
Desir angin pelan terasa menerpa wajah dan menggelitik telinga seolah ada bisikan darinya yang jauh disana, ada rindu yang tertahan 87 hari lamanya semenjak ku menginjakkan kaki di pulau tak berpenghuni dan menjalani hari-hari sendiri. Meski banyak hal yang dapat ku kerjakan di pulau ini, namun aku masih belum terbiasa tanpanya.
Kali ini aku mengubur dua jasad dari awak kapal yang mati karena badai besar yang menghancurkan kapal yang kami naiki. Sejauh ini sudah 19 jasad yang ku temukan dan salah satunya adalah Paul, sesama peneliti yang juga menggantungkan cita-citanya pada perjalanan kali itu, jika saat itu Paul tak menyadarkan ku, mungkin saat ini aku juga sudah tak bernyawa dan berakhir seperti awal kapak yang lain mati membusuk terdampar di suatu tempat atau menjadi santapan predator laut.
Beberapa barang-barang ku kumpulkan dari para awak kapal, seperti baju, sepatu, buku catatan kecil, pisau dan pistol satu tangan sebanyak dua buah yang masih tersisa beberapa peluru.
“Semoga kalian tenang di alam sana. apa yang kalian tinggalkan, akan ku pergunakan sebaik mungkin” Ucapku pada pusara semua nahkoda kapal yang ku kenal selama perjalanan.
Sejak terdampar, aku sudah memetakan pulau yang jika ku hitung berdasarkan tinggi badanku yang 174 maka luas dari pulau ini sekitar 23 KM-25 KM mungkin juga lebih. Butuh waktu 40 hari untuk mengukurnya dan tidak setiap hari ku lakukan karena harus memenuhi kebutuhan hidup yang sangat tidak mudah untuk mendapatkannya.
“Sebaiknya aku kembali ke gua” gumamku akibat panas terik yang begitu menyengat.
Aku membawa empat ekor ikan kakap seukuran betis orang dewasa, itu sudah cukup untuk mengisi perutku sampai hari esok. Dagingnya yang gurih dan semakin nikmat saat dibakar memberikan cita rasa khas dan ini menjadi makanan favoritku sejak berada di pulau.
Bagaimanapun, aku juga tinggal di dekat hutan yang sehari-hari mengumpulkan tanaman obat untuk di jual ke pasar, jika beruntung aku akan mendapatkan seekor rusa atau ayam hutan. Berkat pengalaman itu semua aku dapat bertahan dan mencukupi kebutuhan nutrisi tubuhku.
Terpikir olehku, jika suatu saat aku terbebas dari situasi buruk ini, akan aku ajak Elaine untuk hidup berdua di pulau ini dan menghabiskan waktu hanya berdua sampai nanti tua. Indah sekali khayalanku, ku bayangkan tiap hari kami mencari-cari tanaman obat atau menjaring ikan, bisa juga menanam gandum agar bisa menikmati roti hangat dengan sup daging yang biasa Elaine buat di dapur gubuk kami di Prancis.
Malam hari adalah waktu beristirahat dan bermesraan sebagaimana layaknya sepasang kekasih, bermanja-manja atau sekedar berbincang dan menikmati teh herbal diterangi nyala lampu minyak dan wajah cantik itu terlihat begitu sangat menawan membuatku ingin segera memangku dan merebahkan tubuhnya diatas kasur kemudian tertidur sampai pagi menjelang.
“Elaine, aku sangat mencintaimu” ku berbisik pada kesunyian yang sedang ku rasakan saat ini.
...----------------...
Setelah mengecek beberapa perangkap yang ku letakan tersembunyi dibalik rumput, aku masuk ke mulut gua dan sebagai pengamanan, ku buat tombak-tombak runcing dari kayu yang ku susun sebagai pengamanan agar tidak ada binatang buas yang berani memasuki area gua ku tinggali, begitupun pada jalur lainnya.
Sejak pertarungan ku dengan si harimau buas, aku mulai memikirkan keselamatan, karena hewan itu telah menjadi penguasa pulau berpuluh-puluh tahun lamanya, dan aku tak tau jumlahnya ada berapa juga tak bisa memastikannya karena mereka selalu berada di pedalaman hutan dan mungkin saja saat ini tak ada lagi yang berani mendekati gua.
Ada bagian gua yang menjadi tempat berlindung ku, dari mulut gua letaknya menjorok ke kanan luasnya seperti sebuah kamar pada umumnya. Aku menempatkan beberapa barang-barang disana dan membuat anyaman dari helai daun kelapa untuk alas tidurku agar tidak menyentuh dinginnya gua terutama pada malam hari.
Sejak penemuan gua ini, sudah ku teliti dan ku catat bagian-bagian dari dinding gua yang dipenuhi oleh relief berupa simbol-simbol yang sepanjang hidupku belum pernah ku lihat. Mungkin ini adalah sebuah bahasa dari peradaban zaman dahulu kala yang belum tercatat dalam sejarah.
Kali ini aku mencoba menela’ah lebih jauh di beberapa bagian yang belum tercatat. Tak ada ruangan lain, ini hanya lorong panjang yang kemudian terhubung ke pintu luar sebelah utara, aku sudah mengeceknya beberapa kali dan tak menemukan ruangan lain.
