
“Kamu terlalu lelah bekerja.. Aku tau kamu belum tidur kan?” tanya Jenny dan aku mengiyakannya, karena memang selama dua hari setelah penelitian aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca literatur-literatur kuno tentang penggalian situs-situs yang sudah banyak ditemukan diberbagai negara.
“Tenang, aku baik-baik saja”. Ucapku untuk menenangkan dirinya yang terlalu mengkhawatirkan ku.
“Sebaiknya kita pulang sekarang yuk..” ajaknya.
Setelah membayar pesanan di kasir, aku dan Jenny meninggalkan kafe menuju parkiran.
“Apa sebaiknya aku antar ke rumah?” tanyanya, karena masih khawatir.
“Aku baik-baik saja, sesampainya di rumah aku pasti tidur”. Meski ia menawarkan bantuan, namun aku tidak ingin meninggalkan motorku di parkiran kafe. Setelah ia mengerti dan yakin aku bisa pulang sendiri, kami pun mengendarai kendaraan masing-masing dan pulang.
Sesampainya di rumah aku mengirimkan pesan kepada Jenny kalau aku sudah sampai di rumah dan mau segera tidur karena kecapean dan ngantuk. Rasa linu dan pegal terasa sampai ke pinggang akibat dari terlalu banyak duduk di kursi dan kurang beristirahat.
Selama beberapa menit pikiran masih saja membayangkan angka-angka tadi yang aku temukan di guci, mencoba mengambil hipotesa-hipotesa dari hal-hal lain yang sekiranya berhubungan.
Sial... Aku jadi tidak bisa tidur.
Aku memiringkan posisi tidurku dan meraih guling lapuk yang tidak pernah dicuci dan memeluknya erat, berharap setelah beberapa menit nanti aku akan tertidur pulas tanpa ada gangguan dari hal apapun.
......................
Gerbang rumah terbuka, dan mobil Jenny masuk perlahan memasuki tempat parkir.
“Bi.. Papah sudah tidur?” Tanya Jenny kepada IRT yang bekerja di rumah ayahnya itu.
“Sejak pulang tadi sore, Ayah Nona ada di kamarnya, barangkali tidur”. Jawabnya seraya membungkuk dan meninggalkan Jenny di ruang depan bagian dari rumah besar ini.
Sesekali Jenny pulang ke rumah. Setidaknya Ayahnya jadi tidak khawatir jika ada anaknya sering berkunjung ke rumah. Kakak lelakinya yang sudah menikah tinggal di Swedia dan pulang hanya jika sedang ada maunya saja. Berbeda dari Kakak pertama, Jenny lebih mandiri sedangkan Juan manja dan sedikit-sedikit meminta bantuan dari Ayah untuk urusan finansial.
Jenny mengetuk perlahan pintu kamar Ayahnya, namun tak ada jawaban dari dalam. Mungkin benar, jika sedang tidur, sebaiknya ia tak mengganggu dan menunggu besok pagi saja untuk sarapan bersama sebelum berangkat kerja. Ia pun berbalik arah menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian yang lebih santai.
“Bi.. Bibi masak apa? Aku lapar sekali” ucapnya sembari mengelus-elus perutnya yang tengah keroncongan karena sejak tadi hanya memakan dua potong kue.
“Oh iya Non, ada rendang dan sayur lodeh nanti bibi angetin dulu, Non tunggu di meja makan nanti Bibi siapkan”. Ucapnya dan bergegas menuju dapur untuk menghangatkan makanan.
“Iya Bi” Jenny pun menunggu dengan sambar di meja makan sembari membuka ponselnya dan membalas chat dari pacarnya.
“Iya kamu istirahat ya sayang.. G’nite sweetheart” isi pesan nya kepada Shean di sertai emoji love dan hugh.
PIkirannya kini melambung jauh mengingat berbagai macam hal yang terjadi di kehidupannya selama ini sampai akhirnya bertemu Shean yang suka rela membantunya saat ia terluka. Begitu polos dan juga baik hati, sikap Shean berbanding terbalik dengan mantan-mantan pacarnya selama ini yang hanya memanfaatkan karena kedudukan Jenny yang kaya raya anak dari konglomerat pemilik perusahaan terbesar ke-4 di Indonesia.
Kenangan pahit tak akan mungkin ia lupakan hanya saja, setelah bertemu Shean ia belajar banyak hal termasuk memaafkan kesalahan orang lain yang telah melakukan hal jahat pada dirinya. “Tidak akan ada hal baik dari membenci seseorang yang sudah melukaimu”. Begitu ucapan Shean kepadanya ketika ia sedang curhat tentang Damian yang selalu bersikap kasar selama mereka berpacaran.
