
Aira menolehkan wajahnya kesamping sembari menutup mata. Wajah Evan begitu dekat dengannya, bahkan napas laki-laki itu begitu terasa. Ia semakin meremas jas Evan saat hidung laki-laki itu menyentuh hidungnya.
"Aira apa kau masih didalam?"
Mata Aira sontak terbuka, ia bernapas lega mendengar suara Noah di balik pintu. "Saya ... mmmmmpppppp ...." Kalimat Aira tenggelam karena Evan menutup mulutnya.
"Diam sayang, orang lain tidak perlu tau kita akan melakukan sesuatu yang menyenangkan," bisik Evan dengan senyum smirk.
Tak bisa di pungkiri air mata Aira luruh begitu saja, sekarang ia ketakutan mendengar bisikan Evan.
"Aira apa kau sudah pergi? Bukankah kau sudah janji berangkat bersama?" Noah kembali mengetuk pintu saat tidak mendapati sahutan dari dalam. Tidak mungkin Aira berangkat sangat pagi, terlebih mereka sudah janjian semalam.
Aira menatap Evan, memohon agar segera melepaskannya. Merasa Evan lengah, Aira menggunakan sesempatan itu untuk mengigit telapak tangan mantan bosnya itu.
"****! kau mengigitku sayang?"
"Pak Noah tolongin saya!" teriak Aira setelah Evan melepaskan bekapannya.
Geram akan tingkah Aira, Evan mengiring tubuh wanita itu kemudian mendorongnya hingga terjerambah ke sofa, menindih tubuh Aira yang hanya terbalut rok sebatas lutut.
"Lepasin aku Evan!" bentak Aira berusaha mendorong tubuh Evan agar menjauh darinya.
"Aira apa kau baik-baik saja? Buka pintunya atau saya mendobraknya sekarang juga!" ancam Noah terus memutar hendel pintu.
Tak ada sahutan, Noah dengan segera mendorong daun pintu berbahan kayu itu. Rahangnya mengeras, giginya bergemelutuk melihat sekretaris yang beberapa hari ini berhasil menarik perhatiannya tengah ditindih seseorang, apa lagi hampir mencium lehernya.
Tanpa menunggu abah-abah Noah berjalan mendekat, menarik kerah baju Evan dari belakang lalu melayangkan bogeman sangat keras.
"Bangs*at! Beraninya kau masuk ke rumah kekasihku!" geram Noah berapi-api.
Evan tersungkur dengan sudut bibir mengeluarkan darah, ia mengusap sudut bibirnya sembari menatap Noah tajam. Bangkit lalu membalas pukulan Noah.
"Aira hanya milik saya, dan selamanya akan tetap seperti itu!" bentak Evan memukul Noah membabi buta.
Aira menutup mulutnya tak sanggup mengeluarkan kata penenang, melihat kedua laki-laki kini bergelut di ruang tamunya.
"Stop! apa yang kalian lakukan?" teriak Aira. Namun, tak diidahkan oleh keduanya.
"Dia bukan milikmu?" Noah kembali menarik kerah kemeja Evan. "Dia hanya milik saya, dan sepertinya saya harus berterimakasih, karena kau telah membuang berlian yang sangat langka." Noah kembali memberi Evan pukulan hingga jatuh tak berdaya.
Tak ingin mati konyol hanya karena wanita, Evan buru-buru pergi dari rumah Aira. Memegangi perutnya yang terasa sakit.
Sepeninggalan Evan, Aira menghampiri Noah. "Maafkan saya pak, karena saya pak Noah seperti ini," sesal Aira membantu Noah duduk di sofa.
"Ini bukan salahmu, sudah seharusnya saya menjaga kamu dari orang jahat seperti Evan," jawab Noah dengan napas terengah-engah mengusap darah di bibirnya.
"Sudah seharusnya? Tapi aku hanya sekreatris Pak Noah," lirih Aira.
Aira menatap intens Noah dengan wajah babak belur. Mengobati luka laki-laki itu, sesekali ikut meringis padahal bukan ia yang merasakan sakitnya.
"Lain kali berhati-hatilah, kunci pintu rumahmu dengan benar. Bagaimana kalau saya tidak datang tepat waktu?" omel Noah merebut kain kasa di tangan Aira. Ia mengobati dirinya sendiri.
"Sana ganti baju, atau saya juga akan menerkam kamu!" perintah Noah dingin tanpa menatap Aira.
Blush. Wajah Aira memerah menahan malu saat menyadari dua kancing kemeja bagian atasnya terlepas hingga memperlihatkan sesuatu yang tidak seharusnya di lihat. Buru-buru Aira mesuk ke kamarnya lalu menganti baju.
Apa pak Noah melihatnya? Semoga tidak.
Aira mengigit bibir bawahnya, memandangi dirinya di depan cermin setelah menganti baju.
Bersambung
Hay, hari ini bab di tulis oleh aku, authornya "Hay pak Guru."
Semoga menghibur🥰