah foto yang biasa keluarga yang sedang bercengkrama disebuah taman.
“Emmmm.. Aku tidak mengerti maksudmu”. Ia bingung, karena memang belum tau dengan keanehan dari foto tersebut.
“Coba perhatikan liontin yang Ibumu pakai” Aku menunjuk liontin itu kepadanya, sebuah kalung dengan liontin berbentuk kunci dengan bentuk bunga semanggi pada bagian atasnya.
“Ok.. Emmm aku masih belum mengerti, coba jelaskan sebenarnya ada apa” Jenny semakin bingung tak mengerti dengan semua yang ku ucapkan.
“Apa kamu masih menyimpan kalung liontin yang dipakai mamah mu ini?” Tanyaku.
“Aku tidak tau Shean.. Mungkin saja papah masih menyimpannya”.
Ada yang tidak ku beritahukan kepada Jenny tentang liontin itu, tadi aku sudah memfoto dengan smartphone dan memperbesar gambar sampai terlihat urutan nomor yang terukir pada liontin, meski tidak terlalu nampak jelas, akan tetapi ukiran nomor itu sama dengan nomor yang aku temukan pada guci di rumah yang saat itu hancur karena ulah kucing peliharaanku.
Tentu ini bukanlah sebuah kebetulan, urutan nomor yang sama berada pada dua tempat yakni rumahku dan rumah orang tuanya Jenny. Ia menyarankan untuk berbicara langsung dengan ayahnya, mungkin saja ayahnya masih menyimpan benda itu.
“Setahuku, mamah jarang sekali memakai kalung itu, aku saja baru sadar sekarang ketika kamu menunjukan foto ini”. Begitu penjelasannya.
“Kemungkinan itu adalah kunci untuk membuka kotak yang ada di ruang galeri papah mu” hanya sebatas itu saja yang bisa aku ceritakan kepadanya.
Kami pun kembali ke ruangan depan ketika hujan sudah mulai mereda dan hendak mengajak Ayahnya Jenny untuk ke kafe Atelier tempatnya Pak Sudirman.
Sebaiknya aku tidak membicarakan ini lebih lanjut terutama kepada ayahnya Jenny.
“Ayo berangkat” Jenny menggandeng lenganku menuju parkiran mobilnya.
Bertiga kami memasuki mobil sedan milik Jenny, tentu saja dia tidak ingin aku menyerobot kemudi mobilnya, jadinya aku duduk disamping dan ayahnya di belakang.
...----------------...
Meski hujan belum begitu reda. Tetapi sudah lebih mendingan dari sejak hujan lebat tadi siang dan sekarang sudah lebih nyaman untuk berkendara.
“Oh iya Pah, katanya papah tau Atelier?” tanya putrinya itu, karena Ayahnya pernah menyebutkan jika ia pernah tau tempat yang bernama kafe Atelier.
“Dulu si Dirman membuat tempat ngopi lesehan di ruko di daerah utara, papah pernah datang, beberapa waktu kemudian tokonya sudah tidak ada” ia menjelaskan asal muasal tempat bernama Atelier dan ia sempat memberi bantuan pada awal Pak Sudirman membuat kedai sederhana tersebut. Namun karena Maria Ibunya Jenny meninggal, Ayahnya tak fokus dan lupa untuk memberi kabar kepada Sudirman, kejadiannya sudah di 15 tahun lalu dan terlupakan sampai kemarin malam.
Butuh waktu 40 menit untuk sampai ke kafe, setelah memarkir mobil, kami berjalan menuju kafe yang masih kosong tak ada seorang pun ada didalam kafe.
“Selamat datang di Atelier tuan dan nona” Ucapnya ramah ketika kami bertiga memasuki ruangan.
“Dirman.. Ya tuhan berapa lama kita tidak bertemu” Pak Renaldy menjabat tangan sahabatnya itu dan memeluk penuh haru kepada sahabat setianya.
“Kamu masih gagah saja Naldy, Bagaimana Kabarmu sekarang?”.
“Seperti yang kamu lihat sekarang.. Tidak ada yang lebih baik lagi dari ini. Hahahha” ucapnya penuh semangat.
“Ayo, silahkan duduk.. Santai-santai saja dulu, aku buatkan sesuatu untuk kalian” Ia melangkah pergi menuju belakang meja barista, mempersiapkan jamuan pada sore hari ini.
“Tumben kafenya kosong” Jenny angkat bicara, ia heran kondisi kafe tidak seperti biasanya.
“Toko sengaja tutup dulu nak Jenny”. Ucap pak sudirman sembari mengoperasikan mesin espresso nya.
“Lihat itu, sengaja ditutup tokonya “ bisikku dan menunjuk tanda ‘Closed’ yang tergantung di pintu bagian luar kedai.
