Shean & Jenny

Shean & Jenny
Badai & Kenangan Tentangnya



Jam 10 malam, kami pamit dari Atelier untuk pulang, tak lupa juga beberapa bingkisan yang berisi kue-kue buatan Pak Sudirman kami bawa untuk di rumah.


Lega rasanya jika hidup di kalangan orang-orang baik, membuat hidup pun jadi lebih positif, tanpa perlu memikirkan mereka akan melakukan apa padaku di kemudian hari.


Seperti sebelumnya, aku mencoba bergaul dengan beberapa orang sewaktu masih menjadi mahasiswa semester awal. Alih-alih menjadi akrab, ternyata mereka hanya memanfaatkan ku saja.


Sejak saat itu aku tidak lagi mau mempercayai siapapun.


“Shean kami duluan kalau begitu. kamu tidak apa-apa pulang sendirian?” tanya ayahnya Jenny.


“Tenang Pak, aku sudah memesan ojek online”.


“Terima kasih ya, ini semua berkatmu. Kamu bilang jika saya banyak membantumu kan?, sebenarnya, secara tidak sadar kamu juga sudah banyak membantu saya dan Jenny. Jadi jangan terlalu memandang rendah dirimu, Saya yakin, suatu saat kamu bisa membahagiakan Jenny” kalimat itu selalu menjadi nasehat utama yang ia katakan kepadaku bahkan sejak pertama kali bertemu dengan Pak Renaldy.


“Lain kali mampir ke rumah ya Shean..” ia masuk ke dalam mobil.


“Tiati di jalan ya sayang..” pesanku kepada Jenny.


“Tentu, kamu juga ya”.


“Dahhh..”.


Untuk sejenak, aku melupakan semua pekerjaanku dan segala hal tentang yang aku lakukan, aku benar-benar bahagia saat ini bisa mendapatkan perempuan cantik, ayahnya pun sangat baik dan merestui hubungan kami. Bertahun-tahun hidup tanpa kasih sayang orang tua membuatku lupa akan rasanya kehangatan keluarga.


Dan sosok ayahnya Jenny memberikan itu kepadaku ketika kini sudah beranjak dewasa, meski masih canggung tapi aku bisa menikmati semua momen, semua obrolan dan nasehat-nasehat, sebagai bentuk kasih sayang orang tua kepada seorang anak.


Rasanya seperti memiliki seorang sosok ayah yang sebenarnya. Ia begitu peduli kepadaku, bukan karena persoalan beasiswa kuliah atau merestui hubunganku dengan Jenny saja.


Pak Renaldy memberikan ku nasehat-nasehat tentang hidup, bagaimana sudut pandangnya terhadap kehidupan yang ia jalani selama ini.


Meski serba kekurangan akan tetapi tak mematahkan semangatnya untuk berubah, dan aku pun terbawa dengan semangat lelaki tua itu dalam mengejar karir dan membangun kebahagiaannya sendiri.


Setibanya di rumah, aku membereskan berbagai macam perabotan dan merendam cucian yang sudah seminggu ini menumpuk tak ku bersihkan. tak lupa mengisi ulang air dan makanan kucing kesayangan.


“Maaf ya, kamu bakal sering aku tinggalkan sendirian...”. Ucapku pada Miu.


“Miaw..” Jawabnya, entahlah apa yang ia katakan, mungkin sedang protes karena keseringan ditinggalkan sendirian di rumah atau hanya ucapan meminta jatah makan lebih banyak.


Tak biasanya Miu masuk ke dalam kamarku dan merebahkan dirinya di kasur disamping kiri. Ku belai lembut rambutnya yang lebat dan halus, semakin lelap ia pun tertidur dan mendengkur keras ‘purrrr purrrr purrrr’.


Dengkurannya membuat nyaman dan menstimulasi otak ku untuk beristirahat dan tidur seperti Miu yang saat ini sudah terlihat lelap tertidur dengan posisi telentang memperlihatkan perutnya yang buncit.


