Shean & Jenny

Shean & Jenny
Geany



Aku terbangun pada pagi hari yang begitu dingin karena AC kamar yang lupa aku matikan semalam sebelum tidur, meski badan sudah bugar namun rasa dingin ini tak dapat ku tahan lebih lama lagi, segera ku matikan pendingin ruangan dan bermaksud untuk mandi.


Namun belum sempat ku membuka pintu kamar mandi, seseorang diluar mengetuk pintu kamar beberapa kali. Mungkin pelayan hotel yang mau mengganti sprei atau membawa sarapan pagi ke kamarku.


Klekkk.


Pintu terbuka dari luar, dibuka oleh seseorang.


“Bonjour” Seorang wanita berparas cantik dengan dagu lebar dan senyum merekah dari bibir merahnya itu membuatku terkesima.


“Oh.. Hai, Geany?” Tanyaku dengan sedikit tergagap karena kecantikan yang terpancar dari perempuan ini tentu bukanlah orang sembarangan, dan ku tebak ia adalah Geany saudari jauh ku yang pernah kakek ceritakan.


Ia pun merangsek masuk tanpa meminta ijin terlebih dahulu dan duduk di pinggiran kasur dengan angkuhnya.


“Perkenalkan, namaku Geany Beaufort, dan kamu pasti Shean ?” ia memperkenalkan dirinya sendiri.


“Aku Shean Beaufort, salam kenal” ucapku, namun ia tak begitu mempedulikannya.


 “Bereskan semua perlengkapanmu sekarang, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Kita tidak ada waktu lagi, jadi bereskan secepatnya, sekarang juga” Perintahnya dengan angkuh sembari menyulut rokok putih yang aromanya sangat berbeda dengan yang biasa ku hisap, bau sekali.


“Kenapa harus terburu-buru, paling tidak tunggu selesai aku mandi”. Tak peduli dengan apa yang ia perintahkan, aku masuk lalu mengunci kamar mandi.


“Dasar anak kecil” dengusnya kesal karena tak mau mendengarkan apa yang diperintahkan nya.


Kesan pertamaku bertemu dengan Geany tidak terlalu bagus. Wanita itu angkuh dan tidak memperdulikan hal lain selain apa yang ia inginkan. Mungkin hal bagus yang ada pada dirinya hanyalah kecantikan yang terpancar seperti wanita dewasa pada umumnya dengan riasan yang mempesona, lelaki manapun yang melihatnya pastilah kan tergoda.


Mungkin saja kesombongannya itu karena kekayaan yang ia miliki atau hal lain yang jauh dari apa yang aku punya saat ini. Hal-hal semacam itu tak akan membuatku gentar, karena bagaimanpun dia membutuhkanku.


Buktinya dia rela memintaku jauh-jauh ke negara ini dengan memberikan kartu hitam yang didalamnya terdapat jutaan dollar yang bisa saja ku pergunakan sesuka hati tanpa perlu mengkhawatirkan apapun.


Hanya karena di dorong oleh rasa penasaran dari surat yang tempo lalu ia kirim kepadaku, aku rela jauh datang kemari untuk mendengarkan semua penjelasannya. Namun begitu, aku masih meyakini apa yang ia inginkan dariku pastilah sesuatu yang besar dan penting, maka dari itu aku tak khawatir dia akan melakukan apa padaku.


Kesal, namun itu tak membuatku berubah pikiran untuk tetap mengikuti alur, sampai dimana aku akan menguak tabir rahasia yang telah ditutup-tutupi oleh keluarga terhadap diriku. Saat ini hanya Geany Beaufort yang menjadi pijakanku untuk dapat mengetahui semuanya.


“Ikut aku” perintahnya dan ia berjalan menuju lorong hotel dan turun di lift khusus yang mengantarkan kami ke parkiran.


Disana terparkir mobil sport mewah berwarna biru miliknya. Kami melaju di jalanan kota Paris yang mulai ramai dengan laju kendaraan dan lalu-lalang orang yang berjalan di trotoar kota.


“Kita akan kemana?” Tanyaku basa-basi membuka pembicaraan.


“Nanti juga kamu akan tau sendiri” Ucapnya ketus.


Jika bukan karena kepentingan, aku tak mungkin mau mengikuti perempuan sialan ini, dari awal bertemu sampai sekarang sikapnya tidak menunjukan seperti perempuan baik dan terus menerus membuatku kesal.


“Hei bisa sedikit pelan, tidak? Kamu sudah gila ya” Ujarku karena ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan menyalip beberapa mobil-mobil besar. Ia tak menghiraukan dan terus menginjak pedal gas, melesat di jalan tol yang cukup ramai.


Mobil yang ku tumpangi meliuk-liuk di jalan raya, tak mempedulikan apapun di depannya, Geany terus meningkatkan kecepatan sampai batas maksimal dari mobil, bahkan beberapa kali hampir menyerempet mobil kontainer.


Mobil keluar dari jalur tol menuju jalan perkampungan, di kanan-kiri terlihat ladang gandum luas sejauh mata memandang. Laju mobil tak secepat tadi lagi, karena jalanan di beberapa sisi sedikit rusak dan berlubang.


...----------------...


