Shean & Jenny

Shean & Jenny
Takdir



Suhu ruangan terasa amat dingin menusuk, faktor cuaca dan juga aku lupa menaikan suhu air conditioner (AC). Berkat itu aku terbangun pada jam 4 pagi dini hari.


Terlalu pagi untuk bangun, aku lantas beberapa notifikasi di ponsel yang dari kemarin malam tidak aku cek karena sedang bersama keluarga Jenny. Beberapa pesan masuk diantaranya kawan-kawan lama di kantor juga Erik yang mengirim beberapa hasil laporan yang sudah disatukan bersama laporanku menjadi dokumen berbentuk format PDF.


"Segera cek di halaman 42, aku minta tanggapanmu". Pesannya berhasil membuatku tertarik, penasaran dengan apa yang ia sudah temukan.


Pada halaman 42 di dokumen tersebut memberikan penjelasan rinci dari jenis-jenis material yang terkandung dari reruntuhan, berupa besi, dan barang tambang lain yang itu merupakan logam-logam yang banyak digunakan pada zaman ini.


Bagaimana bisa?. Teknologi apa yang digunakan untuk memproses material-material ini. Apa mungkin dahulu kala orang sudah bisa memilah jenis-jenis mineral yang terkandung di dalam tanah.


Membaca laporan itu membuatku termenung untuk beberapa saat, mencoba mencari hal lain yang mungkin ku lewati, apa harus kembali meneliti situs itu?. Rasanya akan membutuhkan waktu lama.


Proses penggalian secara menyeluruh akan dilangsungkan pada tahun depan, karena pada saat ini pemerintah belum memiliki anggaran yang cukup untuk menggali dan merekonstruksinya menjadi bentuk yang sama seperti dulu kala.


Terutama butuh literasi yang mendukung, paling tidak ada simulasi pencitraan dari bentuk sebenarnya menggunakan software canggih mesti disiapkan oleh para developer program yang juga ada di bagian tim riset.


"Arggghhhh. Kita kekurangan SDM!!!" geram dengan segala ketidaksiapan para peneliti juga sokongan dari pemerintah. Bisa dikatakan saat ini tim peneliti mengalami kebuntuan.


Tokkk tokkk tokkk


Nyaring suara pintu di ketuk dari luar oleh seseorang. Lantas aku membuka pintu dan disana ada Jenny yang juga baru bangun tidur dan masih mengenakan piyama.


"Pagi.."


"Aku dengar ribut-ribut, ada apa ?" ia melongok melirik kanan-kiri kamar yang ku pakai.


"Selamat pagi.. Tidak ada. Aku hanya ngobrol sendiri" Jawabku dan berpura-pura.


Hehehehhe...


"Aneh sekali"


"Ya sudah, selesai mandi langsung ke bawah sarapan ya sayang" ucapnya, kemudian ia mengecup pipiku.


Deggg!.


Aku hanya terdiam mematung karena kelakuannya itu. Dada terasa sesak, jantungku berdetak cepat tak karuan.


"Hehehe.. Sudah ya sayang, aku mandi dulu" ucapnya, kemudian berlalu dari pandangan.


Seperti lelaki normal pada umumnya, saat ini yang ku bayangkan hanyalah bisa memeluk erat tubuhnya dan mengecup lembut bibir tipis berwarna merah muda. Gejolak rasa di pagi hari yang sulit tuk dj bendung, dan Jenny dengan tingkahnya nya itu menghidupkan hasrat terpendam dalam diriku saat ini.


Sabar ...


Mencoba menenangkan pikiran, aku kembali ke kamar. Sepertinya lebih baik aku untuk segera membersihkan diri agar lebih fresh tidak lagi berpikiran macam-macam.


...----------------...


"Bagaimana tidurmu, nyenyak?" Tanya pak Renaldy.


"Iya nyenyak Pak. Cuma saya lupa matikan AC, dingin sekali jadinya". Jawabku polos sekali, karena memang itulah yang terjadi.


Pak Renaldy dan Jenny jadi tertawa terbahak-bahak saat kami sedang menikmati sarapan. Memang aku tak terbiasa untuk menggunakan pendingin ruangan, dikamar aku pun hanya ada kipas angin yang terpasang di dinding itu pun kalau malam hari jarang dihidupkan.


Menu sarapan hari ini 4 slice french toast with maple syrup di lengkapi beberapa potong stroberi segar. Rasa creamy, manis dan renyah saat gigit. Tak lupa juga secangkir teh hangat yang diseduh dengan sangat apik, rasanya lembut menyegarkan tenggorokanku.


Disela-sela sarapan kami berbincang santai, lebih tepatnya Pak Renaldy yang sedang bercerita tentang masa-masa sekolah dan sewaktu kuliah di jurusan manajemen bisnis.


Ceritanya sangat menginspirasi penuh makna perjuangan yang tak akan ku temukan pada masa sekarang yang semuanya serba instan.


Dirinya hanyalah anak dari keluarga sederhana, saat kedua orang tuanya meninggal ia memberanikan diri merantau ke Jakarta bersama salah satu kerabat Ibunya, dengan di iming-imingi melanjutkan sekolah di ibu kota.


