
"Aku janji pasti pulang secepatnya, kamu jangan khawatir ya sayang" Ucapku dan memeluk tubuh Jenny dengan erat seolah kita tak akan lagi bertemu dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Aku pun memasuki pesawat lalu duduk di kursi penumpang untuk mengantarku ke eropa 16 jam lamanya sampai tiba di Prancis.
Jarak yang jauh membutuhkan waktu tempuh yang lama juga, selama 2 jam di dalam pesawat aku telah melakukan banyak hal, seperti nonton mendengarkan musik juga bermain game dan itu belum cukup untuk bisa menghilangkan kebosanan ku saat ini.
Ku atur posisi dudukku mencoba untuk rileks, namun pikiran seolah tak membiarkanku untuk tenang selama perjalanan. Banyak hal yang ku pikirkan termasuk Jenny, meski ia tadi bersikap biasa-biasa saja, namun aku tau jauh di lubuh hatinya ia merasakan sedih ketika harus ku tinggalkan sementara menuju Prancis demi bertemu saudari jauh yang ku miliki.
................
"Kamu kenapa?" Tanya ayahnya Jenny bingung dengan keadaan putrinya yang sedang termenung sendiri di bangku taman belakang rumah.
"Tidak ada" jawabnya singkat tanpa mempedulikan kehadiran ayahnya yang mendekat duduk di hadapannya.
"Kamu doakan saja, semoga Shean selamat selama perjalanan dan segera pulang setelah urusan disana selesai". Ayahnya seperti mengetahui kegelisahan putri tercintanya itu dan mencoba menyemangatinya dengan terus memberikan wejangan-wejangan tentang kesabaran.
"Nak, ada yang mau papah berikan kepadamu" ucap ayahnya.
"Emm.. apa pah?".
Sebuah kalung dengan liontin berbentuk kunci di letakan di jemari Jenny. Mata jeni terbelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat, itu adalah kepunyaan ibunya yang pernah Shean beri tahu pada foto lawas mereka.
"Bukankah ini milik mama?" tanya Jenny yang mulai penasaran dengan pemberian ayahnya.
"Iya, mama mu menitipkannya pada Ayah untukmu nak" ucap ayahnya.
"Terima kasih pah" Jenny memeluk erat ayahnya.
Ayah Jenny meski menduda, namun ia tidak pernah terpikirkan untuk menikah lagi, bukan karena itu tidak akan disetujui oleh anak-anaknya, akan tetapi rasa bersalah yang teramat dalam yang tidak diketahui oleh siapapun selain dirinya sendiri.
Beberapa banyak perempuan yang mendekat pun tak ia hiraukan, sampai setua ini pun masih saja ada yang mencari-cari celah untuk bisa mendapatkan hatinya Pak Renaldy.
Wanita mana tak mau mendapatkan lelaki yang sudah sukses menjadi salah satu orang terkaya di negara ini, banyak yang rela menjilat demi mendapatkan perhatian atas kerjasama diberbagai sektor bisnis yang ia garap.
Tak seorang pun akan mengabaikan kegadiran sosok tegas pemilik group perusahaan yang sebagaian besar binisnya berada pada level tertinggi di negara, bukan hanya sawit tetapi berbagai macam sumber daya mineral pun menjadi garapan utama dari R.A Group.
"Pah.. kenapa papah tidak mau menikah lagi?" tanya Jenny penasaran apakah selama ini dia tidak kesepian tanpa kehadiran sosok perempuan yang akan mengurusnya.
Percuma ia bertanya, toh ayahnya hanya tertawa sebentar dan tak lagi mempedulikan hal koyol yang ditanyakan putrinya itu.
Banyak yang bertanya dari rekan bisnis, pelayan dan kini anaknya juga yang menanyakan hal serupa yang ia sendiri tak terpikirkan untuk menikah lagi. Namun begitu, Pak Renaldy mencoba memberikan jawaban untuk Jenny, agar itu menjadi pembelajaran yang bisa ia berikan bagi putrinya yang tak lama lagi akan dipinang oleh seorang lelaki baik.
"Pah.. ko diam sih?" Jenny tak akan puas dengan sikap ayahnya saat ini yang terlihat seperti tidak menghiraukan pertanyaan penting dari putrinya.
"Hahaha.. Maaf.. maaf"
"Begini nak, bagi papah pernikahan itu hanya akan terjadi sekali. Tak akan ada yang kedua atau ketigakalinya, kamu tau kenapa?" ia balik bertanya kepada Jenny setelah menjelaskan pertanyaan Jenny.
"Tentu papah sayang dan cinta dengan Meri, tapi bukan itu saja alasan kenapa tidak menikah lagi".
"Karena, Papah sudah memiliki kalian bertiga, tak ada lagi yang Papah inginkan selain melihat kalian semua bahagia" ujarnya penuh kelembutan karena bagi orang tua kebahagiaan sang anak adalah hal utama yang tidak bisa tergantikan oleh hal apapun.
