Shean & Jenny

Shean & Jenny
Jalan-jalan



Seperti biasa, aku terbangun di pagi hari dan mengecek jam yang sudah menunjukan pukul 6:21 pagi. sudah sejak dulu terbiasa bangun lebih awal. Namun karena semalam kecapean aku jadi bangun sedikit lebih lama dari biasanya.


Selesai mandi pagi, dan memakai baju yang sudah dikeringkan semalam. Aku lanjut memasak sarapan untuk kami berdua, saat ini sepertinya Jenny masih lelap.


Nanti saja aku bangunkan kalau sudah selesai memasak.


Menu hari ini roti panggang dengan irisan daging sapi dan telor orak arik yang dibumbui lada hitam dan garam. Aku membuat dua porsi berukuran besar.


Tadinya ingin langsung menyantap nasi dan lauk pauk rendang atau semacamnya, namun aku rasa terlalu berat untuk sarapan.


"Selamat pagi sayang... Kamu masak apa" ia datang dengan wajah yang masih setengah ngantuk.


"Aku buatkan ini" Dua porsi besar roti panggang diatasnya ada irisan daging sapi, ada scramble egg dan beberapa potongan sayuran buncis dan wortel yang sudah direbus terlebih dahulu.


Pandangan matanya tertuju pada masakan yang ku hidangkan di meja makan.


"Heh.. Main asal comot. Cuci muka dulu sana.." aku cegah tangannya yang hendak mengambil potongan buncis di piringnya.


"Ih.. pelit". ia pun segera membasuh wajahnya di wastafel.


Pagi ini nampak cerah tak ada awan hitam yang yang menggantung di langit. hanya ada kepulan awan putih di iringi sinar mentari pagi yang menentramkan.


Kami menikmati makanan dengan lahap setelah pulas tertidur semalaman akibat rasa lelah.


"Maaf ya sayang, kamu jadi tidur di sofa" ucap Jenny sembari menikmati setiap gigitan dari masakanku.


"Sudah biasa, tak perlu khawatir yang penting ada selimut itu sudah cukup". Jawabku sekenanya.


"Hari ini kamu ada rencana kemana?" Hari libur seperti ini biasanya Jenny menghabiskan waktu bersama teman-temannya sampai larut malam. Aku hanya memastikan, jika ia tidak ada acara aku mau mengajaknya ke suatu tempat.


"Tidak ada. Hari ini kosong, kalau kamu?".


"Sebenarnya, aku mau mengajak kamu jalan hari ini. ada tempat yang ingin aku kunjungi" Jenny mendengarkan dengan seksama ajakanku. "Ayo, aku ikut". Jawabnya tanpa pikir panjang.


"Yakin mau ikut?" tanyaku dibalas dengan anggukannya yang meyakinkan kalau ia setuju untuk pergi bersama.


"Baiklah.. Nanti kita pergi jam 9".


...----------------...


"Sayang.. Ini kan area pemakaman" ia bergidig takut karena memasuki area pemakaman yang sangat luas dan sepi dari pengunjung.


"Kenapa? kamu takut?". Tanyaku sedikit mengejeknya, sejak turun dari motor ia terus memegangi tanganku.


"Apa sih, jangan begitu" ia semakin kuat memegang tanganku sambil terus berjalan menuju blok F menuju makam dari orang tuaku dan kakek.


"Ini hari ulang tahun pernikahan kedua orang tuaku tepat di 21 Juni, aku biasanya kemari pada saat ulang tahun Ayah Ibu atau hari peringatan pernikahan mereka" Ku tunjukan tempat pemakaman mereka kepada Jenny.


"Ayah.. Ibu.. perkenalkan ini Jenny calon istriku". sapaku kepada mereka dan memperkenalkan Jenny.


Dirinya terlihat tersipu malu ketika ku perkenalkan, ada rona merah di wajah putih nya itu. kami duduk bersimpuh di pusara sembari mencabut rumput yang sedikit tinggi agar kuburan tetap bersih terawat.


"Salam kenal Om.. Tante.., saya Jenny pacarnya Shean, mohon restunya untuk kami berdua".


"Om.. Tante, selama ini Shean sudah banyak menolongku, dan aku banyak merepotkannya". sambungnya turut berterima kasih.


Jenny memeluk tubuhku, ada sedikit haru yang mendera kami berdua. Sayang sekali Ayah dan Ibuku tidak bisa menyaksikan aku untuk berbahagia dengan wanita yang telah ku pilih.


Mungkin sedang kasihan kepadaku yang sudah sejak masa SMA ditinggal orang tua. Berbeda dengan dirinya yang tumbuh besar hidup dikalangan kelas atas, tanpa perlu banyak berpikir tentang masa depan.


