SHE WAS UGLY

SHE WAS UGLY
Bab 37. Hidup Terus Berjalan



Aira membuka matanya dan melihat ke sekeliling kamar. Merasa kamar asing baginya, membuat Aira ketakutan. Ia mundur hingga tubuhnya membentur kepala ranjang.


Evan yang masuk dengan sepiring nasi dan segelas air minum tersenyum melihat Aira yang telah bangun.


"Jangan mendekat ...!" ucap Aira saat Evan berjalan makin mendekati ranjang.


"Jangan lakukan itu lagi pada saya. Pergi!" teriak Aira.


Evan menaruh nampan yang dibawanya ke atas meja. Ia mendekati ranjang perlahan. Aira makin memundurkan tubuhnya.


"Mau apa, Kamu?"


"Aira, tenang dulu. Lihat baik-baik. Saya Evan," ucap Evan hati-hati.


Aira terdiam. Ia memandangi wajah Evan dengan intens. Tampak Aira mulai menyadari siapa Evan.


Aira beringsut mendekati Evan. Pria itu memberikan senyum termanisnya. Aira menangkup kedua pipi Evan.


"Pak Evan?"


"Iya, Aira. Saya Evan. Jangan takut. Saya akan melindungi kamu dari orang-orang yang akan melukai kamu."


Aira langsung menghambur kepelukan Evan. Tapi itu hanya sesaat. Setelah itu ia kembali menjauh.


"Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama dengan pak Noah?" tanya Aira.


"Apa salah saya dengan Bapak dan Pak Noah. Kenapa kalian melecehkan aku."


"Kenapa aku nggak diberi kebebasan untuk menjalani hari. Saat saya jelek, kalian menghina. Saat saya telah merubah diri, kalian melecehkan."


"Aira, jangan berkata begitu. Saya menyesal karena pernah ingin melecehkan kamu."


Evan mengusap punggung Aira dengan lembut untuk memberikan ketenangan pada wanita itu.


"Dalam hidup ini, banyak hal yang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Kegagalan demi kegagalan membuat orang frustasi lalu membenci dirinya sendiri, karenanya banyak yang kemudian mencari kambing hitam demi mengurangi sedikit rasa kecewa dalam dirinya sendiri. Harus ada yang disalahkan, harus ada yang dijadikan alasan. Entah itu menyalahkan keadaan, diri sendiri, atau orang lain."


"Tapi kamu harus ingat Aira, hidup harus tetap berjalan. Jangan terpaku pada masa lalu. Lagi pula anak yang ada dalam kandunganmu saat ini tak bersalah. Jangan lagi kamu tangisi yang telah terjadi. Songsong masa depan dengan langkah tegap."


Evan menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya. Ia takut akan semakin membuat Aura ketakutan.


"Hidup akan terus berjalan tidak peduli apa yang terjadi di dunia bahkan setelah kiamat itu sendiri, hidup akan terus berjalan. Jangan memandang kebelakang. Jadikan saja pengalaman itu sebagai guru. Jika itu hal baik kita bisa ambil sebagai pelajaran dan jika jelek, lupakan itu. Jadikan untuk introspeksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik."


Aira melepaskan pelukannya. Ia memandangi Evan dengan intens.


Apakah ini benar pak Evan? Pak Evan yang dulu selalu menghinaku dan menyakiti hatiku.


Lama Aira hanya memandangi Evan tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Aira menghapus air matanya.


"Apakah kamu butuh seorang psikolog. Saya akan mengenalkan dan mengantarmu untuk konsultasi dan berbagi cerita mengenai pengalaman terburuk yang pernah kamu alami."


"Saya akan merepotkan, Bapak." lirih Aira.


"Jangan berkata begitu. Saya tidak merasa kamu repotkan. Besok saya antar kamu. Sekarang sebaiknya kamu makan dulu. Seharian kamu belum mengisi perutmu. Ingat ada makhluk yang menumpang hidup denganmu."


Evan turun dari ranjang menuju meja tempat ia tadi menaruh makanan. Evan meletakkan nampan itu dihadapan Aira.


**Bersambung.


Bab kali ini ditulis oleh mama gemoi sejagat Noveltoon, Mama Reni. Lope-lope sekebon buat semuanya. 😍😍😍😍😍**