Shean & Jenny

Shean & Jenny
Cerita Kita Berdua



Selama dalam ruang galeri barang antik milik ayahnya Jenny, banyak barang-barang yang tidak bisa ku identifikasi. gulungan perkamen, atau beberapa guci antik dari negeri China dan banyak lagi hal yang lain. Pada dasarnya hal seperti itu memang bukan keahlianku, mungkin kakek lebih tau semua barang-barang yang ada disini.


Sebagai seorang yang berkecimpung di bidang arkeologi, aku menaruh perhatian kepada peninggalan-peninggalan zaman kerajaan, dimana belum ada konsep negara dan semua wilayah ditentukan oleh penguasa wilayah yang kemudian terbentuk menjadi sistem kerajaan. Yang secara turun-temurun dikuasai oleh anak-cucu dari sang raja.


Kadang kala pada sebuah penggalian situs arkeologi khususnya pada reruntuhan suatu kerajaan, banyak terdapat barang-barang yang masih utuh terjaga dan benda-benda itu biasanya di pajang di musium yang dikelola negara atau perorangan yang memiliki kemampuan untuk dapat membeli dan merawat benda-benda masa lampau.


Sangat jarang orang yang mampu, begitupun Pak Renaldy, meski barang-barang yang ia miliki cukup banyak namun hanya beberapa saja yang tergolong langka, dan salah satunya adalah kotak besi berwana hitam dengan motif abstrak di setiap sisi yang goresan motifnya sudah sedikit menipis karena aus seiring bergantinya zaman.


Aku benar-benar penasaran dengan benda itu.


“Hallo semuanya, ini sudah jam berapa”  Jenny mengagetkan kami berdua yang tiba-tiba saja masuk ke ruangan.


“Eh iya, sudah hampir jam 7” Pak Renaldy kemudian mengajak ku menuju ruang makan untuk bersantap hidangan makan malam bersama.


Suasana hangat dan juga ceria, kami duduk dan bercerita banyak hal sambil menyantap hidangan lezat yang sudah tersedia. Tak lupa aku pun berterima kasih kepada beliau karena sudah memberikanku beasiswa kuliah secara penuh. Aku terus berterima kasih kepadanya karena baru kali ini aku mendapatkan bantuan dari orang lain yang begitu banyak.


Di sela-sela obrolan ringan, Beberapa kali Ayahnya menceritakan hubungan rumah tangganya dulu bersama istrinya. Bahkan cerita pertama kali bertemu dengan istrinya pun turut ia ceritakan kepada kami berdua.


Selesai makan malam, kami ke halaman belakang lagi, duduk santai menikmati ketenangan dimalam hari. Tak lupa juga kopi hitam dan cake yang tadi ku bawa menjadi menu pelengkap setelah makan malam.


“Cake dari toko mana ini, enak sekali!” Ucapnya dengan suara nyaring ketika memakan cheese cake buatan Pak Sudirman.


“Itu dari kafe Atelier Pah... Biasanya aku sama Shean ngopi disana, tempatnya sih tidak terlalu besar, tapi kopi dan cake yang dijual disana enak-enak semua”. Jenny memberitahu ayahnya tentang tempat nongkrong kita berdua.


“Atelier katamu? Sepertinya aku mengenal tempat itu”


“Sudirman ya.. Sebentar” Ia mengecek ponselnya dan mencoba menelepon seseorang.


Kami berdua heran, apa mungkin ayah Jenny tau tempat dan pemilik toko itu. Kita berdua saling pandang dan tak ada yang berbicara.


“Hallo.. Susah sekali menghubungimu” Seru nya kepada seseorang yang ia hubungi. Ia meletakan smartphone nya di meja dan me-loadspeaker panggilan. Di Ponselnya itu tertulis sedang menghubungi seseorang bernama Dirman (Alumni SMA Harapan Mulia).


“Hallo, dengan siapa saya berbicara?” seseorang dalam panggilan menanyakan siapa gerangan yang menelepon pada waktu malam seperti ini.


“Aku Renaldy, sudah lupa rupanya kau ini Dirman!” bentaknya. Kami hanya bisa diam, apa mungkin itu Pak Sudirman yang kita kenal selama ini.


“Naldy kah! Ya tuhan ini benar Renaldy SMA Harapan Mulia” Pak Sudirman mencoba memastikan jika itu teman baik semasa SMA yang ia kenal dahulu.


“Hahahaha. Sehat kau Man..” Kami hanya bisa senyum-senyum dengan pembicaraan mereka yang sedang bertanya kabar masing-masing.


Setelah menutup panggilan, Renaldy membuka kotak cigar berbentuk persegi panjang berbahan kayu di bagian atasnya terukir logo elang berwana emas. Ia memotong ujung cerutu dengan alat khusus.


“Kamu merokok?” Tanya nya sembari menyulut cerutu yang wanginya semerbak.


“I..Iya Pak" jawab ku sedikit ragu dengan pertanyaan nya, namun aku harus jujur tak bisa juga berbohong ke sesama perokok, pasti beliau pun tau itu.


“Ya sudah, ini ada cerutu bagus yang baru kemarin ku pesan” ia menyodorkannya kepadaku.


“Ya ampun, ya sudah ya Pah, Shean.. Aku ke kamar dulu”. Jenny pun berlalu masuk ke dalam rumah meninggalkan kami berdua di situasi yang sedikit awkward.


“Tidak perlu malu, santai saja” Ia mengisyaratkan agar aku menerima cerutu mahal tersebut, bukan main wanginya sangat khas dan menggoda, siapapun yang suka merokok pasti tau nikmatnya cerutu luar negeri.


