Shean & Jenny

Shean & Jenny
Bagian Terdalam Gua



Terbangun di pagi buta, dengan kondisi gelap dan dingin angin laut yang terasa menusuk sampai ke tulang, menggigil kedinginan tak ada selimut yang dapat mengatasi rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki ke ujung kepala yang sangat tak tertahankan.


Api perapian padam mungkin sudah sejak lama beberapa jam lalu. Namun masih ada bara yang mengepul mengeluarkan asap putih jadi memudahkan ku untuk menambah ranting dan juga kayu yang sudah ku sediakan kemarin sore.


Setelah api menyala, aku membuka butir terakhir dari buah kelapa yang ku panjat kemarin meminumnya perlahan-lahan sembari menghangatkan diri di depan perapian.


Setelah sang fajar menyingsing, dan terlihat sedikit terang aku mencoba untuk menangkap beberapa hewan laut, entah itu ikan, kepiting atau apapun yang bisa ku makan dan mengisi nutrisi tubuh.


Dari kemarin siang aku hanya memakan daging buah kelapa dan beberapa jamur yang ku temukan di hutan. Mungkin kali ini aku akan memakan makanan laut yang kaya akan gizi agar.


Ku susuri pantai, berharap ada sesuatu yang bisa ku temukan untuk menu sarapan pagi ini, mencari-cari dari balik karang dan bebatuan namun tak dapat ku temukan apapun.


Ku coba semakin ke tengah ke bagian pantai yang sedikit dalam dan nihil, aku tak menemukan apapun selain ikan-ikan kecil yang cepat sekali tuk ku tangkap.


“Sial..!!” seekor ikan berukuran kepalan tangan yang cukup besar melintas, ku coba menghantamnya dengan tombak, namun meleset dari sasaran.


“Apa tidak ada hal lain yang bisa ku makan di pantai ini?” gumamku kepada diri sendiri.


Apa boleh buat, sebaiknya aku makan buah kelapa saja. Badan sudah semakin lelah dan sebaiknya menyimpan tenaga untuk nanti siang menjelajah ke pedalaman hutan. Selain butuh makanan, aku pun butuh air segar untuk diminum, tak mungkin aku bisa bertahan jika setiap hari harus meminum air kelapa, harus ada sumber air bersih untuk diminum jika ingin bertahan lama di tempat asing ini.


“Hhhssss... Sial.!” kaki ku tersandung batu dan jatuh menimpa terumbu karang.


Aku gerak merangkak melewati pasir menuju perapian, menyeret tubuhku yang dipenuhi luka dipunggung karena terjatuh. Tak ada lagi hal lain yang ku rasakan selain rasa sakit di seluruh badan, bahkan rasa lapar yang ku rasa sejak tadi seperti tak ada artinya.


Lebih parahnya lagi, luka di kaki ku kembali bersimbah darah, seketika pandangan mata berkunang-kunang dan pusing sekali.


Untuk beberapa saat aku coba untuk berbaring dan memejamkan mata, mengatur nafas agar lebih rileks


Setelah lebih tenang aku membuka seluruh pakaianku untuk dikeringkan oleh panas api yang besar membara, beberapa luka yang ku rasakan sakit coba diobati oleh cairan dari tumbuhan Heartleaf yang kemarin ku bawa dari hutan.


Hari ini aku harus menuju hutan, paling tidak ada jamur atau dedaunan yang bisa ku konsumsi karena hari ini gagal menangkap ikan dan malah menambah masalah dengan beberapa luka baru di bagian punggungku.


...----------------...


Langkah pertama dalam kondisi darurat di tempat terpencil salah satunya adalah mencari sumber air bersih yang layak minum, jika ingin selamat dan bertahan hidup hal ini diperlukan karena sebagian besar tubuh manusia terdiri dari air dan saat kita tidak minum dalam jangka waktu lama akan dehidrasi dan menyebabkan pusing dan sakit kepala seperti yang ku alami kemarin.


Tempat ini sepertinya belum terjamah tangan manusia, semua tempat terlihat ditumbuhi rimbun rerumputan yang sudah setinggi satu meret, bahkan saat aku berjalan tak ada tanda-tanda pernah dibuat jalur langkah.


Berbekal pisau lipat, ku tebas daun dan dahan-dahan yang menghalangi jalan dan pandangan mata. Mencari pada kedalaman hutan sesuatu hal yang berguna, setidaknya ada tumbuhan yang dapat ku jadikan santapan.


Semakin dalam ku melangkah menjadi semakin gelap sinar matahari hampir tak bisa menembus rimbunnya pepohonan.


Aku terus berjalan dengan kondisi medan yang mulai menanjak dan terjal bebatuan, terlalu sulit untuk ku lewati dengan kondisi seluruh badan terasa yang masih terasa sakit.


Ada beberapa pohon pisang liar yang tak berbuah, aku menebas beberapa untuk diambil bagian dalamnya. Batang pisang bagian dalam berwana putih dengan tekstur lembut dan sedikit manis. Lumayan untuk santapan makan malam ini.


