
Renaldy Azkara, Ayah dari 3 anak yang kini telah beranjak dewasa dan memiliki jalan hidupnya masing-masing. Sering kali ia membayangkan ketiga anak-anaknya itu berkumpul di rumah bersama-sama menyantap hidangan makan malam atau hanya sekedar menikmati senja dengan hidangan teh dan cemilan kue kering di taman halaman rumahnya.. Betapa ia merindukan ketika semuanya masih anak-anak remaja masih merengek meminta dibelikan ini, minta di belikan itu. Kini ia telah semakin tua, dan semakin merasakan kesepian.
Mungkin akan berbeda rasanya, jika saat ini sang istri masih hidup dan menemani waktu luangnya berdua di rumah besar dan mewah. Namun nasib berkata lain, sang istri telah lebih dulu berpulang ke rakhmat-Nya.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
“Ya.. Silahkan masuk”. Ucap Pak Renaldy.
“Maaf mengganggu, ini berkas hasil meeting tadi siang sudah selesai saya buat dan tinggal di tanda tangani saja Pak”. Ucap salah-satu staff HRD dari kantor pusat R.A Group.
“Ok.. Sudah bagus” setelah membaca dengan sangat serius ia menyerahkan kembali berkas tersebut.
“Terimakasih banyak pak”. Bergegas ia keluar ruangan.
Ia meletakan kacamata yang dipakainya dan meminum air pada gelas keramik berwarna putih di hadapannya. Matanya kini terpejam dan memikirkan anak gadisnya yang lebih memilih menjadi seorang designer daripada harus membantu ayahnya melanjutkan bisnis keluarga yang telah menjadi perusahaan terbesar ke-4 di Indonesia.
Bisa saja ia memberikan perusahaan kepada anak pertama, namun ia tau Juan anak pertamanya itu tidak akan mampu mengelola mega korporasi sebesar ini, sebagai gantinya, ia mengabulkan keinginannya untuk menikah dengan perempuan asing asal swiss dan membangun bisnis di negeri itu.
Tinggallah Jenny dan Luna adiknya yang masih menjadi mahasiswi di Jogja untuk mengambil study pertanian.Harapan satu-satunya hanya Jenny, selain dia memiliki kemampuan menejerial yang bagus juga kepribadiannya yang tegas dalam mengambil keputusan-keputusan penting itu bisa menjaga dan mengembangkan perusahaan ke arah yang lebih jauh lagi. Mungkin juga ketika ia menikah dengan Shean, lelaki itu mau menjadi penerus perusahaan selama itu jatuh ke tangan yang tepat, ia berpikir tak ada salahnya.
...----------------...
“Sayang, hari ini kamu ada waktu luang?” Tanya Jenny lewat sambungan selular.
“Ada apa?” baru dua hari kita jadian dan aku masih tidak terbiasa untuk mendengar atau memanggil pasanganku sendiri dengan panggilan sayang.
“Kamu sibuk ya.. Jutek sekali” Ucapnya kesal.
Aku tau yang ia inginkan, dan aku pun rindu ingin bertemu, namun perhatianku di dua hari setelah penelitian terfokus pada studi-studi klasik tentang para pemburu harta karun pada abad ke-19 dan awal abad 20.
“Bagaimana kalau nanti jam 8 malam ketemu di Atelier Cafe, kamu tau tempatnya kan?”. Jawabnya tak tau, dan aku menjelaskan tempat itu disamping pencucian mobil yang saat itu kita berdua secara kebetulan bertemu.
Studi bidang arkeologi pada penemuan harta karun bisa terbilang sedikit, karena para treasure hunters jarang mendokumentasikan secara publik dan biasanya catatan-catatan perjalanan bahkan peta tetap tersimpan di suatu tempat yang sangat rahasia dan butuh beberapa petunjuk untuk bisa mendapatkan.
Memang seperti itu, perburuan harta karun adalah pencarian petunjuk yang mengarahkan pada petunjuk lain dan belum tentu final di petunjuk kedua. Banyak model dan jenis berdasarkan teknologi yang berkembang saat itu. Seperti pada davinci code, sang seniman nyentrik yang mengenkripsi petunjuk pada suatu tabung heksagonal dan jika salah memasukan kode, maka cairan yang terdapat didalamnya akan menghilangkan petunjuk yang ada tertulis.
Disinilah aku berada, pada kebuntuan untuk menemukan petunjuk dari simbol-simbol yang terdapat di reruntuhan situs. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di dalam benakku, namun tak kunjung menemukan jawaban.
PRAAAAKKKK
Nyaring terdengar suara benda jatuh, sepertinya di ruang tamu. Aku bergegas menuju asal suara lalu terdengar suara kucingku yang sepertinya memanjat masuk lewat jendela dan tanpa sengaja mengenai pajangan vas bunga berukuran besar.
“Ya tuhan... ”.
“Kamu iseng sekali ya...” Miu yang ada disana hanya menengadah menatap wajahku yang sedang memegang salah-satu kepingan vas bunga yang hancur.
Namun wajahnya yang menunjukan ekspresi rasa bersalah membuatku luluh tak lagi ngomel karena kelakuan nakalnya yang membuat vas bunga ini hancur, walaupun bukan barang antik mahal, tetapi aku jadi harus membereskan pecahan-pecahan yang berserakan dan aku sangat malas sekali melakukan hal seperti itu. Sangat menyusahkan!.
