Shean & Jenny

Shean & Jenny
Rapat!



"Hah!.. Kesiangan!" kaget ketika sadar jam menunjukan pukul 11 siang. padahal aku ada janji jam 1 siang ini dengan Erik untuk membahas laporan penelitian.


Karena berhubungan dengan pemerintahan pusat, laporan penelitian kemarin harus segera diserahkan agar ada tindak lanjut untuk kedepannya. Beberapa laporan yang menjadi tugasku sudah selesai ku kerjakan tinggal menyatukan dengan laporan Erik.


Ku lirik layar ponsel di nakas terlihat pesan dari Erik dan Jenny. Beberapa kali Jenny mencoba menghubungi namun aku masih tidur lelap karena sedang tidak enak badan, segera aku menghubungi nya agar ia tidak khawatir.


"Hallo.. " Ucapku ketika sambungan ponsel terhubung dengan Jenny.


"Maaf, baru menghubungi. Aku tertidur lama dan baru bangun siang ini". lanjut memberikan alasan karena memang semalam setelah pulang dari kafe, badanku terasa lemas.


"Tidak apa.. Yang penting kamu baik-baik saja". Jenny kemudian memberitahukan alasan dia terus menghubungiku karena diminta ayahnya untuk mengajak makan malam di rumahnya, sekaligus memberitahukan secara langsung dariku tentang hubungan kami berdua.


"Besok malam sepertinya aku luang, bagaimana?". Setelah setuju waktunya, aku pamit dan menutup panggilan.


Sebaiknya aku bergegas sebelum, sebelum nanti jadi terlambat bertemu Erik di kantor pusat kota.


Sebelum mandi aku mengirim pesan terlebih dahulu ke Erik.


"OTW Bro..". Aslinya OTW ke kamar mandi. biarlah.. berbohong sedikit agar dia juga tidak khawatir aku akan melewatkan pertemuan.


Laporan yang aku kerjakan hanya bersifat formil, karena simbol-simbol yang aku dokumentasikan kemarin tidak bisa diberitahukan kepada siapapun juga karena itu tidak ada sangkut pautnya dengan konteks penelitian yang dibutuhkan.


Aku ingin menyelidikinya lebih lanjut dan meminimalkan pihak-pihak lain mengetahuinya, karena ini menyangkut sejarah penemuan leluhurku dan juga menjadi cita-cita kakek agar keluarga ini bisa mengungkap misteri besar yang tersimpan di masa lalu.


Aku faham dengan konsekwensinya. Banyak pihak lain yang juga sedang meneliti dan mungkin diantaranya adalah para treasure hunters yang banyak dibicarakan oleh kakek sebagai kelompok bawah tanah yang menjarah harta benda peninggalan bersejarah demi keuntungan pribadi dengan menjualnya di black market.


Meski kelompok itu tidak pernah muncul di permukaan, namun kakek selalu berpesan agar tidak menjadi seperti mereka yang mementingkan ego dengan mencari keuntungan pribadi dari sejarah-sejarah yang terkuak.


...----------------...


Tepat pukul 1 siang aku tiba di kantor pusat tempat Erik bekerja. Setibanya disana, sekuriti langsung mengenaliku dan mengantar ke ruang pertemuan yang dihadiri oleh beberapa ahli sejarah, dan pihak-pihak dari pemerintah.


"Selamat siang pak Shean.." Saut salah seorang yang tidak aku kenali.


"Siang Pak.. Pertemuannya sudah di mulai ya?" aku melirik jam di ponselku dan sudah lebih 5 menit dari jadwal.


"Belum pak" lanjut ia mempersilahkan masuk menuju ruang rapat.


"Eh bro.. Sini sebentar" Erik menarik ku keluar ruang rapat dan berjalan ke ruangan kosong.


"Shean.. Ada beberapa pejabat yang datang, aku mohon biar aku saja yang menjelaskan semua presentasinya" pintanya memelas, mungkin dia ingin menunjukan jerih payahnya selama ini dalam meneliti situs reruntuhan.


Aku teringat beberapa waktu lalu ia tengah bingung karena banyak pemotongan anggaran di divisi penelitian. Karena itu Erik ingin memberikan hasil terbaik dari kerja kerasnya pada rapat yang akan berlangsung sebentar lagi.


"Oh aman aman.. Kamu kan tau kalau aku malas untuk memimpin presentasi, jika ada pertanyaan dari siapapun dan kamu tidak bisa menjawab, biar aku saja nanti".


Erik setuju, wajahnya sumringah mendengar jawaban yang sebenarnya dia sudah tau aku akan menjawab apa, dan tentu saja aku akan menyetujui hal itu karena meringankan bebanku juga.


