
"Oh iya.. Besok kita jalan-jalan yuk? aku besok ke kantor hanya menyerahkan beberapa disain setelah itu aku free".
"Boleh. Ada tempat yang mau kamu tuju?" aku menanyakan tujuan agar lebih jelas tak cuma keluyuran mengelilingi kota saja.
"Kulineran yuk di pantai, aku sudah lama mau makan ikan-ikan yang baru ditangkap langsung dari laut".
"Wah boleh juga! tadi aku juga memikirkan hal yang sama. Di pantai kota utara ada tempat bagus, disana bisa memilih sendiri ikan yang mau dimasak".
"Cuma parkirannya lumayan jauh dari lokasi, jadi harus jalan kaki. Ya... kurang lebih 10 menit lah, mau?". Jenny mengangguk setuju terlihat seperti tak sabar ingin segera menikmati hidangan laut yang selalu viral di sosial media.
Malam semakin larut dan Jenny sudah berapa kali menguap tanda dirinya sudah mulai mengantuk.
"Ayo tidur.." ajak ku menuju ke kamarnya.
"Emmmm. Gendong" ucapnya manja.
"Ya sudah.. Ayo" ku dekap dan ku pangku tubuhnya menuju kamar dan merebahkan dirinya diatas kasur.
"Cuppss.." Ku kecup lembut keningnya.
"Selamat tidur..".
Belum sampai lima menit, Jenny sudah terlelap. Wajah lugu itu nampak seperti kelelahan karena seharian ia mengerjakan sebuah project disain dari brand luar negeri, dan konsep dari desainnya harus diserahkan besok pagi saat meeting internal di kantor.
Karena belum mengantuk, aku mengambil kopi instan di dapur dan menyeduhnya dan menambahkan beberapa bongkahan es ke gelas beer berukuran 500ml.
Ku buka pintu balkon, dan duduk di bangku yang mengarah ke pemandangan kota dari atas apartemen, terlihat indah kelap-kelip lampu jalan dan lalu-lalang kendaraan yang tidak pernah sepi.
Aku masih memikirkan beberapa hal tentang saudariku yang bernama Geany. Karena kakek hanya pernah beberapa kali saja mengungkit masalah silsilah keluarga Beaufort yang masih hidup.
Kartu hitam itu menunjukan segalanya kepadaku, yang tidak sembarangan orang memilikinya dengan saldo yang tidak terbatas.
Bayangkan saja, ada 322 bank di dunia yang berafiliasi dengan black card keluarga Beaufort. Jelas ini diluar nalar kemampuan analisisku.
Sebesar apa kekayaan Geany atau lebih tepatnya harta kekayaan keluarga Beaufort sampai sebuah kartu berwana hitam ini bisa memberikan jumlah uang sebanyak apapun yang kamu mau. Lantas, mengapa orang tua ku dan juga kakek harus berakhir di rumah bobrok menjadi pasangan pegawai negeri dengan gaji pas-pasan.Bahkan, jatah harian untuk uang jajanku saja sangat sedikit.
Aku rela menabung beberapa bulan untuk bisa membeli sepatu basket yang sudah lama aku inginkan tak seperti anak lain yang tinggal merengek meminta ke orang tuanya.
Berjuta pertanyaan terus melintas di pikiranku kepada sosok Geany beserta keluarga Beaufort, dan baru sekarang mereka menunjukan hidungnya kepadaku, jelas ada maksud tersembunyi dibalik keinginannya bertemu denganku di Prancis.
Sebaiknya aku kembali membicarakan hal ini baik-baik dengan Jenny. Lebih baik Jenny tak perlu ikut karena mungkin saja ada bahaya yang menanti kita berdua, akan lebih baik jika aku sendiri saja yang menghadapi persoalan ini.
...----------------...
"Pagi sayang.." sapa Jenny.
