
Pagi hari Aira sudah sampai di kantor. Hari ini ada rapat dengan salah satu klien besar, setidaknya itu yang Noah, bos Aira katakan.
Aira belum melihat notulen rapat, karena itu masih dikerjakan oleh sekretaris yang lama sebelum ia masuk dan resmi bergabung dikantor ini.
Aira memberikan senyum termanisnya pada setiap karyawan yang ia temui. Baru tiga hari ia menjadi karyawan, Aira udah menjadi bahan pembicaraan di kantor.
Ia dikenal dengan sekretaris cantik yang ramah. Karyawan pria banyak yang terpesona tapi tak berani mendekati, karena takut ditolak Aira.
Untuk pertama kalinya Aira merasa dihargai setelah sekian lama dia berkutat dengan hinaan dan cacian.
Dengan langkah pasti Aira masuk ke ruang kerja Noah. Ia melihat meja kerja Noah masih berantakan.
"Astaga? Dia pria nokturnal, dia begadang sampai meja ini berantakan?" batin Aira.
Aira membersihkan semua kertas-kertas yang berserakan di meja. Setelah tampak bersih, Aira keluar ruangan menuju pantry. Aira membuatkan kopi buat Noah. Salah seorang OB melihat itu dan mendekati Aira.
"Maaf mbak Aira, biar saya aja yang buatkan kopinya. Ibu Aira mau saya buatkan apa? Nanti saya antarkan ke ruangan,"
Aira tersenyum. "Nggak apa, Mas. Biar saya saja. Kebetulan saya belum ada kerjaan. Pak Noah juga belum datang."
"Tapi itu tugas saya, Mbak. Kalau pak Noah tau, saya bisa di pecat,"_
"Nggak mungkin di pecat, Mas. Saya yang mau, bukan Mas yang meminta. Jika pak Noah marah, saya bisa jelaskan semua."
"Terima kasih banyak, Mbak. Mbak Aira bukan wajahnya aja yang cantik, tapi juga hatinya. Baik banget. Baru kali ini ada sekretaris yang mau membuatkan air sendiri. Saya sudah bekerja di sini selama lima tahun dan telah berganti sekretarisnya hingga tiga kali dengan Mbak,"
Aira tersenyum mendapatkan pujian seperti itu, ia kemudian berjalan keluar dari pantry setelah membuat kopi untuk Noah, ia menggenggam cangkir kopi Noah kemudian berjalan masuk kedalam ruangan Noah kembali.
Ternyata Noah sudah ada di ruangan nya, Aira tersenyum kemudian menyapa Noah. Ia berjalan ke arah Noah dan menyodorkan cangkir kopi tersebut.
"Kenapa kamu yang buat kopinya?" tanya Noah merapikan jas-nya dan menatap Aira dalam.
"Tidak apa-apa. Pak," jawab Aira.
Noah hendak mengambil cangkir tersebut namun karena terpesona dengan Noah. Aira menjadi sedikit gugup yang ia sembunyikan dibalik wajah cantiknya, ia sampai tidak sadar kalau dia menahan cangkir tersebut.
"Aira?" tanya Noah yang membuat Aira tersadar. "Cangkirnya nyangkut,"
Aira tersentak kemudian melepaskan cangkir tersebut secara tiba-tiba yang membuat kopi panas itu tumpah mengenai area sensitif Noah.
"Ah!".
Noah berdiri dan mengibaskan tangan, sedangkan Aira dengan panik segera mengeluarkan sapu tangannya dan meminta maaf.
"Tidak, tidak apa-apa, kamu sendiri gapapa kan?" tanya Noah meraih tangan Aira yang terkena kopi juga. "Astaga,"
Noah meniup perlahan tangan Aira memberinya kesan dingin karena jika hanya Noah, pakaian Noah menghalangi kopi tersebut masuk ke dalam area nya, sedangkan Aira sudah pasti akan melepuh karena kopi itu mengenai tangannya.
Aira mengangguk kemudian berjongkok dihadapan Noah, ia memalingkan wajah sementara tangannya mengelap area celana Noah yang terkena kopi.
"Argh!" Noah mendesis padahal Aira hanya mengelap, jangan sampai dia terangsang. "S-sudah Aira."
Disaat mereka ada dalam posisi seperti itu, seorang staff masuk untuk mengabarkan bahwa rapat akan dimulai dan tanpa sengaja melihat kejadian itu sehingga membuatnya salah paham.
"Kami bisa jelaskan." ujar Noah dan Aira berbarengan.
•
Aira berjalan di koridor kantor, dia harus mengambil notulen di staff divisi lainnya yang memiliki jarak dari ruang rapat, disaat dia melangkahkan kaki tiba-tiba saja tubuhnya terjungkal kebelakang dan mendapati bahwa sosok yang menabraknya adalah Evan.
"Aira?" lirih Evan terkejut melihat bahwa yang dia temui adalah Aira.
"Maaf, anda salah orang," ujar Aira hendak berjalan kembali namun tangannya di tarik oleh Evan.
Aira yang tangannya di tarik langsung tersudutkan ditembok, dia tersudut dengan Evan yang mengunci pergerakannya.
"Kau Aira, kau bahkan masih memakai parfum dengan aroma yang sama," bisik Evan mengendus aroma tubuh Aira.
"Lepaskan aku!" kesal Aira mendorong tubuh Evan menjauh darinya. "Tuan Evan terhormat, dengarkan aku, aku adalah Aira tapi bukan Airamu dulu yang bodoh dan gampang kau tindas,"
"Oh rupanya kucing manis sudah menjadi singa," jawab Evan berjalan mendekati Aira. "Bagaimana kalau kau menjadi pacarku, dengan penampilan seperti ini kau sangat layak menjadi pendampingku,"
Aira tersenyum kecut. "Sayangnya, kau yang tidak layak menjadi pendamping ku,"
Aira berjalan meninggalkan Evan yang kesal, Evan yang melihat itu hanya mengepalkan tangan menahan emosi.
"Kau akan menyesal!"
"Dan aku menunggu bagaimana kau membuatku menyesal." jawab Aira.
•
TBC
Bab ini ditulis oleh Ridz si Sarjana Perdudaan buat kalian yang belum kepoin novelnya GENIUS BRIDE DUDA DEPRESI silakan mampir!
Ridz adalah remaja berusia hampir 19 Tahun, dia sekarang tengah sibuk dengan ujian, idolanya hari ini adalah Chris Pratt, besok beda lagi.
Satu pesan Ridz, jadilah seperti Aira, karena orang yang Living On The Edge tapi gak mati-mati itu hebat.
KALAU GA MAMPIR DINOVELNYA NANTI DIA NGAMBEK DAN READERS DISANTET.