Setelah selesai membereskan serpihan kecil dari pecahan pas bunga, lanjut mengumpulkan kepingan berukuran besar lalu memasukan ke dalam kantong sampah. Perhatianku tertuju pada bagian bawah vas bunga, ada semacam tulisan, segera aku angkat dan melihat sembilan digit angkat tertera disana yang merupakan sebuah tulisan tangan, dan aku mencoba mencocokan detail dari angka itu dengan catatan-catatan kakek yang setiap nomor yang tertulis sangat identik, sama seperti cara kakek menulis angka pada catatan-catatannya.
Apakah berarti ini petunjuk yang dibuat oleh kakek semasa hidupnya? Lantas untuk apa sampai kakek harus repot-repot menyiapkan petunjuk. Kenapa tidak tulis saja di dalam buku catatannya, kan sama saja. Pikiranku menerawang jauh apa maksud dari semua ini.
Jika benar itu petunjuk maka, ada hal penting yang ingin kakek sampaikan kepada siapapun yang memahami kode berupa sembilan digit angka ini. Fokus pada pikiranku, dan mencoba mengingat-ingat semua kenangan bersama kakek, mungkin saja ada hal yang berguna dari semua ingatan itu untuk memecahkan kode.
Aku jadi mudah terpengaruh hal-hal seperti kode atau yang lainnya, terlalu banyak menonton film petualangan misteri dan juga membaca literatur tentang perburuan harta karun. Melihat angka-angka tertulis di suatu tempat seperti melihat petunjuk dari harta karun legendaris. Sebaiknya aku berhenti dulu dengan semua ini dan menyegarkan pikiranku.
Setengah jam berkendara menyusuri jalanan menuju ibu kota, karena hari ini aku sudah janji untuk bertemu Jenny di kafe.
Sesampainya disana, Jenny sudah lebih dulu tiba dan duduk di ruang non-smoking. Ia melambai-lambaikan tangan nya ketika aku baru membuka pintu kafe.
“Pacarmu?” tanya Pak Sudirman si pemilik kafe.
“Iya pak, baru jadian 2 hari yang lalu” Jawabku.
“Selamat kalau begitu. Sudah sana kasian dia sudah lama nunggu, nanti aku bawakan pesananmu”. Pemilik kafe sudah tau apa yang akan aku pesan dan menyuruhku untuk segera menemui Jenny yang ternyata udah dari setengah jam lalu sampai di tempat.
Kami duduk berhadapan dan saling menatap bercerita tentang banyak menikmati momen romantis di malam hari ini. Tak lama pak Sudirman datang dengan nampan yang terlihat sangat penuh.
“Selamat untuk kalian berdua.. Semoga langgeng hubungannya ya”
“Ini sajian spesial untuk yang baru jadian. silahkan dinikmati” lanjutnya sembari meletakan dua piring berisi strawberry cheese cake dan almond cheese cake dan iced americano minuman yang selalu aku pesan jika ke kafe ini.
“Eh pak.. Terima kasih banyak...” Ucapku bingung sikap dari si bapak tua ini. Tak biasanya ia memberikan menu mewah gratisan kepadaku.
“Terima kasih banyak pak, sepertinya enak sekali” ucap jenny juga yang tak kalah kaget, karena cheese cake adalah makanan kesukaannya.
“Mari.. Saya tinggal dulu”.
“Eh.. Kamu yang memesan ini semua..”
“Sengaja buat suprise ya.. Ini makanan kesukaan aku”
“Uuuuuuuu sayang makasih ya..” cerocosnya tak mempedulikan ku yang bingung mau menanggapi apa.
Jenny menyantap makanannya secara perlahan, menikmati setiap gigitan merasakan sensasi dari potongan-potongan stroberi di bagian tengah kue.
“Emmmmhhh, Yummy”
“Ini lebih enak dari yang biasa aku beli” pungkasnya memuji kue buatan Pak Sudirman.
Bahagia sekali melihatnya bisa berekspresi lucu seperti anak-anak. Tak bisa ku bayangkan kehidupan seperti apa yang menanti kami berdua ketika sudah menikah kelak. Semoga saja ada lebih banyak kebahagiaan yang menunggu kami kemudian hari dan menjadi waktu-waktu yang tak akan pernah tergantikan oleh hal apapun.
“Enak loh, ini coba.. Aaa” ia menyodorkan potongan kue di sendok kecil kepadaku.
Sedikit malu harus menerima suapan seperti itu, beberapa pasang mata pun tertuju pada kami berdua yang sedang kasmaran, maklum baru beberapa hari jadian.
Aku memeriksa ponselku dan membuka pesan dari Erik tentang berbagai macam hasil laporan penelitian dari kontruksi bangunan, dan mineral yang menjadi material bangunan dan hal lainnya. Aku tidak bisa membukanya sekarang jadi aku abaikan pesan, nanti saja aku balas ketika sudah sampai rumah.
Aku menunduk menatap layar smartphone tertulis jam 21:28, empat digit angka yang juga tertulis di bagian bawah vas bunga. Sepertinya aku mengingat sesuatu dari empat angka itu dan ada hubungannya dengan semua catatan kakek yang ada di ruang kerjanya yang sekarang terbengkalai menjadi gudang karena tak punya banyak waktu untuk membereskan ruangan yang dipenuhi barang-barang rusak. Atau mungkin aku yang jadi terlalu sensitif dengan angka, bisa saja semua hal itu tidak ada hubungannya sama sekali.
“Sayang... Kamu pucat sekali” Jenny menyadarkan ku yang tengah melamun.
“Kamu baik-baik saja kan?” tanyanya.