Shean & Jenny

Shean & Jenny
Hujan



Semakin sore, udara semakin terasa pengap, aku berjalan menyusuri kawasan perkantoran di perbatasan pusat dan kota selatan. Semarak sore hari menjelang petang, lalu lalang kendaraan semakin memadati dua arus jalur jalan raya.


Pandangan mataku tertuju pada kedai ramen tak jauh dari kantor Jenny. Sebaiknya aku mengisi perut, siang ini tak sempat makan dan tadi harus buru-buru menyerahkan berkas penting.


Antrian panjang terlihat dari pintu masuk, agak ragu untuk memesan makan disini. Apa sebaiknya aku cari tempat lain saja?. Karena sudah terlanjur mengantri, sebaiknya aku bersabar saja menunggu giliran.


"Silahkan.. Mau pesan apa pak.." tanya seorang pramusaji restoran.


"Saya pesan ramen kuah miso, topingnya chicken katsu dan ocha panas". jawabku sembari menunjuk menu-menu yang tadi ku sebutkan.


"Baik mohon tunggu untuk pesanannya ya pak". sikapnya ramah dan to the point, cepat tanpa basa-basi. setelah membayar di kasir aku ke meja kosong yang ada di dekat jendela kaca yang berukuran besar, terlihat jelas pemandangan luar dengan hiruk-pikuk di sore hari ini.


Ramen kuah miso dengan tambahan chicken katsu dan teh hangat yang aku pesan sudah tersaji di meja. Hidangan mewah yang tidak selalu aku makan. terpaksa aku beli dengan merogoh kocek sebanyak 200 ribu rupiah, nominal yang sama dengan uang jajanku selama 2 hari.


Jarang sekali menikmati makanan seperti ini. Bagiku, jika mau jajan cukup beli mie bakso atau mie ayam Pakde Kumis langgananku di komplek dekat rumah. Rasa kaldunya lebih enak dari ramen yang ku makan saat ini dan harganya jauh berkali lipat lebih murah.


Sebagai lelaki yang tidak memiliki keluarga, aku harus menghemat pengeluaran dan itulah mengapa lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. kemana-mana pun hanya sendirian saja, kadang kala ditemani Erik satu-satunya temanku yang sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri.


Selebihnya aku terbiasa melewati waktu dengan membaca buku atau mendengarkan musik, jarang untuk jalan-jalan. Sewaktu kerja pun aku tak banyak kongkow bersama teman-temen kerja seperti orang kebanyakan.


Setelah jam kerjaku selesai aku selalu langsung pulang ke rumah, melanjutkan riset setelah itu tidur dan terbangun di pagi hari, sebuah rutinitas yang sangat biasa-biasa saja.


Kini kehidupan yang ku jalani mulai berubah, seperti terpacu suntikan adrenalin, segala hal coba ku gapai, baik penelitian bersama Erik, belajar untuk nanti melanjutkan S2 bulan depan dan tentu saja berkutat dengan warisan kakek buyut dari leluhurku.


Perubahan yang ku alami semenjak bertemu dengan Jenny, sepertinya ia keras menarik ku masuk ke dunianya yang penuh warna. Tak ada rasa bosan ketika bersamanya, bersenda gurau, berbincang sampai lupa waktu, atau sekedar duduk-duduk dibangku taman sepulangnya dari kantor.


Hari-hari terasa lebih indah, ada makna yang makin ku temukan setiap hari bersamanya, mungkin itulah cinta yang tidak bisa ku pungkiri kedatangannya.


Aku bahagia bersamanya.


Dering telepon membangunkan ku dari lamunan panjang, tak terasa sudah hampir jam 6 petang. Jenny menelpon dan memintaku untuk bertemu di lobby kantornya, bergegas aku datang agar ia tak lama menunggu.


"Kita pulang pake motormu ya.." Pintanya merayu.


"Siap tuan putri!" jawabku tegas sambil terkekeh melihatnya tersipu malu. Kami pun melesat meninggalkan pusat perkantoran dan lurus terus sampai di Jakarta Selatan.


Di perempatan jalan menuju apartemennya ia memberitahuku untuk belok ke arah sebaliknya, dan berhenti ketika sampai di suatu restoran yang khusus menyajikan hidangan laut.


"Ayo sayang.. Aku lapar sekali". Ajaknya, ia menggandeng tanganku dan masuk ke dalam restoran. Pelayan mengarahkan kami ke meja kosong yang diperuntukan untuk dua orang dengan meja persegi yang cukup besar.