Ku pejamkan mata dan mencoba memikirkan hal-hal indah yang terjadi hari ini. Sebuah kecupan dan perangai yang membuatku semakin gila karenanya. Semakin lama kesadaranku semakin buram kemudian terlepas dari raga menuju alam mimpi yang tak bisa ku jangkau batasnya dimana.


Aku hanya ingin tertidur pulas malam ini.


...----------------...


“Jean!!.. Jean!! Hoi sadarlah..!” Teriak seseorang memanggil-manggil namaku.


Plakkkkkkk.


Tamparan keras di pipi kanan ku membuatku tersadar sepenuhnya dan terlihat darah mengucur dari pelipis, sekujur tubuh terasa kaku, sakit tak tertahankan, aku meringis kesakitan sampai Juan teman yang ku kenal di kapal memapah ku untuk berdiri.


“Ayo bangun... Kita harus segera keluar dari sini”. Aku belum mengerti apa yang ia katakan, sampai sebuah benturan terasa begitu hebat, kami berdua terpelanting ke dinding kapal di ruangan tempat tidur para anggota tim penjelajah.


“Argggggghhh... Kakiku!” balok kayu padat menimpa kaki kiri, rasa ngilu dan sakit semakin terasa sekali. Namun itu tak menyurutkan ku untuk bangun menyelamatkan diri dari situasi pelik.


“Juan.. Juan.. Kamu dimana?” Teriak ku memanggil namanya, ku dengar rintihan seseorang tak jauh di belakangku dan ku hampiri dirinya namun terlambat “Juan..!!!!! Bagaimana ini bisa terjadi!!, Hoi Bangun !!!”. Badannya telah kaku dan darah mengalir dari belakang kepalanya akibat benturan tadi.


“Cepat.. Cepat...” terdengar teriakan beberapa orang di geladak kapal.


Ku paksakan untuk berdiri menuju atas kapal dan meninggalkan jasad Juan yang tergeletak di lantai "Maafkan aku kawan”.


Susah payah aku menaiki anak tangga menuju geladak kapal, belum sampai ke atas, tiba-tiba ombak besar menghantam meluluh-lantakkan kapal. Tubuhku terdorong bersama hantaman keras air.


Aku tenggelam di dalam kapal yang semakin lama semakin menjauh dari permukaan. Dengan sisa-sisa tenaga aku mendorong tubuhku untuk naik. Rasa sakit yang semakin menjalar ditubuh tak lagi ku hiraukan, aku hanya ingin hidup, aku harus hidup untuk kembali ke pangkuan Elaine kekasihku tercinta yang tengah menungguku pulang.


Ku kibas-kibaskan kakiku untuk terus bergerak ke permukaan di tengah gelapnya malam dan badai yang terus mengamuk. Dingin air laut semakin melemahkan ku, bahkan untuk bernafas pun sangatlah sulit.


Rasanya ini adalah akhir dari kehidupan yang ku miliki. Pikiranku semakin memperburuk situasi, rasanya ingin menyerah dan menerima semua ini.


Mungkin nasib sudah menuntunku untuk mati di sini, di lautan luas ini.


Seperti ada sebuah bisikan halus di telinga, yang terus memintaku untuk berjuang untuk tidak menyerah mati sebelum mencoba melawan pelik yang tengah mendera.


Untuk kali ini saja aku harus mengerahkan segenap kemampuan agar bisa menuju permukaan laut di lautan luas yang tak ku ketahui ada dimana kami sekarang.


Gemuruh badai yang melanda dan lolongan angin terus menghembuskan rasa dingin yang semakin memperparah keadaan. Aku menggigil hebat, mencoba terus menyadarkan diri agar tidak tertidur.


Sangat bahaya jika aku jatuh pingsan, sudah pasti aku akan mati karena kedinginan dan tak akan ada yang menolongku.


Ku coba untuk melihat sekelilingku, mungkin ada yang selamat dengan kapal sekoci, namun tak kunjung ku temukan, semakin lama semakin deras badai dengan angin yang terus bertiup membuat ombak-ombak besar yang bergelora menghantam tubuhku ini.