Namun begitu ia tak pernah menyerah, berbekal tekad dan keinginan kuat, ia dan menggelandang seorang diri bekerja siang malam menjadi penjual koran, tukang semir sepatu dan pekerjaan lainnya, mengumpulkan setiap sen yang ia dapatkan untuk bisa bertahan hidup di buasnya Jakarta.


Mungkin itulah mengapa Pak Sudirman juga Renaldy memperlakukan aku sangat baik, karena mereka pernah ada di fase yang sama seperti yang pernah aku hadapi selama ini.


Hujan deras mengguyur seluruh penjuru kota. ledakan petir dan angin yang melolong kencang memberi rasa ngeri untuk keluar menghadapi cuaca ekstrim seperti sekarang.


Ingin segera pulang, namun tak ada cara selain menunggu, mungkin sebentar lagi hujannya reda atau mungkin juga tidak.


"Shean.. Terkait pekerjaanmu, sudah disiapkan. kamu datang saja dulu hari senin besok ke kantor untuk penjelasan pekerjaannya"


"Sesuai yang kamu harapkan, seseorang sudah menyiapkan pekerjaan yang tidak selalu harus sering ke kantor dan bekerja dengan sistem paruh waktu, anggap saja kamu sedang magang." lanjutnya menjelaskan perihal pekerjaan yang ia berikan di sebuah perusahaan kecil masih dari R.A Group.


"Terimakasih Pak, saya jadi terlalu banyak merepotkan Bapak" tak ada lagi yang bisa aku ucapkan selain berterima kasih karena semua hal sudah dipersiapkan secara lengkap oleh ayah Jenny.


"Oh iya, nanti kalian berdua antar aku ketemu Sudirman, lama sekali aku tidak bertemunya" Permintaan ayah Jenny pun iyakan.


"Tenang pah, nanti kita antar Papah reunian" ucap Jenny menggoda ayahnya.


"Semoga cepat reda hujannya". keluhku melihat situasi diluar masih deras dan jadi berkabut.


Pandangan mata mulai kabur, dengan kabut yang turun menyelimuti semua sudut kota, hampir tak bisa melihat apa pun selain air hujan yang turun.


"Ya kalau tidak reda juga, terobos saja. Masa sama hujan saja takut!" Ujar pak Renaldy sembari menghisap cerutu mahalnya.


"Bukan begitu maksudnya pah.. kondisi jalan berkabut, bahaya kalau memaksakan diri di tengah hujan badai berkabut seperti sekarang"


"Lebih baik tunggu saja sampai reda". sahutnya dengan nada kesal karena ayahnya tidak sabar untuk segera bertemu temannya semasa sekolah.


"Ya sudah, papah ke kamar dulu. kabari kalau sudah mau berangkat ya" Pak Renaldy meninggalkan kami berdua di ruang keluarga.


Jenny yang sedari tadi jaga image didepan ayahnya langsung menyandarkan dirinya ke bahuku ketika sang ayah sudah masuk ke kamar.


"Sejak semalam, kamu sama papah terus, aku seperti dilupakan" Ia kesal dengan sikap ayahnya yang selalu mengajak ku untuk berbincang sehingga jadi tidak banyak waktu yang bisa kami berdua habiskan bersama.


"Kamu ini ada-ada saja". ujarku dan mengusap lembut rambut hitamnya yang berkilau indah.


"Ya habisnya... Kamu terus meladeni papah" Rengeknya manja. aku mengerti maksudnya hanya saja kan tidak bagus juga kalau tiba-tiba aku tidak menanggapi ayahnya yang mengajak diskusi atau hanya sekedar berbincang ngalor-ngidul.


"Ikut aku yuk.." ia menggandeng tanganku dan berjalan menuju tangga dan terus lurus sampai ke kamar tidurnya.


"Loh... kenapa kesini? nanti papah kamu lihat dikiranya kita macem-macem". Aku pun melepaskan genggaman tangannya.


"Issshhh... Pikirannya tolong ya..." ucapnya kesal.


Berdua masuk ke kamar yang semua cat dindingnya berwarna putih dan ruangannya lebih luas dari kamar apartemen, bahkan ada balkon tempat bersantai. Andai tidak hujan, pasti aku akan memilih untuk duduk-duduk disana.


"Ini kamar kamu?" tanyaku penasaran.


"Iya" jawabnya singkat.


Ia memberikan sebuah bingkisan yang didalamnya ada foto berukuran kertas A4 dengan figura. Foto itu yang kami ambil ketika di cianjur kemarin.


"Ini buat kamu sayang, jangan lupa nanti di pajang di kamar ya, biar kamu selalu ingat aku terus" ucapnya


Diantara kita berdua, Jenny lah yang paling memikirkan hal-hal romantis seperti ini yang tidak mungkin bisa terpikir olehku. beruntung bisa mendapatkannya karena perempuan ini yang benar-benar telah membuatku merasakan jatuh cinta setiap hari setiap kali aku bertemu dengannya.


"Terima kasih sayang" dan ku kecup lembut keningnya. Puji syukur, karena takdir telah mempertemukan kami berdua dengan segala cara agar kami dapat bersama menikmati indahnya cinta.


...****************...