
Satu bulan kemudian
Hari begitu cepat berlalu, tak terasa sudah satu bulan lamanya, Aira menghilang dari kehidupan Noah dan dunia perkantoran. Wanita itu kini lebih memilih kerja di salah satu swalayan sebagai kasir.
Kebetulan hari ini ia tidak masuk kerja karena kurang enak badan.
Jantung Aira berdetak tak karuan, kakinya terasa lemas mendapati kenyataan yang ada. Ia terduduk di atas kloset memandangi benda pipih persegi panjang, di mana dua garis merah yang satu samar-samar terlihat.
"Nggak mungkin, aku nggak mungkin hamil anak bajingan itu." Luruh sudah Aira mata Aira.
Ia mengira penderitaanya sudah berakhir, ternyata ia salah. Penderitaanya baru saja di mulai. Susah paya ia melupakan sosok orang yang telah menghancurkan hidupnya. Malah ia harus mendapati kenyataan bawah dirinya harus mengandung anak Noah.
"Aku harus bagaimana sekarang?" gumam Aira.
"Aku tidak mungkin membesarkan anak ini seorang diri, apa kata tetangga, aku hamil tanpa seorang suami. Dan apa yang harus aku katakan pada anak ini nanti saat dia bertanya siapa ayahnya?"
Berbagai pertanyaan muncul di permukaan pikiran Aira. Bagaimana ia bisa menerima darah daging orang yang sangat ia benci?
Merasa pusing dan lemas, Aira memutuskan untuk istirahat. Ia berbaring menghadap langit-langit kamarnya. Memikirkan solusi apa yang pas untuk dirinya dan bayi yang ada di dalam kandungannya sekarang.
"Aku harus menggugurkan baby ini," gumam Aira.
***
Hari ini Aira izin tidak masuk kerja pada bosnya. Ia akan kerumah sakit untuk memeriksakan kandungan sekaligus menggugurkan anak tak diinginkan di dalam perutnya.
Lama ia menunggu antrian bersama pasien lain, hingga nama Aira di sebut.
"Ada keluhan apa Nona?" tanya sang dokter sopan.
"Sa ... saya ingin memeriksakan kandungan dokter," gugup Aira. "Apa benar saya hamil?" lirihnya di akhir kalimat, berharap semua hanyalah mimpi, atau tespek itu tidak berfungsi dengan baik.
"Sudah tespek sebelumnya?" tanya sang Dokter di jawab anggukan oleh Aira.
Karena Aira sudah melakukan tespek, dan hanya ingin memastikan. Dokter langsung menyuruh Aira berbaring di atas brangkar untuk di USG.
"Dokter, apa benar saya hamil?" Aira mengulang pertanyaanya.
"Sabar ya Nona, kita cek dulu," sahut sang Dokter mulai mengoleskan gel di atas perut Aira, kemudian meletakkan alat USG untuk mengetahui isi perut wanita cantik yang sedang berbaring dengan wajah pucatnya.
Senyuman dokter itu mengembang melihat kondisi janin Aira. "Anda benar Hamil Nona, dan janin Anda tumbuh dengan sehat. Di sarankan jangan terlalu lelah di kehamilan trimester pertama," ucap sang dokter.
Aira melongo, ternyata semuanya benar ia hamil anak Noah. "Oh iya, dimana suami anda? Kenapa tidak menemani? Padahal biasanya kehamilan pertama seperti ini sangat di nantilan oleh pihak laki-laki."
Aira tidak menyahut, wanita itu hanya memperbaiki tunik yang ia pakai dan turun dari brangkar. Kembali duduk berhadapan dengan sang dokter yang mulai mersepkan vitamin dan obat yang lainnya.
"Apa anda mengalami mual dan hilang selera makan? Atau keluhan lainnya?" tanya sang dokter.
Dokter itu sedikit aneh melihat tingkah pasiennya, baru kali ini ia mendapat pasien tidak bersemangat mengetahui bahwa dia hamil.
"Hanya mual di pagi hari, sedikit lelah dan hilang selera makan," jawab Aira.
Sang dokter mengangguk mengerti, menyerahkan beberpa obat dan vitamin ibu hamil pada Aira. "Jangan lupa minum susu khusus ibu hamil Nona," saran dokter.
"Dokter saya ingin melakukan ab*ors*i," ucap Aira membuat sang dokter tertegun.
****************
Hay part ini di tulis oleh otor Susanti 31😘. Salam dari "Cinta dan Masa lalu"