“Ohhhh... Aku tidak melihatnya tadi”.
Diluar hujan deras kembali mengguyur, jalanan tertutupi oleh derasnya air hujan dan beberapa kendaraan motor menepi ke ruko-ruko samping jalan raya yang menghubungkan kota pusat ke selatan. Cuaca hari ini sedang tidak menentu, bisa jadi akan terus hujan sampai malam tiba.
Pikiranku bercampur aduk saat ini tidak fokus dengan pembicaraan mereka, aku hanya diam dan sesekali tersenyum menanggapi beberapa obrolan ayahnya Jenny yang sedang berbincang bersama Pak Sudirman yang masih menyiapkan jamuan untuk kami semua.
Apa aku tanyakan langsung saja ke ayahnya Jenny, namun aku takut ini bukan topik yang bagus untuk dibicarakan pada saat ini dan tak ingin jadi membuat kerenggangan hubungan aku dengan calon mertuaku kelak.
Pak Sudirman datang dengan berbagai macam hidangan kue dan juga tiga gelas kopi.
“Silahkan dinikmati” ia meletakan di atas meja bundar yang kini kami tempati.
“Kopi hitam tanpa gula untuk anda Tuan Renaldy” Iya Meletakan kopi hitam yang diseduh secara manual kesukaan Ayahnya Jenny.
“Bercanda saja kamu ini Dirman. Hahahaha”.
“Sepertinya, sudah semakin besar saja usahamu. Terakhir kali mampir masih disewa toko di utara..” Ucap Renaldy mengingat kembali saat ia membantu Sudirman yang sedang merintis membangun usahanya menjadi penjaja kopi.
Ia menghirup dalam-dalam aroma kopi seduhan yang dibuat secara manual dengan rasa yang sangat kompleks. Aku mengetahui rasa seduhan manualnya karena sering meminumnya juga ketika sedang kemari seusai kerja.
Ada banyak jenis kopi yang kafe ini tawarkan untuk pengunjung, dari jenis robusta juga arabika, semua didapatkan dari berbagai daerah dan juga ada jenis kopi langka yang tidak selalu sedia setiap waktu.
Mungkin yang disajikan kepada temannya itu adalah kopi langka yang beraroma lavender yang hanya bisa di dapat dari negeri Ethiopia. Aroma yang menenangkan tercium juga olehku sangat aromatik dengan after taste manis di ujung lidah.
“Kamu memang pandai sekali meracik kopi” Ucapnya, beberapa kali ia meresapi rasa yang hanya ia rasakan dari seduhan temannya itu.
“Itu kopi terbaik yang aku siapkan untuk menjamu tamu spesial, aku hanya memilikinya sedikit dari kenalanku dari kedai lain”.
Kami mendengarkan mereka yang sedang melepas rasa rindu karena hampir 15 tahun tak bertemu dan momen seperti ini membuat mereka larut dalam kenangan lama masa-masa sekolah dulu.
Ada tawa juga rasa bahagia yang terasa. Perbincangan membuat kami semua lupa akan waktu yang sudah hampir dua jam lamanya. Tak buruk juga sesekali berkumpul seperti saat ini. Dan mungkin nanti akan lebih sering kami lakukan setelah aku menikahi Jenny. Meski butuh waktu, namun aku sudah memantapkan hati untuk meminangnya mendampingi sampai maut memisahkan kita berdua.
“Jadi kapan kalian akan menikah?” Tanya Sudirman.
“Emhhh.. Belum ada penentuan tanggal pastinya, tapi Shean meminta waktu 2 bulan untuk mempersiapkan segalanya” Jenny membalas pertanyaan Pak Sudirman.
“Shean.. Keluargamu bagaimana?” Tanya nya kepadaku.
“Tidak tau. Belum ada jawaban dari paman. Sepertinya mereka pun tidak peduli”.
“Aku mau meminta Bapak menjadi Saksi di pernikahanku nanti, jika memungkinkan”. Tak ada siapapun di keluarga yang menjawab panggilan telepon juga membalas pesan. Aku sedikit khawatir dibuatnya. Saat ini hanya Pak Sudirman saja yang bisa ku minta tolong untuk menjadi Saksi pernikahan yang seharusnya itu menjadi tugas keluargaku.
“Ya sudah.. Biar saya saja yang mewakili nanti”. Jawabnya.
“Nah sudah bagus itu, jadi tidak perlu berlama-lama lagi untuk menunggu keluargamu” tambah Pak Renaldy.
“Mulai sekarang kalian urus lah semua hal-hal kecil, biar saya yang urus untuk resepsi pernikahannya”. Seperti sebelumnya, Pak Renaldy akan membantu semua keperluan pernikahan sampai selesai.
“Baik Pak..” Ucapku mengiyakan tawarannya.
...****************...