Tak ada lagi sisa tenaga. Semakin lama, diriku semakin lemah tak berdaya.


...----------------...


“Arghh.. Panas.. Uhhh” Sengatan terik mentari seperti hendak membakar ku, aku terbangun karenanya dan mendapati diri yang terombang-ambil di lautan luas.


Sepanjang penglihatan tak ada ku lihat tanda-tanda daratan yang bisa ku singgahi. Kini Aku hanya bisa terbaring pada lempengan kayu dari patahan kapal penjelajah. Terus terombang-ambing tak tentu arah.


Setelah terbebas dari amukan badai, kini aku harus berpikir untuk bisa menemukan daratan, karena pakaian basah dan luka di kaki juga tanganku semakin lama semakin memburuk. Dahaga dan lapar dapat ku tahan, namun kaki kanan sepertinya terkilir  terasa ngilu dan nyeri di pergelangan kaki.


“Elaine.. Aku menyesal meninggalkanmu, sungguh” monolog diriku di tengah terik matahari yang kian lama kian menyengat dan ku pun tertidur untuk kesekian kalinya, karena raga sudah lemas tak berdaya.


Suara burung sayup terdengar di kejauhan, ku pun terbangun dan memicingkan mata ke arah suara yang tadi ku dengar. Meski tak terlalu jelas terlihat namun aku yakin itu adalah sebuah daratan yang letaknya mungkin sangat jauh sekali. Dengan perlahan, aku mengayuh dengan tangan kananku menuju daratan.


Hembusan angin dan juga ombak turut mendorong ku menuju sebuah pulau, meski butuh waktu lama namun aku berhasil menyentuh daratan, dengan langkah terseok-seok aku berjalan menuju pantai yang ditutupi pasir putih disana ada sebuah pepohonan rindang yang bisa ku tempati untuk berteduh dari teriknya panas matahari.


“Dimana ini sebenarnya..” Batinku bertanya-tanya dimanakah aku berada kini. Banyak dari pepohonan yang tak ku ketahui jenisnya, selain pepohonan yang biasa terdapat di pantai ada juga pohon-pohon besar yang tinggi menjulang terdapat di rimbunnya hutan tropis yang kini ku pijak.


Beruntungnya aku bisa menemukan pohon kelapa yang cukup pendek, dengan didorong oleh rasa dahaga dan lapar, aku coba menaiki batang kelapa itu dan menjatuhkan 4 butir cukup untuk membasahi kerongkongan yang sudah mengering dan gatal karena belum ada air yang bisa ku minum.


Bagian luar kulit kelapa muda tak terlalu tebal memudahkan ku untuk merobeknya dengan pisau lipat yang ku punya, kemudian menusuk bagian belakang batok kelapa agar cepat dapat ku teguk air untuk mengobati dehidrasi yang membuat kepalaku pening.


Dingin dan menyegarkan di tenggorokan, entah berapa hari tidak minum juga makan. Rasanya nikmat sedikit masam tapi tetap ada rasa manis pada air kelapa yang ku minum sampai habis tak bersisa.


Lanjut ku hantam dengan batu untuk menyantap daging kelapa yang masih sangat muda. Dagingnya lembut tak bertekstur dan juga manis. Nikmat sekali, namun belum cukup untuk meredakan rasa lapar, lalu membuka kembali dua kelapa lainnya. setidaknya hari ini aku bisa mendapatkan asupan nutrisi.


Setelah memperkirakan kondisi dan situasi, ku ketahui bahwa aku ada di sebuah wilayah tropis namun letak pastinya aku pun tak tau, tak ada peta dan hanya ada matahari sebagai penunjuk arah barat dan timur.


Ku raih sebuah batang kayu yang cukup panjang untuk membantuku berjalan menyusuri hutan sebelum malam menjelang. Tak ada kehidupan selain tumbuh-tumbuhan dan beberapa serangga.


Semoga saja tidak ada hewan buas di hutan ini.


