
Persiapan sudah selesai, beberapa perlengkapan kemah seperti tenda, kursi portable dan alat masak sudah selesai aku packing dan aku jejalkan di tas ransel khusus untuk mendaki gunung. Kali ini tempat yang akan di tuju adalah situs purbakala di sebuah bukit di daerah pegunungan di Cianjur.
Perjalanan akan ditempuh dengan mobil jeep milik Erik yang juga teman semasa kuliah yang saat ini sudah menjadi peneliti resmi dari pemerintah dan beberapa waktu lalu ia mengajak sekaligus meminta bantuan untuk turut serta dalam proses penelitian untuk penerbitan jurnal arkeologi terkait bebatuan dari reruntuhan kerajaan di tempat yang akan kita tuju.
Masih dalam perdebatan para ahli arkeolog tentang situs yang diberi nama situs Rahaya itu, ada yang menyebutkan berasal dari kerajaan pada 8.000 tahun silam dan juga ada yang menyebutkan lebih dari 10.000 tahun yang lalu, sampai hari ini peneliti masih gencar mencoba mengidentifikasi kebenarannya.
“Shean, aku akan menjemputmu sekarang kamu siap-siap ya” pesan baru masuk dari Erik agar aku bersiap-siap karena akan berangkat pada jam 5 pagi.
Mulanya hanya aku dan Erik saja yang akan berangkat, tetapi Jenny beberapa hari lalu memaksa untuk ikut dengan dalih mencari inspirasi baru untuk disain-disain yang sedang ia kembangkan di tempat kerja, karena sedang mengalami kemunduran sudah seminggu ini belum ada disain baru yang orisinil yang bisa ia buat.
Aku tak dapat menolak permintaanya dan juga Erik sudah setuju, tak masalah mau membawa 2 atau 3 orang, terpenting tidak mengganggu selama proses penelitian kami berdua.
“Je.. Ayo siap-siap”. Pintaku untuk ia bergegas keluar dari kamar mandi dan segera menyiapkan barang bawaannya.
“Iya sebentar” sahutnya dari bali pintu kamar mandi karena hampir setengah jam ia mandi dan belum kunjung selesai.
Tepat jam 5 Erik datang dengan mobil Range rover warna hitam, dan membunyikan klakson beberapa kali menandakan ia sudah sampai di depan rumahku.
“Shean.. Lama tidak jumpa kawan!” tanyanya basa-basi disusul tawa khasnya. setelah berbincang sebentar melepas rasa rindu dengan teman lama, kami lanjut berangkat mumpung masih pagi.
“Ayo langsung saja kita berangkat”. Ajaknya seperti tak sabar ingin segera sampai di tujuan.
Sepanjang perjalanan, kami bercengkrama berbincang-bincang karena lama tidak bertemu bahkan terkahir bertemu itu tahun lalu ketika ada acara reuni angkatan dari jurusan Arkeologi dan aku datang ke acara ketika masih bekerja sebagai seorang office-boy, banyak dari teman angkatan yang mencemooh diriku dan hanya Erik yang tidak mempedulikan itu semua dan membelaku pada saat itu.
Temanku ini memang pandai sekali bergaul dan dengan cepat bisa akrab dengan siapa saja, pembawaannya yang riang bisa memecah suasana. Tak ayal sepanjang perjalanan selalu ada saja topik pembicaraan.
“Asal kamu tau ya, Shean itu susah sekali bergaul, kebiasaan dia itu sendirian di perpustakaan dan bahkan makan siang pun sendiri di kantin.. Kalau bukan aku yang menegurnya terlebih dahulu sepertinya dia tidak akan memiliki teman selama kuliah”. Cerocosnya memberitahu masa-masa disaat aku kuliah.
Memang benar, jika dahulu aku lebih tertutup tidak seperti sekarang ini. Cenderung menghindari untuk bergaul karena tidak ada ketertarikan lain selain membaca buku tentang situs-situs Arkeologi dunia.
Jenny tertawa mendengar Erik bercerita tentang diriku semasa kuliah, ia tertarik lebih jauh lagi dengan menanyakan berbagai hal seperti apakah aku dulu memiliki pacar atau bagaimana pergaulanku dan hal lainnya.
Tak lama setelah memasuki area tol, kami singgah beberapa saat untuk sarapan di rest area yang terlihat masih sangat sepi. Kami membeli makanan-makanan instant seperti onigiri nasi kepal yang dibalut selembar rumput laut dan teh hangat, aku memilih kopi dan roti kemasan sebagai menu sarapanku. Bertiga kami duduk di area food court untuk sarapan dan sejenak menghirup udara pagi hari yang masih segar belum terkontaminasi oleh banyaknya polusi kendaraan.