Meski ini di kota besar, namun di perumahan elit ini banyak terdengar suara-suara jangkrik seperti di kampung, udara pun cukup dingin pada malam hari ini, berteman kopi dan cerutu mahal menjadi pelengkap obrolan malam bersama Pak Renaldy.


Namun begitu, aku masih sungkan untuk berbicara berduaan seperti ini, masih terasa ada dinding yang membatasi kami berdua, mungkin karena jarak usia yang terpaut jauh sekali atau mungkin karena status sosial bak bumi dan langit.


Aku mendengarkan cerita-cerita masa lalunya semasa SMA. Ia juga menyinggung nama Sudirman teman baiknya yang selalu menasehatinya untuk tidak berbuat onar karena dulu Pak Renaldy ini murid badung yang semua guru pun takut padanya.


Suatu waktu sang ketua kelas yaitu Sudirman membuatnya babak belur ketika ia sedang merundung seorang perempuan yang tak disangka ia akan jatuh cinta padanya dikemudian hari dan pada akhirnya memutuskan untuk menikah saat mereka telah lulus kuliah.


“Ceritaku sudah usai ketika Maria telah meninggal, sekarang giliran kalian berdua yang melanjutkan cerita itu” Ungkapnya penuh makna sembari menghembuskan kepulan asap yang terbang ke atas langit tertiup angin malam dan hilang begitu saja.


“Iya pak.. Saya mencintai Jenny dan bermaksud untuk menikahinya, hanya saja....”


“Jangan ragu nak.. Jika kamu mau menikahinya lakukan sesegera mungkin, karena semakin lama maka akan semakin memudar rasa cinta itu. Percayalah, semakin lama hubungan bukan berarti akan semakin baik”. Ucapnya, dan itu ada benarnya.


Bagaimana pun sosok lelaki di sampingku ini adalah seorang yang sudah kenyang akan kepahitan dunia dan telah menelan banyaknya rasa kecewa dalam hal apapun, mungkin juga dalam hal percintaan.


“Saya percaya kepadamu sejak pertama Jenny menceritakan kejadian yang menimpa dirinya karena ulah Damian, jelas saya menyesali itu karena sudah menjodohkannya dengan anak dari rekan bisnis yang ku percaya selama ini. Tak disangka pria itu malah melukai Jenny”. Tuturnya menceritakan semua keluh kesah akibat dari perbuatannya yang berujung petaka menimpa anak gadis yang ia sayangi.


“Semua hanya kebetulan, saat itu pun saya tidak berniat menolong, sama seperti orang-orang lain yang ada disana waktu itu. Hanya saja saya sadar jika itu adalah Jenny orang yang saya kenal”. Aku menjelaskan kronologi kejadian pada saat anaknya di tampar dan di dorong begitu kasar, dan sebelumnya pun sewaktu di mall ia pernah hampir memukul ku karena salah faham.


“Iya saya tau. Jenny sudah menceritakan semuanya dengan rinci. Bagaimana pun itu adalah tindakan mulia yang tidak semua orang akan lakukan”.


“Aku secara langsung merestui hubungan kalian, kamu tidak perlu repot-repot untuk menikahi Jenny. Langsung saja kita tentukan waktunya dan biarkan acara resepsi kita semua yang tanggung, kamu siapkan saja mahar yang bisa kamu berikan. Bahkan uang 10 ribu rupiah pun tak apa selama Jenny bisa ikhlas menerimanya”.  Ia menepuk pundak mencoba meyakinkanku untuk menyegerakan menikahi Jenny.


“Baik pak, dalam dua bulan ini berikan saya waktu untuk berpikir, setelah itu saya akan kembali ke Bapak untuk membicarakan kembali perihal ini semua. Ujarku. Sebulan itu aku butuh waktu untuk menyelesaikan urusan-urusanku yang lain agar tidak ada beban ketika sudah menikah.


“Baiklah kalau begitu, Bapak istirahat dulu”


“Pelayan sudah menyiapkan kamar untuk menginap malam ini, jadi jangan berpikir untuk pulang malam-malam seperti ini ya..” Ucapnya kemudian berlalu menuju kamar tidur.


Masih tak habis pikir dengan semua hal di beberapa bulan ini, semua hal yang membahagiakan datang bertubi-tubi.


“Hei.!” Jenny datang mengagetkanku yang sedang melamun.


“Ku pikir kamu sudah tidur..” Kaget dibuatnya karena tiba-tiba datang.


“Emm.. Hehehe”. Dirinya malah tersenyum-senyum sendiri, jangan-jangan ia menguping semua pembicaraan aku dengan ayahnya.


“Kamu..... Tidak boleh menguping pembicaraan orang lain ya, nakal!” kesal sekali dengan sikapnya yang selalu saja iseng seperti gadis kecil.


“Bukan orang lain, tapi mendengar pembicaraan ayahku dengan calon menantunya, jadi boleh-boleh saja dong” Ucapnya membalikan kalimat yang ku pakai.


“Dasar..!, Sudah.. Sudah.. ayo tidur” Ajak ku untuk segera tidur.


“Eh.. Eh.. Sabar ya sayang, tidur barengnya nanti kalau sudah menikah” Makin geram dibuat anak ini.


“Jenny!!!!!!”.


“Hahahahahahaha” Ia berlari dan tertawa keras terdengar di seisi ruangan.



Ilustrasi Jenny dan Shean


...****************...