Beberapa lama aku menyusuri hutan membawa beberapa jamur yang sepertinya aman untuk dikonsumsi manusia, ada tanaman herbal juga berry liar berwarna merah.


Ku putuskan untuk kembali ke pantai karena hari telah semakin senja, akan sangat berbahaya jika terus berjalan ke dalam. Untuk saat ini aku harus segera menyalakan perapian memasak beberapa jamur yang tadi ku petik di hutan sebagai menu makan malamku.


Ku mulai menyalakan api dengan cara membuat busur dengan tali sepatu dan ranting yang cukup kokoh. Busur digunakan untuk mengebor bagian kayu yang sudah ku lubangi terlebih dahulu, lalu memasukan serat kayu halus untuk membuat bara dari gesekan-gesekan busur di kayu itu.


Meski lelah terus menggesek-gesek busur, namun ini diperlukan untuk membuat bara api. semakin lama gesekan terjadi, serat halus akan semakin panas dan menghasilkan bara kecil.


Ada sedikit asap pertanda ada bara yang sudah menyala, lanjut dengan meniup secara perlahan sampai menghasilkan api dan yang terus menyebar membakar serta kayu dan juga ranting-ranting kecil.


Hal ini biasa ku lakukan di hutan ketika sedang mengumpulkan tanaman herbal sebagai obat yang biasa ku jual ke toko pengrajin obat di negaraku. Tak kusangka, kini keahlian ku itu bisa ku gunakan untuk bertahan hidup di tempat antah-berantah.


Kobaran api membara membuat tubuhku hangat tak lagi menggigil kedinginan akibat cuaca di malam hari yang pasti akan sangat dingin jika semakin larut.


Dengan makanan seadanya yang tadi ku temukan di hutan, ku isi perutku dan beberapa butir kelapa muda menjadi air minum untuk sementara.


Luka di kaki ku harus ku obati terlebih dahulu, takut jika lukanya semakin membesar. Aku menghaluskan beberapa lembar daun Heartleaf yang berbentuk hati dan juga merobek sedikit kain celana untuk tali pengikat.


Setelah itu aku harus membakar luka yang sudah mulai bernanah berbau tak sedap. Meski ragu, namun harus ku lakukan, agar luka cepat mengering.


Ku ambil kayu sebesar jari dengan bara api yang menyala, sedikit ragu tetapi ini mesti ku lakukan. dengan gerakan cepat ku tusuk bara api itu pada luka di kaki ku.


“Arrrrrrggggggghhhhhhhhhhhhh” Rasa sakit yang tak pernah ku rasakan sebelumnya membuatku lemas untuk beberapa saat.


Seketika pikiranku melayang jauh ke masa-masa bersama Elaine di gubuk yang ku punya di pinggiran hutan di Prancis. Ku lihat senyum indahnya, juga kecupan hangat tatkala kami hendak tidur. Aku merindukan saat-saat itu, rindu semua ocehannya, rindu aroma tubuhnya, aku rindu segala hal tentangnya.


Setelah mengikat luka dengan racikan daun Heartleaf, aku baringkan tubuhku diatas rumput beralaskan daun kelapa yang di tumpuk.


Ku coba memahami situasi dan memikirkan hari esok, paling tidak aku harus menjelajah lebih dalam lagi, agar menemukan tempat yang lebih layak tuk ku gunakan menjadi tempat tinggal sementara. Tentu, aku juga harus mencari sumber air tawar untuk minum, karena mengkonsumi air kelapa terus menerus tidak terlalu bagus untuk tubuh.


Entah berapa lama lagi aku harus bertahan di tempat seperti ini, hanya bisa menunggu keajaiban datang agar aku bisa terbebas dari situasi mengenaskan yang menimpa diriku semenjak jauh dari Elaine.


Segala penyesalan pastilah datang terlambat. namun aku harus mengendalikan pikiranku agar terus berusaha untuk pulang bagaimanapun caranya.


“Oh Elaine.. Aku pasti bertahan dan pulang untukmu”.


...****************...