Bagiku, ketika semua pergi meninggalkanku yang bisa ku lakukan hanya bagaimana caranya untuk keluar dari kemelut dan bisa bertahan hidup di kota besar seperti Jakarta. Keras perjuangan yang ku lalui, berbekal uang duka dari sumbangan kerabat aku mencoba menyambung hidup dan berusaha untuk bisa menyelesaikan studi sampai selesai kuliah menjadi sarjana.


Tak pernah bisa ku lupakan semua pengalaman pahit dan manis yang ku dapatkan pada masa-masa itu.


Pak Sudirman adalah satu diantara orang-orang yang berhati malaikat yang mau membantu lelaki putus asa sepertiku, sejak SMA kelas 3 aku bekerja paruh waktu pada sore sampai malam hari dengan gaji lumayan 2 juta perbulan.


Berkat dorongan dari beliau, dan semua nasehat-nasehatnya, aku bisa seperti sekarang ini, meski kadang kala ada waktu dimana aku tak sanggup dan mengeluh. Beliau juga lah yang mengajak berbicara disela-sela pekerjaan ketika suasana kafe sedikit sepi.


"Menangis saja jika itu membuatmu lebih baik, tetapi setelah itu kamu harus bangkit dan berusaha agar semua keinginan dan semua harapan bisa terwujud". Ucapnya kala itu ketika aku sedang dalam posisi terpuruk.


...----------------...


"Mau kemana setelah ini?" tanyaku kepada Jenny yang masih diam tak banyak bicara seperti biasanya.


"Terserah kamu, aku ikut saja". ucapnya pelan.


"Ok deh..".


Ku ajak ke hutang mangrove di kota utara disana pemandangannya indah pada waktu sore.


"Aku baru tau ada tempat seindah ini" Ia berbicara sendiri ketika melihat jajaran hutan mangrove dari kejauhan.


Motor matic butut ku parkiran di tempat parkir khusus kendaraan roda dua. Sepertinya sedang tak banyak pengunjung siang ini, terlihat dari kosongnya lahan parkir yang luas ini.


Kami turun dan membeli karcis seharga 20 Ribu rupiah per orang. kami berjalan menyusuri jembatan kayu yang terbuat dari kayu-kayu mangrove yang tersusun sepanjang 200 meter membentang melewati dua hutan.


Beberapa pengunjung nampak sedang menikmati pemandangan sembari membuka bekal yang sudah disiapkan dari rumah, terlihat sorot bahagia. sedikit iri aku dibuat mereka.


Tak lupa kami juga membeli beberapa cemilan dan minuman untuk bekal menikmati keindahan alam yang tidak dapat di jumpai di kawasan Jakarta mana pun, hanya ada disini dan beruntung kami bisa datang di waktu sedang tak banyak pengunjung meskipun ini hari Sabtu malam Minggu.


Kami duduk di gazebo tua yang kayu nya telah keropos namun masih kokoh tak reyot saat kami duduki. Suasana tenang dan angin semilir dari arah laut begitu terasa nikmat dan nyaman.


Jenny bersandar di bahuku dan memejamkan matanya. Sepertinya ia menikmati suasana ini yang belum pernah ia dapatkan. Bagaimana pun aku lebih suka kegiatan luar ruangan, mall dan lain sebagainya tak begitu ku sukai karena yang dilihat hanya itu itu saja, membosankan dan di pantai atau di gunung aku seperti manusia bebas, bisa menghirup udara segar, menikmati keindahan alam dan semua rasa lelah seperti hilang seketika.


"Kamu kenapa sayang.." Ucapku kepadanya yang masih menyandarkan dirinya di bahuku.


"Tidak ada.. Hanya saja......" Ia tak langsung melanjutkan kalimatnya entah karena apa.


"Aku tidak butuh dikasihani, aku kuat menghadapi semuanya sendirian selama ini, dan saat ini ada dirimu, aku bersyukur sekali memiliki pacar pengertian dan mau serius untuk menikah".


Ucapku agar ia tak perlu bersedih atas apa yang telah terjadi di kehidupanku.


"Dulu.. Aku sering mengeluh, apalagi ketika Ibuku meninggal, suasana di rumah jadi berbeda. Ayah pun jadi lebih banyak diam seperti tak mempedulikan anak-anaknya".


"Setelah mendengar ceritamu dan mengunjungi makam keluargamu, aku jadi menyalahkan diriku sendiri. Aku selalu keras membantah keinginan Ayah, dan banyak lagi yang seharusnya tidak aku lalukan padanya. Aku jauh lebih beruntung daripada kamu, tetapi aku....."


"Hahahah... Yang lalu biarlah berlalu, kamu masih memiliki hari esok dan seterusnya. Setidaknya kamu sudah menyadari dan bisa memperbaiki semuanya sejak hari ini, bukan begitu?".


"Iya kamu benar, tolong bimbing aku untuk kedepannya ya sayang.." pintanya, aku pun mengecup kening dan mengiyakan permintaannya.


...****************...