
Evan membawa Aira ke dalam mobilnya. Aira yang sedang kacau hanya menurut saja saat laki-laki itu menggendongnya.
Evan sengaja mengendong perempuan itu karena tubuh Aira terlihat lemas. Sepertinya perempuan itu benar-benar tertekan.
Evan mengusap kepala Aira, membantunya memasang seatbelt, sambil menatap wajah Aira yang terlihat pucat. Perempuan itu memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di jok mobil.
Evan menutup pintu mobil, kemudian berjalan memutar masuk ke mobil, duduk di belakang kemudi.
Pria berwajah tampan itu menatap Aira sebentar, sebelum akhirnya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Pria itu membawa Aira ke pantai. Namun, sebelum dia membawa Aira bermain di sana, Evan terlebih dahulu membawa Aira ke restoran.
Meskipun awalnya menolak dengan alasan mual, tetapi akhirnya Aira menurut, karena sebenarnya perutnya pun merasa lapar.
Mereka kini duduk berhadapan menikmati makanan yang mereka pesan. Semilir angin pantai menerpa rambut mereka.
Tangan Evan terulur, merapikan rambut Aira dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Kau harus makan yang banyak, biar kamu punya tenaga." Evan berucap sambil tersenyum.
Aira hanya menatap datar ada pria itu sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Setelah selesai makan, kamu ceritakan apa yang terjadi."
Mendengar ucapan Evan, Aira menghentikan suapannya. Pikirannya kembali pada saat dia ke rumah sakit.
"Makanlah!" Suara Evan terdengar lembut. Sementara Aira hanya menganggukkan kepalanya, kemudian kembali menyantap makanannya sampai habis.
Evan tersenyum simpul. Ada rasa sakit yang mengalir ke ruang hatinya saat melihat perempuan itu begitu terpuruk.
Dulu, Evan tidak punya bekas kasihan sama sekali saat melihat perempuan di depannya ini hancur akibat perbuatannya.
Namun kini, pria itu begitu sakit saat melihat perempuan di depannya ini meneteskan air matanya.
Seandainya waktu bisa diulang kembali, aku pasti memilih untuk mencintaimu dari awal tanpa memikirkan penampilanmu saat itu.
Maafkan aku, Aira.
Setelah mereka selesai makan, Evan membawa Aira ke pantai. Perempuan itu terlihat tersenyum tipis saat melihat deburan ombak yang bergulung saling berkejaran.
Suasana hatinya sedikit tenang, apalagi saat semilir angin menerpa rambutnya. Aura merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan mata.
Perempuan itu menghirup udara kemudian menghembuskannya perlahan.
Aira perlahan menyunggingkan senyum di bibirnya, menatap Evan yang sedang menatapnya dengan senyum yang menghias wajah tampannya.
Ah! Seandainya saja ....
Aira menepis pikirannya yang tiba-tiba kembali ke masa lalu. Masa lalu saat dia begitu tergila-gila pada pria ini.
Namun, saat bayangan Evan yang ingin merenggut kesuciannya saat itu melintas, Aira kembali menyembunyikan senyumnya. Apalagi, saat kejadian yang menimpanya akibat perbuatan Noah.
Kenapa dia harus hadir di sini? Kenapa?
Hampir saja Aira memukul-mukul perutnya, kalau saja Evan tidak sigap mencekal kedua tangan perempuan itu.
"Aira ...." Evan menarik perempuan itu ke dalam pelukannya.
"Aku tidak menginginkannya! Aku tidak menginginkan anak bajingan itu hadir di sini!" Aira kembali bermaksud meremas perutnya, tetapi tangan Evan kembali mencekalnya.
Pria itu mendekap erat tubuh Aira. Menjaga agar perempuan itu tidak berbuat nekad yang akan mencelakai janin tidak bersalah yang kini tumbuh di rahimnya.
"Dia tidak bersalah. Anak itu tidak bersalah, Aira. Kamu jangan gegabah melakukan sesuatu yang nantinya akan membuatmu menyesal," bisik Evan.
Aira terus menangis. Perempuan itu benar-benar sedang merasa tertekan dan putus asa.
"Jangan sampai kamu menyesal karena berniat membunuh calon anakmu."
"Tidak! Aku tidak menginginkannya! Aku tidak menginginkan bayi ini lahir tanpa ayah!"
"Aku belum menikah. Apa kata orang jika aku hamil di luar nikah?" Wajah Aira mendongak menatap Evan dengan deraiain air mata.
"Selama ini aku sudah menderita karena perbuatan kalian, sekarang aku tidak ingin merasakannya lagi."
"Cukup sudah selama ini aku merasakan penghinaan atas perbuatanmu! Aku tidak mau merasakannya lagi, apalagi calon anak yang ada dalam perutku ini!"
"Apa kau tahu? Setelah bajingan itu memperkosaku, aku selalu hidup dalam ketakutan. Setiap hari aku menyemangati diriku agar bisa bangkit dan kembali menjalani hidup dengan benar. Tapi kenapa setelah aku berhasil menata hatiku, dia tiba-tiba hadir di sini?"
Aira berteriak dengan rasa sakit di hatinya. Perempuan itu menangis pilu. Sementara Evan, dadanya serasa dihantam palu besar. Seketika pria itu merasa sesak, napasnya seolah berhenti saat mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir perempuan yang sangat dicintainya itu.
Ternyata, bukan hanya perbuatan Noah saja yang menghancurkan hidup Aira, tetapi perbuatannya pun masih menyisakan luka yang sangat dalam di hati perempuan itu.
"Kalian jahat! Kenapa aku harus dipertemukan dengan orang-orang jahat seperti kalian?" Aira masih berteriak sambil menangis.
Hatinya hancur berkeping-keping.
"Kenapa Tuhan harus mempertemukan aku dengan orang-orang seperti kalian berdua?!"
"Aira ...."
Evan meneteskan air matanya. Laki-laki itu menarik tubuh Aira ke dalam pelukannya. Evan tetap mendekap tubuh Aira meski perempuan itu berkali-kali memberontak.
"Maafkan aku. Maaf! Aku benar-benar minta maaf ...."
Evan mendekap tubuh Aira, meskipun perempuan itu terus menangis sambil sesekali memberontak dalam pelukannya.
Bersambung
Bab kali ini di buat Author Nazwa Talita. Jangan lupa mampir ke novelnya yang berjudul DENDAM.