Ku coba beristirahat sejenak, duduk di sebuah batu besar yang dan memejamkan mata untuk beberapa saat. Ku dengar alunan merdu dari pepohonan yang bergoyang tertiup angin dan bunyi suara burung yang hinggap di dahannya.


Aku mendengarkan dengan seksama semua suara yang bisa ku tangkap dengan indra pendengaranku, diantaranya ada suara gemericik yang cukup halus terdengar.


“Hemmm.. Suara air, sepertinya ada sungai kecil di hutan ini” ucapku.


Bergegas aku bangun dan melanjutkan perjalanan, setelah melewati batu berundak di balik tebing ada terlihat disana ada aliran sungai kecil dengan air jernih yang mengalir yang belum ku tau mengarah kemana.


“Hahaha.. Air!!!” aku berteriak kegirangan dan berlari menuju sungai kecil yang nampak tak jauh dariku.


Setelah meminum beberapa teguh air segar, ku susuri sungai kecil ini mencari ikan atau udang yang biasanya ada bersembunyi di celah bebatuan sungai. Pikirku pasti ada beberapa jenis hewan air yang dapat ku jadikan santapan, untuk memberi nutrisi tambahan bagi tubuh.


Ternyata benar, beberapa udang kecil berkelompok dengan jumlah banyak terlihat di celah bebatuan yang dengan mudah ku tangkap beberapa. Butuh beberapa menit saja sampai bisa terkumpul banyak sampai suatu ketika pandanganku teralihkan pada sosok ikan sebesar betis orang dewasa.


Aku mengendap-endap agar ikan tidak kabur, bentuknya panjang berwarna abu-abu gelap dan terdapat semacam kumis di dekat mulutnya. Belum pernah sekali pun aku menemukan ikan seperti ini, apakah beracun atau tidak, aku juga tidak tau.


“Tenang saja kawan, aku pasti akan memakanmu dengan penuh rasa syukur” gumamku kepada si ikan aneh yang berhasil ku tangkap menggunakan baju.


Mungkin ada sekitar 2 KG atau lebih, lumayan berat untuk ukuran ikan air tawar. Sepertinya dia sudah hidup cukup lama sampai menjadi besar seperti sekarang ini, kemungkinannya dia adalah predator ikan-ikan kecil yang ada di sungai.


Selagi membuat perapian, aku melihat beberapa ular berbisa dan juga biawak atau buaya darat yang biasa dijumpai pada daerah-daerah lembab dekat sungai. Meski takut, tapi aku tau mereka tidak akan mendekat sumber api, aku hanya perlu lebih waspada dengan menajamkan indra pendengaranku yang takut suatu waktu ada hewan yang lebih berbahaya lagi.


Menu makan siang kali ini sangat mewah, ada 3 potong daging ikan, udang-udang kecil dan juga jamur. Semua ku masak bersamaan di panggang dengan lempengan batu yang ku letakan diatas tungku dengan api besar.


Tak lupa beberapa tanaman herbal seperti jahe liar dan beberapa dedaunan wangi yang tak ku ketahui namanya menjadi bumbu sederhana untuk masakanku.


Hari sudah semakin gelap, beberapa kelelawar berbondong-bondong keluar dari sarangnya dengan jumlah yang sangat banyak. Sepertinya di dekat sini ada goa, setelah selesai beristirahat aku membawa obor yang ku buat dari beberapa kayu dan ranting-ranting yang ku ikat sebesar kepalan tangan.


Berjalan terus menyusuri sungai mengikuti arah datangnya kelelawar tadi. Dan benar saja tak jauh dari tempatku beristirahat ada sebuah gua yang sangat besar dan sepertinya sangat dalam sampai-sampai terlihat gelap tak ada cahaya masuk.


Dengan penuh waspada aku memasuki gua dengan penerangan dari api obor, mengarahkannya ke kanan kiri demi menghindari bebatuan dan karang yang tajam.


Bau di dalam gua begitu busuk dan menyengat karena kotoran kelelawar yang sudah hidup lama mendiami gua.


Pada bagian dalam, terdapat beberapa stalagmit yang tinggi berbentuk seperti menara.


“Indah sekali” gumamku tak henti-hentinya merasa kagum dengan pemandangan di hadapanku yang terbentuk secara alami, mungkin sudah berumur ratusan mungkin jutaan tahun lalu.


Tanpa sadar aku sudah berjalan cukup lama dan tak ada tanda bahwa gua ini terbentuk pada dua sisi, mungkin jalur masuknya hanya dari tempat tadi saja.


Aku mulai berpikir, mungkin saja tempat ini dahulu pernah di huni oleh sejenis manusia yang hidup jutaan tahun silam.


“Sial.. Apa ini!” Aku berteriak histeris ketakutan melihat pemandangan yang tersorot oleh cahaya obor.