Setelah memilih-milih makanan yang akan disantap, kami berbincang tentang kejadian hari ini yang membuat Jenny stress dan pasrah jika kontrak kerjasamanya dibatalkan oleh pihak pemesan. Beruntung aku mampir ke kafe Atelier yang sebenarnya mau ngopi malah harus kebut-kebutan di jalan untuk mengembalikan berkas miliknya yang tertinggal di kafe.


"Terima kasih banyak ya sayang buat hari ini, tanpa kamu, sepertinya aku bisa malu seumur hidup karena gagal kontrak akibat keteledoranku sendiri". Ucapnya panjang lebar berterima kasih kepadaku.


"Sebaiknya nanti kamu berterima kasih ke pak Sudirman, kalau bukan karena dia, aku juga tidak akan tau tentang berkas itu".


"Hahaha.. Benar juga, nanti kapan-kapan ajak aku kesana lagi ya". ucapnya.


Jenny terlihat lahap sekali memakan hidangannya, ada lobster dan ikan kerapu bakar. Sesekali aku meliriknya yang sedang menikmati hidangan menu makan malam, Lucu seperti bukan Jenny yang ku bayangkan sebelumnya.


"Oh iya, nanti kamu nginap di apartemen saja ya". Ia mengajak untuk menginap namun aku masih ragu untuk berduaan di apartemen sebesar itu.


"Kenapa memangnya? aku bisa langsung pulang setelah mengantarmu, lagi pula aku sudah biasa pulang malam". bantahku agar bisa menolak permintaanya.


"Ayolah... Besok aku libur, kangen masakan kamu..".


"Please ya sayang.. ya ya ya.." rengeknya seperti anak kecil saja.


...----------------...


Hujan turun deras aku dan Jenny yang baru berada di parkiran restoran seketika basah kuyup ketika hendak menyalakan motor menuju ke apartemennya.


"Bagaimana ini. Ayo kita kembali ke dalam" Ajak ku namun di tolak oleh Jenny karena sudah kepalang basah ia meminta langsung saja ke apartemennya.


"Yeay!! Baru pertama kali aku hujan-hujanan seperti ini". Ia memeluk erat badanku ditengah hujan berkendara menembus cuaca dingin dan hujan lebat, pandangan pun sedikit buram.


Perlahan-lahan aku melintasi jalanan sepi karena sedang hujan tak banyak kendaraan yang berani melintas.


Sesampainya di apartemen, seluruh badanku sudah basah begitupun Jenny, lekukan di badannya jadi semakin terlihat jelas, dan tak mampu untuk melirik ke arahnya.


"Kamu kenapa ?" tanya nya keheranan.


"Tidak ada".


"Kamu ada baju kaos yang bisa ku gunakan, tidak?.." Ingin segera membasuh badan, takutnya nanti membuat kami berdua sakit.


"Ada. sebentar aku siapkan" ia kembali dari kamarnya dan membawakan handuk baru, baju kaos dan celana berbahan katun pendek selutut berwana cream. Rasanya memalukan menggunakan pakaian seperti ini namun tak ada pilihan selain memakainya.


Selesai mendi aku menuju balkon apartemennya, duduk di bangku, meskipun ada sedikit cipratan air hujan tak apalah, aku ingin menikmati kopi yang baru ku seduh dan menyulut sebatang rokok.


"Sayang.. Kenapa diluar, ayo masuk.." Ajaknya.


"Aku masih merokok, nanti saja" jawabku.


Tak lama ia datang. Jenny mengenakan baju piyama panjang berwarna putih halus berbahan sutra dan ada simpul tali di bagian pinggangnya membuat lekuk tubuhnya terlihat indah dan menggoda.


"Baru pertama kali aku hujan-hujanan seperti tadi. hahah" Jenny membuka obrolan tentang pengalaman pertamanya naik motor hujan-hujanan melewati jalan raya.


"Iya.. Maaf ya kamu jd basah kuyup karena naik motor".


"Rasanya menyenangkan.. Mungkin karena bersama kamu" ucapnya lembut, wajahnya merah merona mungkin ia malu dengan apa yang baru saja ia ucapkan.


"Syukurlah kalau kamu menikmatinya".


Hujan tak akan nampak untuk berhenti, derai air semakin deras tiap detiknya, angin kencang dan gelegar suara petir menyambar terus bersautan layaknya genderang perang. Namun begitu tak membuatnya untuk taku, ia semakin erat memeluk lengan dan merebahkan badannya ke pelukanku, terasa hangat dan nyaman.


"Semoga aku selalu menjadi tempat ternyaman mu dimanapun kita berada" ucapku lirih dan mengeratkan pelukanku kepadanya.