Cuaca sedikit mendung disertai gerimis dan angin kencang dari arah barat. Rasa dingin menjalar menelusup kedalam jaket tebal yang ku kenakan. Rasa dingin dan kantuk tak dapat ku sembunyikan, karena biasanya aku masih berselimut dan menikmati mimpi indah di kamar.
Sebaiknya kami segera ke mobil dan melanjutkan perjalanan.
...----------------...
Situs Rahaya ini dibuka pada tahun 70an namun sempat terhenti dan menjadi situs terbengkalai sampai akhirnya pada tahun 2004 situs diresmikan pemerintah menjadi cagar budaya. Saat ini sudah banyak literatur yang membahas, baik buku maupun jurnal-jurnal ilmiah. Meski begitu peneliti lokal maupun mancanegara masih melanjutkan penelitiannya dan membuka sedikit demi sedikit tabir yang menutupi kebenaran dari situs.
Termasuk aku pun menaruh penasaran. Mulai dari bentuk dan juga perkiraan era nya pun jauh sekali, taksiran peneliti situs ini peninggalan dari 8000 tahun yang lalu mungkin lebih, jelas aku semakin tertarik untuk meneliti dan menemukan petunjuk lain.
Jalanan terjal bebatuan mulai terasa menyulitkan kendaraan yang kami gunakan, beberapa kali dibuat repot dengan bebatuan besar dan juga tanah yang basah karena gerimis. Kali ini Erik benar-benar diam tanpa kata fokus pada jalanan di depan.
“Sial.!” serunya, menghindari tebing batu yang hampir saja ia serempet.
Jenny mengaitkan tangannya ke lenganku, ia pun merasakan tegang karena takut dengan kondisi jalan yang mulai tidak ramah. Beberapa kali ia terbentur ke jendela kaca mobil karena hentakan mendadak ketika menerabas jalan bebatuan yang juga licin.
Mobil mulai memasuki tanjakan sekitar 200 meter panjang perjalanan dengan kondisi curam tanpa ada sisi pembatas jalan, butuh skill yang hebat untuk bisa menaiki tanjakan dengan kondisi jalan kerikil dan basah. Namun itu tak ia indahkan, Erik terus menancap gas, dan berkelok-kelok menghindari jalan yang berlubang.
Bunyi deru mesin mobil kian terdengar kasar ketika hampir masuk di puncak tanjakan, dengan hati-hati Erik mengatur pedal gas agar mobil tidak terjungkal karena kemiringan 80 derajat tanjakan yang sangat berbahaya, salah sedikit saja, kami akan terjungkal ke jurang.
Sesampainya di puncak, kami berhenti di area khusus untuk parkir kendaraan. Erik masih saja diam memegangi kemudi , wajahnya pucat pasi tak berkutik.
“Pak Erik baik-baik saja?” Tanya Pak Yana yang menjadi guide kami.
“Sebenarnya aku takut sekali, sumpah!” ujar Erik dengan raut wajah ketakutan.
Beruntung kami bisa selamat berkat kepiawaiannya mengendarai kendaraan besar Range rover yang memang di khususkan jadi kendaraan dari kantor untuk medan terjal seperti ini.
Kami keluar dan beristirahat sejenak di pos penjagaan, disana ada ibu-ibu paruh baya menjajakan dagangan berupa gorengan juga kopi serta minuman lainnya yang siap seduh. Istirahat sejenak menikmati udara dingin dengan rintik gerimis yang masih saja belum ada tanda-tanda akan usai.
Aku memesan beberapa potong gorengan tempe juga tahu yang dibalut tepung masih hangat karena baru dimasak oleh si penjual, Kopi dan juga teh hangat tak lupa aku pesan untuk kami berempat.
“Lumayan buat ganjel perut” aku menyerahkan bungkusan gorengan ke meja di pos penjagaan tempat kami beristirahat.
Erik tak henti-hentinya berceloteh tentang pengalaman pertamanya mengendarai mobil ke tempat terjal seperti ini, kami mendengarkan dan tertawa dengan tingkah lucunya memperagakan gerakan ketika ia menyetir mobil berbelok menghindari kubangan.
Meski jalan nya cukup besar untuk dilewati satu mobil, namun hancur karena erosi dari tebing yang mengakibatkan tanah berlumpur menutupi sebagian jalan dan menjadikan jalannya licin pada saat hujan seperti sekarang.
“Ternyata kamu jago juga ya Rik!” pujiku berkat skill mengemudinya yang tidak bisa diremehkan.
“Bukan jago, Kepaksa itu namanya. Salah sedikit bisa mati kita semua!” ucapnya disertai gelegar tawa dari kami berempat.
Rencananya kami disini selama 2 hari untuk penelitian. Kami akan mendirikan tenda di area peneliti dekat dengan situs, karena hanya di tempat itu yang dekat dengan sumber air dan tempat penelitian, jadi masih ada sekitar 30 menit perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju bukit selanjutnya dari pos penjagaan.