
Rapat dengan klien yang tak lain adalah Evan berjalan dengan lancar tanpa hambatan, tetapi yang membuat Aira risih karena perlakuan Evan yang sok kenal dan dekat dengannya. Untung saja Noah selalu bisa membaca situasi yang ada.
"Terimakasih untuk kerjasamanya tuan Evan," sopan Noah menjabat tangan Evan.
"Seharusnya saya yang berterimakasih. Sekretaris anda sangat bisa di andalkan dan tentu saja sangat cantik. Benar begitu Nona Aira?" Evan melirik genit pada Aira yang sedari tadi menampilkan wajah datar tanpa ekspresi. Kesal karena Evan sok kenal padanya.
"Ah Aira memang sekretaris terbaik yang saya punya, mungkin mantan bosnya akan menyesal kalau tahu. Aira hanya butuh sedikit bimbingan," sahut Noah.
Aira memutar bola matanya sembari mengulum senyum, Noah selalu bisa membuat orang skatmat dengan kalimat yang sangat santai.
Evan? Ekspresi laki-laki itu jauh dari kata baik-baik saja, dan segera mungkin mengubahnya.
"Saya akan menghubungi sekretaris anda kalau butuh sesuatu," ucap Evan sebelum pergi.
"Tidak perlu repot-repot tuan Evan, asisten saya yang akan mengurus itu, Aira hanya mengurus hal-hal penting." Noah dengan segera memotong kalimat Evan.
"Aira ikut saya, masih banyak yang harus kamu kerjakan!" perintah Noah berjalan meninggalkan Evan di ruang rapat.
Aira mengangguk sembari berjalan di belakang Noah seperti biasa.
Sial*an, aku pastikan kamu jadi milik aku Aira. Aku tak akan melepaskan kamu.
Evan mengepalkan tangannya, memandangi punggung Aira yang semakin jauh dari pandangannya.
Aira ikut masuk keruangan Noah karena mengira masih ada pekerjaan di luar jadwal yang ia susun, sesuai perkataan laki-laki itu saat meninggalkan Evan.
"Apa yang harus aku kerjakan pak?"
"Aku tau kamu risih berada di dekat Evan, jadi pergilah!" usir Noah.
"Terimakasih pak Noah atas pengertiannya." Aira menunduk hormat.
"Itu sudah tugasku memberikan kenyamanan bagi para pekerja, jika kau tidak nyaman katakan saja!"
"Baik."
Aira keluar dari ruangan Noah dengan wajah berseri, beruntung Aira mendapatkan bos yang sangat pengertian juga peka seperti Noah.
Wanita cantik itu kembali sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang lain, hari ini tidak ada lembur, semuanya berjalan sesuai jadwal, terlebih Noah bos ambisius yang tak suka menunda-nunda sesuatu.
"Aira apa kau sibuk malam ini?"
"Tidak Pak, apa ada lembur?" tanya Aira bangkit dari duduknya karena Noah kini berdiri di depan mejanya.
"Tidak ada. Aku ingin mengajak kamu ke pesta, itupun kalau kamu berkenan," ujar Noah sedikit tidak enak, tapi ia harus meminta bantuan Aira, daripada harus menghadiri pesta seorang diri dan berakhir di kerumuni para wanita murahan.
"Sebagai?"
"Terserah kamu mau datang sebagai apa, jadi sekretaris atau pasangan tidak masalah. Kenyaman lebih utama bukan?"
Aira tesenyum, Noah benar-benar tidak munafik menjadi laki-laki, bahkan tak ingin membuat wanita salah paham dan berharap lebih.
"Aku akan datang pak."
"Aku akan jemput kamu jam delapan malam, sampai jumpa!" Usai mengatakan itu, Noah berlalu pergi tanpa menawarkan tumpangan pada Aira.
Aira pulang naik taksi seperti biasa, kening wanita itu mengerut saat melihat seorang pria berdiri di depan pintu rumahnya.
"Evan? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Aira dengan nada tidak suka. "Dari mana kau tahu alamat rumahku?"
"Kau tidak perlu tahu di mana aku mendapatkannya. Apa kau punya waktu malam ini? Aku mau mengajakmu kesebuah pesta sebagai pasangan!" ajak Evan tak tahu malu.
"Sayangnya aku nggak mau."
"Aira!"
"Menjauh dari kehidupanku Tuan Evan yang terhomat!" ucap Aira di setiap katanya penuh tekanan.
****************
Hay ketemu lagi sama ISTRI SAHNYA EUNWOO🤭, semoga part ini bisa menghibur kalian.
Salam dari "Cinta dan Masa lalu"
Author Susanti 31