Pada suatu ruangan yang sedikit luas, cahaya dari obor menerangi sejumlah kerangka dan tengkorak yang berserakan. Kondisinya seperti telah melewati masa yang cukup lama bahkan beberapa tengkorak dan kerangkanya sudah menyatu dengan bebatuan stalagmit.


“Sial.. Sebaiknya aku keluar dari sini sekarang” aku bergegas lari dari pemandangan mengerikan itu menuju ke arah luar.


Belum sempat aku menemukan pintu keluar karena gelap, terdengar suara raungan yang semakin membuatku bergidik ketakutan. Tak ada pilihan lain aku sebaiknya aku kembali masuk. Namun sepertinya keberadaan ku telah di ketahui oleh si penguasa hutan.


Aku lari tunggang-langgang tak kenal, rasa sakit dan lelah tak ku rasakan, sampai akhirnya aku tersandung tengkorak yang tadi ku lihat dan tersungkur.


Ku coba untuk berdiri, namun terlambat, aku membalikan badan dan mengarahkan obor, mengayun-ayunkan obor untuk menakuti sosok besar dihadapan.


Cahaya obor terpantul di mata sosok besar di hadapanku, menciptakan kilatan-kilatan menakutkan di dalam gua yang gelap.


“Graaaaaawwwrrrr....” suaranya mengintimidasi.


Cakar besarnya hendak menghantam badanku namun berhasil ku hindari, aku bergeser cepat ke belakang menghindari setiap serangannya, membuat sang predator semakin murka, tanpa ada tanda-tanda apapun ia menerjang hendak menerkam. ‘Aku menunggu kesempatan seperti ini’.


Sebelum ia berhasil menerkam, belati di tangan kananku berhasil tertancap pada bagian punggungnya, cukup untuk melukai dan membuatnya sadar jika aku tidak bisa dikalahkan dengan mudah tanpa perlawanan.


Dengan cara itu aku bisa mengalihkan perhatiannya, aku bangun dan berlari  sekuat tenaga ke bagian dalam gua yang tak tau ujungnya dimana.


Aku tak peduli lagi, aku hanya bisa terus berlari, serangan selanjutnya mungkin akan membuatku mati di gua ini dan mejadi santapan harimau besar itu.


Nafasku terasa sesak dan sakit, sudah lagi tak kuat tuk berlari. Aku terhuyung jatuh dan bersandar pada stalagmit besar tinggi menjulang.


Aku coba mengarahkan sinar obor mencari-cari sosok menakutkan itu, aku harus siap siaga untuk serangan selanjutnya, namun tak juga ada tanda-tanda kehadirannya.


Sepertinya harimau itu sudah pergi dari gua ini.


Berbeda dari tempat tadi, di bagian terdalam gua udaranya sangat segar dan dingin, dan yang membuatku heran adalah, ada banyak simbol-simbol yang tergambar pada dinding gua, ratusan simbol tergambar dengan kondisi yang sudah hampir pudar.


Benar dugaanku, ada kelompok manusia yang pernah mendiami gua ini, berbeda dari tengkorak dan kerangka tadi yang ku temukan, simbol-simbol ini lebih muda umurnya karena cetakan setiap simbol bentuknya presisi dan menggunakan semacam tinta yang dapat menempel pada dinding bebatuan. Jelas, manusia bukan manusia purba yang melakukannya.


“Kenapa simbol-simbol ini tidak ada di bagian luar” gumamku.


“Hemm..”.


Rasanya sudah sangat jauh aku berjalan, sekitar 5 KM atau lebih mungkin juga kurang, aku tak tau pastinya. Semakin dalam aku merasakan ada hembusan angin dingin. Sepertinya itu adalah jalan keluar.


Aku berharap menemukan jalur keluar,  dan hembusan angin semakin terasa kencang. Ku percepat langkahku agar segera sampai di mulut gua, Kondisi diluar pasti sudah gelap gulita karena aku sudah berjalan cukup lama dari sejak tadi sore.


Terpikir untuk beristirahat di dalam gua, untuk menghindari bahaya yang mengancam pada malam hari. Aku mencari-cari tempat yang lebih baik untuk merebahkan diri dan beristirahat. Ku putuskan untuk berjalan terus ke depan mencari-cari tempat beristirahat.


Ketika menjelajah lebih dalam, aku tiba di persimpangan, ada dua jalur di hadapanku dan tak tau yang mana yang harus ku lewati. Tanpa berpikir panjang aku pun mengambil arah kanan, hanya  beberapa menit saja, jalanan itu buntu.


“Sepertinya cocok untuk tempat beristirahat”  ucapku sembari merebahkan badan pada lantai gua yang berpasir.


Tak ada suara apapun selain desir angin yang terdengar halus di telinga memberikan rasa nyaman. Meski dingin dan lembab, namun aku tak punya pilihan lain selain beristirahat disini, rasa sakit, lelah dan juga kantuk bercampur bersamaan ku rasakan. Lebih baik saat ini aku segera tidur untuk mengisi kembali tenaga yang sudah hampir habis agar bisa melanjutkan perjalanan di keesokan hari.


...****************...