
“Bagaimana tidurmu, nyenyak?” Geany menghampiriku dan memberi segelas espresso.
“Ya, lumayan” Ku tenggak habis cairan hitam pekat itu dalam sekali teguk tanpa tersisa sedikitpun didalam cangkir putih berukuran mini.
“Paling tidak, kamu tidak perlu membayar uang sewa dan mengantri buffet dengan pengunjung di hotel” candanya, disusul tawa keras yang nyaring terdengar.
Kepalaku masih terasa pening karena kurang tidur, penyebabnya adalah Geany yang terus bercerita tentang kakekku yang telah mendedikasikan hidupnya untuk membuat tempat ini. kakek bahkan sengaja membeli gudang gandum yang telah lama terbengkalai akibat sudah rusak karena pelapukan pada bagian fondasi bangunan dan atap.
Setelah merenovasi gudang utama, kakek mempekerjakan beberapa puluh orang untuk membuat ruang bawah tanah yang kemudian hari semakin diperluas dan diperdalam sampai saat ini sudah mencapai 18 meter di bawah permukaan, berdalih untuk penyimpanan gandum agar muat banyak pada saat panen. Tentu saja, gandum yang di maksud adalah hasil yang diperoleh dari 120 hektar lahan gandum yang juga dibuat untuk menutupi operasi sebenarnya dari organisasi yang kakek dirikan.
Organisasi yang diberi nama 'The Chronicle' di dirikan oleh kakek saat masih muda bersama Jose Antonio, teman dekatnya sewaktu kuliah di Melbourne Australia. Mereka berdua terlibat beberapa petualangan hebat dalam menemukan berbagai macam artefak dan mendeskripsikan di dalam catatan berupa jurnal juga buku-buku.
Menurut cerita Geany, Jose Antonio meninggal 48 tahun lalu karena insiden penyerangan di Mesir ketika sedang meneliti sarkofagus di situs piramida. Kakek bisa selamat dari insiden tersebut karena upaya Jose menghalau para kelompok penjarah. Namun naas dia tak selamat, kepalanya tertembus peluru senapan dan mati seketika.
Kakek melihat kejadian itu secara langsung dengan kedua matanya sendiri, teman terdekat yang sudah ia anggap saudara meregang nyawa tanpa ada upaya penyelamatan darinya. Karena trauma, kakek pun memutuskan untuk meninggalkan Prancis dan pergi ke negara Indonesia kemudian menikahi perempuan lokal, hidup bahagia sampai tua.
“Kamu beruntung bisa langsung di didik oleh kakek, dia peneliti terhebat” gumamnya.
“Entahlah, dalam pandanganku kamu jauh lebih beruntung bisa mendapatkan semua hal yang kamu mau sejak kecil. Kamu mungkin tidak tau rasanya membagi satu telur menjadi 4 potong agar kami semua bisa makan” ku limpahkan kekesalanku selama ini kepada Geany.
“Hahaha.. Lucu sekali” Ia tertawa terbahak-bahak menanggapi ucapanku. “Kamu pikir, selama ini kami tidak menderita? Yang kamu alami hanya perkara susah makan dan tektek bengek hal sepele! Aku dan nenek harus berpindah-pindah menghindari teror organisasi jahat!” Ia membentak mendekatkan wajahnya kepadaku.
“Lihat..!” ia membuka resleting jaketnya dan memperlihatkan bekas luka memanjang di bagian pinggang, jelas sekali ia pernah mengalami sesuatu yang amat mengerikan.
Aku juga melihat beberapa tanda bekas luka yang berwarna kecoklatan di kulit putih bagian punggungnya. Bisa jadi itu adalah bekas cambukan atau sayatan benda tajam.
“Kamu tau ini apa? Mereka orang-orang biadab itu memukul, menyayat dan mencambuk ku, mencari benda yang aku pun tak tau itu ada dimana”.
