
Jenny mencari-cari berkas dari disain terakhir yang ia buat saat ke Jepang. Berkali-kali ia mengaduk isi laci meja kantor dan setiap sudut di ruangannya namun tak ada hasil. Disain itu sudah di cetak berupa album seukuran buku catatan dan ada sekitar 80 model disain untuk di tunjukan kepada atasannya pada meeting sore jam 16:00 WIB, bersama client dari jepang.
Para staff lain di kantor mencoba mencarinya di beberapa ruangan, mungkin saja ada di ruangan namun sudah hampir setengah jam mereka mencari tak ada juga berkas yang di maksud oleh Jenny.
Tak ada waktu untuk mencetak ulang dalam kondisi mepet seperti sekarang. Namun jika tidak bisa ditemukan, ada kemungkinan kerjasama dengan client dari jepang akan batal, mengingat ini kali pertama ia mendapatkan kesepakatan kontrak kerja sama dengan client dari negeri sakura.
"Ya ampun kenapa aku bisa lupa" ia bermonolog bingung dengan tindakan ceroboh yang ia lakukan sampai-sampai berkas sepenting itu bisa hilang.
Seingatnya, ia saat itu pulang dari kantor membawa berkas dan di simpan di jok mobilnya lalu ke kafe bertemu Shean lalu pulang ke rumah orangtuanya. Mencoba terus mengingat dan mengacak-acak memori dalam isi kepalanya, bingung dan tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Ahhh bagaimana ini!!" mulai panik tak juga menemukan solusi.
Marah, kesal, kecewa semua hal terasa sekaligus. Ini murni keteledorannya dan kini cuma bisa pasrah dan menangisi kebodohannya.
Tokk Tokk..
"Permisi" seseorang mengetuk pintu ruangan, Jenny yang sedang terisak-isak menangis, segera mengambil tisu dan mengusap air mata yang basah di pipinya.
"Iya silahkan masuk".
"Mbak.. Ada yang seseorang mencari Mbak". Ucap perempuan itu memberitahukan kedatangan tamu untuk Jenny.
"Siapa Rin" namanya Rinna bawahannya di kantor yang masih satu divisi dengannya.
"Namanya Shean. Ngakunya sih pacar Mbak Jenny..."
"Dimana dia sekarang" Jenny kaget karena Shean tiba-tiba datang tanpa memberitahukannya terlebih dahulu.
"Ada di lobby..." belum sempat Rinni menyelesaikan ucapannya Jenny bergegas keluar ruangan menuju lift.
...----------------...
Udara begitu panas dan menyengat, jalanan macet dan berdebu, membuat kepalaku sedikit pening akibat sinar matahari panas. Belum lagi aku tak makan siang, rasa lapar membuat perutku keroncongan terasa lapar sekali.
Tadinya ingin langsung pulang, namun aku memutuskan untuk ke Atelier, jaraknya pun tak jauh hanya sekitar 3 KM dari perempatan jalan aku tinggal belok kanan lurus sampai ke Jalan Samudera.
"Shean.. Apa kamu kemarin meninggalkan ini?" Tanya pak Sudirman ketika aku baru saja masuk ke kafe.
"Barang apa pak.. Coba mana saya lihat". Pemilik kafe memberiku sebuah map plastik yang didalamnya ada seperti album foto.
"Ini milik Jenny pak, saya ambil ya. Sepertinya ini dokumen penting". Beberapa waktu lalu aku memang melihatnya membawa berkas ini dan ia juga menceritakan tentang meeting dengan client nya pada hari ini, semoga saja masih sempat untuk menyerahkan ini ke Jenny.
Tanpa pikir panjang aku tancap gas menuju Kantornya di kota selatan. Dengan bantuan maps aku langsung bisa mengenali tempatnya yang masih perbatasan pusat kota.
Berkelok-kelok menghindari mobil dan kendaraan lain pada jam sibuk seperti ini, mungkin orang lain mengira aku pengendara yang sedang ugal-ugalan.
Tak punya pilihan lain, jalanan pusat kota sangat padat tak ada celah, aku ambil jalur kanan dan berbelok tajam menuju pemukiman padat penduduk masuk gang-gang yang ada mencari jalur lain agar lebih cepat sampai.
Beberapa kali hampir menabrak motor dari arah berlawanan. Tak aku pedulikan, fokus terus pada tujuan untuk sampai di kantor Jenny. Kebut terus tanpa ampun, tarik gas ke arah kawasan perkantoran dengan gedung-gedung megah menjulang yang terlihat seperti menembus langit.
Sesampainya di parkiran luar kantor, aku jalan cepat ke lobby.