Pagi.. Ayo aku sudah buatkan sarapan" ku tunjukan beberapa menu yang ku buat untuk bersantap di pagi ini, ada roti lapis isi daging dan sayuran selada segar juga tomat.
"Ayo" Serunya.
Sarapan pagi ini sengaja tak banyak makanan yang dibuat, karena tujuan kami nanti ke pantai utara untuk menikmati jajanan dan kuliner seafood yang sangat terkenal dan viral di sosial media.
Akhir-akhir ini banyak sekali para konten kreator juga artis yang rela berpanas-panasan ke pantai utara tak jauh dari area pelelangan ikan hasil tangkapan para nelayan, dan itu sukses membuat tempatnya menjadi semakin ramai setiap harinya.
"Kita berangkat jam 8 nanti ya, jam segitu mungkin tidak terlalu ramai" Aku memang suka makanan laut tapi jika ramai sekali lebih baik mengurungkan niat dan mencari alternatif lain, malas sekali harus rela antri berdesak-desakan hanya untuk makanan.
Setelah memanaskan mesin mobil, ku tancap gas keluar area apartemen kemudian menuju jalan tol yang lenggang tidak seperti arah sebaliknya, pada merayap terlihat sepanjang perjalanan.
Jarak dari apartemen ke kantor Jenny tak begitu jauh hanya 20 menit perjalanan. Begitu sampai, ku parkirkan mobil di depan lobby.
"Aku tunggu disini saja ya.." ucapku.
Tak butuh waktu lama, keluar tol langsung terbentang laut luas dan hembusan angin kencang di pagi hari ini.
"Kami sudah tau tempatnya?" tanya Jenny kepadaku yang sedang mengendarai mobilnya.
"Tentu saja" Jawabku mantap tanpa ragu.
Memasuki kawasan pelelangan ikan yang sedang ramai, jalan raya sedikit tersendat macet oleh lalu lalang para nelayan dan juga orang-orang yang hendak membeli ikan segar yang baru di tanggap pagi ini.
Sekitar 100 meter dari pelelangan, kami memasuki wilayah tempat makan berupa saung yang memanjang seperti halnya food court di mall hanya saja ini di luar ruangan, tak ayal tempat untuk makan pun dibuat memanjang dengan beberapa puluh meja panjang dan bangku kayu yang sama panjangnya dengan meja.
Kami berbincang-bincang dengan pemilik yang juga melayani pesanan kami berdua, Mbak Siti namanya, orangnya ramah dan murah senyum ia pun mau turut berpanas-panasan memanggang beberapa ikan, cumi dan lainnya bersama para karyawannya yang lain.
"Mbak siti sudah berjualan berapa lama ini" Jenny penasaran dengan warung ini karena satu-satunya yang mendominasi tak ada tempat lain jika ingin menikmati hidangan seafood.
"Sudah 3 tahun nona, dulu cuma warung kecil saja. Setelah ada modal barulah saya dan suami memperbesar tempat sampai jadi seperti sekarang". Jawabnya. Ia menyeka keringat yang mengucur dari pelipisnya karena udara panas dan juga tempat pembakaran yang apinya tak pernah padam.
Aku memesan ikan cakalang bakar bumbu kecap pedas, dan Jenny memesan ikan kerapu bakar bumbu kacang, dan ada cumi bakar dan kerang. Semua makanan tersaji di atas meja untuk kami nikmati berdua.
"Kamu yakin bisa menghabiskan semuanya?" tanyaku, karena pesanan Jenny yang sangat banyak membuatku sedikit enggan untuk membantu menghabiskannya.
"Kata mbaknya, kalau tidak habis nanti bisa dibungkus ko sayang.. Tenang.. tenang"
Rasa dari rempah-rempah sangat meresap menciptakan rasa gurih yang begitu meresap ke setiap gigitan dari daging ikan segar yang kami makan, sampai bingung untuk berkata-kata.