Rapat dimulai dan diawali oleh sambutan dari petinggi pemerintah yang di utus hadir pada acara rapat. Erik sudah terbiasa untuk presentasi dan menjejalkan berbagai macam informasi terbaru dari situs yang sedang diteliti olehnya kepada semua yang hadir.


Proses tanya jawab dan perdebatan pun mulai sengit dan dihadapi dengan tenang oleh Erik, sesekali ia melemparkan beberapa pertanyaan kepadaku agar menambahkan informasi-informasi yang sudah aku gali dan telusuri kebenarannya.


"Kalian jangan macam-macam, Kami (pemerintah) tidak sedang main-main dan anggaran juga terbatas untuk hal seperti ini". Tegas seorang pejabat yang sedari tadi mencari celah untuk menolak penelitian lanjutan.


"Baik pak.. Hanya saja ini sudah terlanjur booming, lembaga UNESCO dan organisasi peneliti sejarah internasional sudah melihat dan menaruh harapan besar agar negeri kita bisa menangani situs dengan lebih baik lagi.


"Reruntuhan seperti itu apa bagusnya sih. Tak ada manfaatnya melanjutkan penelitian. Buang-buang anggaran saja!" ia mengecam pada penelitian selalu karena alasan anggaran.


Bagi para peneliti, tentu saja kalimat itu sangat menyakitkan, beberapa orang yang ada didalam ruangan rapat terlihat geram dengan dengan pernyataan yang sangat tidak berpendidikan seperti itu, namun semuanya segan karena mengingat dia adalah pejabat eselon tinggi di pemerintahan, semuanya bungkam tak ada yang berani membantah.


"Bapak benar, bahwa ini akan menghabiskan banyak anggaran. Anggaplah seperti itu".


"Tetapi coba bapak bayangnya yang sebenarnya akan terjadi jika situs ini dikelola langsung oleh kita dan tentu saja dirawat agar seluruh dunia bisa melihatnya, dan masuk menjadi situs warisan dunia tertua yang pernah umat manusia temukan dan teliti, bagaimana menurut Bapak, sangat menarik, bukan?".


Ia tak akan kalah dengan si pejabat tua beruban itu, bagaimanapun ini hasil kerja keras dari keseluruhan tim peneliti. Erik berusaha untuk mencapai kesepakatan agar semua elemen baik pemerintahan pusat maupun dibawahnya turut serta dan bisa mengedepankan kepentingan penelitian ini karena bagaimana pun warisan sejarah tak boleh diabaikan begitu saja.


"Hmm.. Baiklah aku setuju, aku pegang ucapanmu. Kalau tak menguntungkan negara, maka kami akan tutup paksa penelitian kalian semua!" ancamnya kepada seluruh peneliti yang tergabung di ruang rapat.


Kedepannya, para gabungan peneliti dari segala bidang akan melanjutkan penggalian demi mengidentifikasi segala hal yang terkandung didalam reruntuhan dan untuk menemukan bentuk asli dari bangunan tersebut.


Usai rapat, aku dan Erik mampir di warung kopi untuk istirahat sekaligus berbincang-bincang seputar kelanjutan penggalian dan juga masalah yang sering dihadapinya saat ini.


Tekanan datang dari berbagai sudut, ada dua faksi yang mendukung dan yang tidak mendukung karena alasan anggaran seperti tadi. Ia hanya bisa menjelaskan jika situs itu pastinya akan memberikan dampak positif asalkan dikelola dengan cara yang benar juga.


Memang tak akan mudah. Erik meyakini jika nantinya ada beberapa orang yang akan mengacau, dan dirinya harus selalu waspada dengan semua kemungkin buruk yang akan terjadi.


"Kamu pasti ikut kan?" tanya erik memastikan.


"Tentu.. Aku masih penasaran dengan bentuk asli bangunannya" jika mengukur tinggi bukit itu sekitar 200 meter, dan hasil tim peneliti menemukan fakta bangunan itu tingginya sekitar 90 meter, aku benar-benar tak sabar melihat bentuk aslinya, pasti megah dan memiliki daya historis yang sangat kuat.


"Tenang kita juga pasti memberikan honor yang layak untukmu sebagai tenaga ahli". ucapnya.


"Oh jelas dong harus!, ingat ya, sekarang aku pengangguran!". Erik hanya tertawa saja mendengar ucapanku. "Tenang kawan, serahkan masalah itu kepadaku. Kamu jangan khawatir!" tegasnya meyakinkanku.


"Hahahaha.. Baguslah kalau begitu".


...****************...