“Ini Nona Jenny, makanannya sudah siap” ia meletakan masakan-masakan yang tadi ia panaskan di hadapan majikannya.
Seusai makan, ia merasa kekenyangan karena terlalu banyak makan. Ia berjalan pelan menyusuri anak tangga menuju lantai dua di pojok sebelah kanan letak dari kamar tidurnya. Kamarnya menghadap langsung ke taman, disana ia sering bermain dengan adik dan kakaknya. Sekilas ia melihat bayangan dirinya sewaktu masih kecil dari balik kaca jendela. Bayangannya menerawang menuju masa lalu sewaktu sang Ibu masih ada untuk mereka. Ia menengok ayunan dan juga bunga-bunga yang tumbuh di taman, beberapa bunga itu peninggalan dari sang Ibu.
Bahkan sampai hari ini, Jenny masih memimpikan jika Ibunya masih ada, pikiran dan hatinya belum bisa menerima kenyataan pahit jika sang Ibu sudah tenang di alam sana. Meski begitu ia tetap mencoba terlihat tegar dan saat ini Jenny harus bisa menjaga Ayahnya yang sudah Tua, satu-satunya orang tua yang tersisa.
————————-
“Selamat pagi Pah..” sang putri menyapa Ayahnya yang sudah lebih dahulu ada di meja makan untuk sarapan pagi.
“Pagi Nak... Kata Bibi kamu pulang malam, darimana saja?” tanya sang Ayah sedikit khawatir jika anak perempuannya berlaku tidak baik diluar sana.
“Aku ketemu Shean di kafe, terus ngobrol-ngobrol lama dan tau-tau sudah jam 10 malam”. Jawabnya memberi alasan, karena memang itulah yang dilakukannya tadi malam.
“Oh Baguslah.. Jangan nakal ya Nak, kamu sudah besar, sudah harus fokus dengan masa depanmu”. Nasehat sang ayah sembari menikmati secangkir teh hangat.
“Bagaimana kabar Shean, sedang sibuk apa dia” Tanya nya basa-basi.
“Shean sedang melanjutkan riset situs yang kemarin kita kunjungi dan sedikit kurang sehat karena terlalu banyak begadang”.
“Oh iya Pah.. Emmm... Sebenarnya..........” Ia belum berani melanjutkan kalimatnya dan masih menimbang-nimbang harus jujur atau tidak tentang hubungan mereka sekarang.
“Kenapa... Cerita saja?”
“Jadi.. Kami berdua..... memutuskan untuk berpacaran dan serius mau menikah”. Ucap Jenny, ia tersipu malu mengatakan hal itu langsung tepat di depan Ayahnya.
“Ya sudah.. Segera menikah saja. Papah sudah restui hubungan kalian” Tandasnya bersemangat karena apa yang ia prediksi benar terjadi jika putrinya sudah jatuh cinta kepada lelaki yang bernama Shean.
“Ko jadi Papah yang ingin cepat-cepat sih!”. Ia kesal karena Justru Ayahnya yang seperti tidak sabar untuk segera melihat anak gadisnya menikahi pria baik yang beberapa waktu lalu ia temui.
“Loh... Memangnya kenapa, kalau serius yang langsung saja menikah, tidak perlu bertele-tele”.
“Kalian tidak perlu repot-repot mengurus acara pernikahan. serahkan saja ke Andre, biar dia yang urus semuanya, dan kalian bisa urus hal-hal kecil saja”. Dan Jenny semakin bingung dengan sikap Ayahnya yang tidak sabaran seperti saat ini.
“Sudah Pah, nanti kita bicarakan lagi, kan perlu ngobrol dengan Shean juga”.
“Iya kamu benar, kalau begitu ajak Shean untuk makan malam di sini, kapan waktunya nanti kabarin Papah ya”. Ucapnya kemudian meninggalkan ruang makan dan lanjut bersiap-siap untuk berangkat ke kantor karena hari ini sang pimpinan perusahaan ada jadwal meeting penting dengan beberapa perusahaan besar Internasional.
Tinggal lah sendiri Jenny di ruang tempat makan, dirinya memikirkan bagaimana caranya menyampaikan ucapan-ucapan Ayahnya tadi yang meminta segera untuk menikah. Takutnya Shean akan menolak karena ini terlalu cepat.
Baiklah... Sebaiknya aku segera bicarakan dengan Shean. Bisik batinnya memberikan ketegasan untuk segera memberitahu dan juga ini langkah untuk mengetahui seberapa serius Shean dengan hubungan ini.
Meskipun tak ada keraguan pada Shean, namun ucapan Ayah ada benarnya, jika serius pasti menikah, terlalu lama pacaran hanya akan membuat hubungan semakin tidak jelas arahnya kan kemana.
...****************...