Shean & Jenny

Shean & Jenny
Jam Tangan



Pesan terakhir dari Geany belum sepenuhnya aku percaya, begitupun semua hal yang ia ceritakan, bisa saja semua itu hanyalah karangan nya saja.


Mungkin saja ia mencaritahu terlebih dahulu tentang diriku di internet. di era kecanggihan teknologi informasi sangat mudah untuk mencari tau tentang data seseorang, entah itu mencarinya dari sosial media atau pada mesin pencarian laman website.


Orang tuaku hanyalah pegawai biasa yang tak mungkin terlibat hal-hal berbahaya seperti yang diceritakannya tentang kelompok bawah tanah yang membunuh kedua orangtuaku. Apa motifnya? jika pun itu benar. Kenapa orang tuaku, bukan kakek, jelas dia adalah seorang peneliti yang juga meneliti harta karun Jean Beaufort.


Sangat tidak masuk akal.


Aku lanjut membereskan surat dan map juga catatan itu, kemudian berpikir kembali jika Geany menipuku, lantas buku catatan ini bagaimana? apakah hanya barang yang ia manipulasi saja ataukah...


"Argggg.. Bikin bingung saja!"


Trakkk..


Sebuah benda terjatuh kelantai. Dan kulihat sebuah kartu hitam yang tadi tertulis jika kartu ini bisa digunakan untuk membantuku ke Prancis.


Mungkin sebaiknya aku coba saja untuk membeli barang-barang di toko mewah. Tak ada salahnya mencoba, jika benar kartu ini bisa digunakan untuk transaksi pembayaran maka aku akan mempercayai Geany dan pergi menemuinya di Prancis.


Setelah selesai mandi, aku pun memesan ojek online menuju kawasan selatan di pusat belanja standar internasional yang banyak dikunjungi oleh orang-orang kaya.


Butuh 50 menit perjalanan karena jarak tempuh yang jauh dan kondisi jalan raya macet pada jam kerja seperti sekarang ini.


...----------------...


Aku berjalan ke arah lobby membaur bersama para pengunjung Mall lain yang kebanyakan anak-anak muda kaya dengan tampilan mencolok dengan gaya stylist, meski menurut aku itu terlihat berlebihan dan norak.


Sesampainya di lobby barat, aku melihat-lihat jajaran butik ekslusif yang sangat beragam jenis produk yang dijualnya.


Ku putuskan untuk masuk ke sebuah toko jam tangan brand yang cukup terkenal yang banyak digunakan oleh artis-artis ibu kota.


Jenisnya beragam dengan harga yang diluar nalar, sebuah jam tangan digital berwana hitam harganya 29 juta rupiah.


Gila!. Pekik ku dalam hati, bisa-bisanya jam tangan seperti itu harganya seperti sebuah motor keluaran terbaru.


"Maaf tuan, ada yang bisa kami bantu?" ucap seorang lelaki yang tadi sedang melayani pembelian dan kini beralih ke padaku yang sedang kebingungan karena harga-harga jam yang sangat tidak masuk akal.


"Emhh.. Anu. Saya mau cari jam tangan untuk pacar saya". Ucapku dengan terbata-bata karena tidak biasa masuk ke toko eklusif kelas atas.


"Oh baik kalau begitu, silahkan duduk, saya akan bawakan beberapa contoh jam tangan wanita best seller di tempat kami". Ucapnya sopan dan sangat membantuku yang tengah kebingungan.


Tak lama ia menghadirkan 3 kotak berisikan jam tangan yang tadi ia sebutkan. Semuanya terlihat bagus dan ada satu yang menarik perhatianku, jam tangan model analog berwarna pastel yang warnanya mengingatkanku kepada Jenny, dia suka warna-warna teduh seperti ini.


"Sepertinya tuan tau barang-barang mewah seperi ini ya, ini kebetulan limited edition dan hanya di jual 500 unit saja".


"Jika tuan tertarik, saya akan siapkan saat ini juga, untuk pembayarannya bisa pakai debit, kredit atau cash juga bisa" ujarnya panjang lebar. kemampuannya merangkai kalimat membuatku terkesima dan tanpa sadar mengiyakan semua ucapannya.


Aku menyerahkan kartu hitam dengan logo elang berwana emas yang Geany berikan kepadaku.


Jika itu kartu mainan atau sama sekali tidak bisa digunakan, maka aku tidak perlu lagi untuk mempercayai semua tipu daya orang yang mengaku-ngaku sebagai saudariku dan mengabaikan semua tulisan di dalam suratnya yang telah membuatku murka.


Apa yang ia tuliskan di kalimat akhir tentang kematian ayah ibuku dikarenakan oleh organisasi berbahaya jelas tuduhan yang serius yang tidak berdasar tanpa bukti apa-apa, jelas itu hanyalah omong kosong seorang penipu kelas teri.


"Tuan, boleh ikut saya sebentar?" tanya seseorang lelaki paruh baya dengan tampilan necis lengkap dasi dan jas berwarna biru terlihat sebagai sosok penting di toko ini.


"Ada apa ya pak?" tanyaku keheranan.


"Tidak ada masalah apa-apa, kami hanya butuh pencocokan data untuk melanjutkan pembayaran". ucapnya sopan.


"Oh.. Baiklah".


Aku masuk disebuah ruangan eklusif dengan segala macam dekorasi-dekorasi mewah memanjakan mata, tak banyak pelanggan yang bisa memasuki area ini karena ruangannya hanya diperuntukan untuk beberapa orang penting saja, dan saat itu aku juga masih heran kenapa aku dianggap sangat penting, apakah kartu itu benar-benar sepenting itu?.


setelah mencocokan identitas diri berupa KTP dan SIM, barulah ia menyerahkan kartu itu kembali kepadaku.