“Kita sudah sampai, ikut aku” perintahnya.


Kami masuk lift dan menuju bawah. Aneh sekali, padahal tombol-tombol didalamnya hanya ada tombol lantai 1 dan lantai 2 saja, tetapi kamu turun ke bawah, dan tadi pun geany tidak menyentuh tombol-tombol itu.


“Tenang saja, kamu lebih aman disini”. Ucap Geany lembut tak seperti sikapnya tadi kini lebih ramah dan ia tersenyum-senyum melihatku yang sedang dipenuhi rasa bingung.


Ketika keluar dari lift hal yang pertama ku lihat adalah ruangan luas memanjang dan juga besar terdapat beberapa orang disana yang sedang meneliti sesuatu, ada beberapa artefak kuno dan juga benda-benda bersejarah lainnya.


“Ini adalah peninggalan-peninggalan dari leluhur kita, semua keturunan Beaufort adalah para peneliti dan telah mengembangkan tempat ini dari tahun ke tahun” ujarnya menjelaskan apa yang sedang ku lihat saat ini.


“Tunggu, Sebenarnya kalian siapa?” tanyaku kepada Geany.


Kini kami masuk di ruangan khusus yang tidak ada siapapun didalamnya.


“Aku tau kamu saat ini memiliki banyak hal yang akan ditanyakan. Tapi sebelum itu kamu harus mendengarkan semuanya terlebih dahulu” Geany duduk di hadapanku dan memberikanku sebotol minuman bersoda.


Semua berawal dari seorang peneliti muda bernama Jean beaufort yang terdampar disebuah pulau dan menemukan peninggalan misterius, setelah ia diselamatkan oleh armada Prancis dan membawa beberapa harta karun dan menyerahkannya kepada negara. Sejak saat itu Jean Beaufort diberikan hak penuh untuk mengeksplorasi pulau untuk meneliti lebih jauh harta karun yang tidak sempat terbawa semuanya dari pulau.


Ketika armada selanjutnya pergi untuk membawa sisa-sisa harta karun yang masih tertinggal, beberapa awal kapal mati dengan mengenaskan, tak ada yang tau penyebabnya karena setelah itu para penyintas, kembali berlayar menuju prancis dan hanya beberapa yang selamat dan itu pun dalam keadaan sakit, penyebabnya tak diketahui sampai saat ini pun.


Para penyintas yang selamat coba di obati namun hasilnya mereka menjadi pembawa petaka yang lebih mengerikan. Virus yang menggerogoti tubuh mereka menyebar ke semua orang dan akhirnya seluruh warga Prancis terdampak, warga yang selamat mengungsi ke hutan-hutan dan pedesaan yang jauh dari ibu kota Paris.


Korban yang tewas lebih dari 5 juta tersebar ke semua negara terdekat. Butuh sekitar 15 tahun agar Negara bisa kembali stabil hingga sampai pada hari ini.


“Aku sudah tau tragedi itu semua, lantas apa hubungannya dengan kematian orang tuaku?” Aku tak sabar ingin segera mengetahui kebenaran yang terjadi pada Ayah Ibuku.


“Tenang, aku pasti ceritakan semuanya” Ucapnya.


Ia pun kembali bercerita tentang catatan Jean Beaufort yang ia dapatkan dari acara pelelangan ilegal dengan harga 12 juta Euro, harga yang sangat mahal untuk membeli sebuah catatan kuno, namun dari penuturannya catatan itu berisi tentang jurnal selama pelayaran dan juga hasil-hasil penelitian dari pulau dan juga temuannya.


“ini adalah catatan selanjutnya dari catatan yang aku kirim kepadamu tempo hari” ia meletakan dua buah buku catatan usang yang bentuknya mirip seperti yang ia berikan padaku.


Sembari aku membaca isi dari catatan-catatan itu, Geany menceritakan bahwasanya Jean menemukan sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang sangat berbahaya jika itu dimiliki oleh orang jahat, dan benda itu terkubur dalam bersama dirinya di pulau.


Jean tak menceritakan artefak seperti apa yang ia ia sebut ‘benda terkutuk’, namun diperkirakan itu adalah sebuah batu berlian yang memiliki kutukan didalamnya, dan ini pun hanya spekulasi dari beberapa peneliti yang tergabung bersama Geany, dan masih terus diteliti.


“Aku benar-benar seperti mendengar omong kosong saat ini” Ucapku tak percaya dengan semua perkataan Geany dan juga yang tertulis di buku catatan.


Namun semakin aku mencoba menyangkalnya, setiap tulisan Jean seperti menuntunku pada suatu kebenaran yang sama persis seperti yang telah saudariku itu ceritakan. Tak mungkin ini semua hanyalah karangan dari halusinasi Jean.


“Shean, apakah kakekmu pernah menceritakan tempat ini?” Tanya Geany.


“Hah? Apa maksudmu?” aku semakin dibuatnya bingung, tak tau lagi harus berbicara apa.


“Tentu saja.. Kakekmu tidak akan menceritakan semua ini. Yang ia pedulikan hanyalah anak dan cucunya saja” ucapnya sinis.


“Shean.. Ini semua dibangun oleh kakekmu”.


...****************...