
Aira mengganti bajunya yang robek akibat ulah Evan. Gadis itu sangat bersyukur karena Noah datang tepat waktu. Kalau tidak, mungkin saat ini pria itu sudah menodainya.
Membayangkan itu, tubuh Aira gemetar. Teringat kembali bagaimana wajah Evan yang terlihat beringas saat melihatnya.
Pria itu bagai singa kelaparan yang siap memangsa buruannya.
'Hampir saja aku kehilangan kehormatanku.'
Aira menyapu wajahnya dengan makeup tipis. Wajah cantiknya kini terlihat segar.
Gadis itu mematut tubuhnya di depan cermin. Kembali membenarkan bajunya agar terlihat lebih rapi.
Dia tidak mau kalau insiden beberapa menit yang lalu terulang kembali.
'Semoga pak Noah tidak mengingat kejadian tadi. Gara-gara Evan, Noah jadi melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh dia lihat.'
'Evan sialan!'
Aira keluar dari kamar. Perempuan itu tersenyum saat wajah tampan Noah menyambutnya dengan senyuman.
"Kau sudah siap?"
Aira mengangguk dengan senyum canggung. Apalagi, saat Noah mengulurkan tangan padanya.
"Ayo berangkat."
"Baik, Pak."
Aira menyambut tangan Noah yang menggandengnya dengan erat. Perempuan itu tersenyum, sambil melirik pria tampan di sampingnya.
Setelah menutup pintu rumah, Aira mengikuti Noah masuk ke dalam mobil.
Noah melirik Aira yang terlihat gelisah.
Tangan kirinya menggenggam tangan perempuan itu. Sementara tangan kanannya memegang kemudi.
"Jangan pikirkan kejadian tadi."
Noah mengusap punggung tangan perempuan itu. Aira tersenyum tipis.
Bagaimana mungkin dia tidak memikirkan kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu?
"Saya hanya sedang membayangkan, seandainya tadi Pak Noah tidak datang, entah apa yang akan terjadi pada saya."
"Terima kasih, Pak."
"Sudahlah! Jangan dipikirkan."
"Tapi saya tidak menyangka kalau Pak Evan sampai berani berbuat serendah itu," ucap Noah tanpa menoleh ke arah Aira. Pria itu tetap fokus mengemudi.
"Saya juga tidak tahu kenapa pak Evan sampai nekad datang ke rumah."
"Sepertinya, dia ingin balas dendam karena saya sudah mempermalukan dia semalam." Aira menatap wajah tampan Noah yang tetap fokus di belakang kemudi.
Jalanan ibukota setiap pagi sangat padat. Sebagai pengendara, tingkat kesabaran kita harus di atas rata-rata.
Tak jarang banyak pengendara yang saling memaki sesama pengendara lain karena tidak sabar.
"Kenapa Pak Noah tidak memakai sopir saja?"
"Saya ingin jadi sopir kamu. Makanya saya tidak memakai sopir pribadi." Wajah tampan Noah tersenyum sementara Aira tertawa kecil.
"Bapak mau jadi sopir saya? Apa tidak terbalik?" Aira masih tertawa. Merasa lucu dengan ucapan bos tampannya itu.
"Nggak ada salahnya kan, saya jadi sopir sekretaris sekaligus kekasih saya sendiri?"
Noah tertawa, begitupun Aira.
"Akting Bapak sangat bagus semalam."
"Ternyata Bapak berbakat jadi artis." Aira kembali tertawa. Begitupun dengan Noah.
"Saya tidak menyangka kalau pak Evan langsung kebakaran jenggot saat saya mengatakan kalau kamu adalah kekasih saya."
"Entahlah! Saya juga tidak habis pikir. Padahal, di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi."
"Mungkin dia kesal karena kamu mengabaikannya."
"Mungkin saja. Tapi itu wajar bukan? Sakit hati saya karena perbuatannya saja belum hilang sampai sekarang," ucap Aira pelan.
Bayangan saat Evan masih menjadi kekasihnya kembali terlintas.
Kekasih ....
Sepertinya hanya dia saja yang terlalu percaya diri menganggap Evan sebagai kekasih, karena pada kenyataannya, pria itu hanya memanfaatkannya agar bisa kembali bersama sang mantan kekasih yang dicintainya.
"Apa sampai sekarang kau masih mencintainya?"
Pertanyaan Noah membuat Aira langsung terdiam.
'Apa benar aku masih mencintainya?'
'Entahlah! Yang jelas, setiap kali aku melihatnya, hatiku terasa sakit saat mengingat semua perbuatannya.'
"Jadi benar, kalau sampai saat ini kamu masih mencintainya?" ulang Noah.
Ekor matanya melirik ke arah Aira, merasa penasaran dengan jawaban gadis itu.
"Tidak! Aku sudah tidak mencintainya lagi," tegas Aira.
"Sudah cukup, saat itu dia mempermainkan dan mempermalukan saya."
"Saya tidak akan mengulangi kebodohan dan kesalahan yang sama seperti dulu." Aira tersenyum getir saat bayangan masa lalunya bersama Evan kembali berputar di kepalanya.
Noah kembali meraih tangan Aira.
"Kau benar. Buanglah mantan pada tempatnya." Noah menahan tawa.
"Hah?"
"Buanglah sampah pada tempatnya!"
"Apa maksud, Bapak?"
"Anggap saja mantan itu sampah yang harus dibuang pada tempatnya!" Noah menatap Aira sekilas sambil tersenyum.
"Maksud Bapak, anggap saja pak Evan itu sampah yang harus dibuang pada tempatnya?" Aira menatap tak percaya pada Noah.
Sementara pria tampan itu justru tertawa sambil mengemudikan mobilnya.
Bersambung
By: Nazwatalita
Senyum-senyum sendiri pas nulis part ini 😀
Jangan lupa mampir juga ke karya Author yang lain ya?
Mati Rasa, Cinta Karmila, Dia juga Suamiku, Dendam.
Jangan lupa ya, klik nazwa talita ...❤️❤️❤️