“Jika bukan karena polisi cepat bertindak dan meringkus mereka, hari ini aku tidak akan disini bersamamu dan menceritakan semua omong kosong ini” sorot matanya tajam mengancam, ada luapan emosi besar yang tak terbendung.
Aku menyesal membuatnya marah seperti itu, karena jika aku tau dia menanggung beban yang sangat berat, tak mungkin aku kan berani berbicara menyinggung seperti tadi. Entah kenapa, rasanya seperti kakek memberikan banyak masalah kepada dua keluarga ini, entah itu Geany maupun keluargaku.
“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung mu” Ucapku pelan.
“Lupakan saja, aku tidak mau membahas ini lagi, kamu sudah faham semuanya, jika ingin segera pulang, silahkan saja aku tidak akan melarang mu. Tapi ingat satu hal, semua ini adalah kerja keras para pendahulu kita yang rela kehilangan segalanya untuk sebuah tujuan yang jelas, dan kamu, apa tujuan hidupmu?”
...----------------...
Aku diantar menuju bandara oleh supir pribadi Geany, di perjalanan aku hanya melamun dan memikirkan banyak hal begitupun ucapannya yang menanyakan tujuan hidupku saat ini, entah harus menjawab apa aku pun tak tau. Yang terpikirkan saat ini hanyalah kehadiran Jenny yang membuatku bahagia dan sebagai laki-laki aku pun ingin memberikan kebahagiaan yang tak akan ada habisnya untuk kita berdua nikmati dalam mengarungi kehidupan kelak sebagai suami-istri.
“Hallo sayang... Aku menuju bandara” Ucapku kepada Jenny, saat ini kami videocall, dan aku menceritakan beberapa hal yang terjadi selama di Prancis.
“Baik-baik ya sayang, nanti pasti aku jemput kamu” Ia terlihat khawatir karena dalam beberapa jam aku tak membalas panggilan dan membalas pesan-pesan yang menumpuk darinya.
“Tentu, aku baik-baik saja ko.. Kamu sudah mau tidur ?” Jenny yang mengenakan piyama berwarna putih terlihat sangat cantik, dan menambah kerinduanku kepadanya yang saat ini kami terpisah jarak yang sangat jauh sekali.
“Tunggu aku ya sayang, aku pasti pulang. Miss you so much sweetheart” ucapku dan mengakhiri panggilan.
Laju kendaraan yang ku tumpangi seketika menjadi sangat cepat, sampai aku pun terbentur ke pintu mobil, entah ada apa. Tiba-tiba sang supir menarik gas kencang seperti sedang balapan liar.
“Kenapa pak?” tanyaku namun tak dihiraukannya.
Lelaki yang sepertinya seumuran denganku itu, meliuk-liuk melewati beberapa pengendara lain di jalan raya besar kota paris. Sepertinya ada masalah serius namun aku tak tau apa yang sedang terjadi. Sebastian si pengemudi merogoh saku celananya dan mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
Ia mengirimkan live-location agar mudah di lacak oleh geany atau siapapun yang akan membantu.
“Sebenarnya ada apa ini” tanyaku dengan berteriak.
“Tuan, mohon maaf, sebaiknya tuan merunduk agar tidak ketahuan oleh yang mengejar kita” Perintahnya tegas.
“Katakan siapa mereka?” Aku semakin penasaran dengan 3 mobil sedan berwarna hitam dibelakang kami yang sedang mencoba menyusul.
“Mereka kelompok IDIOM. Kelompok penjarah”. Geany sempat menyinggung kelompok ini yang juga ada keterlibatannya dengan kematian orang tuaku.
Sebastian lihai mengendarai mobil sedan mercy yang kami pakai, ia berkali-kali mengecoh dengan berbelok tajam menuju jalur lain menghindari kemacetan agar mudah memacu kecepatan mobil sampai maksimal dan meloloskan diri dari pengejaran anggota IDIOM.
