SHE WAS UGLY

SHE WAS UGLY
Bab 13. Aira Yang Berbeda



Aira melihat seluruh ruangan di kantor Evan. Dalam hatinya berkata,"Ini terakhir kalinya aku berada di kantor dengan keadaan seperti ini. Aku akan datang dengan Aira yang berbeda. Tidak akan ada Aira yang cupu dan jelek. Aku yakin semua wanita itu cantik dan akan aku buktikan itu."


Aira meninggalkan kantor. Ia menahan air matanya agar tak jatuh. Ia tak mau terlihat lemah lagi. Cukup sudah penghinaan yang selama ini ia terima.


Di dalam taksi menuju rumah kontrakannya tangis Aira akhirnya pecah. Ia merasa terhina selama ini. Mengapa semua orang hanya memandang fisik.


Tidak sedikit perempuan, termasuk juga mungkin kamu seringkali merasa ada yang kurang dari dirinya. Entah itu kurang putih, rambut tak hitam, atau ukuran badan yang jauh dari ideal membuat kita berpikir bahwa kecantikan yang kita punya berada di bawah standar perempuan normal. Meski berkali-kali mendengar bahwa semua perempuan cantik, pada kenyataannya masih banyak yang berpikir bahwa kita sama sekali tak istimewa.


Kita sibuk dengan standar kecantikan yang sebetulnya tidak pernah ditetapkan. Lupa bahwa setiap perempuan dititipkan pesona berbeda. Banyak perempuan sibuk memenuhi ketetapan "cantik" berdasarkan stigma yang berkembang sampai lupa bahwa dirinya sudah cantik sesuai dengan kelebihan yang Tuhan telah titipkan.


Sampai di kontrakan Aira mengemasi barangnya. Ia akan meninggalkan kota ini sementara waktu hingga dirinya berubah.


Jika memang standar kecantikan bagi orang-orang adalah wajah mulus dan kulit putih serta badan langsing, aku akan merubah diriku menjadi seperti itu


Aira pindah dari kontrakan dengan uang tabungan hasil penjualan rumah orang tuanya. Ia tinggal di suatu tempat dekat dengan salon kecantikan. Ia ingin merubah dirinya.


Selain melakukan perawatan di salon itu, Aira juga mengikuti kursus kecantikan. Ia ingin bisa merias wajahnya.


Tiga bulan lamanya Aira telah melakukan perawatan. Saat ini telah tampak perubahan pada wajah dan penampilannya.


Aira bercermin dan mematut dirinya yang telah berubah menjadi wanita cantik. Teman satu kost Aira yang bernama Santi ikut membantu Aira merubah penampilan dirinya.


"Kamu jauh berbeda dari Aira tiga bulan yang lalu," ucap Santi.


"Apakah orang-orang akan mengenaliku nantinya," gumam Aira, tapi masih dapat di dengar Santi.


"Jika bukan orang terdekat kamu, aku rasa ia tak akan mengenali."


Aira percaya dengan Santi. Dari awal ia pindah Santi yang terus membantunya. Aira telah menceritakan semua yang membuat ia berpikir untuk merubah semua pada dirinya.


"Setelah kamu yakin akan keluar dari persembunyian, kamu bisa melamar ke kantor tempat aku bekerja. Dengan kepintaran yang kamu miliki aku yakin atasanku akan menerima. Apa lagi kamu saat ini sangat cantik dan penampilan kamu elegan."


"Tidak semua orang menilai begitu. Tapi emang sebagian besar berpendapat begitu. Setiap orang pasti akan menilai fisik saat awal bertemu setelah itu barulah penilaian berdasarkan yang lainnya."


"Santi, aku merasa diriku sangat munafik. Hanya agar orang-orang menghargaiku, aku merubah semua yang ada pada diriku."


"Aku tak bisa menjawab ini. Tapi emang kita harus mengikuti standar pandangan orang untuk dapat masuk dalam pergaulan. Tapi sebenarnya kita tak perlu merubah semuanya. Walau penampilan kamu telah berubah, jangan sampai merubah kepribadian."


"Memang orang akan tertarik setelah melihat fisik yang sempurna, tapi dengan berjalannya waktu penilaian orang akan berubah. Ia akan lebih tertarik dengan kepribadian."


"Aku akan tetap menjadi Aira yang dulu. Hanya penampilan saja yang berubah."


"Baguslah. Jangan merubah dirimu hanya untuk mendapatkan simpati dan kekaguman."


"Ingat ya Aira, Perubahan menjadi lebih baik itu, kamu sendiri yang membutuhkannya bukan orang lain. Maka jika memang benar-benar berubah, berubahlah demi diri sendiri dan kebaikanmu sendiri."


"Maka perubahanmu tidak akan mudah goyah meski orang lain banyak yang tidak suka dan mengatakan itu tidak pantas buatmu. Selagi itu baik kenapa tidak, tidak perlu mendengarkan apa kata mereka."


Aira terdiam mencerna kata-kata Santi. Ia mengakui semua yang Santi katakan benar. Tidak seharusnya ia melakukan perubahan hanya demi orang lain. Hanya untuk dihargai.


Melakukan sesuatu karena dipaksa atau terpaksa akan membuat kita jadi tertekan sendiri. Jadi, bila apa yang kita lakukan ini memang atas dasar kemauan dan keinginan sendiri, ke depannya kita akan lebih mudah melakukan hal-hal yang lebih positif. Kalau pasangan kita benar-benar mencintai kita, dia pun pasti akan pengertian dan bisa jadi pembimbing yang baik, bukan?


Kalau perubahan yang kita lakukan akan membawa kita ke lebih banyak kebaikan, kenapa tidak? Siapa tahu meski awalnya niat kita berubah adalah demi orang yang kita cinta, ke depannya mungkin kita akan menemukan lebih banyak alasan dan niat yang lebih luas serta dalam untuk hal-hal yang jauh lebih positif. (sumber : google).


Aira tersenyum dan ia berniat untuk berubah, demi diri sendiri. Akan Aira buktikan pada semua jika kepribadian yang paling utama dari kecantikan. Pribadi yang cantik di tunjang penampilan yang menarik akan menambah nilainya di mata banyak orang. SELAMAT TINGGAL AIRA YANG JELEK. SELAMAT DATANG KECANTIKAN.


Bersambung.


Hai, mama datang menyapa. Bab kali ini ditulis oleh mama yang paling gemoi. Mama Reni. Lope-lope sekebon buat semuanya. ❤❤❤😍😍😍😍😘😘😘😘