Ku panjat lebih tinggi untuk melihat lebih jelas dari bagian dinding yang dipenuhi oleh coretan berupa simbol. Meraba-raba tiap simbol yang ada, yang sepertinya di tulis oleh tinta warna hitam, dibeberapa simbol sudah pudar karena termakan usia namun masih bisa sedikit terlihat.
Begitu indah tiap-tiap lekukan dari apa yang tertulis, seperti sebuah bahasa dari peradaban luhur dari ribuan mungkin ratusan ribu tahun yang lalu. Sayangnya aku tidak mempunyai kemampuan penafsiran bahasa simbol. Mungkin jika aku menyerahkan dokumen ini, di negaraku ada yang bisa menafsirkannya dan menuntun dari simbol tersebut ke sebuah penemuan besar.
Ku jelajah lebih jauh lagi kemudian ku catat dengan bentuk yang sama persis seperti aslinya ke dalam buku catatan. Pijakanku goyah ketika ada angin yang berhembus kencang mendorong tubuh ke bagian dinding yang rapuh.
Bughhhhh
Rasanya aku terjatuh sangat dalam ke sebuah lubang gelap tak ada sedikitpun celah cahaya yang menyinari. Remuk redam badan ini, tak bisa ku gerakan satupun anggota tubuhku dan seketika lemas kemudian hilang kesadaran.
...----------------...
“Errrrghhh” erang ku kesakitan di sekujur tubuh yang penuh memar dan luka, ku coba bangkit dan bertumpu pada dinding batu yang terasa lembab dan dingin. Ku berjalan menyusuri lorong gelap ini. Terasa pusing dan juga mual, ada aroma busuk yang menyeruak tercium hidungku, benar-benar busuk.
“Dimana ini?” ucapku.
Ku lihat di kejauhan ada secercah cahaya yang menelusup masuk dari balik retakan dinding batu, ku coba melangkah pelan sampai tiba pada sumber cahaya.
Sebuah perti berukuran raksasa, panjangnya 3 kali ukuran manusia mungkin 4, aku tak tau pastinya. Mungkin saja itu adalah peti harta karun, atau mungkin mayat karena sumber dari aroma busuk sepertinya datang dari sana.
Ku amati dengan seksama tiap-tiap sudut dari benda persegi panjang dengan sisi-sisi yang sangat presisi dan ada ukiran-ukiran cantik yang menghiasi sekelilingnya. Perasaanku berkecamuk tak menentu. Satu sisi aku ingin tau isi dari peti ini, namun disisi lain aku takut ada hal yang buruk terdapat didalamnya yang bisa saja itu akan menjadi petaka bagiku.
Lama ku terdiam mencoba mengamati benda besar di hadapanku ini. Meski ku yakin didalamnya ada sesuatu hal yang luar biasa namun tak serta merta langsung ku buka begitu saja. Dari pengalaman para arkeolog di negaraku, terdapat beberapa jebakan ataupun racun yang terkandung dalam suatu peninggalan bersejarah. Mungkin itu adalah suatu cara untuk menjaga benda dari tangan orang-orang tamak yang hendak menjarah.
Ku lihat ada tangga pada dinding sebelah kanan, tangga yang sangat panjang menuju atas. Itu adalah tangga yang bisa digunakan untuk menuju bagian atas gua. Aku jadi tak khawatir akan terjebak di tempat ini dan bingung untuk menuju ke tempatku di bagian atas.
Karena tak tahan dengan bau yang semakin menyengat, aku memutuskan untuk menuju tangga dan meninggalkan tempat ini, sebaiknya esok pagi saja ku coba teliti kembali, karena ku melihat ada bekas reruntuhan tiang besar yang hancur berserakan. Aku tak ingin gegabah dan akhirnya akan mengancam nyawaku sendiri.
Saat ini selain mengekplorasi tempat, aku juga memiliki kewajiban untuk tetap hidup demi wanita yang ku cintai yang menanti di sana. Tak akan ku sia-siakan nyawa hanya untuk hal yang tak jauh lebih berharga dibanding Elaine.
Aku perlu persiapan matang, karena berada di sini pun sudah cukup membuat kepalaku pening dan beberapa kali aku menahan muntah karena aroma yang begitu menyengat, untuk bernafas pun sangat sulit karena tempat yang lembab dan dingin.
Belum sempat ku menuju tangga, pandangan mataku teralihkan oleh suatu benda yang berkilauan tersorot cahaya dari celah batu.
Benda bulat yang menyerupai guci itu tergeletak di lantai, ukurannya tak lebih besar dari wadah air yang biasa ku pakai di rumah sebesar genggaman kedua tangan saja.
Yang membuatku tertarik adalah bahan yang di gunakan pada guci itu terbuat dari lapisan emas yang cukup tebal dan ada motif-motif cantik disekelilingnya dengan ukiran lambang bunga lotus mekar pada bagian tengah.
Aku kagum dengan apa yang kulihat, selain motifnya yang sangat cantik, pengerjaanya pun sangat rapih dan kokoh untuk sebuah guci emas yang biasa bahannya tipis namun ini cukup tebal, teknologi seperti apa yang bisa membuat benda seperti ini, bahkan dimasa sekarang pun tak ada pengrajin yang mampu membuat hal yang serupa.
Seketika aku pun mengalihkan pandanganku ke sekitar itu, namun tak ada benda lain disana, hanya ada reruntuhan dengan puing-puing bangunan yang tersebar di lantai. Besok akan ku cobs teliti lagi dengan persiapan yang lebih matang.
...****************...