SHE WAS UGLY

SHE WAS UGLY
Bab 9. Vidio Tersebar



Tangan Evan terkepal melihat semua kejadian di Restoran mewah itu, ia sangat menyesal mengajak Aira, bukannya membuat Abel cemburu malah dirinya lah yang merasa malu.


Tanpa punya perasaan, Evan melangkahkan kaki lebarnya keluar dari Restoran mewah meninggalkan Aira yang kini di permalukam oleh pengunjung lain.


Evan meninju setir kemudi setelah berada di dalam mobil, melampiaskan amarah juga rasa malu yang ia tanggung karena Aira.


"Dasar gadis udik buruk rupa, beraninya kau mempermalukan aku di depan semua orang!" geram Evan mencengkram setir kemudi.


Berbeda dengan kekesalan Evan. Aira malah menangis di antara kerumunan orang-orang yang tega menertawakannya tanpa berniat menolong. Ia menatap sekeliling mencari orang yang membawanya kesini, tapi tak menemukan Pria tampan itu.


"Apa pak Evan meninggalkan aku sendiri?" batin Aira bertanya-tanya.


Thomas yang tak tega melihat Aira di permalukan hendak mengulurkan tangannya, tetapi Abel lebih dulu menariknya, wanita itu tak sudi jika pancarnya menyentuh gadis kampungan.


Tanpa memperdulikan penampilan yang kini berantakan, pakaian basah kuyup juga make up mulai luntur, Aira berlari dengan menenteng high hels di sebelah tangannya, mencari keberadaan Evan di parkiran, benar saja laki-laki itu dengan tega meninggalkannya seorang diri.


Dengan dada bergemuruh manahan rasa kekecewaan Aira berjalan ke pinggir jalan untuk mencari taksi. Selama itu pula banyak pasang mata yang memperhatikan sembari berbisik-bisik.


***


Semangat pagi selalu Aira terapkan dalam dirinya sebelum berangkat ke kantor, masih dengan dandanan yang sama seperti biasanya, ia berjalan di lobi. Kini tatapan para rekan kerja Aira tertuju padanya, tatapan merendakan juga penuh cibiran. Kasak-kusut tentang Aira mulai terdengar memenuhi gendang telinganya, hingga notifikasi masuk di benda pipih di dalam tas Aira.


Ekpresi yang tadinya penuh senyuman kini berubah murung saat melihat videonya di Restoran tengah tersebar di grub perusahaan, yang artinya semua karyawan telah melihat hal yang sangat memalukan itu.


"Kalau udik-udik aja sih, nggak usah sok-sok jadi cinderella," cibiran mulai terdengar sepanjang ia berjalan menuju lift.


Lif perusahaan yang biasa sangat dekat itu kini terasa jauh bagi Aira. Dunia Aira terasa slowmon di iringin cibiran yang menusuk langsung kejantung.


"Gadis buruk rupa yang bermimpi menjadi putri dengan menggoda bos besar!"


"Mau operasi berapa kalipun lo nggak bisa ngalahin pesona Nona Abel yang notabenenya seorang model."


"Kasian banget pak Evan kena pelet gadis kampung."


Menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, itu Aira lakukan berulang kali demi menenangkan diri agar tidak sedih apa lagi kembali menangis, tetapi belum juga ia tenang, suara Evan sudah mengelegar menyebut namanya.


Dengan tergopoh-gopoh Aira membuka pintu Ruangan Evan dan berdiri tepat di seberang meja.


"Ada yang bisa aku bantu pak?" tanya Aira sopan.


Bukannya nenjawab Evan malah menggembrak meja kerja di depannya, membuat beberapa benda terjatuh karena getaran yang lumayan keras.


"Ini semua karena ulahmu, aku di permalukan satu kantor karena perbuatanmu semalam!" tuduh Evan berapi-api kilatan amarah terpancar jelas dari manik laki-laki berperawakan tampan itu.


Aira menunduk meremas jari-jari tangannya. "Maafkan aku pak, tapi aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mempermalukan bapak. Aku juga ...." Kalimat Aira terpotong dengan bentakan Evan yang langsung menusuk jantung Aira.


"Ya aku yang salah karena mengajak wanita buruk rupa sepertimu. Aku lupa bahwa wanita udik sepertimu tidak bisa berubah walau menghabiskan uang berapapun, karena memang dasarnya kamu wanita kampungan!" hina Evan tanpa perasaan.


Kepala Aira semakin menunduk tak bisa lagi menjawab makin Evan yang bertubi-tubi dengan suara yang mengelegar memenuhi ruangan kedap suara itu.


"Ingin jadi pacar sungguhan? Sepercaya diri itu kamu bisa mendapatkan aku? Lihatlah penampilanmu sekarang! Kau tak jauh dari seorang pengemis. Untungnya kamu lahir dikaruniai otak yang cerdas, jika tidak, maka hidupmu hanya menjadi beban negara yang tidak berguna!"


"Cukup pak Evan!" sela Aira dengan nafas memburu, tak ada lagi kepala yang menunduk seperti tadi, kini ia membalas manik Evan yang di penuhi kilatan amarah.


"Kenapa? Kau tidak terima dengan apa yang baru saja aku katakan? Kau ingin mengelak semuanya? Bukankah semua yang aku katakan benar adanya?"


"Ya kau benar, semua yang kau katakan semuanya benar, tapi apa pantas kau menghina seseorang sampai seperti itu!" balas Aira.


"Kau berani membentakku? Jaga batasanmu, kau hanya seorang karyawan disini, tak sepantasnya kau menatapku seperti itu!" geram Evan tak suka saat Aira membalas tatapannya, bahkan berani membentaknya, hanya ia yang boleh membentak orang.


Bersambung


Bab kali ini ditulis oleh Author dengan nam pena Susanti 31 dengan novelnya yang sedang on going CINTA DAN MASA LALU.