Namun mereka yang mengejar pun orang-prang profesional tak kenal ampun terus mengejar tanpa mempedulikan keselamatan para pengendara lain yang juga sedang melintas. Tabrakan beruntun pun jadi tak terelakkan namun mereka masih bisa berhasil menyusul beberapa puluh meter dibelakang kami.
Bang.. Bang.. Bang.. Bang..
Nyaring suara tembakan terdengar sangat keras, beberapa peluru berhasil memecahkan kaca mobil bagian belakang.
“Tuan, Pindah ke depan!” perintah Sebastian. Aku membungkuk dan merayap menuruti perintah nya itu penuh ketakutan.
Suara bising kendaraan dan juga letusan senapan terus terdengar memekakkan telingaku, aku tak terbiasa dengan situasi seperti ini, seumur hidup baru kali ini berada pada situasi genting yang tidak bisa dielakkan, aku takut dan juga khawatir jika nanti tertangkap, mungkin nasibku akan sama buruknya dengan apa yang telah Geany alami.
Bahkan Sebastian pun seperti orang kesurupan, ia terus menginjak gas tanpa sekali pun ku lihat ia mengerem disaat berbelok. Wajah serius nya itu benar-benar fokus ke depan memperhatikan jalan dan sesekali menengok kaca spion.
“Tuan Shean, ambil senjata di dasboard, tolong bantu aku” pintanya, ia terlihat seperti putus asa dan mencoba meminimalisir resiko tertangkap, dan harus ada perlindungan diri.
Pistol semi otomatis buatan rusia ini meski kecil namun beratnya cukup membebani tanganku. Baru kali ini aku memegang pistol sungguhan untuk perlindungan diri, aku menguatkan hatiku agar siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, mereka yang mengejar adalah orang-orang profesional yang telah malang melintang di dunia hitam dan dibekali dengan pendidikan sebagai pembunuh, tentu itu bukan lawan seimbang untukku, meskipun aku bisa sedikit gerakan bela diri karate, namun itu tak akan berguna melawan senapan-senapan yang mereka pakai.
“Ambil ponsel ini, kamu akan membutuhkannya nanti” ucapnya, karena ia sadar yang mengejar kami semakin bertambah, kini 4 mobil mengejar dibelakang dan semakin cepat mereka melaju.
Kami memasuki jalan didalam hutan lebat dengan berbagai macam pohon di kanan-kiri semakin jauh, semakin rimbun dan gelap karena sinar mentari tertutupi oleh pepohonan besar. Sebastian tersadar jika ini adalah perangkap, karena ketika keluar dari hutan ini yang ada hanyalah jalan buntu dengan jembatan yang belum selesai di renovasi.
“Sial.!” Teriaknya kesal memukul kemudi.
“Tuan, sepertinya sampai disini saja aku bisa mengantarmu, selanjutnya saya mohon tuan berusaha sendiri” Ucapnya tak ada harapan.
“Sampaikan salam untuk istri dan anakku, katakan kepada mereka aku mencintai mereka sepenuh hati” lanjutnya.
“Hei... Stop berbicara seolah kita tidak akan selamat” ku maki dirinya yang saat ini menatap kosong ke arah jalan.
Benar saja, sekitar 100 meter di depan adalah jembatan yang belum selesai direnovasi dan kami masuk dalam perangkap musuh, di depan ada dua mobil jeep yang sudah menunggu, ini semua hanyalah penyergapan yang sudah terencana sedemikian rupa.
Bang.. Bang..
Peluru panas menghantam tepat di bagian leher sebastian, darah mengalir deras, ia pun mati seketika.
“Tidakkk... Sebastian!!!!” teriak ku sampai kerongkongan ini terasa sakit, tak percaya apa yang terjadi.
Mobil kehilangan kendali, berbelok tajam ke arah bawah memasuki hutan, ku coba mengemudikan dan mengarahkan agar tidak membentur ke pepohonan, namun tak lama mobil pun menabrak pohon oak besar membuat mobil hancur dan meledak dengan suara ledakan yang sangat kencang.
...****************...