"Tuan, maaf atas semua ketidaknyamanannya. kami membutuhkan autentikasi karena kartu ini tidak pernah kami lihat sebelumnya, kami takut jika kartu ini adalah kartu ilegal atau semacamnya. Setelah menghubungi pihak bank yang berafiliasi dengan toko kami , barulah kami yakin bisa membuat transaksinya". Ucapnya dengan rasa bersalah karena hampir saja mereka menganggap ku penipu yang mau membeli barang dengan kartu ilegal.


"Oh itu tidak masalah, kalau boleh tau. Ini kartu jenis apa, soalnya aku mendapatkannya dari kerabatku di luar negeri" tanyaku dengan sedikit memberi alasan seperlunya.


"Tuan, kartu ini adalah kartu eklusif yang hanya bisa dimiliki oleh keluarga Beaufort. Dan di kartu ini sudah di registrasi atas nama Shean Beaufort, untuk itulah kami membutuhkan kelengkapan data dari tuan, maaf jika prosedurnya cukup lama dan merepotkan". Ia terus menjelaskan berbagai macam benefit dan juga cara kerja transaksi kartu yang sudah terintegrasi dengan 322 Bank di dunia dan tidak ada batas limit pemakaian.


"Bagaimana tuan, apakah jadi membeli jam tangan itu, kami akan berikan harga spesial sebagai bentuk permohonan maaf kami" ucapnya terus merayuku agar jadi untuk membeli jam tangan mewah yang tadi ku pilih.


"Tidak perlu seperti itu, pakai saja harga normal" ucapku mantap dengan barang yang akan ku hadiahkan untuk Jenny.


...----------------...


"Hallo sayang.. Aku sudah ada di lobby apartemen".


"Tolong jemput ya.." ucapku kemudian.


Tak butuh waktu lama, sampai akhirnya Jenny datang menyambut ku di lobby kemudian mengajak ke apartemen miliknya.


"Tumben kamu datang tanpa aku minta.."


"Biasanya kamu tidak mau datang kalau aku belum memaksamu.. Hmmm" pandangan Jenny tajam mengancam seperti sedang mengintrogasi seorang kriminal.


"Suprise kan.." jawabku.


"Iya sih suprise.. Heheh".


"Terima kasih sayang" ia lanjut memeluk ku dengan erat, dan tersadar dengan sebuah tas belanja berukuran kecil yang ku bawa.


"Kamu bawa apa itu?" tanyanya.


"Iya, ini aku belikan kamu sesuatu, but.. close your eyes please" dan ia pun tersenyum kegirangan tak sabar dengan apa yang akan ia dapatkan dari bingkisan yang aku bawa untuknya.


Aku membuka kotak jam tangan itu dan memakaikannya di pergelangan tangan kirinya. Tanpa aba-aba, Jenny membuka matanya dan melihat jam tangan mewah seharga ratusan juta yang ia kenakan.


Ia masih tak percaya dengan apa yang telah ia dapatkan dariku, kemudian melihat kotak jam tangannya yang berwarna serupa dan struk belanja yang aku sendiri tak tau ada di tas belanja.


"Sayang.. Ini serius buat aku? Ini harganya pasti lebih dari 200 juta!!"


"Darimana kamu dapatkan uang sebanyak itu? jangan-jangan tabungan kamu, kamu habiskan untuk membeli jam tangan ini ya?" ia terus bertanya tanpa henti sampai tak tau lagi aku harus menjawab pertanyaannya yang mana.


Untuk menjelaskannya, akan membutuhkan waktu lama, tapi aku harus jujur kepada calon istriku ini, bagaimana pun suatu hari nanti kami akan berumah tangga dan suatu kebohongan akan menghancurkan pondasi rumah tangga yang telah kita berdua bangun.


Aku pun menjelaskan semuanya dari awal, kedatangan paket misterius dari Prancis dan berbagai macam hal yang tertulis didalam surat juga kartu hitam yang bisa untuk membeli apa saja yang aku mau.


"Aku khawatir, sayang".


"Tenang, semuanya baik-baik saja". ku coba menenangkan dirinya yang masih tak percaya dengan apa yang sudah ku ceritakan. Meski begitu, ia terlihat senang dan tak lagi bertanya-tanya.


Di penghujung sore hari kami duduk berdua di balkon, menghirup udara sore hari sembari meminum secangkir teh hangat.


Kami berbincang banyak hal, tentang pernikahan dan sebagainya sampai tak terasa waktu yang terus berputar dan matahari pun surut di ufuk sana.


Aku terus menggenggam lengannya seperti tak ingin lepas tuk berpisah, begitupun Jenny, yang kini menyandarkan dirinya ke pelukanku.


"Aku akan ikut ke Prancis" ucap Jenny.


"Iya sayang" Sebaiknya aku tidak menolak permintaanya, karena takut jika dirinya akan nekat untuk menyusul.


"Aku selalu tidak bisa menolak permintaanmu" ucapku kemudian.


"Tidak bisa atau tidak mau ?" tanya nya dengan nada lembut, membuatku semakin gemas dengan perilakunya itu.


"Dua-duanya!" ucapku, dan ia pun tertawa geli dengan jawabanku.


...****************...


PS : Maaf dua hari kemarin tidak sempat update, dikarenakan sakit. Selanjutnya saya akan selalu update sehari minimal dua bab.


Terima kasih untuk semua pembaca novel ini, semoga kita semua sehat selalu. 🤗


...****************...