Jenny terharu mendengar penuturan ayahnya, begitu besarnya rasa cinta sang ayah kepada keluarga. Itu pun yang sedang ia raih saat ini, mendapatkan cinta yang begitu besar dari Shean, kemudian menikah memiliki anak dan mengajarkan semua hal-hal baik yang pernah orang tua ajarkan kepadanya.
"Baiklah.. Papah mau istirahat dulu, kamu jangan kebanyakan bergadang ya nak" Ucap sang ayah yang kemudian berlalu meninggalkan Jenny sendirian.
"Iya Pah".
Malam itu ia tidak ada niat untuk tidur sebelum mendapat pesan atau panggilan dari kekasihnya yang sedang pergi ke tempat yang sangat jauh di negara Eropa. Ia menyeruput pelan kopi susu yang masih terasa panas dan menghela nafas panjang mencoba menenangkan pikirannya sendiri karena jauh dari Shean.
Semoga semuanya baik-baik saja.
Meski Shean memintanya untuk tidak mengkhawatirkan dirinya, namun Jenny tetaplah seorang perempuan yang sedang dimabuk asmara, setiap saat ia membutuhkan kehadiran sosok yang ia cintai tak ingin berjauhan seperti saat ini yang begitu membuatnya tersiksa. Mungkin ini adalah rasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Sebelum pergi, Shean sempat menitipkan kucing peliharaannya kepada Jenny, khawatir jika nanti kucing kesayangannya tak mendapatkan makanan selama ia pergi ke Prancis.
Ada juga titipannya berupa kotak kardus berukuran sedang. Didalamnya ada beberapa dokumen juga peta yang pernah ia lihat dikamar Shean.Semua barang-barang itu ia simpan di lemari dan terkunci rapat karena permintaan Shean agar barang-barangnya mesti diamankan tanpa ada siapapun yang mengetahui selain Jenny.
----------------
Pesawat mendarat pada tengah malam di bandara internasional Paris-Charles de Gaulle, 16 jam lebih lama dari biasanya, dan itu membuat badanku terasa pegal semuanya. Aku ingin cepat-cepat sampai di hotel yang sudah ku pesan sebelum keberangkatan kemarin, ingin segera mandi dan merebahkan badan agar esok bisa segar kembali.
Saat itu di dalam surat yang ku baca dari Geany, katanya ia akan cepat mengetahui jika Shean sudah tiba di Prancis, namun tak ada tanda-tanda apapun jika Geany akan mendatanginya.
Aku berpikir sejenak dan mulai faham dengan situasi saat ini, tentu saja Geany akan mengetahui aku ada dimana, karena Black Card yang ku gunakan bisa dengan mudah ia lacak keberadaan si penggunanya sedang berada di mana.
Masih sering ku pikirkan tentang keluarga ini, apakah benar jika keluarga Beaufort memiliki aset melimpah? Karena aku tidak melihat nama Geany Beaufort atau siapapun dengan nama belakang itu ada pada jajaran orang penting di negara Prancis, atau di kancah internasional.
Seperti ada kabut misteri yang menyembunyikan keberadaan keluarga ini dari dunia. Yang menjadi catatan adalah ratusan bank mau berafiliasi dengan keluarga Beaufort dengan menerbitkan kartu khusus yang bisa di akses di semua negara, bahkan mungkin di daerah terpencil di benua Afrika sana.
Aku mencoba menarik suatu kesimpulan. Keluarga ini tak dikenal oleh dunia, namun bergerak secara rahasia untuk melawan, melemahkan organisasi jahat yang meneror orang-orang dengan perbuatan kejinya dalam operasi pencarian benda-benda peninggalan kuno yang tersebar di berbagai belahan dunia. Mungkin juga keluarga Beaufort adalah semacam Knight of Templar yang sedang melindungi sejarah dunia yang begitu banyak.
Pikiranku terlalu banyak menebak-nebak situasi sampai aku terasa geli sekali jika membayangkan sosok Geany adalah seorang Knight of Templar yang banyak ditulis di dalam buku sejarah dan ditulis menjadi novel-novel indah best seller.
Andai keluargaku entah itu Ayah atau Ibu menceritakan semuanya, mungkin aku tidak akan kebingungan seperti sekarang. Kakek pun tidak pernah membicarakan lebih jauh tentang keluarga Beaufort, menurutnya saat itu aku lebih baik mencari jalan hidupku sendiri daripada harus terbuai dengan cerita-cerita tentang masa jaya keluarga.
Saat ini aku hanya bisa menebak-nebak seperti apa kehidupan seorang yang terlahir di keluarga Beaufort yang penuh dengan kerahasiaan.
“Baiklah, sepertinya aku tidak perlu khawatir untuk menemui wanita itu”. Gumamku dan mencoba untuk beristirahat dengan tenang pada malam hari ini setelah lelah seharian hanya duduk di dalam pesawat.
...****************...