Rasa nikmat tiada dua, bahkan restoran seafood yang waktu itu aku datangi bersama Jenny pun kalah dengan semua hidangan ini. Ikan yang masih segar, cita rasa rempah yang sangat kompleks meledak didalam mulut.
Kami berdua tengah lahap memakan sajian yang tersedia tanpa berbicara, hanya sesekali mengelap keringat akibat terik matahari yang mulai sangat terasa menyengat, juga sambal yang disajikan sangatlah pedas.
"Jenny.. Jenny.." teriak seseorang memanggil namanya.
Tak lama seorang menghampiri dan duduk di sebelahnya.
"Siska.." Jenny kaget karena Fransiska temannya itu ada di tempat ini juga.
"Kamu sama siapa kesini?"
"Aku sama Derry, kamu tau kan konten creator Derry yang pernah aku kasih tau sama kamu". tak lama orang yang dibicarakan itu pun datang menghampiri kami bertiga.
"Ada apa sis? mereka teman kamu?" tanya Derry dengan gaya acuh tanpa mempedulikan keberadaan ku dan Jenny.
"Iya, ini Jenny teman aku". ucap Fransiska.
Jenny terlihat sangat memaksakan diri tersenyum dan menjabat tangannya Derry yang melihat Jenny dari ujung kaki sampai wajahnya.
"Hmm.. Boleh juga temanmu ini sis, Kamu mau ikut ngonten bareng aku tidak?".
"Tenang saja, konten kali ini pasti viral dan meledak di channel ku". lanjutnya, ia sedikit memaksa Jenny untuk ikut serta dalam aktifitas mereka saat ini untuk mukbang makanan seafood yang sedang viral.
"Wah boleh tuh Jenn, ayo colab pasti seru!" Ujar Fransiska bersemangat atas ide Derry.
Jenny menatapku dan aku menatap balik dirinya, mengisyaratkan terserah apapun yang ia mau lakukan. Jika memutuskan untuk ikut ngonten, ya sudah tak ada masalah apa-apa buatku.
"Sorry ya guys. Aku bersama Shean cuma mau menikmati makanan saja" ia menolak halus ajakan dua orang dihadapannya itu.
"Sombong sekali temanmu ini Sis, padahal aku mau berbaik hati mengajak ngonten, malah ditolak" ucapnya ketus menyindir Jenny.
"Lagi pula wanita cantik sepertimu sebaiknya bergaul dengan kami bukan sama cowok lusuh yang sepertinya dia cuma seorang penipu, pasti dia ini pengangguran ya. hahahah" tak cukup dengan meledek Jenny ia pun mulai kurang ajar menyulut emosiku.
"Ayolah Jenn.. mau ya, please" temannya itu memohon kepada Jenny seolah-olah kemauan Derry harus terpenuhi. Jenny hanya membalas dengan senyum tipisnya dan lanjut menikmati ikan bakar yang sedang ia santap.
Aku mulai tidak tenang ketika Derry menggebrak meja dengan sangat kencang dan membuat minumanku tumpah membasahi bajuku.
"Apa? tidak suka hah?" Ucapnya memancing emosi.
"Maaf mas sebaiknya mas pulang saja, karena mengganggu pelanggan" Ucap Mbak Siti yang datang bersama suaminya ke meja yang sedang kami tempati.
"Cih.. Tempat busuk seperti ini kalau bukan untuk konten mana mau aku datang" gumamnya, kemudian Derry dan crew nya pun pergi.
Tak akan berani dia macam-macam karena suami Mbak Siti ini badannya tinggi besar dan bertato, mungkin saja ia mantan preman yang paling disegani di kota ini, jadi lebih baik pergi daripada terkena masalah lebih lanjut.
Setelah suasananya tenang, aku pun lanjut menghabiskan sisa-sisa makananku yang td terhenti akibat ulah Derry dan kawan-kawannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyaku memastikan Jenny baik-baik saja atas semua perlakuan Derry.
"Santai.. aku tidak apa-apa, Ayo lanjut makannya sayang".
...****************...