"Maaf, Saya mau bertemu Jenny, karyawan sini". Ucapku dengan nafas terengah-engah karena buru-buru ingin segera menyerahkan berkas yang tertinggal di kafe.
"Maaf, apa bapak sudah ada janji sebelumnya?" ucap perempuan petugas resepsionis.
"Bapak namanya siapa, biar saya masukan ke daftar janji pertemuan dengan Ibu Jenny". Sebuah buku besar yang didalamnya terdapat list orang-orang dengan berbagai macam kepentingan untuk bertemu para petinggi di kantor.
"Maaf sebelumnya, tapi bisa tidak mbak memberitahukan ke Jenny kalau Shean pacarnya datang kemari". Ku coba untuk bersikap tenang dan mengatur intonasi nada bicaraku yang tadi terlihat tidak sopan.
"Maaf Pak, ini sudah jadi kebijakan kantor. Kalau Bapak ada perlu dengan Petinggi disini harus membuat janji paling lambat tiga hari sebelumnya.
"Sebentar aku telpon dulu". Sambungan telepon berdering namun tidak ada yang mengangkat. bagaimana ini?.
"Pak, sebaiknya buat janji terlebih dahulu, atau jika bapak tidak ada urusan apa-apa lagi silahkan meninggalkan kantor ini. Sang resepsionis dengan sinis berusaha untuk mengusirku secara halus. Tak lama seorang perempuan mendatangiku dan menyapa.
"Maaf sebelumnya Bapak ada keperluan dengan karyawan kami?" Tanya nya dengan nada yang sangat sopan.
"Iya. Tolong beritahu Jenny, kalau Shean mau memberikan berkas ini" aku menunjukan map putih plastik berisikan berbagai macam barang dan juga sebuah album berukuran agak besar.
"Oh baik, sebentar, Bapak ikut saya ke ruang tunggu, nanti saya panggilkan". kami berjalan memasuki Lobby area dalam yang terdapat beberapa sofa berukuran panjang sebagai ruang tunggu untuk pengunjung.
"Tunggu sebentar ya Pak".
Beberapa menit kemudian Jenny datang tergesa-gesa keluar dari lift langsung menuju ke arahku.
"Kamu ko kemari, ada apa?" aku pun menyodorkan map itu ke Jenny. Ia lantas langsung memeluk ku dengan erat.
"File nya tertinggal di kafe" ucapku.
"Ko bisa?.." sanggahnya.
"Iya kamu kan pikun" ledek ku kepada Jenny disambut cubitan ke pinggangku yang sedikit ngilu dibuatnya.
"Terima kasih sayang. Siang ini aku panik sekali mencari berkas ini. Beruntung aku, kamu bisa menemukan dan langsung membawanya kesini". Ia menanyakan kenapa tidak menghubunginya terlebih dahulu.
"Mana handphone mu?" ku tanya balik dirinya, aku memperlihatkan jumlah panggilanku kepada Jenny yang tidak ia angkat.
"Aduhhhhhh maaf... Sepertinya HP nya aku mode silent" Luar biasa pacarku ini. Takutnya suatu saat kita sudah menikah, dan lupa kalau dia sudah menikah. bahaya sekali perempuan ini.
"Ya sudah... Nanti saja lanjut ngobrolnya, kamu ada meeting kan?" ia mengecek jam di arloji yang sudah menunjukan jam 15:20 WIB. setelah ngobrol sebentar akhirnya aku pun bersedia untuk menunggu dia selesai meeting.
Aku keluar kantor untuk mencari tempat menghabiskan waktu selama menunggu Jenny, mungkin kafe atau dimana saja asalkan bisa berteduh dari udara panas.
Dua orang perempuan yang tadi berdiri di balik meja resepsionis menghampiriku, kemudian menunduk tepat di hadapanku.
"Maafkan atas ketidaktahuan kami berdua" Sepertinya mereka sudah ditegur oleh perempuan tadi.
"Tidak apa, tidak perlu dipikirkan, toh kalian hanya menjalankan prosedur perusahaan" aku coba menenangkan mereka yang kini terlihat khawatir.
"Maafkan kami Pak".. lanjutnya meminta maaf.
"Sudah.. sudah.. aku maafkan. Jangan dipikirkan lagi masalah yang tadi". Semakin tak enak hati melihat dua perempuan ini membungkuk meminta maaf.
"Terima kasih banyak Pak" aku pun pergi berlalu dari hadapan mereka.. Keluar kantor mencari-cari tempat nyaman untuk menghabiskan waktu sembari menunggu Jenny selesai dengan urusannya di kantor.
...****************...